
Latar Belakang
Tol Cisumdawu merupakan infrastruktur vital penghubung Bandung–Bandara Kertajati. Namun, pada KM 177–178 yang melintasi wilayah Desa Mulyasari dan Sirnamulya, Kab. Sumedang, terjadi gerakan tanah aktif (soil creep hingga deep-seated landslide) sejak awal 2025.
Gerakan ini menimbulkan retakan jalan, deformasi lereng, dan kerusakan struktur tol, serta mengancam pemukiman sekitar. Kondisi ini menunjukkan pentingnya ada kajian yang komprehensif baik dari aspek teknis maupun non teknis (sosial).
Kajian geoteknik dan penataan ruang yang adaptif terhadap bencana geologi merupakan hal penting untuk dilakukan. Beberapa literatur menunjukkan bahwa gerakan tanah di Desa Sirnamulya dan Mulyasari dipicu oleh struktur tanah batuan breksi vulkanik lapuk dengan kekar terbuka, sehingga jika terjadi hujan deras bisa memicu tekanan air pori tinggi.
Hal tersebut diperparah dengan kondisi sistem drainase permukaan dan bawah tanah yang kurang efektif serta getaran lalu lintas berat juga dapat mempercepat pelemahan lereng.


Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)
2. Tujuan Kajian
- Mengidentifikasi tingkat kerawanan tanah longsor di sekitar Tol Cisumdawu KM 177–178
- Identifikasi dan menilai kesesuaian lahan untuk pengembangan wilayah (permukiman, infrastruktur, dll.)
- Merumuskan rekomendasi teknis dan kebijakan untuk pembangunan yang aman dan berkelanjutan.
3. Metodologi
| Tahapan | Penjelasan |
|---|---|
| Survei Lapangan | Pengamatan geologi, morfologi lereng, dan kerusakan struktur |
| Analisis Penilaian Kesesuaian Lahan | Evaluasi berdasarkan kemiringan, jenis batuan, dan tutupan vegetasi |
| Kompilasi dan Verifikasi Data terdampak (lahan dan Bangunan) | Ground check Data lapangan terdampak (lahan dan bangunan) |
4. Hasil Kajian
4.1. Kondisi Fisik dan Geologi
- Gerakan tanah yang terjadi di sekitar KM 177 dan KM 178, di sekitar di Dusun Bojongtotor Desa Sirnamulya dan Desa Mulyasari bertopografi perbukitan dengan kemiringan >30° . Salah satu titik lokasi gerakan tanah berada diantara Desa Mulyasari dan Sirnamulya. Mahkota longsor memiliki rentang hingga 170 m panjang dan 300 m tinggi, menyebabkan badan jalan tol ambles hingga 50 cm,


Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)
- Jenis gerakannya adalah rayapan tanah (creep), mencakup area seluas 7,36 ha, dengan panjang 340 m dan lebar hingga 275 m serta indikasi longsor dalam (deep-seated)
- Retakan permukaan telah muncul dengan lebar 5–30 cm, panjang 5–140 m, dan kedalaman hingga 2 m


Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)
- Lereng tengah mengalami amblasan yang merusak pile dan dinding penahan; bagian bawah menunjukkan bulging (pengangkatan badan jalan) sebesar 20–50 cm dengan kerusakan badan jalan tol sepanjang ±193 m di kedua arah,

Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)
- Faktor penyebab utama meliputi kontur lereng curam, batuan breksi lapuk dengan kekar yang mudah menyerap air, infiltrasi air, tekanan pori, serta getaran
- Area ini dikategorikan sebagai Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah, dengan potensi berkembang menjadi longsoran dalam (deep-seated landslide)
- Bukti geoteknik menunjukkan adanya bidang gelincir dangkal (7–9 m) dan dalam (25–40 m)

Sumber: Data Primer Bappppeda (2025)
- Area ini telah dipantau secara sinergis oleh Badan Geologi bersama BPBD dengan teknologi seperti LiDAR dan pemantauan lapangan, bahkan Badan geologi telah merilis hajil kajiannya (Laporan Penyelidikan Gerakan Tanah Tol Cisumdawu Desa Sirnamulya, Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, 2025).
4.2. Zonasi Kerawanan Tanah Longsor
| Zona Kerawanan | Karakteristik | Luas Perkiraan |
|---|---|---|
| Tinggi | Lereng curam, tanah lapuk, sistem drainase buruk, retakan aktif | ± 40% |
| Sedang | Lereng sedang, vegetasi campuran, infiltrasi masih terjadi | ± 45% |
| Rendah | Lereng landai, stabil, vegetasi lebat | ± 15% |
4.3. Dampak terhadap Infrastruktur, Permukiman dan Ekonomi Masyarakat
- Retakan pada badan jalan tol sepanjang ±193 m rusak
- Pergerakan tanah menjangkau area pemukiman warga berakibat terhadap retakan tanah 19 Rumah di desa Mulyasari (dibawah jalan Tol) dan permukiman di Desa Mulyasari (atas lereng Tol)
- Potensi perluasan gerakan hingga wilayah belakang perbukitan Sirnamulya
- Potensi terganggunya aktivitas ekonomi masyarakat baik barang maupun jasa
5. Analisis Kesesuaian Lahan
| Kegiatan | Zona yang Sesuai | Syarat Teknis |
|---|---|---|
| Permukiman | Zona sedang-tinggi | Perlu dipertimbangkan alternatif relokasi, untuk memitigasi dan mengantisipasi hal terburuk terjadi, |
| Pertanian konservatif | Zona sedang | Terasering dan vegetasi tanaman keras untuk penguatan bidang longsoran (green grid) |
| Infrastruktur baru | Zona rendah – dengan rekayasa khusus | Menggunakan bore pile, geodrain, dan sistem monitoring |
| Kawasan lindung | Zona tinggi | Tidak boleh ada pembangunan baru di bidang rawan longsoran |
6. Rekomendasi Pengembangan Wilayah
6.1. Rekomendasi Teknis
Stabilisasi Lereng:
Gunakan bore pile, tembok penahan, dan soil nail pada area rawan
Drainase Efektif:
Buat drainase permukaan dan subsurface drain untuk mengurangi tekanan air pori
Revegetasi Lereng:
Menanam tanaman penutup tanah dan akar dalam untuk memperkuat lereng disarankan jenis tanaman keras dan Multi Purpose Tree Species (MPTS)/tanaman pohon multiguna
Monitoring dan Peringatan Dini:
Pasang alat early warning system dan monitoring deformasi lereng
6.2. Rekomendasi Tata Ruang dan Relokasi Permukiman
- Integrasi Zonasi Longsor ke RTRW dan RDTR
Zona rawan tinggi untuk bisa diklasifikasikan sebagai kawasan lindung geologi serta adanya penetapan kawasan larangan pembangunan pada zona merah (rawan tinggi) dimaksud. - Relokasi permukiman terbatas sebagai salah satu opsi
Bagi rumah-rumah (pemukiman di lereng) yang berada tepat di atas bidang gelincir aktif, namun perlu pengkajian lebihlanjut tentang data yang dikeluarkan Pemda Sumedang dengan usulan dari Desa yang masih terdapat perbedaan data; - Pembangunan bertahap & selektif
Pengembangan infrastruktur hanya di zona aman dengan izin geoteknik dan rekayasa teknis
6.3. Rekomendasi Sosial & Institusional
- Edukasi Warga tentang tanda-tanda gerakan tanah dan jalur evakuasi
- Penyusunan SOP Darurat Bencana di tingkat desa serta Pelatihan tim siaga bencana berbasis desa (Desa Tangguh Bencana di Desa Mulyasari dan Sirnamulya).
- Kolaborasi Lintas Sektor (Dinas PU, BPBD, Badan Geologi, dan pengelola tol)
- Perlu pengkajian lebih lanjut dampak sosial ekonomi masyarakat, serta alternatif solusinya.
7. Kesimpulan
Wilayah KM 177–178 Tol Cisumdawu di Desa Mulyasari dan Sirnamulya merupakan area dengan kerentanan tinggi terhadap gerakan tanah, yang berdampak pada infrastruktur strategis dan masyarakat sekitar.
Pengembangan wilayah di kawasan ini harus dilakukan secara terintegrasi dan adaptif, berbasis mitigasi bencana, tata ruang berbasis risiko, dan penguatan infrastruktur lereng, serta dampak sosial ekonomi bagi masyarakat terdampak.
Rekomendasi teknis, rekomendasi Sosial & institusional dan kebijakan perlu segera diimplementasikan untuk menjaga keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat terdampak, serta keberlanjutan fungsi jalan tol itu sendiri.
Referensi:
Mubekti , dkk (2008). Mitigasi Daerah rawan Tanah Longsor Menggunakan Teknik Permodelan Sistem Informasi Geografis : Studi Kasus: Kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan.
Laporan Penyelidikan Gerakan Tanah Tol Cisumdawu (2025) pada laman https://geologi.esdm.go.id/media-center/laporan-penyelidikan-gerakan-tanah-tol-cisumdawu-km-177-desa-sukasirna-kecamatan-sumedang-utara-kabupaten-sumedang-provinsi-jawa-barat
Langka Pemkab selesaikan dampak Tol (2025) pada laman https://sumedangkab.go.id/berita/ini-langkah-pemkab-selesaikan-dampak-tol
https://sitabah.sumedangkab.go.id/bencana/detail/longsor_tol_cisumdawu














0 Comments