Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A.: Seorang Akademisi Sekaligus Tokoh Pembaruan Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia

by | Oct 26, 2026 | Sosok | 0 comments

Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak Nur lahir pada tanggal 17 Maret 1939 di Desa Mojoanyar Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang Jawa Timur, merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan K.H. Abdul Madjid dan Hj. Fathonah Mardiyyah.

Ayahnya seorang pendiri sekaligus Guru di Madrasah al-Wathaniyah di Mojoanyar Jombang Jawa Timur dikenal sebagai seorang ulama alim lulusan Pesantren Tebuireng serta aktivis dan pemimpin partai politik Masyumi. Ibunya juga seorang Guru ikut membantu suaminya mengajar di Madrasah al-Wathaniyah dan merupakan putri dari KH Abdullah Sadjad pendiri Pesantren Gringging di Kediri Jawa Timur.

  • Pada tahun 1948, Nurcholish Madjid di usia 9 tahun bersekolah menempuh pendidikan dasar masuk Sekolah Rakyat (SR) pada pagi harinya sementara di sore hari belajar ilmu Agama Islam di Madrasah al-Wathaniyah.
  • Pada tahun 1953, Nurcholish Madjid menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat di usia 14 tahun, oleh ayahnya langsung dimasukkan ke Pondok Pesantren Darul Ulum (Pesantren Rejoso) Jombang untuk menempuh pendidikan tingkat menengah atau setara pendidikan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
  • Dua tahun berselang tepatnya pada tahun 1955, Nurcholish Madjid kemudian dipindahkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo yang sistem kurikulum pendidikannya memadukan jenjang menengah umum dan agama (Setingkat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas). Di sana beliau belajar selama lima tahun hingga akhirnya lulus pada tahun 1960.
  • Pada tahun 1961, Nurcholish Madjid resmi masuk sebagai mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN Jakarta) Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab dan Sejarah Pemikiran Islam. Semasa duduk di bangku kuliah Nurcholish Madjid aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan memulai karier organisasinya dari tingkat Komisariat lalu menjadi Ketua Umum HMI Cabang Ciputat.
  • Puncaknya, ia terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam selama dua periode berturut-turut tahun 1966–1969 dan 1969–1971.

Kecemerlangan sebagai aktivis

Nurcholish Madjid merupakan satu-satunya tokoh dalam sejarah HMI yang memimpin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar selama dua periode. Di masa kepemimpinannya, Cak Nur menjadi konseptor utama dalam merumuskan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) Himpunan Mahasiswa Islam. Ia menyusun buku setelah melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan Amerika Serikat yang hingga kini masih menjadi pedoman ideologis serta materi wajib pengaderan HMI.

Selain di kancah nasional, Nurcholish Madjid juga aktif memimpin organisasi kepemudaan regional dan global di antaranya menjadi Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMINAT) periode 1967–1969 dan Wakil Sekretaris Umum International Islamic Federation of Student Organizations (IIFSO) periode 1969–1971.

Nurcholish Madjid bersama tokoh pemuda lainnya seperti Ahmad Wahib dan Djohan Effendi terlibat aktif dalam kelompok diskusi progresif bernama “Limited Group” periode 1967–1971 di Yogyakarta yang menjadi laboratorium awal pemikiran pembaharuan Islamnya.

Pada tahun 1968 setelah lulus dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan bergelar sarjana, Drs. Nurcholish Madjid langsung mengajar sebagai Dosen di almamaternya tersebut dan atas ketekunannya akhirnya mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation untuk melanjutkan studi Pascasarjana di Universitas Chicago Amerika Serikat.

Di sana, Nurcholish Madjid dibimbing langsung oleh pemikir Islam ternama Fazlur Rahman dan berhasil lulus dengan predikat Cum Laude dan meraih gelar Ph.D (Doktor) dalam bidang Filsafat Islam (Islamic Thought) pada tahun 1984.

Sepulang menyelesaikan studi Ph.D dari University of Chicago atas dedikasi keilmuannya dikukuhkan menjadi Guru Besar (Profesor) dalam bidang Pemikiran Islam di Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan tercatat aktif mengajar pada tahun 1985–2005.

Pendirian yayasan dan karya-karya bukunya

Pada tahun 1986, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. menginisiasi pendirian Yayasan Wakaf Paramadina sebagai pusat kajian keislaman kelas menengah perkotaan dengan mendirikan lembaga pendidikan tinggi bernama Universitas Paramadina Mulya (sekarang Universitas Paramadina).

Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. dipercaya menjadi Rektor pertama Universitas Paramadina dan memimpin selama dua periode dari tahun 1998 hingga pada bulan Agustus 2005.

Beberapa karya buku terkenal dari Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. antara lain: 

  1. Khazanah Intelektual Islam (1984), kumpulan suntingan dan ulasan mengenai warisan pemikiran klasik dalam sejarah Islam.
  2. Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan (1987), membahas hubungan antara nilai-nilai Islam, proses modernisasi, dan identitas kebangsaan Indonesia.
  3. Islam, Doktrin, dan Peradaban (1992), menelaah doktrin dasar Islam agar mampu menjadi kekuatan transformatif bagi peradaban modern.
  4. Pintu-pintu Menuju Tuhan (1994), Refleksi spritual dan filosofis tentang jalan pencarian manusia terhadap Sang Pencipta.

Kontroversi tentang pemikiran Cak Nur

Kontroversi utama dari pemikiran Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. berkisar pada gagasan pembaharuan pemikiran Islam yang dinilai sebagian kalangan sebagai bentuk penyimpangan atau “kesalahan” dari arus utama Islam, di antaranya:

1) Slogan “Islam Yes, Partai Islam No” & Isu Sekularisasi

Pro: 

Para pendukungnya menilai gagasan ini sebagai langkah cerdas untuk menyelamatkan kesucian nilai Islam. Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. berargumen bahwa partai politik adalah institusi duniawi (profan) yang rawan korupsi dan perebutan kekuasaan. Dengan memisahkan Islam dari politik praktis, umat diajak fokus pada substansi moral Islam (Islam Kultural) demi menjaga persatuan bangsa dan menghindari politisasi agama.

Kontra: 

Kalangan Islam politik terutama eks-pendukung Masyumi merasa kecewa dan mengkritik keras jargon ini. Gagasan ini dituduh mengadopsi konsep sosiologi barat yang berusaha memisahkan agama dari ruang publik.

Tokoh seperti H.M. Rasjidi menulis kritik terbuka menilai bahwa pemisahan aspek duniawi dan ukhrawi dalam politik justru mendegradasi kesempurnaan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan (syumuliyah).

Jargon “Islam Yes, Partai Islam No” dianggap melemahkan posisi politik umat Islam pada masa Orde Baru dan mengecewakan tokoh-tokoh eks-Masyumi yang awalnya berharap Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. menjadi penerus Mohammad Natsir.

2. Gagasan Pluralisme dan Inklusivisme Teologis

Pro: 

Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. dipuji sebagai “Guru Bangsa” yang berhasil meletakkan dasar Islam yang toleran, inklusif, dan demokratis di Indonesia. Melalui pendekatan tafsir Al-Qur’an yang dinamis menekankan bahwa keberagaman adalah sunnatullah (rahmat Tuhan). Konsep ini dinilai sangat kontributif dalam menjaga keharmonisan masyarakat Indonesia yang majemuk serta mereduksi gerakan fundamentalisme radikal.

Kontra: 

Penentangnya menganggap konsep pluralisme agama Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. melampaui batas akidah dan memicu kerancuan berpikir.

Kritik frontal datang dari figur seperti Daud Rasyid dan berbagai tulisan di majalah Media Dakwah yang menuduh pemikiran Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. mengarah pada relativisme agama, seolah-olah menganggap semua agama sama benarnya yang dinilai dapat mendangkalkan keyakinan umat Islam.

Buku fiqih lintas agama yang diterbitkan oleh Yayasan Paramadina ini menuai kecaman luas karena dianggap melonggarkan batasan fikih klasik termasuk membolehkan pernikahan beda agama.

Kritikus dari media Islam konservatif seperti yang ditulis di Hidayatullah menyebut keengganan Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. menarik buku ini hingga akhir hayatnya sebagai salah satu kesalahan fatalnya.

3. Modernisasi dan Dekonstruksi Tradisi (Termasuk Pesantren)

Pro: 

Langkahnya melakukan dekonstruksi terhadap pemikiran Islam tradisional dianggap sebagai terobosan penting untuk melepaskan umat dari stagnasi berpikir (kejumudan). Sebagai contoh dalam bukunya Modernisasi Pesantren mendorong reformasi kurikulum agar dunia pesantren tidak gagap menghadapi tantangan sains, literasi modern, dan globalisasi.

Kontra: 

Bagi sebagian kalangan tradisionalis, kritik Cak Nur dianggap terlalu menyederhanakan masalah atau kurang menghargai otoritas keilmuan klasik. Beberapa argumennya dinilai terlalu condong pada rasionalisme ala Barat yang dikhawatirkan dapat mengikis nilai-nilai spiritual dan orisinalitas tradisi keislaman nusantara yang sudah mapan.

Dimakamkan bersama para pahlawan

Walaupun menuai banyak kecaman dari kalangan konservatif dan tradisionalis yang menilainya keluar dari akidah mainstream, para pendukungnya memandang Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. sebagai cendekiawan neomodernis yang mencerahkan dan membebaskan umat dari kekakuan dalam pola pikir yang membuat seseorang atau kelompok menolak perubahan, inovasi, serta sudut pandang baru.

Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. meninggal dunia pada tanggal 29 Agustus 2005 di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan pada usia 66 tahun akibat penyakit sirosis hati. Cendekiawan muslim dan tokoh pembaruan Islam di Indonesia ini kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Hak pemakaman ini diberikan karena beliau merupakan salah satu penerima bintang penghargaan tertinggi dari negara yaitu Bintang Mahaputera Utama.

Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A. secara resmi belum menyandang gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Republik Indonesia, tetapi banyak pihak yang mendorong pemberiaan gelar pahlawan nasional tersebut.

Di antaranya Himpunan Muslim Indonesia dan berbagai tokoh politik yang menilai kontribusi pemikirannya sangat besar bagi integrasi bangsa, sekaligus karena Cak Nur juga merupakan salah satu tokoh kunci dalam proses Reformasi 1998 yang ikut meyakinkan Presiden Soeharto untuk mundur demi menghindari konflik berkepanjangan.

0
0
Bambang Suharto ♥ Active Writer

Bambang Suharto ♥ Active Writer

Author

Penulis adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo bergelar Sarjana Hukum (S.H.). Pernah berkarir di Human Resource Departemen (HRD) di salah satu perusahaan, dan sekarang berprofesi sebagai Wiraswasta pemilik Minimarket Sembako yang menjual aneka kebutuhan pokok keperluan rumah tangga di Surabaya. Selain itu juga hobi membaca media online dan media cetak serta menulis puisi, cerpen, essai, quotes dan juga aktif ikut seminar online maupun offline untuk menambah wawasan dan relasi.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post