“…mutasi dan promosi merupakan hal yang biasa bagi suatu organisasi, untuk itu saya ucapkan selamat menjalankan tugas di jabatan yang baru, selamat beradaptasi dan terus belajar di lingkungan baru…”

Kalimat ini seolah menjadi mantra wajib para pimpinan organisasi pemerintahan ketika kegiatan pelantikan pejabat baru selesai dilaksanakan. Kalimat yang terdengar klise terutama untuk para petugas protokoler dan upacara kedinasan suatu instansi pemerintah.

Selalu Siap

Berulang dan berulang terus di setiap kegiatan, hanya berganti pembuka, intonasi, dan dialek dari masing-masing pemimpin tertinggi dalam kegiatan pelantikan tersebut. Kalimat yang, entah benar-benar terdengar, atau hanya selintas terdengar di telinga para pegawai dalam jabatan barunya, campur baur dengan kebahagiaan (karena dilantik) atau kekalutan (karena dipindah dari zona nyaman-nya) yang melintas cepat dalam angannya masing-masing.

Kalimat yang biasanya menutup proses pelantikan serta mengantar para pejabat dalam posisi barunya, yang kadang tanpa harus ada persetujuan, mau atau tidak. Hanya satu jawaban singkat, ‘SIAP’!, dengan keyakinan suatu dogma jalanan bahwa Tuhan selalu bersama orang-orang yang bersiap.

Mutasi, rotasi, promosi, dan bahkan demosi, adalah suatu keniscayaan dalam suatu organisasi. Tugas baru dan lingkungan baru adalah cara pembelajaran yang ditawarkan organisasi bagi pengembangan pegawai demi kepentingan organisasi.

Saya dan Anda, harus sepakat dalam hal ini, terutama pada kalimat kedua, yakni “demi kepentingan organisasi”. Itu yang seharusnya, dan juga sebaiknya, mutasi, rotasi, promosi, dan demosi merupakan kepentingan organisasi. Bukan kepentingan yang lainnya. Meski tetap saya harus memberi pernyataan disclaimer, ceteris paribus!

Dengan kepercayaan pada kepentingan organisasi itulah, kalimat penutup tersebut dapat dimaknai sebagai penyemangat pejabat lama (yang digeser) dan pejabat baru agar berkinerja semakin baik. Baik untuk dirinya sendiri, dan baik terutama untuk organisasinya.

Sayangnya kalimat di atas itu bukan merupakan penutup, tetapi justru pembuka tulisan ini, yang bagi saya seperti nasihat khotib sholat Jum’at yang berwasiat tidak hanya untuk para jamaah, tetapi justru terutama nasihat untuk dirinya sendiri.

Kenyataan Tak Seindah (dan Semudah) yang Dibayangkan

Berada di lingkungan baru (hampir) selalu menjadi tantangan bagi sebagian besar orang. Entah dalam posisi harus memimpin atau dipimpin dalam suatu birokrasi, perpindahan lingkungan memerlukan proses adaptasi yang menguras sumber daya. Sumber daya memang tidak harus selalu berarti uang, meskipun hal tersebut juga kadang sering terkuras untuk mendukung promosi dan mutasi. Sumber daya bisa berarti curahan kemampuan dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan lingkungan kerja.

Kompetensi baru yang harus segera dapat dikuasai, penyesuaian cara komunikasi, dan penyesuaian diri, menjadi tantangan-tantangan yang harus dikelola dengan penuh kesungguhan dan penuh energi!

Sependek karir saya di birokrasi, sudah seringkali mendengar keluh kesah kesusahan dari rekan dan sahabat tentang lingkungan baru, jabatan baru, rekan kerja yang baru, dan pimpinan baru. Tentang bagaimana susahnya memasuki semua hal yang baru.

Hal baru yang sejatinya mungkin tidak benar-benar baru, karena toh mungkin masih satu lantai, dalam gedung yang sama, dalam organisasi yang sama. Teman-teman yang sulit diajak untuk bekerja sama (atau mungkin yang mengajak yang seharusnya belajar cara mengajak untuk bekerja sama) sebagai tantangan yang harus dihadapi.

Ada juga keluh kesah tentang atasan yang susah untuk diteladani dan diikuti (atau mungkin kita yang harus belajar menjadi bawahan yang patut dan bahkan dinanti setiap pimpinan untuk dipimpin). Atau mungkin keterbatasan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya (yang mungkin saja kita yang harus di-up grade cara pengelolaan sumber daya yang terlihat terbatas).

Sentral dari berbagai kekhawatiran tersebut, bisa jadi ada di diri kita. Kita yang mungkin harus berubah, bukan ekosistem kita, bukan rekan kerja kita, atau mungkin juga bukan pimpinan kita. Hal yang dirasakan pada saat pertama kali kita memasuki suatu lingkungan baru karena konsekuensi dari mutasi dan teman-teman sejenisnya.

Kita yang harus bekerja lebih keras, yang mungkin lebih menderita, lebih sakit, lebih lelah, dan lebih yang lainnya, untuk dapat masuk dan kemudian menjadi berarti bagi suatu lingkungan baru.

Menjadi lebih berarti, mungkin bukan frasa yang cukup keren, tapi mungkin lebih dari cukup untuk menjadi awal bagi kita menjadi motor perubahan ekosistem ‘baru’ kita, suatu saat ini. Menjadi ‘berarti’ bermakna bahwa kita adalah cukup penting bagi jalannya sebuah ekosistem.

‘Cukup berarti’ adalah pilihan kata-kata, yang saya rasa, cukup mewakili kondisi realistis atas segala upaya kita sebagai ‘orang baru’ dalam suatu lingkungan yang telah terlebih dulu established.

Pilihan kata ‘cukup’ yang tidak hanya bermakna seadanya, melainkan berarti lebih dari itu. ‘Cukup’ boleh dianalogikan sebuah mur yang melengkapi baut dalam konstruksi mesin. ‘Cukup’ boleh juga dianalogikan sebagai botol air bekal perjalanan dalam perjalanan panjang di padang gersang. ‘Cukup’ itu bermakna bermanfaat dalam kondisi normal, namun sesungguhnya sangat vital dalam realitanya.

Harapan awal kita cuma cukup berarti, paling tidak untuk meminimalkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan pada saat kita menginjak suatu lingkungan baru.

Bila Tetap Tak Seindah yang Dibayangkan

Sependek karir saya di birokrasi pula, sudah seringkali saya mendengar keluh kesah tentang keputus-asa-an bila kenyataan bekerja tetap tidak seindah yang diharapkan. Rekan, sahabat, dan sejawat datang bercerita tentang keinginan berhenti untuk bertahan.

Banyak variabel disampaikan, yang tentu bukan wilayah saya untuk menilai apakah benar dan salah. Suatu kondisi yang bukan menjadi wiayah kita untuk menggugat sebuah pilihan keputusan, karena kendali seluruhnya ada di  rekan, sahabat, dan sejawat saya.

Memilih berhenti bertahan atau tetap bertahan, itu hak pribadi bila tak kunjung fit dengan ekosistem baru. Semua pilihan, bahkan ketika berhenti pun, akan menghadirkan tantangan baru dan pengorbanan yang baru.

Dalam dialog tersebut, biasanya saya kembali pada pertanyaan tentang kesiapan diri sendiri. Biasanya variabel diskusinya akan bertambah seiring dengan bertambahnya usia lawan dialog. Idealisme mungkin pertanyaan mendasar untuk level usia dan pengalaman tertentu. Dialog akan semakin kompleks pada akhirnya, ketika banyak variabel yang dipertimbangkan, dalam kapasitas yang sudah semakin bertambah.

Apapun pilihannya, meninggalkan organisasi atau tetap tinggal, tantangan yang konstan adalah bagaimana kita dapat mempertahankan ‘kelas kinerja’ kita. Apapun jabatan baru, medan tugas kita, siapa rekan kerja kita, bahkan siapa pun pimpinan kita, penting untuk mempertahankan kelas kinerja kita tetap yang terbaik.

Dalam promosi, hal ini menjadi mudah untuk dipahami. Karena ‘kelas kinerja’ kita di atas rata-rata, asumsi ceteris paribus alias semua normal adanya. Ketika kita di’anugerahi’ jabatan baru di atas jabatan lama kita, sudah hampir pasti karena ‘kelas kinerja’ kita yang di atas rata-rata rekan sejawat.

Pun demikian ketika kita dialihkan ke lingkungan kerja yang baru, tanpa promosi, dengan hati yang jernih dan penuh dengan pikiran positif, dapat dengan lebih ringan menyatakan, mungkin ‘kelas kinerja’ akan lebih cocok dan mungkin akan meningkat di lingkungan kerja yang lain. Namun untuk demosi, maaf, saya tidak punya analogi, meskipun mungkin diterima dengan pikiran positif, tapi itu pasti berat.

Sampai dengan pilihan tetap di tempat, menghadapi, atau beralih ke ekosistem baru, adalah sepenuhnya di diri kita. Tetap tidak mungkin bagi kita untuk memilih siapa pimpinan kita. Pun ketika kita berada di pucuk pimpinan organisasi, karena toh masih ada pucuk-nya lagi.

Tidak mungkin kita menggantikan seluruh rekan sejawat kita dengan orang-orang yang barangkali dianggap lebih cocok dengan kita. Tidak mungkin juga kita mencoba menggantikan seluruh anak buah kita, apalagi dalam konteks organisasi pemerintahan, dengan orang-orang pilihan sesuai kriteria kita.  Tidak mungkin, pun ketika kita memilih beralih wadah dan organisasi!

Pada akhirnya tantangannya adalah sama, pertama tentang bagaimana mengelola diri kita sendiri sebelum melihat yang lain. Bagaimana kita mengelola kinerja kita, agar dapat menempatkan diri sebagai sesuatu yang berarti di mana lingkungan kita berada. Pilihan untuk tetap atau beralih akan menghadapi hal yang sama, percayalah!

Jangan harapkan di lingkungan baru, orang-orang yang belum begitu mengenal Anda akan bersuka-cita merima Anda. Pun juga, orang-orang lama yang telah mengenal Anda di lingkungan yang terdahulu, tidak akan menerima Anda suatu saat nanti ketika menjadi lebih mengenalmu.

Semua serba belum tentu, seperti halnya toko-toko dengan tagline besar ‘satu harga’, yang kenyataannya tetap saja banyak harga di dalamnya. Jadi tetaplah berpikir jernih sebelum bertindak, meski boleh saja berkeluh kesah.

Jangan harap orang-orang menjadi seperti kemauan Anda, tunjukkan saja siapa diri Anda dengan prestasi Anda!

Epilog– Form is Temporary, Class is Permanent

Ah, sudahlah, seperti saya tulis di awal, tulisan ini layaknya khutbah di sholat Jumat, mewasiati umat dan yang terpenting diri kita sendiri. Saya masih juga berproses memahami semuanya, seberat rekan sejawat dan sahabat yang beberapakali curhat tentang hal yang mungkin saya sendiri alami.

Satu hal yang saya lakukan adalah membesarkan hati dan menyemangati diri, toh semua pada akhirnya ada ujungnya. Kita hanya berupaya menghias ujungnya, dengan kemenangan dan kebanggaan, atau menjadi pecundang.

Ah, sudahlah capek, layar laptop saya sudah mulai menayangkan hiruk pikuk dalam stadion menyanyikan chant kebanggan tim-nya dalam lautan penonton berbaju merah. Sedetik saya melihat slogan yang menggambarkan persis seperti yang saya pikirkan, “Form is temporary, Class is Permanent”.

Kita akan dinilai berdasar kinerja kita, di manapun kita berada. Kita tidak berhak memilih lingkungan, kita yang harus memilih untuk mewarnai lingkungan dengan kinerja kita. Kita hanya mempertahankan ‘kelas kinerja terbaik’, paling tidak sebagai bentuk harga diri dan kebanggaan diri.

Ah, sudahlah… “….walk  on, walk on, you’ll never walk alone…”

….di tengah keriuhan ‘kantor’ kala WfH, Bekasi, 17 Juni 2020 09.22. WIB….

6
0

Praktisi, petualang, dan pemerhati birokrasi yang suka membaca apa yang dilihat dan dirasakan dan menuliskannya untuk perenungan diri.

error: