“Sudah mau maghrib nih, kamu gak pulang?” tanya seorang teman saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Sebenarnya waktu pulang sudah lewat sejak tadi.

Aku hanya menggeleng, berusaha menjawab pertanyaannya sesingkat mungkin. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan segera. Tidak ada waktu untuk mengobrol basa-basi dengannya.

“Kamu yakin mau lembur? Udah pernah denger cerita yang beredar akhir-akhir ini, belum?” teman tersebut masih bertanya. Namun, kali ini dengan tas sudah menggantung di pundak. Siap untuk pulang.

“Cerita apa?”Aku malah balik bertanya dengan posisi badan masih asyik menghadapi tabel excel penuh angka. Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan hal yang akan dia katakan. Pasti dia mencoba menakut-nakutiku. Duh, kerjaan ini jauh lebih penting dari sekedar merasakan ketakutan karena hal yang belum tentu ada.

Dia diam sejenak. Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya terlihat ragu-ragu, menimbang-nimbang apakah akan bercerita atau tidak, hingga akhirnya berkata, “Mending gak usah tahu deh.”

Aku pun kembali asyik memandangi komputer. Syukurlah dia tidak berani menakut-nakutiku. Toh, aku juga tidak tertarik mendengar apapun yang akan dia ceritakan.

Melihat aku cuek, dia pun menambahkan, “Jangan lihat ke jendela ya. Takutnya ada yang ngintip.” Lantas dia benar-benar pulang meninggalkanku sendirian.

Dasar! Sudah bagus tadi gak mau cerita, sekarang malah bilang jangan lihat jendela segala. “Ah, begituan aja dipercaya,” ucapku dalam hati dan kembali melanjutkan aktivitas. Aku kembali bergelut dengan komputer, berusaha menyelesaikan tugas negara yang harus segera dilaporkan besok pagi. Dengan wajah seremnya “Bosku” mewanti-wantiku tadi sore sebelum dia pulang.

Satu jam setelah temanku pergi dan meninggalkanku sendirian, aku mulai merasa suhu ruangan semakin dingin. Apa karena tinggal aku sendirian ya, jadi suhunya terasa lebih dingin? Meski merasa agak aneh, aku tetap cuek dan memakai jaket untuk sedikit menghangatkan tubuh, lalu melanjutkan tugas yang masih belum selesai tersebut.

Sembari berkutat dengan komputer, sebuah pernyataan terngiang-ngiang di kepalaku. Monolog.

“Kata siapa sih Pegawai Negeri Sipil (PNS) makan gaji buta? Masih banyak loh pegawai yang tulus mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi negara.” Seperti aku contohnya.

Hehe…Sedikit memuji diri sendiri, sesekali, gak apa-apa lah ya…

Beberapa saat kemudian, di tengah keseriusan aku mengerjakan tugas dan keheningan selain suara keyboard tanda aku sedang bekerja, tiba-tiba terdengar dengan jelas suara helaan nafas panjang, “Hehhhh…”

Sontak aku menghentikan kegiatan dan menengok ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari sumber suara. Namun, sudah tidak ada orang di ruangan, kecuali aku sendiri. Lalu siapa yang menghela nafas panjang tadi?

Di tengah kebingunganku, entah kenapa, secara otomatis aku memandang ke arah jendela, tepat mengarah ke pohon beringin yang ada di samping gedung. Suasananya gelap. Terlihat tidak ada orang.

Tapi entah kenapa, rasanya seperti ada seseorang di sana yang memperhatikanku, membuat bulu roma tiba-tiba berdiri. Hawa dan aura ruangan sudah terasa tidak nyaman lagi.

Aku termenung beberapa saat. Mencoba mengacuhkan semuanya dan berusaha untuk fokus kembali menyelesaikan tugas. Namun, pikiranku sudah meracau kemana-mana.

Aku tidak bisa lagi melanjutkan tugas ini. Setelah menimbang-nimbang cukup panjang, akhirnya kuputuskan pulang, meski pekerjaan yang diwanti-wanti oleh “Bosku” tak dapat kuselesaikan.

Perasaanku mulai kalut, lebih tepatnya ketakutan. Namun, walau setakut apapun perasaan yang kurasakan, prosedur pulang tidak boleh diabaikan dan tetap harus dilakukan: matikan ac, matikan lampu, lalu kunci pintu ruangan.

Setelah beberes dengan terburu-buru, aku terkejut ketika hendak menekan tombol remote untuk mematikan AC, aku tertegun memandang AC yang jelas-jelas sudah mati. Lampu powernya terlihat sudah off.

Masih tidak percaya, aku coba menekan tombol on yang ada di remote AC dan seketika menyala. Aku pun buru-buru mematikan kembali, dan bergegas pergi. Dengan tergesa-gesa aku mengunci pintu ruangan yang sangat ingin segera kutinggalkan itu.

Dalam perjalanan pulang aku bertanya-tanya dalam hati. Kalau AC-nya sudah mati, kenapa hawanya sedingin itu dari tadi? Dan… Siapa yang mematikan AC? Seketika aku ingat, hari ini hari Kamis malam atau malam Jumat. Tepatnya Jumat Kliwon. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri.

Di sepanjang jalan pulang aku pun sempat berikir,”Masihkah aku punya pilihan untuk takut pada siapa? Apakah takut pada makhluk di seberang jendela tadi, atau pada “Bosku” sendiri. Ah, rasanya sama-sama menyeramkan.” Bulu kudukku pun kembali berdiri.

***

1
0

Eva Anas Tasia Turnip, biasa dipanggil Eva. Seorang auditor pemerintahan yang sangat suka menulis dan pantai. Info lebih lanjut dapat dilihat di ig: @evaanastasia. Penulis sangat terbuka untuk diskusi melalui email: [email protected]

error: