“Pak. Kalau diizinkan, saya mau pindah. Saya ingin menempati ruko sambil membuka usaha”, kalimat yang diucapkan Buyung dengan intonasi pelan itu tak pelak mengagetkan saya.

“Buyung kok bisa beli ruko ya?”, pikiran saya mendadak menerawang dengan kalkulasi harga ruko. Pastinya mahal, seperti dituliskan di brosur-brosur. Pada umumnya harga ruko-ruko ini mencapai ratusan juta bahkan milyaran Rupiah. Tentu tidak bisa masuk di nalar kalau dihubungkan dengan penghasilan bulanan Buyung, seorang pegawai honorer.

Honor atau gaji sebagai petugas kebersihan kurang lebih Rp. 2 juta perbulan. Sedangkan biaya hidup sehari-hari boleh dibilang tidak murah. Masih bersyukur kalau jumlah penghasilan tersebut bisa mencukupi pengeluaran sejak gajian di awal bulan sampai akhir bulan.

Saya sebenarnya merasa berat untuk mengizinkan buyung pindah dari komplek rumah dinas yang telah  dia tempati lebih dari 10 tahun. Saya membayangkan nantinya kalau buyung tidak lagi tinggal di kompleks, siapa lagi yang akan bersih-bersih lapangan tenis dan taman di komplek perumahan itu.

Apalagi, kegiatan lain yang ditangani buyung secara rutin ialah membersihkan mushola komplek. Ketika bulan Ramadhan, dia bahkan lebih sibuk lagi mempersiapkan hidangan buka puasa. Buyung sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari keseharian perumahan dinas kami.

Mengenal lebih jauh tentang Buyung

Buyung kecil menghabiskan waktunya di Dusun Tacipi, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Selepas lulus dari sekolah menengah pertama (SMP) dia merantau ke kota Makassar dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Usai menamatkan  pendidikan pada tahun 1989, Buyung memasukan lamaran pekerjaan di berbagai perusahaan dan instansi. Lebih dari lima tempat dia datangi. Rupanya nasib baik melabuhkannya di Kantor Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sulawesi Selatan sebagai petugas kebersihan dengan honor sekitar 25 ribu Rupiah perbulan kala itu.

Meskipun bertugas hanya sebagai petugas kebersihan, pria sederhana yang nama aslinya “Ridwan” ini selalu ringan tangan membantu setiap pegawai yang meminta bantuan kepadanya. Kerja keras dia jalani demi untuk mengejar cita-citanya bekerja di Kota Anging Mamiri. Belasan kali  buyung mencoba peruntungannya untuk mendaftar calon pegawai negeri sipil (CPNS), tapi belum berhasil juga.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya dalam bekerja. Di sela-sela waktunya bekerja, Buyung mencoba menambah penghasilan dengan menyediakan Indomie bagi pegawai yang enggan keluar kantor untuk makan siang. Karena banyak permintaan dari pegawai bapak-bapak, Buyung menyediakan rokok juga.

Ketekunan buyung dalam bekerja dan sifat ringan tangan yang dia miliki membuat para pegawai senang dan merasa terbantu sehingga rejeki lebih pun mengalir ke kantongnya.

Romansa Buyung dan Keyakinannya tentang Rejeki

Suatu ketika, Buyung mengatakan bahwa dia akan melamar gadis yang masih berkuliah semester 6. Usianya terpaut 16 tahun, jauh lebih muda dari Buyung.

Wah ini baru surprise, pikir saya, calon istri buyung Mahasiswi.

Selidik punya selidik Buyung ini memang luar biasa. Ternyata sejak calon istrinya masih duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah atas (SMA) Buyung lah yang membiayai sekolahnya, dengan honor yang dia terima sebagai petugas kebersihan. Dengan penghasilan “sebesar” itu Buyung masih bisa menyisihkan biaya sekolah dan biaya kuliah untuk gadis pujaan hatinya.

Buyung percaya akan prinsip “rejeki itu kakinya empat”, semakin dikejar dia akan lari lebih cepat. Namun, dengan ketekunan dan kejujuran dalam bekerja, rejeki itu justru akan datang sendiri pada kita. Semangatnya tidak pernah pudar meskipun sudah hampir 30 tahun bekerja sebagai honorer saja. Buyung tak pernah kecewa dengan statusnya, tetapi bahkan memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja.

Buyung pun sempat belajar mengemudi mobil hingga akhirnya mahir mengendarainya. Dengan keahlian Buyung ini kantor merasa terbantu ketika sedang banyak tamu yang datang. Buyung diperankan sebagai driver cadangan.

Suatu ketika istri buyung sudah lulus sarjana. Bagi orang lain mungkin akan kesulitan mencarikan pekerjaan. Karena sikap buyung yang ringan tangan menolong pegawai, akhirnya sang istri pun dapat kerja di perusahaan daerah air minum (PDAM) atas pertolongan orang lain yang mengenal Buyung lewat jejaring pertemanannya.

Alhamdulillah setelah istrinya bekerja ekonomi buyung semakin membaik. Dari penghasilan istrinya, keluarga kecil Buyung bisa mengalokasikan untuk membeli rumah yang bisa dikembangkan menjadi tempat usaha (ruko). Hingga akhirnya, dia lontarkan kalimat yang mengagetkan saya di atas.

Epilog

Kisah Buyung memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga. Di saat orang lain selalu berhitung secara matematis tentang pemenuhan kebutuhan hidup, dengan kesederhanaannya yang antimainstream, Buyung justru menunjukkan bahwa kerja keras, kesungguhan, dan keikhlasan pada akhirnya mengantarkannya mencapai cita-cita.

Bagi sebagian besar orang, minimnya penghasilan sering menjadi kendala mencapai cita-cita. Tak hanya itu, motivasi dalam bekerja pun sering kali tergadaikan manakala mendapati angka-angka di slip gaji seolah tak akan mencukupi kebutuhan hidup.

Kisah Buyung telah mematahkan mitos-mitos ketidakmungkinan. Satu lagi, kisah Buyung juga menunjukkan bahwa jiwa pengabdian yang tetap terjaga telah mengantarkannya mendapatkan kehidupan yang layak.

Saya pun hanya bisa tercenung, “Andai seluruh ASN negeri ini memiliki jiwa seperti Buyung, mungkin kita akan mendapati Indonesia yang lebih indah dan menyejahterakan.”

 

 

3
0

Kepala Bagian Tata Usaha di Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Selatan

error: