Bagi seorang pegawai negeri, masa cuti seringkali menjadi saat yang dinanti-nanti. Begitu pun bagi saya. Pada hari cuti, jika kebanyakan orang sudah menyusun rencana acara selama cuti untuk bersenang-senang ke berbagai obyek wisata, maka saya memilih cuti untuk bisa berdiam diri.

Di masa cuti saya berdiam diri sejenak menciptakan keheningan dari rutinitas yang terbiasa mengepung sepanjang hari. Hidup memang perlu sejenak berhenti, melakukan evaluasi atas apa yang sudah dilakukan selama ini. Maka inilah cerita saya tentang refleksi diri atas capaian sejauh ini sebagai buah dari perjuangaan tanpa henti.

Pengalaman Mengabdi di Birokrasi

Setelah bekerja selama hampir 22 tahun di birokrasi pemerintahan, saya mendapat banyak pengalaman dengan segala dinamikanya. Salah satu di antaranya adalah tentang ketidaknyamanan. Namun, di balik semua ketidaknyamanan tersebut tetap banyak kebaikan yang saya dapatkan.

Karir sebagai birokrat diawali dengan tugas sebagai auditor pemerintah di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Penempatan pertama  saya adalah di Provinsi Sulawesi Utara, Negeri Nyiur Melambai, dan saya jalani selama hampir tiga tahun. Usai bertugas di sana, saya menjadi peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengawasan (Puslitbangwas) BPKP di Jakarta. Belum genap tiga tahun kemudian, saya dimutasi menjadi staf bagian hubungan masyarakat (Humas) pada institusi pengawasan internal pemerintah itu.

Perpindahan di antara tiga unit kerja yang berbeda-beda dalam waktu yang tidak terlalu lama membuat saya terlatih dengan berbagai hal baru yang jauh lebih beragam daripada pengetahuan saya sebelumnya. Khususnya, ketika menjadi bagian dari Humas saya belajar tentang jurnalistik dan pemberitaan.

Usai berpindah-pindah di antara tiga unit kerja di BPKP tersebut, dalam empat belas tahun berikutnya hingga hari ini, saya berganti institusi tempat mengabdi. Institusi itu adalah sebuah kementerian yang mempunyai tugas utama mendorong implementasi reformasi birokrasi di Indonesia.

Dalam tiga tahun pertama, selain melaksanakan tugas di bidang ketatalaksanaan, saya diberi peran tambahan untuk mengelola penerbitan majalah internal instansi. Mengurusi majalah ini merupakan sebuah pengalaman baru yang menantang, tetapi saya nikmati dengan sepenuh hati.

Di sana saya menemukan banyak hal baru termasuk di antaranya mengenalkan saya pada banyak kepala daerah di beberapa provinsi di Indonesia. Sebuah pengalaman yang tak akan saya dapatkan jika saya tak mengambil hikmah dari penugasan yang sungguh di luar perkiraan, sekaligus karena senantiasa belajar dari ketidaknyamanan.

Perjalanan Awal Menulis Buku

Pengalaman berpindah-pindah posisi dan penugasan dalam birokrasi tersebut saya rangkai menjadi sebuah buku motivasi saya yang pertama, dengan judul Anything is Possible. Buku ini terbit pada bulan Mei 2012, berisi kumpulan cerita yang saya tulis tentang pengalaman bagaimana mengelola sebuah penerbitan majalah, termasuk bagaimana cara menemukan kunci sukses para kepala daerah selama membangun daerahnya.

Pengalaman bertungkus lumus menerbitkan buku juga saya singgung di buku ini. Tak pernah saya duga sebelumnya, buku ini cukup mendapat tempat di hati para pembaca. Berkat bantuan salah seorang pejabat pemerintah daerah di salah satu kabupaten di Sumatera Barat kala itu, saya bahkan pernah diwawancarai oleh sebuah harian lokal yang cukup dikenal di Sumatera Barat. Isinya terkait pengalaman menulis dan mengupas isi buku Anything is Possible ini.

Pelajaran yang saya petik adalah, hendaknya kita senantiasa mensyukuri setiap kejadian yang pada awalnya tampak tak sesuai harapan. Meski muncul rasa tidak nyaman, tapi sebisa mungkin kondisi itu kita ubah menjadi  sebuah peluang, sehingga kita dapat mengambil manfaat atas kejadian atau ketidaknyamanan tersebut.

Setelah buku ‘Anything is Possible’ kemudian terbitlah lagi buku ‘Birokrat Move On’ pada akhir tahun 2013. Buku ini merupakan kumpulan tulisan saya di waktu senggang, misalnya saat perjalanan dinas dan di antara keseharian. Buku tersebut memuat catatan tentang bagaimana saya melihat berbagai fenomena hidup dan kehidupan.

Boleh dikatakan pula bahwa buku ini adalah kumpulan ketidaknyamanan dan tantangan yang saya ubah menjadi tulisan-tulisan. Buku berwarna merah putih ini juga pernah dibedah di Kementerian PAN & RB dan disambut dengan antusias di kalangan birokrasi pemerintahan.

Belum puas dengan ‘Birokrat Move On’, saya menulis lagi Buku ‘Putar Arah Sekarang Juga’, yang kemudian diterbitkan pada bulan April 2015. Buku ini pernah diulas dalam bentuk talk show di Kementerian PAN & RB di bulan Mei 2015, dengan menghadirkan Hilbram Dunar, sang presenter program TV Mario Teguh yang sangat terkenal kala itu, sebagai host-nya.

Terbitnya buku ‘Putar Arah Sekarang Juga’ makin membuat saya bersemangat. Beberapa kali saya diundang di beberapa tempat untuk menjadi narasumber acara tentang kepenulisan. Beberapa di antaranya bisa saya penuhi, tetapi tidak seluruhnya. Sebab, tugas sebagai birokrat di sebuah institusi pemerintahan tetap menjadi prioritas utama.

Tema Birokrat Dalam Buku

Tentu saja yang paling menyita perhatian adalah terbitnya buku berjudul ‘Birokrat Menulis’ pada awal Desember 2016. Sebelum terbit secara luas, soft launching buku ini diadakan pada tanggal 1 September 2016. Dalam acara itu, hadirlah beberapa tokoh pemerintahan, di antaranya Prof Dr Irwan Prajitno, MSc., Gubernur Sumatera Barat 2010-2015 dan 2015-2020; dan Dr Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas RI 2014-2015 yang saat ini menjabat Komisaris Utama Bank BRI.

Selain dua nama tersebut, hadir pula Deputi Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian PAN dan RB, Ibu Rini Widyantini SH, MPM, serta Deputi SDM Aparatur Kementerian PAN dan RB, Bapak Dr Ir Setiawan Wangsaatmadja. Di penghujung acara juga hadir Bapak Dwi Wahyu Atmaji, Sesmen PAN dan RB serta beberapa orang pejabat eselon 2,3, dan 4 lainnya dari Kementerian PAN dan RB, BPKP, dan LAN RI. Bagi saya, adalah sebuah kebanggan tersendiri karena soft launching buku Birokrat Menulis tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh penting dan mendapat apresiasi yang luar biasa.

Sebagai kelanjutan dari buku berjudul Birokrat Menulis yang sangat nge-hits, buku bertajuk ‘Birokrat Menulis 2’ telah dapat dinikmati oleh para pembaca pada awal Januari 2019 lalu. Peluncurannya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri karena sempat beberapa kali tertunda dengan alasan teknis dan nonteknis. ‘Birokrat Menulis 2, Merangkai Kata dengan Cinta’ adalah buku terbaru yang saya harapkan bisa lebih diminati daripada buku-buku saya terdahulu.

Buku itu mengulas banyak hal tentang persahabatan, kesabaran, keikhlasan, dan harapan dikaitkan dengan pengalaman saya selama mengabdi di birokrasi dan kepenulisan. Beberapa ulasan terkait reformasi birokrasi juga diulas dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Buku ini makin melengkapi saripati dan dinamika perjalanan saya di birokrasi pemerintahan selama beberapa tahun terakhir, yang rasa-rasanya kian lama kian menantang.

Persembahan Untuk Instansi

Saya terus berjalan lurus dan juga fokus bekerja di instansi yang selama ini banyak memberi pengalaman dalam berbagai hal terutama reformasi birokrasi. Tanpa perlu mengindahkan pandangan orang lain, saya tetap fokus dan terus belajar dari pengalaman untuk menghasilkan tulisan. Selain itu, berdiskusi dengan banyak orang membuat kemampuan saya meramu kata menjadi makin meningkat.

Di sisi lain, kecintaan saya pada institusi yang telah membesarkan saya selama ini pulalah yang mendorong saya untuk menulis buku terkait standar operasional prosedur (SOP) administrasi pemerintahan dan proses bisnis instansi pemerintah.

Keduanya adalah buku yang sangat dibutuhkan oleh aparatur pemerintah dalam memahami pentingnya SOP dan proses bisnis dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedua buku ini masih berada dalam tahap revisi untuk cetakan terbaru, dengan harapan setelahnya akan makin banyak orang yang mendapat manfaat dari buku tersebut.

Epilog

Sebagaimana saya tuliskan pada bagian awal, pengalaman hidup saya dalam berkarir adalah bahan untuk belajar yang membuat saya tidak bergantung pada makhluk dan menyerahkan semua yang terjadi hanya kepada Yang Maha Kuasa. Dengan begitu, maka kita dapat menjalani hidup ini menjadi lebih mudah.

Pada akhirnya, jika ada orang yang tidak senang dengan karya dan prestasi kita, biarkan saja tidak perlu diambil pusing. Kita harus yakin bahwa hal itu justru membuat kita terus berupaya mencari solusi agar hidup ini terus bermakna.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip sebuah buku “Balas Dendam yang Sangat Manis” karya A.K. Dikatakan di dalamnya:

“Dalam hidup ini, mungkin kau akan dipertemukan dengan orang-orang yang jahat, orang-orang yang memanfaatkanmu, orang orang yang memanipulasimu, orang-orang yang tidak menghormatimu, dan orang-orang yang menyakitimu. Untuk apa? Karena orang-orang itulah yang kau butuhkan untuk menjadi lebih dewasa, untuk menjadi lebih kuat, dan untuk menjadi lebih beriman. Orang-orang yang datang menyakitimu adalah orang-orang yang sebenarnya kau butuhkan agar kau menjadi pribadi yang lebih hebat.”

Saya kian sepakat dengan pernyataan itu. Saya telah membuktikannya sendiri.

Tak mudah bagi seorang birokrat untuk terus berkarya di tengah deraan pekerjaan tiada henti. Namun kebulatan hati serta tekad dan semangat membuat saya bisa bertahan sejauh ini. Teruslah melangkah, lawan ketidaknyamanan dengan karya. Tetaplah menulis dan berkontribusi untuk negeri dengan melakukan hal terbaik sesuai bidang masing-masing. Selamat berkarya, menulislah!

 

 

24
0

Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku.

error: