
“Sudah, William, pakai ini saja buat merusak sepeda Pak Kachigunda,” Gilbert menyerahkan sepotong besi yang ia temukan di tumpukan barang rongsokan.
Gilbert, sama halnya dengan William, merasa kesal karena nilai ulangan sains mereka tidak bagus. Bukan karena mereka malas. Bukan pula karena mereka tidak punya rasa ingin tahu. Mereka hanya sulit belajar di malam hari. Tidak ada lampu untuk menerangi.
William bahkan tidak diizinkan lagi belajar di sekolah yang baru ia masuki, karena ayahnya tak mampu membayar iuran.
Tulisan ini tentu mengandung beberapa bocoran cerita. Namun, bagi saya, The Boy Who Harnessed the Wind bukan jenis film yang nilainya habis hanya karena kita sudah tahu alurnya.
Justru kekuatannya terletak pada cara kita menyaksikan detail-detail kecilnya: tatapan seorang ayah, rasa lapar yang perlahan mengubah perilaku manusia, ruang kelas yang tidak selalu ramah pada anak miskin, dan angin yang semula hanya lewat sebagai gejala alam, lalu berubah menjadi kemungkinan.
Anda boleh terus membaca. Tapi, kalau khawatir kehilangan sensasi surprise-nya, silakan nonton dulu, baru kita diskusi di sini.
Lanjut kembali ke cerita, ya…
Angin bertiup pelan di bawah pepohonan tempat sepeda Pak Kachigunda ditambatkan. Cukup sejuk di sana, karena musim kemarau belum benar-benar tiba di Malawi. William menolak ajakan Gilbert.
“Tidak, rasanya itu tidak benar.”
“Kalau begitu, rusakkan saja lampunya,” Gilbert tidak kehabisan akal.
William mendekati bagian depan sepeda tua itu. Ia mengamati sesuatu. Bulatan kaca bernama lampu itu menyala. Iya, lampu sepeda itu menyala ketika pedal digerakkan!!!
Bagi anak lain, mungkin itu hanya lampu sepeda. Bagi William, itu petunjuk. Ada energi yang dapat dihasilkan dari gerak. Ada hubungan antara benda sederhana, arus listrik, cahaya, dan kemungkinan.
Dari adegan kecil itulah film The Boy Who Harnessed the Wind mulai menunjukkan kecerdasannya. Film ini tidak menjelaskan sains dengan cara menggurui. Ia membiarkan penonton melihat bagaimana ilmu bekerja dalam kepala seorang anak: bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai cara baru membaca dunia.
Dikeluarkan dari Sekolah, tetapi Tidak Keluar dari Pendidikan
Film ini diangkat dari kisah nyata William Kamkwamba, seorang anak Malawi yang membangun kincir angin dari barang bekas untuk membantu keluarganya menghadapi kekeringan dan gagal panen di tahun 2001.
Film tahun 2019 ini ditulis, disutradarai, sekaligus dibintangi Chiwetel Ejiofor sebagai Trywell Kamkwamba, ayah William. Film tersebut merupakan debut penyutradaraan panjang Ejiofor dan didasarkan pada memoar William Kamkwamba bersama Bryan Mealer pada buku dengan judul yang sama.
Namun, kekuatan film ini bukan semata-mata pada hasil akhirnya. Bukan hanya pada keberhasilan kincir angin berputar. Justru yang paling penting adalah proses sosial, psikologis, dan moral yang membuat keberhasilan itu terasa tidak mudah.
William bukan anak yang hidup dalam ekosistem inovasi modern. Ia tidak berada di laboratorium yang rapi. Tidak dibimbing oleh mentor teknologi. Tidak punya akses internet, listrik, atau ruang belajar nyaman. Ia bahkan tidak dapat terus bersekolah karena keluarganya tidak mampu membayar biaya pendidikan.
Akan tetapi, ia memiliki sesuatu yang sering kali lebih menentukan daripada fasilitas: rasa ingin tahu yang tidak padam.
Setelah dikeluarkan dari sekolah, William masih berusaha masuk ke perpustakaan. Ia membaca buku sains: “Using Energy“. Ia menatap gambar kincir angin, mengamati alam, mencoba memahami konsep yang bahkan mungkin belum sepenuhnya dijelaskan kepadanya di kelas.
Dari situ, pendidikan kembali pada makna dasarnya: bukan sekadar kehadiran di ruang kelas, tetapi kemampuan untuk terus belajar ketika pintu formal tertutup.
Di sinilah film ini memberi pesan yang relevan bagi masyarakat mana pun. Putus sekolah bukan hanya masalah administratif. Ia adalah kehilangan kesempatan sosial. Ia adalah bukti bahwa kemiskinan tidak hanya mengurangi konsumsi, tetapi juga memangkas imajinasi masa depan.
Ironi Sekolah, Politik, dan Kemiskinan
Ada beberapa adegan dalam film ini yang terasa ironis sekaligus menyakitkan. Misalnya, ketika Kepala Sekolah mengusir William yang tetap ngotot belajar ke sekolah padahal ia dilarang masuk karena belum membayar SPP.
“Kamu mencuri dari setiap keluarga yang menyekolahkan anaknya di sini”.
Kelak, ibu William akan melabrak kepala sekolah itu dengan mempertanyakan, “Aturan dari siapa? Pemerintah? Mereka yang tidak peduli pada nasib kita di sini, membiarkan kita mati kelaparan, tidak berhak mengatur-atur siapa yang bisa sekolah!”.
Ironi berikutnya muncul ketika krisis pangan memburuk. Masyarakat mulai panik. Tempat penyimpanan pangan menjadi sasaran penjarahan. Orang-orang yang sebelumnya hidup dalam tata sosial desa yang relatif tertib berubah menjadi massa yang digerakkan oleh lapar.
Di titik ini, film memperlihatkan bahwa kelaparan bukan hanya urusan perut. Kelaparan dapat mengubah relasi sosial, menggerus kepercayaan, dan menekan manusia sampai batas moralnya. Padahal, negeri Malawi pada masa itu merupakan wilayah dengan penduduk multikultur yang dapat hidup berdampingan.
Ada pula adegan ketika kepala desa mencoba menyuarakan penderitaan rakyat di hadapan kekuasaan politik. Tetapi suara seperti itu tidak selalu disambut sebagai koreksi.
Dalam masyarakat yang struktur kuasanya rapuh, kebenaran bisa dianggap ancaman. Politik tampil bukan sebagai mekanisme perlindungan warga, melainkan sebagai panggung yang menjaga citra dan meredam kegelisahan.
Trywell, ayah William yang tidak bersekolah itu pun sempat berseloroh,
“Democracy is just like imported cassava. It rots quickly.”
Demokrasi, katanya, seperti singkong impor. Cepat membusuk. Kalimat itu terasa tajam karena keluar bukan dari ruang kuliah ilmu politik, melainkan dari pengalamannya, seorang petani yang menyaksikan bagaimana janji politik mudah rusak ketika rakyat benar-benar membutuhkan perlindungan.
Kesejahteraan, pendidikan, keberlanjutan alam, dan kehidupan warga mudah menjadi kata-kata indah dalam pidato, tetapi tidak selalu hadir sebagai keberpihakan nyata.
Hal itu terbukti kemudian, ketika Pak Wimbe sang kepala desa, berani menyampaikan penderitaan rakyat dari podium, keberaniannya tidak disambut sebagai peringatan moral. Ia justru ditarik turun dan dipukuli oleh orang-orangnya presiden yang sedang berkampanye. Ayah Gilbert itu kemudian jatuh sakit dan meninggal beberapa waktu setelahnya.
Dari sini, film ini tidak hanya berbicara tentang kelaparan akibat kekeringan, tetapi juga tentang kekeringan nurani dalam politik.
Ayah yang Mencintai, tetapi Takut Berharap

Salah satu kekuatan utama film ini ada pada hubungan William dan ayahnya, Trywell Kamkwamba.
Trywell bukan ayah yang jahat. Ia petani yang jujur, rajin, penuh harga diri, dan mencintai keluarganya dengan cara yang tidak selalu lembut.
Ia ingin William sekolah. Ia tahu pendidikan penting. Ia bahkan sejak awal berusaha agar anaknya mendapat peluang yang lebih baik darinya. Namun, kemiskinan sering membuat cinta orang tua bekerja dalam bentuk yang rumit.
Ketika William meminta sepeda tua keluarga untuk dibongkar demi membangun kincir angin, Trywell menolak. Penolakan itu tidak sepenuhnya sulit dipahami. Dalam logika orang yang sedang bertahan hidup, sepeda bukan sekadar benda. Ia aset. Ia alat kerja. Ia salah satu harta terakhir yang masih bisa diandalkan.
Bagi William, sepeda itu komponen teknologi. Bagi Trywell, sepeda itu pegangan terakhir.
Ketegangan ini memuncak ketika Trywell marah besar dan membanting cangkul ke arah William. Adegan itu keras, tetapi tidak terasa hadir sekadar untuk menciptakan drama. Ia memperlihatkan benturan dua orang yang sama-sama ingin menyelamatkan keluarga, tetapi berdiri di atas pengalaman yang berbeda.
William membawa bahasa ilmu.
Trywell membawa bahasa luka.
William melihat kemungkinan.
Trywell melihat risiko kehilangan.
Di sinilah Chiwetel Ejiofor menunjukkan kepiawaiannya sebagai sutradara, penulis skenario, sekaligus pemeran Trywell.
Ia tidak menjadikan ayah William sebagai antagonis hitam-putih. Trywell keras, kadang menyebalkan, bahkan menyakiti. Tetapi ia tetap manusiawi. Penonton bisa marah kepadanya, sekaligus memahami mengapa ia begitu takut.
Chiwetel tidak hanya memerankan seorang ayah. Ia membangun figur ayah sebagai representasi generasi yang dibentuk oleh tanah, panen, kelaparan, dan harga diri.
Karena itu, ketika Trywell akhirnya berubah, perubahan itu tidak terasa tiba-tiba. Ia terasa sebagai proses pelan seorang ayah yang mulai menyadari bahwa anaknya mungkin sedang melihat sesuatu yang belum mampu ia lihat.

Dan lagi-lagi, sosok ibu William memegang peran kunci. Ia tidak tampil sebagai tokoh yang banyak bicara. Namun, kata-katanya kepada Trywell menjadi semacam jembatan ketika keras kepala laki-laki dalam keluarga itu hampir membuat harapan terakhir ikut patah.
Salah satu kalimat William yang paling mengena adalah ketika ia berkata kepada ayahnya bahwa ia tahu cara melakukan itu karena ia belajar di sekolah. Kalimat itu tidak terdengar seperti kesombongan anak kepada orang tua. Ia terdengar seperti pembelaan terhadap pendidikan itu sendiri.
Konflik mereka bukan konflik antara ayah yang bodoh dan anak yang pintar. Ia adalah benturan dua jenis pengetahuan. Dua cara membaca kenyataan. Dua bentuk cinta yang sama-sama ingin menyelamatkan keluarga, tetapi sempat saling tidak percaya.
Kepercayaan orang tua memang sering diuji ketika anak meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan pengalaman kita. Bagi Trywell, membongkar sepeda adalah kegilaan. Bagi William, itu jalan menuju air.
Barangkali, dalam hidup anak-anak kita, selalu ada “sepeda tua” yang sulit kita lepaskan. Bisa berupa ego orang tua, standar keberhasilan lama, ketakutan sosial, atau cara berpikir yang dulu mungkin menyelamatkan kita, tetapi belum tentu menyelamatkan mereka.
Dari Malawi ke Amerika, Lalu Kembali Menyalakan Afrika
Kisah William tidak berhenti pada keberhasilan masa kecilnya. William Kamkwamba lahir pada 1987. Artinya, ia masih termasuk generasi milenial.
Dari seorang anak desa yang dikeluarkan dari sekolah karena miskin, ia kemudian mendapat kesempatan pendidikan lebih luas. Ia belajar di African Leadership Academy, lalu melanjutkan studi ke Dartmouth College di Amerika Serikat.
Jarak antara desa kecil di Malawi dan kampus di Amerika itu tentu bukan sekadar jarak geografis. Di sana ada jalan panjang yang dibuka oleh rasa ingin tahu, kerja keras, keberuntungan, dukungan, dan tentu saja akses. Sesuatu yang dulu nyaris tertutup baginya.
Kini William tidak hanya dikenang sebagai “anak yang membuat kincir angin”. Melalui Moving Windmills, ia bekerja mendukung anak-anak muda pemecah masalah di Malawi melalui ruang inovasi, alat belajar, dan pendampingan.
Anak-anak muda itu diajak melihat masalah di sekitarnya bukan semata sebagai nasib, melainkan sebagai tantangan yang bisa dipikirkan jalan keluarnya.
Dari seorang anak laki-laki yang dikeluarkan dari sekolah karena miskin, William kini menjadi mentor bagi banyak anak muda di Afrika untuk menjadi penemu masa depan.
Bagian ini membuat kisah William terasa lebih utuh. Ia tidak sekadar “selamat” dari kemiskinan, lalu pergi. Ia kembali. Ia membawa pengetahuan, jejaring, dan pengalaman untuk membuka jalan bagi anak-anak lain yang mungkin dulu berdiri di titik yang sama dengannya: ingin belajar, tetapi terbentur keadaan.
Bukan Hanya tentang Kincir Angin

Pada akhirnya, The Boy Who Harnessed the Wind bukan hanya film tentang kincir angin. Ia adalah film tentang pendidikan, kemiskinan, otoritas orang tua, politik pangan, keberlanjutan alam, dan daya tahan manusia.
Inovasi dalam film ini tidak lahir dari ruang yang nyaman. Ia lahir dari kelaparan, ladang yang kering, sekolah yang tertutup, perpustakaan kecil, barang rongsokan, dan seorang anak yang tidak berhenti bertanya.
Namun, keterbatasan saja tidak otomatis melahirkan inovasi. William bisa melangkah karena masih ada rasa ingin tahu, sedikit akses pada buku, keberanian mencoba, dan lingkungan yang akhirnya mulai percaya.
Di titik ini, kisah William tidak membiarkan kita menikmati inspirasi secara terlalu nyaman. Kita boleh kagum kepada ketangguhan seorang anak miskin. Namun, tetap ada pertanyaan yang mengganjal:
- Mengapa seorang anak harus menunggu bencana dulu agar potensinya terlihat?
- Mengapa pendidikan begitu mudah tertutup hanya karena keluarganya tidak mampu membayar?
- Mengapa petani yang bekerja memberi makan banyak orang justru menjadi pihak yang paling rentan kelaparan?
William berhasil menangkap angin. Tetapi tugas masyarakat dan negara seharusnya memastikan lebih banyak anak tidak perlu menunggu krisis untuk menemukan potensinya.
Bisa jadi, di banyak ruang kelas yang gelap, di desa-desa yang jauh, juga di tempat-tempat yang lebih dekat dari yang kita kira, ada anak-anak seperti William: bukan tidak pintar, hanya belum cukup dipercaya; bukan tidak mau belajar, hanya belum cukup diberi jalan.
Kelihatannya, kisah ini hanya terjadi di Malawi, jauh di Afrika sana. Padahal, kita tahu, di Indonesia pun kisah serupa tidak sulit dibayangkan. Bedanya, tidak semuanya menjadi film. Tidak semuanya viral. Tidak semuanya sempat dilihat.
Karena itu, tulisan ini tidak hendak menjadi tafsir tunggal. Setiap penonton bisa pulang dengan bekal refleksi yang berbeda. Barangkali justru lebih baik jika kita menontonnya sendiri, lalu membiarkan kisah William Kamkwamba bekerja dengan caranya masing-masing dalam pemahaman kita.














0 Comments