
Saya masih ingat wajahnya.
Seorang bapak tua, duduk di bangku ruang tunggu. Tangannya memegang selembar formulir. Matanya men-scanning ruangan, sedikit bingung. Itu hari biasa di salah satu unit layanan kami. Petugas di depan komputer menyapanya.
Ramah.
“Mari, Pak. Silakan.”
Prosesnya tidak lama. Sistem sudah digital. Data masuk, verifikasi, selesai. Bapak itu mengangguk, bersiap pergi.
Tapi sebelum berdiri, petugas itu berkata pelan, “Semoga urusannya lancar, Pak. Dan semoga keluarganya selalu diberi ketenangan”.
Bapak itu tersenyum.
Lebih lebar.
“Aamiin. Terima kasih, Nak”.
Momen itu sederhana. Hanya sepuluh detik. Tapi ada sesuatu yang terjadi. Layanan tadi bukan lagi sekadar urus berkas. Ia menjadi pertemuan manusia. Ada doa. Ada kehangatan. Ada makna.
Inilah yang sering kita lupakan.
Kemenag Berdampak/Merasuk ke Sanubari
Kementerian Agama kita sudah berusia 80 tahun. Kita bangga dengan transformasi digitalnya. Sertifikat halal lebih cepat. Pendaftaran haji lebih mudah. Laporan keuangan lebih transparan. Semua angka itu penting. Ia menunjukkan kerja keras dan inovasi.
Tapi, ada pertanyaan yang menggelitik.
Setelah semua efisiensi ini, apa yang benar-benar tersisa di hati masyarakat? Apakah mereka hanya ingat nomor antrian dan status “selesai” di layar? Atau mereka pulang dengan rasa yang lebih dalam? Mungkin rasa dihargai. Rasa dimengerti. Atau setidaknya, rasa bahwa urusan dengan negara tidak harus dingin dan kaku.
Layanan Kemenag Berdampak sejatinya adalah soal ini. Soal meninggalkan jejak. Bukan di kertas. Tapi di sanubari.
Kita hidup di zaman yang gaduh. Hoaks berkeliaran. Ujaran kebencian mudah viral. Kepercayaan sosial renggang. Di tengah semua ini, masyarakat datang kepada kita. Membawa berkas, membawa urusan, membawa harapan tersembunyi.
Mereka datang ke kantor kami, ke madrasah, ke majelis taklim. Mereka mencari sesuatu. Tidak hanya administrasi. Tapi juga kepastian. Keteladanan. Mungkin, sedikit ketenangan.
Ini peluang emas kita.
Setiap hari, ASN Kemenag bertemu ratusan bahkan ribuan warga. Setiap jabat tangan, setiap pandangan mata, setiap percakapan kecil adalah kanvas. Kita bisa memilih: mencoretkannya dengan rutinitas biasa atau melukisnya dengan kebaikan yang diingat.
Bayangkan, jika setiap interaksi kita sengaja dirancang untuk menanam benih.
- Seorang petugas nikah tidak hanya mengecek KTP. Tapi juga menyampaikan selamat dengan tulus, disertai pesan singkat tentang membangun keluarga penuh cinta.
- Seorang penyuluh agama tidak hanya memberi ceramah. Tapi memulai dialog tentang hoaks yang beredar di grup WhatsApp warga, dan bagaimana agama mengajarkan kita bersikap bijak.
- Seorang guru madrasah tidak hanya mengejar nilai ujian. Tapi juga meluangkan waktu mendengar kegelisahan siswanya tentang perundungan di media sosial.
Perubahan besar sering dimulai dari percakapan kecil.
Tentu, ini butuh kesadaran. Butuh kemauan. Terutama, butuh persiapan.
Mempersiapkan Manusia
Kita tidak bisa hanya mengandalkan semangat individu. Perlu sistem yang mendukung. Kebijakan pengembangan SDM kita harus menyentuh aspek ini. Pelatihan ASN selama ini banyak fokus pada hal teknis. Itu perlu. Tapi tidak cukup.
Bagaimana jika ada modul khusus? Modul “Komunikasi Bermakna dalam Pelayanan Publik”. Modul “Membangun Empati di Era Digital”. Atau “Penyelesaian Konflik Berbasis Nilai Agama”. Bukan teori berat. Tapi praktik. Roleplay. Belajar dari kasus nyata.
Rekrutmen calon ASN juga bisa lebih holistik. Selain tes pengetahuan, kita perlu melihat kemampuannya berinteraksi. Kemampuan mendengar. Kecerdasan emosional. Karena pada akhirnya, teknologi dikelola oleh manusia.
Hati manusialah yang menentukan apakah teknologi itu memanusiakan, atau justru mendinginkan.
Kita punya semua bahan baku untuk ini.
Nilai-nilai agama kita kaya dengan pesan moral. Kearifan lokal kita penuh dengan keramahan. Tinggal bagaimana kita mengolahnya dalam desain layanan.
Sebuah notifikasi di aplikasi “HajiKita” tidak hanya berbunyi “Pembayaran Anda telah dikonfirmasi.” Tapi bisa ditambah, “Semoga perjalanan spiritual ini mempersiapkan hati Bapak/Ibu. Salam dari kami di Kemenag.”
Kecil. Sederhana. Tapi bermakna.
Ini bukan soal menambah beban kerja. Ini soal mengubah perspektif. Melihat setiap warga bukan sekedar sebagai “pengguna layanan”, tapi sebagai saudara yang kita layani dengan sepenuh hati.
Impian yang besar ini harus dimulai dari kita, dan dari pilihan kita hari ini.
Apakah kita hanya akan menjadi operator sistem yang cekatan? Atau kita akan menjadi tuan rumah yang menyambut setiap tamu dengan kehormatan dan pesan kebaikan?
Jawabannya ada di tangan kita. Di setiap sapaan, setiap senyuman, setiap upaya tulus untuk memahami.
Mari kita buat layanan kita berdenyut dengan kehidupan. Penuh rasa. Penuh makna.
Itulah warisan sesungguhnya yang bisa kita tinggalkan.
Epilog: Renungan di Meja Kerja Kita
Luangkan waktu sejenak. Tarik napas. Dan tanyakan pada diri sendiri:
- Interaksi terakhir dengan masyarakat, apa yang saya rasakan? Apakah saya melihatnya sebagai manusia seutuhnya, atau sekadar satu berkas yang harus diselesaikan?
- Dari semua prosedur yang saya kuasai, mana yang bisa saya “hangatkan” dengan sentuhan manusiawi? Sebuah pertanyaan tambahan? Sebuah doa? Atau sebuah senyuman yang tulus?
- Jika masyarakat hanya mengingat satu hal dari pertemuan dengan saya, saya ingin itu apa? Kecepatan saya? Atau kebaikan saya?
- Apa satu langkah kecil yang bisa saya ambil pekan ini untuk membuat layanan saya lebih bermakna?
Tidak perlu jawaban yang muluk. Cukup kejujuran dalam hati kecil. Dari sanalah perubahan dimulai.
Layanan Kemenag Berdampak: Cepat, Tepat, dan Bermakna.














0 Comments