Pagi itu, saya memilih menggunakan transportasi umum untuk berangkat ke kantor. Suasana kemacetan yang sudah lekat dengan ‘wajah’ jalan-jalan di Jakarta saya jumpai kembali pagi itu. Mobil, sepeda motor, serta kendaraan lainnya semuanya tumpah ruah di jalanan.

Dari kemacetan tersebut terlihat jelas manusia dan mesin seolah berlomba untuk menggerakkan roda peradaban. Dari dalam bus, sambil melihat ke arah kemacetan, sebuah pertanyaan terlintas dalam benak saya, “Apa sebenarnya yang membedakan antara mesin dengan manusia?”

Setiap hari saya menjalani kegiatan yang rutin atau berulang-ulang. Bangun di pagi hari, mandi, lalu makan dan berangkat bekerja,  hingga pulang kerja di malam hari yang kemudian berakhir dengan tidur.  Rutinitas harian itu kembali terulang keesokan harinya. Rutinitas kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan proses mekanisasi sebuah mesin.

Lebih jauh lagi, aktivitas kita sebagai manusia seolah sudah diatur layaknya proses mekanik yang dapat dengan mudah diprediksi gerakannya. Makan pagi pada jam tertentu, berpakaian dengan gaya tertentu, atau membeli suatu barang untuk menunjukkan kelas sosial tertentu.

Atau, mungkin saya tidak perlu jauh-jauh membahasnya. Pagi ini saja, saya merasakan hal yang sama saat berangkat ke tempat kerja, sama dengan hari-hari sebelumnya. Saya hampir tak dapat membedakan suasana serta makna di setiap harinya.

Pada sisi kanan jalan, dari dalam bus, saya melihat sebuah papan reklame besar yang mempromosikan smartphone terbaru. Hal ini kembali membuat saya berpikir, “Apa sebenarnya esensi saya berangkat bekerja hari ini? Jangan-jangan saya bekerja hanya untuk memenuhi hasrat saya membeli barang-barang layaknya smartphone di papan reklame tersebut?”

Barang yang telah diatur sedemikian rupa oleh sang produsen, agar saya membutuhkan sebuah barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Kalau ternyata esensi saya bekerja seperti itu, layak bagi saya untuk disebut sebagai manusia mekanis seperti mesin penghasil uang.

Berangkat pagi dan pulang malam untuk memenuhi segala hasrat konsumsi akan barang yang sebenarnya tidak benar-benar saya perlukan. Dengan begitu, sudah pantaslah realitas hidup saya disebut layaknya wajah mekanis, yang sudah tertebak arahnya. Hasrat konsumsi tersebut sepertinya akan terus berulang karena saya tak mampu menyadarinya melalui nalar sehat saya.

Atau, jangan-jangan ketika bekerja bukan lagi dianggap sebagai pembuktian eksistensi manusia, tetapi hanya untuk memenuhi hasrat hedonis, maka slogan “hari ini lebih baik dari kemarin” terasa absurd.

Barangkali perkataan Hegel, seorang filsuf Jerman, tentang rasionalisasi sejarah juga terbukti pada manusia masa kini. Hegel mengatakan bahwa masa lalu akan terus berulang, tetapi dengan kemampuan nalar manusia hal-hal yang bersifat irasional  akan hilang, yang tersisa (berubah) hanya yang bersifat rasional.

Perkataan Hegel tersebut terasa benar, tatkala hal irasional, semisal hasrat konsumsi, akan selalu berulang bahkan bermetamorfosis menjadi hal yang bersifat rasional. Ketika hal tersebut berubah menjadi rasional, segalanya menjadi seperti masuk akal.

Lalu bagaimana kita bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin dalam bekerja, kalau kita saja tidak mampu membedakan mana yang rasional dan mana yang irasional? Kehidupan kita yang serba mekanis ‘memaksa’ kita untuk merasa nyaman dengan rutinitas yang ada, tanpa berani mempertanyakannya.  Hal itu membuat batas ruang antara kesalahan dan kebenaran atas apa yang telah kita lakukan menjadi ‘kabur’.

Kita pun menjadi terbiasa menganggap apa yang sudah menjadi kebiasaan adalah sebuah kebenaran. Saya pun jadi teringat perkataan guru mengaji saya, bahwa perbedaan esensial manusia dengan subjek lainnya terletak pada kemampuannya memaknai hidup agar tidak terjebak kesia-siaan.

Sepertinya tidak berlebihan jika saya mengatakan banyak dari  kita telah berubah menjadi manusia mesin. Namun, ketika kita pulang bekerja hari ini kemudian mampu menghilangkan hal-hal yang bersifat irasional pada hari kemarin, maka di sinilah muncul hakikat kita sebagai manusia.

Mempertanyakan kembali apa yang selama ini kita jalani, menjadi suatu hal yang penting bagi kita. Mempertanyakan apakah kita melakukan sesuatu memang sesuai dengan hakikat kita sebagai manusia, atau mungkin kita hanya menjalankan kehendak orang lain.

Dengan kesadaran inilah maka kita mampu melepaskan diri dari jeratan mekanisasi hidup dan cara pandang yang stereotip. Melalui kesadaran itu pula, kita akan mampu meninggalkan jebakan kesia-siaan, seperti halnya menganggap bekerja layaknya mesin pencari uang.

Akhirnya, setelah ditemani lamunan panjang saat perjalanan menuju kantor, pukul 07.35 sampailah saya di depan mesin absensi. Saya pun ikut berbaris dengan manusia-manusia lainnya. Wajah kami saling bersinar bukan karena saling menyapa dan tersenyum, tetapi karena masing-masing dari kami  terpapar oleh sinar mesin komunikasi bernama smartphone.

Di tengah realitas dunia yang penuh kontinjensi akibat kemajuan teknologi, pertanyaan ini menjadi selalu relevan: “Apakah mesin yang makin mirip dengan hakikat manusia, atau manusia yang makin mirip dengan hakikat mesin?”

Ya, kami adalah sekelompok manusia modern versi Herbert Marcuse yang menatap dunia dengan pandangan serba linier, serba satu dimensi, serta terkungkung oleh realitas semu teknologi.***

 

 

Ryan Agatha Nanda Widiiswa ▲ Active Writer and Associate Poetry Writer

Pegawai di DJP yang percaya setiap ruang adalah sekolah, setiap orang adalah murid, dan Tuhan sebagai guru.

error: