Mengokohkan Integritas ASN, Mulai Dari Mana? (Sebuah Obat Generik Warisan Orang Tua)

by | Apr 25, 2022 | Birokrasi Bersih | 0 comments

Beberapa pekan yang lalu ketika kita semua sedang fokus bersiap diri menyambut Ramadhan 1443H, segenap keluarga Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) dikagetkan dengan pemberitaan Operasi Tangkap Tangan (OTT) Kejaksaan Negeri Bekasi terhadap dua orang penyelenggara negara.

Kedua oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) tersebut diduga melakukan tindak pidana pemerasan terhadap Rumah Sakit Umum Daerah dan 17 Puskesmas di Kabupaten Bekasi. Sebuah kejadian yang menjadi pukulan berat bagi ASN yang sedang bahu membahu bersinergi dan berkolaborasi untuk mengokohkan nilai integritas di birokrasi.

Nilai ASN yang ditanamkan sejak rekrutmen, diklat dasar, hingga diklat teknis pengembangan kompetensi pegawai, seolah tidak berhasil mematri nilai kejujuran di dalam diri seluruh ASN. Nilai integritas yang seharusnya semakin kokoh tertanam seiring bertambahnya masa kerja, namun nyatanya seolah justru semakin luntur.

Integritas, Sebuah Fondasi

Menengok Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas merupakan mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Sementara itu, dalam konteks kehidupan nasional, integritas merupakan wujud keutuhan prinsip moral dan etika bangsa dalam kehidupan bernegara.

Integritas merupakan sebuah fondasi yang harus ditanamkan jika sebuah institusi ingin mengokohkan bangunan visi misi di atasnya. Sebaliknya, seberapa megah dan indahnya bangunan visi misi, sejatinya rapuh jika tidak dibangun di atas fondasi integritas yang kokoh.

Sejalan dengan analogi bahwa integritas adalah sebuah fondasi bangunan, tahapan untuk membangunnya juga harus dilakukan bersama-sama dan melibatkan banyak elemen.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi misalnya, mencoba membangun fondasi integritas dengan model yang melibatkan komponen Manajemen Perubahan, Penataan Tatalaksana, Penataan Manajemen SDM, Penguatan Akuntabilitas Kinerja, Penguatan Pengawasan, dan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.

Selain itu, masih banyak lagi model, metode, serta langkah yang bisa dilakukan untuk membangun fondasi integritas dalam sebuah institusi.

Padahal, rasanya tak perlu jauh-jauh dan pusing mencari-cari. Sebuah obat generik sejatinya telah diajarkan oleh orangtua kita untuk menanamkan kejujuran dalam diri kita. Metode pendidikan itu adalah 3M, yaitu “Mulai dari yang kecil-kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari saat ini.”

1) Mulai dari yang kecil-kecil

Kejujuran merupakan sikap mental yang diwujudkan dalam tindakan keseharian. Ia tidak sekadar slogan dan semangat kosong, namun sebuah nilai yang terpancar dari praktik keseharian terhadap hal-hal kecil.

Melatih kejujuran dari hal-hal kecil bisa kita lakukan misalnya dengan senantiasa berusaha menepati jam kerja yang sudah ditetapkan. Jujurlah mengakui keterlambatan jam kerja yang dilakukan.

Ikhlaskan untuk menerima konsekuensi dari keterlambatan kita, tidak usah berusaha mencari pembenaran atas kesalahan itu dan rendah hatilah untuk segera mengoreksi diri di hari berikutnya. Selain itu, melatih integritas juga bisa kita latih dengan bersikap asertif terhadap penyimpangan anggaran sekecil apapun.

2) Mulai dari diri sendiri

“Satu teladan lebih baik daripada 1000 nasihat,” sebuah peribahasa yang relevan untuk menggambarkan bahwa integritas tidak cukup dibangun dengan kurikulum kelas dan ceramah formal, namun perlu ditanamkan dengan sebuah keteladanan.

Keteladanan yang paling efektif adalah keteladanan kolektif dari setiap level institusi. Keteladanan kolektif tidak hanya membebankan pada pimpinan puncak, tidak hanya dititipkan pada pimpinan level menengah, apalagi hanya dituntut pada pimpinan level bawah.

Setiap ASN seyogyanya harus menyadari bahwa dirinya adalah teladan untuk dirinya, teladan untuk keluarganya, serta menjadi manifestasi negara di lingkungan masyarakatnya. Perilaku diri ASN yang berintegritas akan manghasilkan sosok pribadi yang berani, percaya diri, berwibawa, serta menjadi kebanggan dan teladan bagi keluarga dan msyarakat sekitar.

Namun sebaliknya, penyimpangan perilaku ASN akan melahirkan pribadi yang penakut, minderan dan hilang kewibawaan. Itulah awal dari skeptisme dan ketidakpercayaan rakyat terhadap penyelenggara negara.

3) Mulai dari saat ini

Membangun fondasi integritas tidak bisa ditunda, karena tidak ada kesuksesan yang bisa diraih dengan menunda pekerjaan. Hadapilah badai yang kita temui saat ini dan jadikan momentum untuk bangkit, melakukan evaluasi, kemudian mengumpulkan segenap potensi untuk berlari kembali mewujudkan visi dan misi institusi.

Segera hentikan sekecil apapun praktik yang akan melubangi perahu integritas kita. Syukuri rizqi yang sudah didapatkan dan tak perlu mengharap tambahan penghasilan karena belum tentu hasil yang kita terima saat ini sudah sebanding dengan keringat yang kita keluarkan.

Upayakan untuk terus menyeimbangkan kinerja kita dengan penghasilan yang kita dapatkan, sebelum Sang Kholiq sendiri yang menyeimbangkannya. Tidak usah risau jikapun keringat kita lebih banyak kita keluarkan, karena Sang Mahakaya pasti akan memberikan kekurangan jatah kita pada waktunya.

1
0
Nurochman ◆ Active Writer

Nurochman ◆ Active Writer

Author

Seorang pejabat struktural di Badan Diklat Pemeriksaan Keuangan Negara BPK RI. Alumni Program D-IV Akuntansi STAN dan Magister CIO Institut Teknologi Bandung ini tertarik dengan berbagai program character building SDM baik di internal organisasi maupun di masyarakat. Ia juga aktif dalam program pemberdayaan masyarakat dengan mendirikan MPRO Adventure. Sebagai salah satu pemegang Loop Certified Corporate Coach ia juga banyak terlibat dalam program pengembangan SDM melalui coaching dan mentoring.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post