Orang Berilmu, Penentu Arah Indonesia

by | Jul 19, 2026 | Birokrasi Berdaya | 0 comments

Indonesia senyatanya tidak kekurangan orang pintar. Yang kita harapkan adalah memastikan bahwa orang berilmu benar-benar hadir di ruang-ruang yang menentukan arah bangsa, yang terkait; pendidikan, birokrasi, riset, media, dunia usaha, dan komunitas sosial.

Dalam negara yang majemuk dan terus berubah seperti Indonesia, ilmu bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan modal sosial yang menentukan kualitas kebijakan, etika publik, dan daya saing nasional.

Kita sering memuji kemajuan fisik seperti; jalan, jembatan, gedung, dan jaringan digital. Semua itu penting, tetapi infrastruktur fisik tidak akan bermakna jika tidak ditopang oleh infrastruktur pengetahuan.

Di sinilah orang berilmu memainkan peran strategis.

Mereka membantu negara membaca masalah secara jernih, merumuskan solusi yang masuk akal, dan mengoreksi kebijakan yang melenceng dari tujuan publik. Tanpa mereka, pembangunan mudah terjebak pada seremonial dan angka-angka yang tampak indah di atas kertas, tetapi lemah dalam dampak nyata.

Peran orang berilmu paling terasa ketika bangsa menghadapi persoalan kompleks. Krisis ekonomi, perubahan iklim, ketimpangan wilayah, disrupsi teknologi, dan kualitas layanan publik yang tidak bisa diselesaikan dengan slogan atau pidato.

Persoalan seperti ini menuntut analisis, ketelitian, dan keberanian berpikir jangka panjang. Orang berilmu hadir bukan untuk memperumit, melainkan untuk menyederhanakan masalah secara benar agar keputusan yang diambil tidak salah arah.

Namun, Indonesia masih sering memperlakukan ilmu sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi. Riset kerap berhenti di jurnal, gagasan akademik tidak selalu sampai ke meja pengambil keputusan, dan suara ahli kalah oleh gaduh opini sesaat.

Akibatnya, kita sering melihat kebijakan yang reaktif, bukan strategis. Padahal, negara modern memerlukan orang berilmu yang tidak hanya cakap dalam teori, tetapi juga sanggup menjembatani pengetahuan dengan tindakan.

Di sinilah pentingnya mengubah cara pandang.

Orang berilmu tidak boleh dipersempit menjadi dosen, peneliti, atau pemegang gelar tinggi semata. Mereka juga bisa hadir sebagai guru yang membangun karakter, birokrat yang taat data, jurnalis yang jujur pada fakta, pengusaha yang inovatif, atau pemimpin komunitas yang arif.

Ukuran utama orang berilmu bukan gelar, melainkan manfaat. Ilmu yang baik melahirkan keberpihakan pada kebenaran, ketelitian dalam bekerja, dan kepekaan terhadap kepentingan umum.

Yang juga sering dilupakan adalah dimensi moral. Ilmu tanpa akhlak bisa menjadi alat manipulasi. Dalam praktik publik, kita tidak hanya membutuhkan orang yang cerdas, tetapi juga yang jujur, rendah hati, dan bertanggung jawab.

Orang berilmu semestinya menjadi penjaga akal sehat di tengah banjir informasi, hoaks, dan polarisasi. Mereka dibutuhkan untuk mengingatkan bahwa perdebatan publik tidak boleh dikalahkan oleh emosi, popularitas, atau kepentingan jangka pendek.

Indonesia sedang bergerak menuju masa depan yang sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Bonus demografi, transformasi digital, dan agenda pembangunan berkelanjutan hanya akan menjadi peluang jika ada orang berilmu yang memimpin prosesnya.

Tanpa itu, kita hanya akan menjadi pasar besar bagi produk, ide, dan teknologi dari luar. Dengan itu, Indonesia bisa menjadi bangsa yang tidak sekadar mengonsumsi pengetahuan, tetapi juga memproduksinya.

Karena itu, memperkuat peran orang berilmu harus menjadi agenda bersama.

  • Kampus perlu lebih terbuka pada problem nyata masyarakat.
  • Pemerintah perlu lebih serius mendengarkan bukti ilmiah.
  • Media perlu memberi ruang lebih luas bagi gagasan berbasis data.
  • Masyarakat pun perlu menghargai proses belajar, bukan hanya hasil instan.

Jika empat unsur ini bergerak bersama, ilmu akan kembali menjadi tenaga penggerak peradaban.

Indonesia tidak akan maju hanya oleh banyaknya penduduk, sumber daya alam, atau proyek pembangunan. Indonesia akan maju bila orang berilmu diberi tempat yang layak untuk bekerja, bersuara, dan memengaruhi arah kebijakan.

Di tengah zaman yang makin rumit, orang berilmu bukan kemewahan. Mereka adalah kebutuhan paling mendasar bagi masa depan bangsa. Mestinya mereka juga yang turut serta menentukan arah bangsa Indonesia.

0
0
Deddy S. Bratakusumah ♥ Associate Writer

Deddy S. Bratakusumah ♥ Associate Writer

Author

Praktisi Pemerintahan, Kepala Program Studi Magister Administrasi Publik, Univ Esa Unggul Deddy is an individual consultant in some consulting firms from 1977 until 1986. Since 1986 he is working in National Development Agency (Bappenas)/Ministry of National Development Planning, his position among others; (1) Development Planner, (2) Chief of the Local Autonomy Study Center, (3) Chief of the National Civil Servant Training Center, (4) Advisory Expert to Minister on Governance and Local Autonomy, (5) Deputy Minister for Governance, and (6) Senior Planner and Trainer in Governance. In addition, he also serves as an individual national and international consultant for infrastructure investment and development in Indonesia.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post