Kajian Tanah Longsor Untuk Pengembangan Wilayah Di Km 177–178 Tol Cisumdawu (Desa Mulyasari Dan Sirnamulya, Kecamatan Sumedang Utara-Kabupaten Sumedang)

by | Jul 21, 2026 | Birokrasi Melayani | 0 comments

Latar Belakang

Tol Cisumdawu merupakan infrastruktur vital penghubung Bandung–Bandara Kertajati. Namun, pada KM 177–178 yang melintasi wilayah Desa Mulyasari dan Sirnamulya, Kab. Sumedang, terjadi gerakan tanah aktif (soil creep hingga deep-seated landslide)  sejak awal 2025.

Gerakan ini menimbulkan retakan jalan, deformasi lereng, dan kerusakan struktur tol, serta mengancam pemukiman sekitar. Kondisi ini menunjukkan pentingnya ada kajian yang komprehensif  baik dari aspek teknis maupun non teknis (sosial).

Kajian geoteknik dan penataan ruang yang adaptif terhadap bencana geologi merupakan hal penting untuk dilakukan. Beberapa literatur menunjukkan bahwa gerakan tanah di Desa Sirnamulya dan Mulyasari dipicu oleh struktur tanah batuan breksi vulkanik lapuk dengan kekar terbuka, sehingga jika terjadi hujan deras bisa memicu tekanan air pori tinggi.

Hal tersebut diperparah dengan kondisi sistem drainase permukaan dan bawah tanah yang kurang efektif serta getaran lalu lintas berat juga dapat mempercepat pelemahan lereng.

Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)

2. Tujuan Kajian

  • Mengidentifikasi tingkat kerawanan tanah longsor di sekitar Tol Cisumdawu KM 177–178
  • Identifikasi dan menilai kesesuaian lahan untuk pengembangan wilayah (permukiman, infrastruktur, dll.)
  • Merumuskan rekomendasi teknis dan kebijakan untuk pembangunan yang aman dan berkelanjutan.

3. Metodologi

TahapanPenjelasan
Survei LapanganPengamatan geologi, morfologi lereng, dan kerusakan struktur
Analisis Penilaian Kesesuaian LahanEvaluasi berdasarkan kemiringan, jenis batuan, dan tutupan vegetasi
Kompilasi dan Verifikasi Data terdampak (lahan dan Bangunan)Ground check Data lapangan terdampak (lahan dan bangunan)

4. Hasil Kajian

4.1. Kondisi Fisik dan Geologi

  • Gerakan tanah yang terjadi di sekitar KM 177 dan KM 178, di sekitar di Dusun Bojongtotor Desa Sirnamulya dan Desa Mulyasari bertopografi perbukitan dengan kemiringan >30° . Salah satu titik lokasi gerakan tanah berada diantara Desa Mulyasari dan Sirnamulya. Mahkota longsor memiliki rentang hingga 170 m panjang dan 300 m tinggi, menyebabkan badan jalan tol ambles hingga 50 cm,

Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)

  • Jenis gerakannya adalah rayapan tanah (creep), mencakup area seluas 7,36 ha, dengan panjang 340 m dan lebar hingga 275 m serta indikasi longsor dalam (deep-seated)
  • Retakan permukaan telah muncul dengan lebar 5–30 cm, panjang 5–140 m, dan kedalaman hingga 2 m

Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)

  • Lereng tengah mengalami amblasan yang merusak pile dan dinding penahan; bagian bawah menunjukkan bulging (pengangkatan badan jalan) sebesar 20–50 cm dengan kerusakan badan jalan tol sepanjang ±193 m di kedua arah,

Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)

  • Faktor penyebab utama meliputi kontur lereng curam, batuan breksi lapuk dengan kekar yang mudah menyerap air, infiltrasi air, tekanan pori, serta getaran
  • Area ini dikategorikan sebagai Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah, dengan potensi berkembang menjadi longsoran dalam (deep-seated landslide)
  • Bukti geoteknik menunjukkan adanya bidang gelincir dangkal (7–9 m) dan dalam (25–40 m)

Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)

  • Area ini telah dipantau secara sinergis oleh Badan Geologi bersama BPBD dengan teknologi seperti LiDAR dan pemantauan lapangan, bahkan Badan geologi telah merilis hajil kajiannya (Laporan Penyelidikan Gerakan Tanah Tol Cisumdawu Desa Sirnamulya, Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, 2025).

4.2. Zonasi Kerawanan Tanah Longsor

Zona KerawananKarakteristikLuas Perkiraan
TinggiLereng curam, tanah lapuk, sistem drainase buruk, retakan aktif± 40%
SedangLereng sedang, vegetasi campuran, infiltrasi masih terjadi± 45%
RendahLereng landai, stabil, vegetasi lebat± 15%

4.3. Dampak terhadap Infrastruktur, Permukiman dan Ekonomi Masyarakat

  • Retakan pada badan jalan tol sepanjang ±193 m rusak
  • Pergerakan tanah menjangkau area pemukiman warga berakibat terhadap retakan tanah 19 Rumah di desa Mulyasari (dibawah jalan Tol) dan permukiman di Desa Mulyasari (atas lereng Tol)
  • Potensi perluasan gerakan hingga wilayah belakang perbukitan Sirnamulya
  • Potensi terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat baik barang maupun jasa 

5. Analisis Kesesuaian Lahan

KegiatanZona yang SesuaiSyarat Teknis
PermukimanZona  sedang-tinggiPerlu dipertimbangkan alternatif relokasi, untuk memitigasi dan mengantisipasi hal terburuk terjadi,
Pertanian konservatifZona sedangTerasering dan vegetasi tanaman keras untuk penguatan bidang longsoran (green grid)
Infrastruktur baruZona rendah – dengan rekayasa khususMenggunakan bore pile, geodrain, dan sistem monitoring
Kawasan lindungZona tinggiTidak boleh ada pembangunan baru di bidang rawan longsoran

6. Rekomendasi Pengembangan Wilayah

6.1. Rekomendasi Teknis

Stabilisasi Lereng:
Gunakan bore pile, tembok penahan, dan soil nail pada area rawan 

Drainase Efektif:
Buat drainase permukaan dan subsurface drain untuk mengurangi tekanan air pori

Revegetasi Lereng:
Menanam tanaman penutup tanah dan akar dalam untuk memperkuat lereng disarankan jenis tanaman keras dan Multi Purpose Tree Species (MPTS)/tanaman pohon multiguna

Monitoring dan Peringatan Dini:
Pasang alat early warning system dan monitoring deformasi lereng 

6.2. Rekomendasi Tata Ruang dan Relokasi Permukiman

  • Integrasi Zonasi Longsor ke RTRW dan RDTR
    Zona rawan tinggi untuk bisa diklasifikasikan sebagai kawasan lindung geologi serta adanya penetapan kawasan larangan pembangunan pada zona merah (rawan tinggi) dimaksud.
  • Relokasi permukiman terbatas sebagai salah satu opsi
    Bagi rumah-rumah (pemukiman di lereng) yang berada tepat di atas bidang gelincir aktif,  namun perlu pengkajian lebihlanjut tentang data yang dikeluarkan Pemda Sumedang dengan usulan dari Desa yang masih terdapat perbedaan data;
  • Pembangunan bertahap & selektif
    Pengembangan infrastruktur hanya di zona aman dengan izin geoteknik dan rekayasa teknis

6.3. Rekomendasi Sosial & Institusional

  • Edukasi Warga tentang tanda-tanda gerakan tanah dan jalur evakuasi
  • Penyusunan SOP Darurat Bencana di tingkat desa serta Pelatihan tim siaga bencana berbasis desa (Desa Tangguh Bencana di Desa Mulyasari dan Sirnamulya).
  • Kolaborasi Lintas Sektor (Dinas PU, BPBD, Badan Geologi, dan pengelola tol)
  • Perlu pengkajian lebih lanjut dampak sosial ekonomi masyarakat, serta alternatif solusinya. 

7. Kesimpulan

Wilayah KM 177–178 Tol Cisumdawu di Desa Mulyasari dan Sirnamulya merupakan area dengan kerentanan tinggi terhadap gerakan tanah, yang berdampak pada infrastruktur strategis dan masyarakat sekitar.

Pengembangan wilayah di kawasan ini harus dilakukan secara terintegrasi dan adaptif, berbasis mitigasi bencana, tata ruang berbasis risiko, dan penguatan infrastruktur lereng, serta dampak sosial ekonomi bagi masyarakat terdampak.

Rekomendasi teknis, rekomendasi Sosial & institusional dan kebijakan perlu segera diimplementasikan untuk menjaga keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat terdampak, serta  keberlanjutan fungsi jalan tol itu sendiri.

Referensi:

Mubekti , dkk (2008). Mitigasi Daerah rawan Tanah Longsor Menggunakan Teknik Permodelan Sistem Informasi Geografis : Studi Kasus: Kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan.

Laporan Penyelidikan Gerakan Tanah Tol Cisumdawu (2025) pada laman https://geologi.esdm.go.id/media-center/laporan-penyelidikan-gerakan-tanah-tol-cisumdawu-km-177-desa-sukasirna-kecamatan-sumedang-utara-kabupaten-sumedang-provinsi-jawa-barat 

Langka Pemkab selesaikan dampak Tol (2025) pada laman https://sumedangkab.go.id/berita/ini-langkah-pemkab-selesaikan-dampak-tol 

https://sitabah.sumedangkab.go.id/bencana/detail/longsor_tol_cisumdawu

https://www.liputan6.com/regional/read/6079403/gerakan-tanah-rayapan-tol-cisumdawu-berpotensi-jadi-longsoran-berikut-sejumlah-rekomendasi-badan-geologi

https://www.tempo.co/lingkungan/ini-penjelasan-soal-retakan-akibat-pergeseran-tanah-di-tol-cisumdawu-km-177-1765444

0
0
Sumirta ♥ Associate Writer

Sumirta ♥ Associate Writer

Author

Seorang ASN di Pemda Kabupaten Sumedang-Jawa Barat sejak tahun 2025 pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan yang pertama kalinya ditempatkan sebagai Staff lapangan pada UPTD Dinas Hutbun untuk Wilayah Kerja Kecamatan Cisitu, Darmaraja dan Cibugel Kab. Sumedang hingga tahun 2012. Pada tahun yang sama (2012) Alih tugas ke Bappeda Kabupaten Sumedang hingga kini (Bappppeda menjadi Bapperida). Pada Badan ini penulis hampir semua bidang pernah di tempatinya, mulai dari Bidang data, Bidang Pemsos hingga Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan mulai dari fungsional umum hingga sekarang tercatat sebagai Fungsional Perencana Ahli Muda Bidang Infraswil. Ketertarikannya kepada dunia menulis dan literasi dimulai semenjak mahasiswa sebagai contributor Buletin Jum’at pada Fakultas Kehutanan Unwim Jatinangor yang saat itu juga diberi amanah sebagai Wakil Ketua DKM Asy-Syajaroh Fahutan Unwim Bandung. Saat Mahasiswa aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal kampus, tercatat selain menjadi aktifis Masjid As-Syajaroh penulis aktif juga di HMI Badko Jatinangor, Majlis Sinergi Kalam (Masika) ICMI, dan berlanjut sampai kini sebagai Waketum ICMI Orda Sumedang periode 2025-2030; Anggota Departemen Lingkungan Hidup ICMI Orwil Jawa Barat, dan Sekjen ICMI Orda Sumedang Periode 2020-2025. Pendidikan formal penulis sampai dengan SLTA (SPMA Tanjungsari) ditamatkan di Kota Tahu-Sumedang, kemudian berlanjut pada tahun 1991 menjadi Mahasiswa Fakultas Kehutanan UNWIM hingga lulus tahun 1996, dan pada tahun 2012 penulis berhasil lulus sebagai Alumnus Program Magister Ilmu Lingkungan UNPAD Bandung.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post