Pada awal abad ke-21, sebuah serial televisi Amerika mengajukan pertanyaan yang terdengar seperti fiksi ilmiah: bagaimana jika ada mesin yang mampu mengetahui hampir segala sesuatu tentang manusia?

Pertanyaan itu menjadi jantung cerita Person of Interest, serial yang tayang pada 2011 hingga 2016. Kisahnya berpusat pada Harold Finch, seorang jenius komputer yang menciptakan sistem kecerdasan buatan bernama The Machine.

Dengan mengumpulkan miliaran data digital, mesin itu mampu mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi menjadi korban atau pelaku kejahatan sebelum peristiwa terjadi.

Bagi penonton masa kini, premis tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan. Kita hidup di era media sosial, kamera pengawas, dan kecerdasan buatan. Namun jika dilihat dari perspektif sejarah, Person of Interest sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih tua daripada komputer, yakni hasrat kekuasaan untuk mengetahui sebanyak mungkin tentang manusia.

Sesungguhnya sejarah pengawasan modern dapat ditelusuri jauh sebelum lahirnya internet. Pada akhir abad ke-18, filsuf Inggris, Jeremy Bentham, memperkenalkan gagasan Panopticon, sebuah rancangan penjara berbentuk melingkar dengan menara pengawas di tengah.

Para tahanan tidak pernah tahu kapan mereka sedang diawasi. Karena merasa selalu mungkin diawasi, mereka akan mendisiplinkan diri sendiri.

Dua abad kemudian, gagasan itu dibaca ulang oleh Michel Foucault. Menurutnya, masyarakat modern perlahan berkembang menjadi ruang pengawasan raksasa. Kekuasaan tidak lagi bekerja terutama melalui hukuman fisik, melainkan melalui kemampuan melihat, mencatat, dan mengendalikan perilaku manusia.

Apa yang dibayangkan Bentham dan Foucault ternyata menemukan bentuk yang lebih nyata dalam negara-negara modern. Pada abad ke-20, berbagai rezim membangun sistem pengawasan yang luas.

  • Uni Soviet memiliki jaringan intelijen yang mengumpulkan laporan tentang warga negara.
  • Jerman Timur membentuk organisasi keamanan negara yang terkenal, Stasi, yang menyimpan jutaan berkas tentang kehidupan masyarakat. Tetangga dapat melaporkan tetangga, teman dapat mengawasi teman.

Meski demikian, ada satu keterbatasan besar, yakni manusia. Laporan harus dibaca petugas. Arsip harus disimpan secara fisik. Informasi harus dipilah satu demi satu. Pengawasan massal membutuhkan tenaga dan biaya yang luar biasa besar. Di sinilah revolusi digital mengubah segalanya.

Internet memungkinkan data dikumpulkan secara otomatis. Telepon genggam merekam lokasi. Kamera pengawas merekam pergerakan. Mesin pencari mencatat rasa ingin tahu seseorang. Media sosial menyimpan preferensi, pergaulan, bahkan emosi pengguna.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, impian lama tentang pengawasan menyeluruh memperoleh infrastruktur teknologi yang memadai.

The Machine dalam Person of Interest lahir dari konteks tersebut. Serial ini muncul hanya beberapa tahun setelah serangan 11 September 2001 yang mengguncang Amerika Serikat. Demi mencegah terorisme, pemerintah memperluas kemampuan pengumpulan data dan pengawasan elektronik. Ketakutan terhadap ancaman keamanan bertemu dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih.

Yang menarik, serial ini tidak menggambarkan pengawasan sebagai sesuatu yang sepenuhnya jahat. Banyak nyawa berhasil diselamatkan karena kemampuan The Machine mendeteksi ancaman. Namun justru di situlah dilema moralnya. Jika teknologi dapat mencegah kejahatan, sampai sejauh mana masyarakat bersedia menyerahkan privasinya?

Pertanyaan tersebut semakin relevan setelah dunia dikejutkan oleh pengungkapan dokumen rahasia oleh Edward Snowden pada tahun 2013. Publik mengetahui bahwa pengumpulan data dalam skala besar bukan lagi sekadar imajinasi para penulis skenario.

Dalam banyak hal, Person of Interest tampak seperti peringatan sejarah daripada hiburan televisi. Ia menunjukkan bahwa teknologi mungkin berubah, tetapi dilema kekuasaan tetap sama. Dari arsip polisi rahasia hingga kecerdasan buatan, pertanyaan yang terus berulang adalah siapa yang mengawasi para pengawas.

Karena itu, serial ini bukan hanya kisah tentang komputer yang pintar. Ia adalah bab terbaru dari sejarah panjang hubungan manusia dengan kekuasaan, informasi, dan pengawasan. Bentuknya berubah dari kertas menjadi data, dari arsip menjadi algoritma. Namun ambisinya tetap sama: mengetahui manusia sedetail mungkin.

1
0
Wurianto Saksomo ♥ Professional Writer

Wurianto Saksomo ♥ Professional Writer

Author

PNS pada Pemkab Ngawi, alumnus S1 FH UGM dan S2 MAP UGM

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post