
Pada Juni 2026, satu Dolar Amerika Serikat pernah mencapai Rp18.000-an, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pelemahan nilai rupiah ini dapat menyebabkan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok dan jasa secara bertahap. Kalau ini terus berlanjut, inflasi pun tak terelakkan lagi.
Ditambah lagi dengan berbagai konflik global yang berpengaruh pada perekonomian. Data tingkat inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2025 sebenarnya sudah mengalami penurunan.
Namun, menjelang Desember 2025 hingga Juni 2026 angkanya menunjukkan peningkatan. Inflasi tentu membuat daya beli masyarakat berkurang, terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap, salah satunya adalah Pegawai Aparatur Sipil Negara (Pegawai ASN).
Untuk Pegawai ASN yang memasuki usia pensiun dan hanya mengandalkan uang pensiun, hal di atas menjadi tantangan yang berat. Sudah terbayang penghasilan yang rutin diterima langsung turun drastis karena seluruh tunjangan kinerja, honorarium, dan pendapatan lainnya tidak bisa lagi diperoleh.
Uang pensiun yang diterima maksimal 75% dari gaji pokok. Sebagai contoh, Pegawai ASN dengan pangkat tertinggi IV/e dengan masa kerja 30 tahun, mempunyai gaji pokok sekitar Rp6,1 juta (Peraturan Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2024).
Saat pensiun, maka yang diperoleh sekitar Rp4,6 juta per bulan (75% x Rp6,1 juta). Jumlah tersebut tidaklah cukup besar untuk mengimbangi inflasi dan kebutuhan yang mendadak.
Berdasarkan data BPS dalam sepuluh tahun terakhir, Umur Harapan Hidup (UHH) pada tahun 2020 adalah 73,37 dan terus mengalami peningkatan menjadi 74,47 pada tahun 2025. Sementara usia pensiun Pegawai ASN rata-rata adalah 58 tahun.
Dengan demikian, masih ada kebutuhan hidup yang harus dipersiapkan sekitar 15 tahun ke depan. Yang menjadi pertanyaan, apakah mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk memenuhi kebutuhan untuk 15 tahun ke depan atau bahkan lebih jika diberi umur panjang?
Apakah bisa mengandalkan uang pensiunan saja?
Realistis, dengan inflasi yang meningkat setiap tahun dan uang pensiun yang cenderung sama, maka dikhawatirkan hanya mengandalkan uang pensiun bulanan, tidak dapat mencukupi kebutuhan masa pensiun yang cenderung meningkat seiring inflasi.
Di sisi lain, biaya kesehatan bisa jadi akan meningkat atau masih ada kebutuhan lain yang mendadak. Sekarang, apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan hidup pada saat pensiun nanti?
Apakah Tabungan Hari Tua dan Jaminan Pensiun Sudah Cukup?
Sejak diangkat pertama kali sebagai Pegawai ASN, negara telah memotong sekitar 8% dari gaji pokok dan tunjangan keluarga sebagai tabungan hari tua dan jaminan pensiun. Tabungan hari tua dicairkan sekaligus saat berhenti bekerja atau mencapai batas usia pensiun sedangkan jaminan pensiun diberikan secara bulanan.
Pertanyaan yang muncul, apakah tabungan atau dana yang diterima saat pensiun tersebut bisa mencukupi kebutuhan dengan baik dan bisa untuk berapa lama? Bukankah nilai uang juga digerus oleh inflasi? Ditambah lagi kurang bisa menyesuaikan diri dengan penghasilan saat pensiun, gaya hidup masih seperti yang biasa dilakukan sebelum pensiun.
Nyatanya saat ini, tabungan pensiun tidaklah cukup besar untuk memenuhi berbagai kebutuhan, karena jumlah yang diterima pada saat pensiun cukup kecil dan seringkali yang menjadi pilihan saat membutuhkan dana besar adalah menjual atau menggadaikan aset seperti tanah, emas, rumah, kendaraan, dan lain-lain atau bahkan meminjam ke bank dengan jaminan uang pensiun.
Oleh sebab itu, perlu suatu solusi finansial yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Sejak Kapan ASN Mempersiapkan Masa Pensiun?
Melihat pada Buku Statistik Aparatur Sipil Negara (ASN) per 31 Desember 2025 yang diterbitkan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN), menunjukkan jumlah seluruh Pegawai ASN aktif yaitu 6.546.083 orang.
- Dari total tersebut, jumlah Gen Z (kelahiran 1997-2021) berjumlah 586.756 (9%),
- Gen Y (kelahiran 1981-1996) berjumlah 3.543.281 (54%),
- Gen X (kelahiran 1965-1980) berjumlah 2.389.629 (36%), dan
- Baby Boomers (kelahiran 1946-1964) berjumlah 26.417 (1%).
- Gen Z ditambah dengan Gen Y berjumlah 4.130.037 (63%).
Berdasarkan data tersebut serta mengacu pada batas usia pensiun rata-rata 58 tahun, lebih dari separuh Pegawai ASN masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan masa pensiunnya.
Seorang Pegawai ASN yang masih muda, perlu mempersiapkan diri sejak awal. Sebagaimana merencanakan karier, idealnya juga mampu merencanakan masa pensiun yang baik. Dengan apa? Tentu dengan mempunyai literasi keuangan yang baik pula.
Saat ini, untuk mempelajari pengetahuan dan penerapan literasi keuangan dapat diperoleh secara cepat dan gratis dari internet ataupun media sosial. Berbagai informasi finansial dan ekonomi mudah diakses melalui ponsel pintar.
Bisa juga dengan membeli buku mengenai pengelolaan keuangan seperti bagaimana mengatur budget, menabung bulanan, ataupun berinvestasi. Untuk persiapan pensiun, menabung dan investasi adalah pilihan yang harus dilakukan Pegawai ASN jika ingin tetap sejahtera pada masa tuanya.
Menabung atau Berinvestasi, Pilih yang Mana?
Menabung dan berinvestasi mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing. Pegawai ASN perlu memahami perbedaan menabung dan berinvestasi karena seringkali kedua hal ini dianggap memiliki konsep yang sama.
Menabung tujuannya menyimpan uang dengan aman, risiko rendah, cocok untuk tujuan jangka pendek dan dana darurat, namun imbal hasilnya kecil dan tidak ada arus kas yang dihasilkan secara rutin.
Sedangkan berinvestasi tujuannya agar nilai kekayaan bertambah, potensi imbal hasil lebih tinggi, namun lebih berisiko dan membutuhkan waktu yang panjang. Jika belum dapat atau belum berani berinventasi, mulailah dengan menabung terlebih dahulu.
Dalam menabung dan berinvestasi, kita juga harus berhati-hati. Jangan sampai terjebak ke dalam investasi bodong, karena uang yang kita kumpulkan dalam waktu tertentu dan dengan susah payah bisa lenyap dalam sekejap. Jangan FOMO (Fear Of Missing Out) alias takut ketinggalan.
Cek apakah tempat berinvestasi terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Kementerian Perdagangan (Bappebti). Hindari investasi monkey business seperti kisah batu akik, gelombang cinta, tanaman anthurium, dan lainnya.
Dulu, harga jual beli naik tinggi dan dianggap menjanjikan, sekarang sudah tidak lagi terlalu berharga di masyarakat. Pertimbangkan dengan matang, teliti, dan terukur. Selain itu, lakukan diversifikasi sehingga saat salah satu instrumen mengalami kerugian masih dapat ditutup oleh keuntungan instrumen yang lain.
Lakukan dengan Rutin dan Konsisten
Contoh menabung yang bisa dilakukan Pegawai ASN yang baru bekerja misal menabung Rp500.000 setiap bulan secara teratur, setelah terkumpul sekian rupiah dapat dibelikan satu gram emas. Jika ini dilakukan rutin, maka emas yang terkumpul dapat menjaga atau mengimbangi inflasi yang terjadi.
- Sebagaimana yang kita ketahui, emas adalah salah satu aset yang dapat melindungi nilai kekayaan dari dampak inflasi.
- Bagi yang ingin berinvestasi ke saham, dapat membeli saham setiap bulan secara teratur dengan mulai dari dana yang kecil (100-500 ribu rupiah/bulan).
Dari saham tersebut dapat mendapat imbal hasil berupa deviden dan meningkatnya nilai saham dalam jangka waktu panjang. Tentu saja ada risiko, namun dengan mempelajari berbagai instrumen investasi, hal tersebut dapat diminimalisasi. Dan perlu dingat, bahwa dalam menabung dan berinvestasi kita juga harus bersabar, konsisten, dan memiliki visi jangka panjang.
Selain kedua contoh tadi, tentu saja masih banyak lagi cara menabung dan investasi lainnya yang dapat dipilih. Dengan literasi keuangan yang baik, seorang Pegawai ASN akan dapat memilih apakah cukup dengan menabung saja atau juga melakukan keduanya, menabung sekaligus berinvestasi.
Penting juga adanya penetapan target jumlah sehingga saat memasuki usia pensiun sudah terdapat tabungan dan investasi yang cukup sehingga tidak ada lagi kekuatiran untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Penutup
Jadi, seorang Pegawai ASN yang dapat menabung atau berinvestasi atau bahkan keduanya, maka diharapkan dapat pensiun dengan lebih tenang dan bahagia karena selain memiliki pensiun bulanan, dia juga dilindungi oleh aset yang dapat terjaga nilainya (emas), memiliki dana tambahan yang relatif cukup (dividen), aset yang meningkat dari hasil investasi (kenaikan harga saham), dan lain sebagainya.
Yang terpenting adalah sedari awal harus dapat mengelola keuangan dengan baik, bisa menabung, hidup sesuai dengan kebutuhan. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.
Satu lagi yang tak kalah penting adalah menjaga kesehatan sejak awal karena kesehatan adalah investasi yang besar dan sangat berharga.














0 Comments