
*Artikel ini ditulis sebagai dokumentasi kegiatan dalam rangka memperingati Hari Sampah Nasional 21 Februari 2026.
Pagi 22 Februari yang lalu, suasana di Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, terasa lebih hidup dari biasanya. Kementerian Lingkungan Hidup melaksanakan KORVE (kerja bakti) yang sederhana dalam bentuk, namun besar dalam makna.
Pengendalian perubahan iklim, pada akhirnya selalu menemukan relevansinya di tingkat tapak, di tempat-tempat di mana sampah menjadi persoalan nyata.
Di barisan depan hadir Menteri Lingkungan Hidup yang memimpin langsung timnya. Tidak ada sekat jabatan, semua menunduk bersama, memungut plastik, mengangkat karung sampah dan membersihkan saluran air.
Turut hadir pula Deputi Pengendalian Perubahan Iklim KLH Ary Sudijanto, Direktur MSDPPI KLH Irawan Asaad dan beberapa Pejabat KLH termasuk Sestama KLH Rosa Vivien Ratnawati yang menyemangati untuk bekerja dalam semangat kolaborasi.
Pesan dari kegiatan ini adalah bahwa keberhasilan agenda iklim hanya dapat dicapai melalui kekompakan. Kegiatan yang dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Wamen LH Diaz Hendropriyono ini menjadi simbol bahwa isu lingkungan bukan sekadar program, melainkan komitmen bersama.
Mengingat Pesan “Ratu Sampah Indonesia”
Dalam setiap langkah pengelolaan sampah, bangsa ini memiliki sosok inspiratif yang patut dikenang yakni almarhumah Ibu Sri Bebassari yang merupakan salah seorang staf terbaik dari Bapak BJ. Habibie sewaktu masih di BPPT.
Beliau dikenal luas sebagai Ratu Sampah Indonesia yang selalu mengingatkan dengan kalimat sederhana namun mandala,
“Sampahmu adalah tanggung jawabmu, Kebersihan adalah Investasi.”
Pesan itu terasa relevan di Rorotan. Sampah bukan sekadar persoalan pemerintah namun menjadi tanggung jawab personal dan kolektif. Kebersihan bukan sekadar biaya, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan, lingkungan, dan masa depan generasi.
Almarhumah Sri Bebassari juga meninggalkan dua buku penting yang dapat menjadi panduan dalam menjalankan kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia.
Kedua karya tersebut menekankan pentingnya perubahan perilaku, ekonomi sirkular, dan partisipasi masyarakat sebagai fondasi sistem persampahan nasional. Buku-buku itu bukan sekadar teori, tetapi refleksi pengalaman lapangan yang membumi dan aplikatif.
Di Rorotan, nilai-nilai itu terasa hidup kembali. KORVE bukan hanya kerja fisik, tetapi juga kerja kesadaran.
Realitas Lapangan dan Tanggung Jawab Bersama
Di beberapa sudut Rorotan, sampah masih bercampur tanpa pemilahan. Plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga menyatu di pinggir jalan. Tempat sampah belum tersedia secara memadai. Pola pembuangan masih tradisional, tanpa sistem yang terintegrasi.
Namun persoalan ini bukan untuk disesali, melainkan untuk diperbaiki. Sampah organik yang membusuk menghasilkan metana, gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim. Artinya, pengelolaan sampah di tingkat kampung memiliki dampak terhadap agenda iklim nasional.
Pendekatan yang dilakukan oleh KLH bukan menyalahkan, melainkan mengedukasi. Warga diajak berdialog. Anak-anak ikut membantu. Para ibu berdiskusi. Tokoh masyarakat menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dilakukan rutin. Suasana kekeluargaan menjadi energi perubahan.
Strategi Berkelanjutan: Dari Aksi menuju ke Sistem
Dari KORVE ini, tergambar peta jalan pengelolaan sampah Rorotan yakni untuk Jangka Pendek yang paling penting adalah Penyediaan tempat sampah terpilah, penguatan jadwal pengangkutan, serta edukasi masif melalui RT/RW dan sekolah.
KORVE rutin menjadi kebiasaan baru.
Untuk Jangka Menengah perlu disiapkan Pembentukan bank sampah komunitas, pengolahan sampah organik melalui komposter komunal, serta insentif ekonomi bagi warga.
Sampah diubah menjadi nilai dan Untuk Strategi Jangka Panjang perlu Pembangunan TPS 3R permanen, integrasi dalam perencanaan wilayah, serta pendidikan lingkungan berkelanjutan. Rorotan diarahkan menjadi model kawasan pesisir berbasis ekonomi sirkular.
Momentum Adipura yang Lebih Akuntabel
Tahun ini, pelaksanaan Adipura benar-benar akan dilaksanakan dengan lebih cermat dan akuntabel.
Penilaian dilakukan secara lebih detail terhadap kota-kota di Indonesia, memastikan bahwa penghargaan diberikan kepada daerah yang benar-benar memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan bukan sekadar bersih secara visual, tetapi kuat secara sistem.
Semangat pembenahan pengelolaan sampah di Rorotan sejalan dengan semangat pembaruan Adipura. Bahwa yang dinilai bukan kosmetik, melainkan konsistensi kebijakan, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan sistem.
Penutup
KORVE di Rorotan bukan hanya tentang memungut sampah. Ia adalah refleksi kepemimpinan yang hadir, birokrasi yang membumi, dan masyarakat yang diajak bergerak bersama.
Dari pesan almarhumah Sri Bebassari, kita diingatkan bahwa kebersihan adalah investasi dan dari kehadiran para pimpinan KLH, kita belajar bahwa keteladanan adalah fondasi perubahan.
Dari Rorotan, kita melihat bahwa strategi besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan kekompakan. Jika aksi bersama ini konsisten, Rorotan bukan lagi dikenal karena sampahnya, melainkan karena transformasinya.
Pantun Rorotan
Pergi beriring ke utara pelabuhan,
Langkah berhenti di kampung Rorotan.
Sampahmu tanggung jawabmu jadi pegangan,
Dari Rorotan lahirlah perubahan.














0 Comments