Perihal Menjadi ASN Berkelas Dunia

by | Dec 13, 2020 | Refleksi Birokrasi | 3 comments

Sejak mengikuti webinar tentang Grand Design Reformasi Birokrasi Nasional beberapa bulan lalu, pernyataan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo terus mengganggu pikiran saya. Pernyataan beliau begini:

“Di samping memastikan pengelolaan reformasi birokrasi dilakukan secara akuntabel dan terukur, telah ditetapkan tujuan dari reformasi birokrasi 2020-2024 yakni terciptanya pemerintah berkelas dunia yang baik dan bersih”.

Sebagai PNS pada daerah yang baru saja lepas dari ketertinggalan, pernyataan tersebut semakin membuat jantung saya kesulitan memompa darah ke otak. Jangankan berkelas dunia, untuk menjadi PNS “normal” saja kami sudah kewalahan.

Kami kewalahan mewujudkan akuntabilitas yang baik. Kami kesulitan mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas. Kami ketinggalan dalam banyak hal. Dan kami memiliki katalog yang lengkap untuk ketertinggalan itu.

Kemustahilan

Sebagai salah satu daerah yang baru berdiri dan sedang berjuang untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antarkecamatan, primordialisme akut, dan politisasi birokrasi, membayangkan suatu saat kami harus profesional, berintegritas, atau berwawasan global  rasanya seperti membayangkan Timnas Indonesia harus berlaga di Piala Dunia pada tahun 2024 saja.

Saya tentu tidak bermaksud mengatakan bahwa Timnas Indonesia mustahil berkompetisi pada piala dunia.  Tapi semua orang menyadari bahwa melihat “garuda” bertarung melawan “tango” atau “samba” dalam waktu dekat adalah kelewat mustahil.

Kesadaran atas kemustahilan ini juga disadari bahkan oleh mereka para fans hipertensi yang siap berkelahi kapan saja ketika timnas kesayangan mereka kalah. Mereka para fanatik pemarah ini juga tidak akan mudah percaya timnas Indonesia berada di level tersebut dalam empat atau lima tahun lagi.

Kemustahilan itu pula yang membuat saya meyakini empat atau lima tahun lagi kelewat cepat untuk membuat saya dan teman-teman di sini menjadi berkelas dunia. Kami bahkan harus menemukan jawaban terlebih dahulu terhadap hal paling mendasar yang harusnya selesai pada tahun-tahun sebelumnya:

“Mengapa Reformasi Birokrasi berjalan lambat seperti kura-kura tersesat?”
“Lalu, masih adakah peluang di tengah ketertinggalan dan ketersesatan itu?”

Hukum 10.000 Jam

Saya sepertinya akan menjelma menjadi PNS paling pesimis di kota ini jika saja tidak mengetahui penelitian psikolog Karl Anders Ericsson bersama dua koleganya di Academy of Music yang elit di Berlin, Jerman. Penelitian ini cukup ampuh meyakinkan saya dan teman-teman di daerah bahwa setiap orang bisa memiliki kesempatan yang sama menjadi berkelas di bidangnya masing-masing.

Penelitian itu dilakukan untuk mendapatkan jawaban mengapa ada pemain biola solo kelas dunia yang bermain di panggung besar, sementara yang lainnya kemungkinan besar tidak akan pernah bermain secara profesional lalu memutuskan untuk menjadi guru musik di sekolah negeri.

Penelitian tersebut dikenal sebagai Hukum 10.000 Jam.

Hukum tersebut memikat perhatian ketika diuraikan oleh penulis sekaligus Jurnalis Malcolm Gladwel di dalam bukunya The Outlier. Jurnalis the New Yorker ini membuat kesimpulan bahwa keberhasilan dalam melakukan sebuah tugas yang kompleks mensyaratkan adanya jumlah minimum latihan. Semua orang memiliki bakat, namun latihanlah yang membuat mereka berbeda. Lalu lahirlah angka ajaib 10 ribu itu.

Bagi Gladwell, hukum itulah yang telah membentuk maestro kelas dunia di bidangnya masing-masing seperti Bill Joy, The Beatles atau bahkan Bill Gates. Bill Joy, maestro yang menciptakan perangkat lunak yang membuat kita bisa terhubung dengan internet, telah menghabiskan berjam-jam sepanjang malam, setiap hari di University of Michigan, untuk bisa menuliskan berbagai program komputer.

The Beatles, pada masa awal karir mereka, melakukan perjalanan dari Liverpool ke Hamburg selama 2 tahun  antara 1960 sampai akhir 1962 untuk bermain regular minimal 5 jam setiap malam (mereka hanya bermain satu jam selama di Liverpool).  Bill Gates telah mengabaikan pelajaran olahraganya dan lebih memilih menghabiskan malamnya pada setiap akhir pekan untuk membuat program bersama dengan teman dekatnya Paul Allen.

Dalam waktu tujuh bulan di tahun 1971, Gates dan rekan-rekannya telah menghabiskan waktu selama 1.575 jam. Itu artinya dia telah menggunakan komputer selama delapan jam sehari, tujuh hari setiap minggunya. Dan itu mereka lakukan selama tujuh tahun.

Menetapkan Tujuan Spesifik

Namun, saya merasa hukum ini sepertinya tidak linear dengan tingkat “kemaestroan” saya sebagai seorang PNS. Dengan asumsi telah bekerja secara efektif 5,5 jam perhari selama lebih kurang sepuluh tahun, maka saya seharusnya sudah menjadi “Bill Gates-nya” birokrasi. Namun, hingga saat ini saya justru masih merasa menjadi PNS Kelas Kampung.

Psikolog Angela Duckworth ternyata memiliki permasalahan yang sama dengan saya. Di dalam bukunya Grit: The Power of Passion and Preserverance, dia mengatakan telah menemui Ericsson dan menanyakan langsung mengapa kemampuan larinya tetap tidak memadai baginya untuk bisa bertanding di olimpiade meski telah melakukan jogging kurang lebih satu jam sehari dan telah memulainya sejak usia delapan belas. 

“Saya tahu, anda tidak meningkat dalam urusan lari karena tidak melakukan latihan dengan tujuan spesifik. Anda berlari hanya untuk sehat dan agar tubuh anda tidak melar. Anda berlari bukan untuk memenangi olimpiade”, Jawab Ericsson.

Ternyata bagi Ericsson, Malcolm Gladwel sedikit keliru menerjemahkan penelitiannya. Untuk menjadi berkelas di bidangnya para juara selalu menetapkan tujuan spesifik dan menetapkan latihan untuk tujuan tersebut.  

Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi berlatih dribbling, mengasah tembakan, memperbaiki akurasi atau mengontrol bola lewat kaki dan kepala hingga mahir pada semua aspek agar bisa menjadi juara dunia. Mereka memberi perhatian pada bagian-bagian yang lemah dan berlatih sangat keras untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu.

Saya lantas tidak bisa menahan diri untuk bertanya kelemahan seperti apa yang tidak bisa saya atasi sehingga puluhan ribu jam itu berlalu dan saya masih merasa menjadi PNS kelas kampung?

Apakah tujuan dan metode bekerja saya telah keliru?
Jika benar keliru, kira-kira tujuan spesifik apa yang dibutuhkan dan kelemahan apa yang harus diberi perhatian khusus?

Tujuan Hakiki: Pelayanan Berkualitas

Tentu tidak apple to apple membandingkan model dan metode latihan ASN dengan seorang programer komputer, musisi, ataupun pemain sepak bola. Namun, menjadi ahli dalam bidang apapun adalah sebuah tuntutan universal, tidak peduli anda pemain sepak bola atau petugas layanan administrasi kependudukan. Dan layaknya tuntutan keahlian maka ia memang membutuhkan latihan.

Kita tahu hampir semua instansi pemerintah memiliki lembaga pengembangan SDM. Kitapun juga tahu bahwa dari lembaga tersebut muncul beragam model latihan bagi ASN, seperti pelatihan kepemimpinan, manajerial, teknis, fungsional, sosiokultural dan sebagainya. Itu artinya ada banyak latihan yang disediakan untuk mewujudkan para pemimpin yang inspiratif, perencana yang imajinatif, penyuluh yang inovatif, guru, atau dokter yang arif.

Namun pelatihan tersebut tidak akan bermakna apapun jika tidak diarahkan tanpa tujuan spesifik, seperti yang dikemukakan oleh Ericsson di atas. Awalnya saya pikir, peningkatan kualifikasi pendidikan, pengembangan kompetensi, atau kinerja, adalah tujuan spesifik dalam usaha mewujudkan ASN berkelas dunia tersebut.

Namun, belakangan saya harus memikirkannya kembali secara mendalam ketika melihat rekan-rekan saya yang memiliki koleksi gelar yang lengkap di depan dan di belakang namanya tetapi masih kesulitan berkontribusi bagi organisasi mereka. Atau mereka yang setiap saat mengikuti pelatihan namun masih saja merasa tidak tahu bagaimana cara mengerjakan pekerjaan dengan tepat.

Ternyata kebutuhan memperluas pengetahuan, memperdalam pemahaman, mengembangkan keterampilan, keahlian, atau meningkatkan kinerja hanyalah cara agar ASN sampai pada tujuan spesifiknya, tujuan hakikinya yaitu menciptakan pelayanan yang berkualitas. Tidak berlebihan untuk mengatakan, “itulah tujuan spesifik itu”, sebuah pelayanan terbaik.

Menciptakan layanan terbaik tentu lebih dari sekadar perilaku menebar senyum atau memperlihatkan raut muka yang ramah. Ia sejatinya harus lebih dari itu. Ia adalah sesuatu yang ontologis yang mengikat semua pengetahuan, kesadaran, tindakan atau perilaku aparatur.

Misalnya, seorang ASN harus mengembangkan kompetensinya agar bisa bekerja dengan baik. Kita tahu, mereka yang bekerja dengan baik mampu memberikan pelayanan dengan cepat – lebih cepat dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mampu bekerja dengan baik.

Orang-orang yang bekerja dengan baik selalu menguasai detail, menguasai teknik, menguasai proses, dan persoalan. Dengan penguasaan itu lahirlah kecakapan. Sebuah kecakapan biasanya akan selalu berdampingan dengan kualitas. Dan, kualitas adalah harga mati dalam sebuah layanan.

Atau, seorang ASN secara terus menerus wajib meningkatkan wawasan, memperbanyak referensi dan sudut pandang agar wawasannya semakin berkembang, dan pikirannya semakin terbuka. Memilih untuk memperluas wawasan akan memberikan kesempatan kepada ASN untuk lebih tenang, dewasa, dan bermartabat di dalam menghadapi beragam dinamika pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Dengan perspektif yang banyak dan beragam seorang ASN akan mampu mengelola kemarahan masyarakat dalam wujud ketenangan, menyiasati kejengkelan dengan kesabaran atau memahami tuntutan dengan kegembiraan.

Untuk itu, guna mempermudah pencapaian tujuan tersebut ia bisa dimulai dengan menanamkan nilai dan pemahaman kalau ASN itu adalah pelayan, bukan penguasa. ASN harus melatih dirinya dengan sangat keras untuk menerima kenyataan tersebut.

“Mereka harus punya jiwa hospitality, bukan jiwa penguasa”, kata Mantan Menteri PAN RB Asman Abnur pada tahun-tahun sebelumnya, yang merasa tidak nyaman melihat fakta masih rendahnya kualitas ASN di Indonesia. Jiwa itulah yang harus dilatih dengan sangat serius setiap hari.  

Kita telah menyaksikan bahwa ketiadaan jiwa itu selama ini telah menjadi penyebab utama munculnya maladministrasi oleh karena prosedur yang tidak jelas, waktu layanan yang tidak pasti, pungutan liar, hingga penyalahgunaan kekuasaan. Inilah penyebab masyarakat selalu merasa ASN itu terlihat konyol dalam melakukan apapun sehingga pantas dilemparkan ke dalam comberan.

Epilog

Begitulah. Pada akhirnya, saya dan anda tidak akan mungkin menjadi Bill Joy, The Beatles, atau Bill Gates, jika meningkatkan kualifikasi pendidikan hanya sekadar untuk menambah gelar dan reputasi, mengikuti program pengembangan kompetensi hanya untuk menambah portofolio, meningkatkan kinerja untuk mendapatkan penghargaan dan disiplin hanya untuk membatalkan kewajiban.

Jika masih begitu, maka kita bisa saja menghabiskan waktu 10 ribu jam, atau 20 tahun bahkan 30 tahun, namun akan tetap menjadi “kelas kampung” di saat pekerjaan kita mulai digantikan robot dan mesin suatu saat nanti.

1
0
Fadli Akbar ◆ Active Writer

Fadli Akbar ◆ Active Writer

Author

PNS pada BKPSDM Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

3 Comments

  1. Avatar

    Menjadi ASN yg profesional cukuplah…

    Tdk berkelas dunia pun tak apa…

    Terima kasih tulisannya, telah mengingatkan kembali apa yg harus saya lakukan…

    Reply
  2. Avatar

    Tks pencerahannya Pak Fadli.
    Yes, tujuan yang spesifik. Dengan ini, setiap kita bisa berkontribusi efektif pada level masing-masing.

    Reply
  3. Avatar

    good job.
    barangkali malah tidak naik kelas

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post

error: