Pengantar

Transportasi publik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kesan ketidaknyamanan. Sebagai contoh, penuh sesak karena melebihi daya angkut, banyak pencopet, kumuh, bau, tidak tertib, kebut-kebutan, dan tidak dapat diandalkannya jadwal adalah sederet atribut yang sering kita dengar. Bahkan, kondisi transportasi publik seperti ini masih kita rasakan di Jakarta hampir setiap harinya.

Syukurnya, beberapa tahun belakangan ini transportasi publik di Jakarta sudah mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Perubahan ini diawali dengan keberadaan busway yang melayani penumpang dengan nyaman dan tertib.

Kemudian, kereta commuter line yang mengubah total cara kerjanya juga mulai terlihat hasilnya. Sebagai contoh, kereta ini sudah memberlakukan gate untuk tiket, pintu kereta selalu tertutup, serta tidak lagi ditemui penumpang yang duduk di atap kereta demi menghindari pemeriksaan karcis.

Tahapan perbaikan di bidang transportasi publik lainnya yang sedang berlangsung di Jakarta adalah pembangunan mass rapid transit (MRT) dan light rapid  transit (LRT) yang akan melayani penumpang dalam jumlah yang lebih banyak. Perubahan ini dimaksudkan untuk mengejar ketertinggalan penyediaan layanan transportasi publik di Jakarta dari kota-kota besar lainnya di dunia. Tentu saja, perubahan ini adalah kemajuan yang layak untuk diapresiasi.

Untuk menginspirasi lagi pengembangan transportasi di Indonesia agar lebih maju, kali ini saya ingin berbagi cerita bagaimana layanan transportasi publik di Melbourne, Australia, dijalankan. Soalnya, tiga tahun saya tinggal di Melbourne telah memberikan saya kesempatan untuk merasakan kenyamanan transportasi publik di sana.

Kualitas transportasi publik di Melbourne ini tidak bisa dilepaskan dari lima elemen utama, yaitu otoritas pengelolaan, moda transportasi, jaringan infrastruktur, akses terhadap penyandang disabilitas, dan perilaku pengguna.

Otoritas Pengelolaan

Otoritas pengelolaan transportasi publik di negara bagian Victoria dipegang oleh Public Transport Victoria (PTV).  Otoritas ini merupakan bagian dari pemerintah negara bagian yang memiliki tugas mengelola semua transportasi publik di negara bagian Victoria. Mereka sekaligus bertindak sebagai lembaga perlindungan konsumen di bidang transportasi.

PTV memiliki fungsi memperbaiki transportasi publik di Victoria. Cara yang mereka tempuh adalah dengan memperbaiki koordinasi antara moda-moda transportasi yang ada, membangun perluasan jaringan transportasi, dan mengaudit aset-aset transportasi publik. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab mempromosikan transportasi publik sebagai sebuah alternatif yang lebih baik dibandingkan bepergian dengan mobil pribadi.

Moda Transportasi yang Terintegrasi

Transportasi publik di Melbourne hampir sama dengan beberapa kota besar dunia lainnya, yaitu memiliki moda transportasi kereta api, bus, dan tram. Ketiga jenis moda transportasi ini terintegrasi satu sama lain, baik dalam hal penggunaan kartu maupun lokasinya. Sebagai contoh, pengguna transportasi publik di sana menggunakan kartu Myki yang dapat digunakan di ketiga jenis moda transportasi.

Integrasi ini juga dapat dilihat dari lokasi. Sebagai contoh, di sekitar stasiun kereta api tempat saya tinggal ada halte bus dan halte tram yang akan mengantarkan saya dari stasiun terdekat ke daerah-daerah sekitarnya. Dengan demikian, saya tidak perlu menggunakan mobil pribadi untuk tiba di rumah.

Kereta api yang melayani penduduk Melbourne dan sekitarnya ini dioperasikan oleh Metropolitan Trains (Metro Trains). Menurut data tahun 2016, panjang track kereta api di sana adalah 830 kilometer dengan 16 jurusan yang mengangkut penumpang sebanyak 235,4 juta orang dari 218 stasiun.

Namun, permasalahan yang kurang nyaman di Metro Trains adalah banyaknya perlintasan sebidang yang menimbulkan kemacetan lalu lintas dan juga risiko kecelakaan antara kereta dan mobil. Sisi baiknya, PTV terus berusaha mengurangi perlintasan sebidang ini dengan membangun underpass atau flyover.

Di Melbourne, bus digunakan oleh penduduk untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Bus ini dimiliki oleh 13 independent operator, 346 trayek yang menempuh jarak 114,3 kilometer, dan mengangkut 122,5 juta penumpang. Meskipun operator ini berbeda, pengendalian transportasi tetap berada di bawah PTV.

Kenyamanan moda transportasi jenis bus ini terlihat dari ukuran bus yang besar yang dilengkapi dengan mesin pendingin ruangan. Penumpang pun naik dan turun di halte yang dilengkapi dengan jadwal kedatangan dan rute. Tiket pun sudah terintegrasi dengan moda transportasi lainnya.

Jadwal kedatangan pun hampir selalu tepat sehingga kita bisa merencanakan kegiatan dengan tepat. Tak hanya itu, pengemudi juga sopan, tertib, dan sangat membantu penumpang, khususnya penumpang dengan disabilitas dan ibu-ibu yang membawa stroller ataupun troli belanja.

Pengelolaan tram di sana hanya dilakukan oleh 1 operator saja, yaitu Yarra Trams. Jumlah rute yang dijalani adalah 24 dengan panjang double track mencapai 250 km. Tram ini mengangkut 203,8 juta penumpang, dengan jumlah halte sebanyak 1.761 buah.

Di beberapa area, tram ini memiliki jalur tersendiri sehingga mobilitas pun lancar. Namun, banyak pula jalur tram memiliki jalur yang sama dengan jalan kendaraan lain sehingga sering menimbulkan kemacetan lalu lintas. Hal ini terjadi karena lebar jalan yang terbatas.

Jaringan Infrastruktur

Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memiliki otoritas dalam penyediaan jaringan infrastruktur transportasi public di sana. Perbedaan peran keduanya terletak pada kemampuan menyediakan jaringan infrastruktur yang sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka mendanai pembangunan jaringan.

Jaringan infrastruktur transportasi publik sendiri di Victoria meliputi jalan untuk bus—termasuk bus jarak jauh dan bus regional—kereta, dan tram sepanjang 2.964,2 km. Panjang track kereta api adalah 830 kilometer yang terbentang ke seluruh penjuru Melbourne dan daerah penyangganya. Track kereta api di sana dibuat ke segala arah.

Titik utamanya adalah stasiun besar (Flinders Station) yang dipecah ke Barat (North Melbourne). Dari sini, track lalu dipecah lagi menjadi 2 jurusan ke Utara (Upfield) dan Barat (Footscray). Sesampai di Footscray, track tersebut dipecah lagi menjadi ke Barat (Newport) dan Utara (Sunshine). Dari Barat (Newport), jalur ini dipecah menjadi 2 arah, yaitu ke Selatan (Williamstown) dan Barat (Werribee).  Dengan demikian, seluruh area tercakup oleh pelayanan kereta (lihat Gambar).

Ramah kepada Penyandang Disabilitas

Satu hal yang menarik dari transportasi publik di Melbourne dan sekitarnya adalah besarnya perhatian terhadap para penyandang disabilitas karena pengelola transportasi publik sangat memperhatikan kebutuhan mereka. Lantai bus di sana bisa diturunkan sehingga para penyandang disabilitas yang menggunakan tongkat dapat naik dengan mudah.

Jika penumpang menggunakan kursi roda, supir bus akan turun dan membuka pelat penghubung antara bus dan lantai halte. Selanjutnya, pengguna kursi roda akan naik melalui jembatan penghubung. Di dalam bus, juga disediakan ruang yang cukup untuk kursi roda. Ruang ini terletak di belakang supir bus. Umumnya, ruang ini ditandai dengan kursi berwarna oranye dan gambar kursi roda.

Untuk kereta api, pengguna kursi roda dilayani di gerbong pertama. Masinis akan turun dan membuka jembatan penghubung antara lantai peron dan kereta. Area di dalam gerbong pertama itu ditandai dengan gambar kursi roda di lantainya. Ketika penumpang disabilitas hendak turun, masinis akan membuka kembali jembatan penghubung itu. Emplasemen untuk keluar dan masuk peron juga dibuat dalam bentuk ramp yang memudahkan mobilitas penyandang disabilitas.

Perilaku Pengguna

Selain infrastruktur, elemen lainnya terletak pada perilaku pengguna. Latar belakang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sejarah membentuk perilaku pengguna di kota tersebut.

Dalam hal kebersihan, ada aturan yang dibuat untuk memastikan tidak ada penumpang yang membuang sampah (littering). Jika ada pengguna yang melanggar, mereka akan dikenakan denda.

Menariknya, tidak ada petugas kebersihan yang stand by di jalur transportasi publik. Namun demikian, tindakan vandalisme sering juga dialami. Sebagai contoh, masih ada tangan-tangan jahil yang mencoret-coret bangku dan jendela media transportasi di sana.

Transportasi publik di Melbourne juga tidak bisa lepas dari masalah free-rider (alias penumpang gelap), terutama di tram dan bus di mana tidak ada gate yang harus dilalui penumpang, seperti halnya di stasiun kereta.

Untuk mencegahnya, masing-masing operator menyiapkan authorised officer yang memastikan setiap penumpang membayar pelayanan mereka. Mereka bisa melakukan inspeksi kapan pun dan di mana pun. Terkadang, para petugas ini memakai seragam formal, tetapi sering juga mereka berpakaian seperti penumpang lainnya.

Jika ada penumpang yang tertangkap karena tidak memiliki Myki atau menyalahgunakan Myki, mereka akan dikenakan denda yang lumayan besar, yaitu $238, atau sekitar Rp2.380.000. Biasanya yang mereka langgar adalah kartu concession.

Di sana, pemegang kartu concession berhak membayar 50% lebih murah dari tarif yang seharusnya. Menurut peraturan, kartu concession ini hanya berlaku bagi pencari suaka, anak-anak, siswa sekolah, mahasiswa S-1, pemegang health care card, pensiunan, pemegang senior card, penduduk usia di bawah 60 tahun dan memegang pension card dengan kode DSP atau CAR, dan veteran perang atau janda veteran perang. Namun, banyak juga mereka yang tidak berhak malah menggunakan kartu concession ini.

Pelanggaran lain adalah penumpang tidak tap in pada saat mereka naik bus atau tram. Ketika mereka tidak tap in di mesin yang ada di setiap bus dan tram, mereka menggunakan fasilitas ini tanpa  membayar. Tindakan ini jelas merugikan operator bus dan tram karena pembayaran yang mereka terima dari PTV berdasarkan jumlah penumpang yang tap in di mesin.

Penutup

Biaya transportasi publik di Melbourne memang lumayan mahal. Jika perjalanan memakan waktu kurang dari 2 jam, ongkosnya bisa mencapai $4.3 (atau Rp43.000). Kalau sudah lebih dari 2 jam, maka ongkosnya menjadi $8.6 (bagi yang tidak berlangganan). Namun, bagi penumpang yang berlangganan selama sebulan atau seminggu, tarif per hari menjadi lebih murah.

Saya dan suami menyiasati persoalan tarif transportasi yang mahal ini dengan menggunakan 1 kartu Myki secara bersama. Saya menggunakan kartu Myki di pagi hari untuk mengikuti kursus bahasa Inggris. Sore hari, kartu itu dipakai oleh suami saya untuk kuliah karena kebetulan jadwal kuliahnya sore sampai malam. Dengan demikian, kami bisa menghemat biaya perjalanan per hari sebesar $8.6 untuk 2 orang.

Walaupun ongkos ini lumayan mahal untuk ukuran saya, keberadaan transportasi publik di Melbourne telah membantu mobilitas saya dari rumah ke Queen Victoria Market sebagai sales promotion girl (SPG) kaos souvenir.

Transportasi publik ini juga ramah untuk kantong seorang istri mahasiswa seperti saya ketika mengantarkan saya ke Direct Factory Outlet (DFO) berburu barang diskonan dan ke Melbourne Central Station mengirim tempe pesanan teman-teman seantero Melbourne.***

 

 

Sri Rahayu Tresnawati ♥ Associate Writer

Seorang PNS yang menjalani pekerjaan di bidang diklat selama 21 tahun, pemegang Magister Ilmu Ekonomi dari FEUI dan sempat mencicipi dunia early childhood education ketika CTLN selama 3 tahun karena mengikuti suami di Melbourne. Lahir dan besar di Jakarta, tetapi sempat mencicipi penugasan di Palembang dan Cimahi.

error: