Dalam kehidupan yang semakin ketat dengan persaingan di segala lini, kita tidak boleh selalu bersikap santai atau bahkan menanti-nanti urusan yang bisa diselesaikan dengan segera. Mungkin bisa jadi hal tersebut akan mengganggu kita dalam bekerja maupun belajar.

Sikap seperti itu harus sudah dibuang jauh-jauh karena sangat tidak baik dan cenderung membuat kita menyepelekan hal yang gampang. Jangan sampai kita menyepelekan apapun yang kita lakukan.

Terkadang kesuksesan terlihat dari jejak orang tersebut melangkah. Jika salah langkah, maka habislah sudah. Hingga penyesalan pun akan menghampiri di kemudian hari. Penyesalan yang datang akan sangat disesali dan tidak akan berubah kalau tidak segera bertaubat di awal langkah.

Sikap yang saya sebutkan tadi adalah sikap yang berkaitan erat dengan profesionalisme dalam melakukan suatu hal, entah itu dalam pekerjaan atau dalam hal belajar untuk menggapai cita-cita. Sedangkan untuk dapat bersikap profesional diperlukan sebuah konsistensi, yaitu untuk dapat terus menerus berlaku profesional dan sekaligus mengembangkan diri. Bagi saya dua hal itu adalah komponen penting untuk menggapai kesuksesan.

Kesuksesan di sini tidak selalu berkaitan dengan ukuran materi. Lebih luas dari itu, kesuksesan ialah pencapaian yang sudah diperoleh semasa hidup atau semasa umur yang selalu dipijaki di setiap tahunnya.

Ketepatan waktu adalah bentuk profesionalisme

Salah satu contoh sederhana tentang profesionalisme dan konsistensi adalah kehadiran tepat waktu. Terkadang kita sangat sulit untuk datang ke tempat kerja tepat pada waktu yang telah disepakati. Lalu, kita menyiapkan berbagai alasan supaya menjadi benteng agar tidak dimarahi oleh atasan. Padahal, berbagai alasan tersebut merupakan bentuk pengabaian sikap profesional.

Budaya tidak profesional seperti itu masih selalu ada di sekitar kita dan sepertinya berlangsung secara turun temurun. Belum lagi jika karyawan yang datang terlambat tadi juga bertindak tidak tahu aturan dalam bekerja. Tentu saja sikap tidak profesional akan semakin menjadi dan tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga merugikan orang-orang di sekitarnya.

Hal tersebut harus dibasmi dengan membangkitkan kesadaran diri. Salah satu caranya ialah dengan menghubungkan profesionalisme dengan keyakinan agama.

Dalam ajaran agama Islam misalnya, sikap profesional dan konsisten telah menjadi prinsip dalam melaksanakan ibadah sholat lima waktu. Selain wajib dikerjakan alias konsisten, sholat wajib lima waktu sangat dianjurkan untuk disegerakan. Dalam hal ini, Allah SWT sangat meyukai hambanya yang profesional dan konsisten dalam beribadah kepada-Nya.

Perlu ditanamkan sejak dini

Oleh sebab itu, sikap profesional dan konsisten sebaiknya dikedepankan dalam pendidikan sejak dini. Jika sikap tersebut sudah ditanamkan sejak kecil, maka akan semakin mudah mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari bagi kelak ketika anak-anak telah dewasa.

Akan tetapi yang harus diingat ialah bahwa sebaiknya konsistensi dan profesionalisme dididik dengan pendekatan kesadaran, bukan keterpaksaan. Sebab, jika dipaksakan maka penerapannya akan sulit. Kebiasaan tepat waktu juga tidak akan berlangsung jangka panjang karena tidak datang dari hati yang ikhlas.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin sebagian dari kita merasa risih dan tidak menaruh hormat jika melihat seseorang yang tidak professional. Namun, sebagian lagi akan memakluminya.

Menurut hemat saya, jika ada orang yang demikian, ajaklah dengan tutur kata yang baik untuk selalu mengedepankan profesionalisme, jangan justru dijauhi. Sebab, semakin kita jauhi dia, semakin dia akan cenderung menjadi tidak profesional dan berakibat merugikan lebih banyak orang.

Teladan kesuksesan berkat profesionalisme dan konsistensi

Saya mempunyai dua orang ternama yang dapat dijadikan contoh tentang profesionalisme dan konsistensi. Mereka adalah Cristiano Ronaldo dan Liu Yi Fei.

Cristiano Ronaldo, pemain bola terkenal dari Portugal, telah menyabet berbagai trofi dan penghargaan sejak berseragam Sporting Lisbon hingga Juventus. Hal ini ia capai berkat kerja keras dan tentu saja sikap profesional dan konsisten di berbagai kesempatan.

Cristiano selalu berlatih dengan keras di luar lapangan dan konsisten dengan makanan yang sehat. Ini adalah salah satu bagian penting dalam upaya menjaga profesionalitas dan konsistensi untuk menjadi pesepak bola ternama. Tidak mengherankan jika ia kemudian berhasil mengantungi lima penghargaan Ballon D’Or.

Sama halnya dengan Liu Yi Fei, artis Tiongkok yang memiliki nama Amerika dengan sebutan Crystal Liu. Yi Fei selalu menjaga profesionalitas dan konsistensinya dengan selalu berlatih menyanyi dan berakting untuk menjadi semakin baik dari hari ke hari.

Xixi, panggilan akrabnya, tidak hanya lihai dalam beradu akting tapi juga mempunyai suara yang sangat bagus. Beberapa lagu soundtrack di filmnya ia nyanyikan sendiri. Beberapa di antaranya telah membawanya mendunia, misalnya lagu-lagu di album “All My Words”. Begitupun dengan single “Mayonaka No Door” dan “Fang Fei Mei Li”, cukup familiar di kalangan penikmat genre musiknya.

Karena profesionalisme dan tingkat konsistensi yang tinggi, Liu Yi Fei akhirnya dipilih dari sekian banyak artis Tiongkok untuk memerankan Mulan, film live action yang digagas oleh Disney. Film ini direncanakan tayang pada bulan Maret 2020.

Demikian, dua contoh tentang profesionalisme dan konsistensi yang mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Semoga menjadi inspirasi untuk kita semua.

 

 

2
0

Penulis adalah peraih penghargaan Golden Generation 2017 dan Wisudawan Berprestasi 2018 IAIN SNJ Cirebon. Selain itu, merupakan Pegiat Komunitas NUN (Niat Untuk Nulis)

error: