Masih Relevankah Sastra dalam Pendidikan di Tengah Dunia Akal Imitasi yang Saintifik?

by | Jun 10, 2026 | Literasi | 0 comments

Di depan sana, terhampar pemandangan indah teknologi yang menakjubkan, sementara di belakang, masih tersimpan nostalgia kejayaan sejarah masa lalu. Namun di sinilah kita, berdiri di tengah keraguan, gamang memijakkan kaki, bingung menetapkan langkah, dan galau pada keadaan. Salah satu kegalauan itu tampak jelas dalam menentukan arah kebijakan pendidikan. Setiap pergantian Menteri Pendidikan, selalu dihadapkan pada tantangan mengejar ketertinggalan terutama sains dan teknologi. Namun di sisi lain, pendidikan kita juga mengharuskan adanya muatan nilai-nilai luhur, sebagai penenang kekhawatiran kita terhadap generasi penerus, agar mereka tidak tercerabut dari asalnya sebagai anak bangsa, di hadapan kemajuan zaman.

Sayang sekali, generasi penerus yang kita sebut dengan Gen – Z ini turut mewarisi kegamangan kita menatap masa depan. Justru merekalah yang berhadapan langsung dengan tantangan kemajuan yang saat ini kita hadapi. Bahkan tidak lama lagi, generasi alfa akan menaiki bangku kuliah, kemudian lulus dan mulai mengambil peran dalam masyarakat. Sementara itu, pendidikan kita terus dipaksa untuk mengikuti kekhawatiran generasi lawas yang takut dan gagap dengan teknologi. Namun tidak melihat dampak yang sebenarnya sedang terjadi pada pendidikan kita dewasa ini. Salah satunya yaitu dikesampingkannya sastra dari roadmap Pendidikan, yang seakan terengah-engah mengejar Artificial Intelligence. 

Sastra dan Bahasa seringkali disepelekan dalam tataran pendidikan di Indonesia. Sejak saya menjadi peserta didik, hingga saat ini sebagai seorang pendidik, saya melihat jelas keadaan ini. Sastra masih dianggap sekadar permainan kata, dan lebih parah lagi hanya gombalan bagi anak muda. Konten-konten media sosial juga menunjukkan hal yang sama, banyak video “kata-kata hari ini” yang  digemari dan viral, namun sejujurnya sangat dangkal dan tidak mencerminkan sastra itu sendiri. Apalagi dengan semakin cerdasnya Generative Artificial Intelligence yang ditenagai oleh Large Language Models, kita dapat dengan cepat tanpa berpikir, menghasilkan “karya sastra” hasil template mesin. Hal ini semakin memperparah keadaan sastra dewasa ini, yang semakin kurang dihargai oleh generasi muda.

Padahal sejarah kesasteraan sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia. Sastra dikenal sejak manusia menemukan bahasa, bahkan sebelum mengenal aksara. Setelah ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan aksara, maka sastra menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pengetahuan. Para cendikiawan, filsuf, negarawan juga merupakan satsrawan. Misalnya saja Aristoteles yang menulis buku Poetica, yang menjadi salah satu buku teori sastra tertua. Itulah sebabnya sastra, menurut Muhri (2016), menjadi hal yang sulit untuk didefinisikan secara penuh, karena memang memiliki kaitan yang sangat kuat dengan ilmu pengetahuan.

Dalam ranah agama, keberadaan sastra juga berada pada tempat yang sangat penting. Kitab-kitab suci ditulis dengan kualitas sastra yang tinggi. Terutama agama Islam, bahkan Al Quran, menjadi dasar bagi sastra Arab. Berkebalikan dari kebiasaan, Al Quran bukanlah pengguna tata Bahasa Arab, justru menjadi sumber bagi pengembangan ilmu Nahwu dan Sharaf, yang dikodifikasi oleh Abu Aswad ad-Duali. Kali ini, sastra justru menjadi sumber bagi bahasa, dan bukan sebaliknya. Generasi awal Ulama, juga merupakan ahli sastra. Misalnya Imam Syafii yang dikenal sebagai seorang Faqih agung, juga seorang ahli sastra ulung. Hal ini berkebalikan dengan kondisi dewasa ini, ketika sastra justru dianggap tabu dalam pendidikan agama. Buya Hamka mengalami cemoohan manakala beliau menerbitkan karya sastranya. Padahal, ajaran agama sendiri disampaikan dengan sastra.

Di lapangan ilmu alam atau sains, sastra sebenarnya berada pada tempat yang terhormat. Rene Descartes dan Blaise Pascal, yang dikenal sebagai jenius dan perumus banyak konsep alam, juga merupakan penyair brilian. Menurut penelusuran oleh Tzveta (2016), para saintis awal merupakan penyair yang produktif. Galileo dan Kepler, adalah contoh nama besar dalam sains yang juga merupakan penyair. Pada era Modern, terdapat nama Erwin Schrodinger, sang perumus teori kuantum yang menjadi pilar sains modern, mencakup fisika, kimia, dan biologi. Selain fisika, para matematikawan klasik banyak yang juga merupakan seorang penyair. Mulai dari Brahmagupta, al-Biruni, hingga Omar Khayyam, merupakan contoh matematikawan dengan karya sastra yang diakui. Bahkan Nicolo Tartaglia, seorang matematikawan penemu rumus persamaan kubik, yang mengantarkan pada penemuan bilangan imajiner, menjelaskan konsep ini dalam puisi yang ia tulis. 

Maka kemampuan sastra bukanlah suatu hal yang bisa dianggap remeh dan kurang derajatnya dari kemampuan saintifik. Studi menunjukkan bahwa terdapat kolerasi positif antara karya sastra dengan perkembangan otak, termasuk aspek kognitif. Studi ini bukan sekadar penelitian menggunakan angket dengan sifat subyektif, melainkan didukung dengan peralatan yang dapat meninjau aktivitas otak. Berns (2013) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa membaca karya fiksi seperti novel akan meningkatkan aktifitas otak dalam menumbuhkan jaringannya. Davis (2013) juga menemukan hal yang sama, bahwa ketika sedang membaca karya sastra, otak manusia dipenuhi dengan aktifitas sinyal yang intens dan stabil. Sementara itu, Liu (2015), dalam studinya menunjukkan bahwa pada saat aktivitas membuat puisi, area otak yang berkaitan dengan proses kreatif akan aktif dan tumbuh dengan baik. 

Bahkan yang menarik, Vaughan-Evans (2016) menemukan bahwa otak manusia memang dirancang untuk mengenali dan menikmati puisi. Sehingga orang yang awam sekalipun dengan sastra, akan dapat langsung menikmati puisi ketika pertama kali membaca atau mendengarkannya. Wassiliwizky (2017), menemukan bahwa membaca puisi akan meningkatkan otak pada area primary reward, yang juga berkaitan dengan kemampuan analisis dan perencanaan. Aktifitas otak yang berkaitan dengan sastra ternyata tidak jauh berbeda dengan musik. Jika selama ini sudah banyak yang mengemukakan pengaruh musik terhadap perkembangan kognitif, maka sastra juga sebenarnya memiliki kemampuan yang sama terhadap perkembangan otak manusia. 

Oleh karena itu, banyak kita saksikan figur ilmuwan dan pemikir terkemuka yang juga merupakan sastrawan. Karena kemampuan sastra menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi. Bahkan bukan hanya dari kalangan pemikir, sejarah mencatat banyak tokoh politik dan revolusi juga memiliki kemampuan sastra yang mumpuni. Nama-nama besar inilah yang telah membentuk sejarah abad kita saat ini. Tidak perlu menyebut nama dari luar, cukuplah kiranya Dwitunggal Proklamator kita. Meski bukan merupakan seorang sastrawan, namun mereka dikenal sebagai penulis dengan mutu kesasteraan yang teruji. Bung Karno dan Bung Hatta, sejak belia merupakan penikmat karya sastra. Bung Hatta juga pernah menulis cerpen “Namaku Hindania” yang melegenda. 

Jadi tidak heran jika kita terpukau dengan kecemerlangan para pendiri bangsa kita. Mereka adalah orang-orang yang teruji intelektualitasnya lewat kemampuan di bidang sastra. Berkebalikan dengan kondisi saat ini, ketika para pemimpin kita justru diragukan kemampuannya walaupun sudah memiliki ijazah asli. Lebih tragis lagi, jika pemimpin itu terpilih bukan karena kecakapan, melainkan hanya faktor uang, kekuasaan, dan nepotisme. Mereka berbicara menggunakan istilah-istilah asing, bukan karena memang menguasai kepakaran di bidang tersebut, tetapi supaya dianggap canggih, sehingga terlihat punya solusi, padahal sebenarnya tidak menguasai permasalahan sama sekali.

Ketika awal artikel ini ditulis, beberapa hari sebelum wacana penutupan program studi di perguruan tinggi oleh Pemerintah. Wacana ini muncul, katanya agar perguruan tinggi dapat fokus pada 8 industri strategis. Memang diakui, kualitas pendidikan kita entah kenapa selalu tidak sesuai dengan keinginan industri. Tetapi dengan misalnya menghilangkan sastra dari kebijakan pendidikan, itu jelas bukan langkah yang selayaknya ditempuh. Materi pembelajaran sebenarnya sudah tinggi, tidak kalah jauh dari buku-buku keluaran Amerika Serikat dan Eropa. Namun pendidikan kita masih terlalu dogmatis, dan belum menyediakan ruang yang cukup untuk analisis. Buktinya, kemampuan menulis, utamanya esai, begitu buruk dibandingkan dengan negara-negara maju. Hal ini juga tercermin dari masih rendahnya skor PISA di bidang literasi. Padahal, kemampuan menulis esai merupakan syarat masuk perguruan tinggi di negara-negara maju. Karena kemampuan menulis akan mengasah critical thinking dan problem solving capability. Kemampuan yang sebenarnya jauh lebih berharga ketimbang menghafal pengetahuan tuntutan kurikulum.

Ironi kebijakan ini, justru pendidikan kita terus diupayakan untuk menghasilkan tenaga kerja murah. Hasilnya, kreativitas tidak dihargai, inovasi tidak jauh beda dengan pencitraan, dan ilmu pengetahuan dicampakkan, karena nalar kritis yang telah hilang digantikan oleh Akal Imitiasi. Dengan masih disepelekannya sastra dalam pembelajaran, maka jangan harapkan kemajuan dalam pendidikan. Semakin hari, pendidikan kita akan terus mengalami inflasi, karena ia dipaksa untuk terus menghasilkan ijazah, tapi nol secara intelektual. Semua omong kosong kemajuan ini, justru hanya mengulang kalimat lama, namun dikemas dengan frasa baru, yang terdengar enerjik, tapi sesungguhnya menjemukan. 

0
0
Muhammad Abduh Nasution Mukhtirulilmi ◆ Active and Poetry Writer

Muhammad Abduh Nasution Mukhtirulilmi ◆ Active and Poetry Writer

Author

Muhammad Abduh Nasution adalah guru Kimia pada MAN 2 Deli Serdang. Untuk memenuhi tuntutan profesional, juga aktif pada MGMP Kimia tingkat MA Kabupaten Deli Serdang sebagai Ketua sejak tahun 2020. Selain itu aktif menulis pada situs pergerakan Birokrat Menulis dan Perhimpunan Al Washliyah. Penulis Dapat dihubungi via email [email protected] dan WA : +6281375406865

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post