
“The danger of the past was that men became slaves. The danger of the future is that men may become robots.” – Erich Fromm
Artikel Direktur Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, I Made Yudhistira D (2026) dengan judul “Komunikasi Harga Naik (Terinspirasi dari Film Senin Harga Naik).
Ya, substansinya adalah komunikasi.
Hampir semua aktivitas kehidupan manusia tidak terlepas dari komunikasi. Namun, kini seringkali komunikasi yang kehilangan empati (https://peduli.site/informasi-publik/artikel-kajian/komunikasi-harga-naik-terinspirasi-dari-film-senin-harga-naik).
Epilepsi komunikasi: Penyakit zaman ini
Saya setuju dengan argumentasi dalam artikel tersebut. Pada artikel ini saya akan memberikan pespektif lainnya. Meskipun kita menyadari bahwa setiap zaman memiliki penyakit sosialnya sendiri.
Jika pada masa lalu masyarakat dihadapkan pada wabah penyakit fisik, maka pada era digital saat ini kita menghadapi epidemi yang jauh lebih halus, tidak tampak, tetapi dampaknya sangat luas, salah satunya adalah epilepsi komunikasi.
Istilah ini memang bukan terminologi medis, melainkan sebuah metafora sosial untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang mengalami “kejang-kejang informasi”.
Pikiran, emosi, dan perilaku publik bergerak secara spontan mengikuti gelombang informasi yang datang silih berganti tanpa sempat diproses secara kritis. Hari ini marah terhadap satu isu, besok berpindah pada isu lain, lusa melupakan semuanya. Publik seperti hidup dari satu viralitas ke viralitas berikutnya.
Fenomena ini mengingatkan kita pada pemikiran Yasraf Amir Piliang dalam Dunia yang Dilipat, yang menjelaskan bagaimana teknologi digital telah melipat ruang, waktu, dan realitas. Dunia tidak lagi diukur oleh kedalaman makna, tetapi oleh kecepatan penyebaran informasi. Ukuran kebenaran perlahan bergeser menjadi ukuran popularitas.
Di tengah masyarakat digital, sesuatu dianggap penting bukan karena benar, melainkan karena viral. Inilah gejala pertama dari epilepsi komunikasi, yaitu viralitas. Popularitas kini diukur oleh banyaknya follower, jumlah tayangan, likes, komentar, dan shares.
Siapa yang viral seolah menjadi pemegang kendali opini publik. Padahal, viralitas tidak selalu identik dengan kebenaran. Bahkan, tidak sedikit informasi yang paling banyak dibagikan justru lahir dari sensasi, provokasi, atau manipulasi emosi.
Menurunnya kemampuan analisis
Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya kemalasan berpikir. Kemampuan menganalisis melemah, budaya membaca menurun, sementara budaya bereaksi meningkat. Masyarakat lebih cepat memberi komentar daripada melakukan verifikasi.
Akibatnya, ruang publik dipenuhi oleh kegaduhan yang datang dan pergi layaknya gelombang kejang, tiba-tiba meledak, kemudian menghilang sebelum persoalan benar-benar dipahami. Publik bergerak dari satu kekagetan menuju kekagetan berikutnya tanpa pernah menyelesaikan akar persoalan.
Gejala kedua adalah echo source atau ruang gema. Media sosial secara perlahan membentuk ruang komunikasi yang hanya memperdengarkan suara yang ingin kita dengar. Algoritma menyajikan informasi yang sesuai dengan preferensi pengguna. Akibatnya, seseorang semakin yakin bahwa pandangannya adalah satu-satunya kebenaran.
Informasi yang sejalan dengan keyakinannya diterima tanpa kritik, sedangkan informasi yang berbeda segera ditolak, bahkan dianggap sebagai ancaman. Ironisnya, mesin pencari sering diperlakukan sebagai sumber pengetahuan utama. Padahal mesin pencari hanyalah alat menemukan informasi, bukan penentu kebenaran.
Kebenaran tetap harus diuji melalui sumber ilmiah, fakta empiris, dan dialog yang sehat. Ketika masyarakat hanya hidup dalam ruang gema, kemampuan berdialog menjadi semakin sempit. Perbedaan pendapat tidak lagi dipandang sebagai kekayaan intelektual, tetapi sebagai permusuhan.
Fear of Missing Out
Gejala ketiga adalah konformitas sosial digital. Dalam psikologi sosial, konformitas adalah kecenderungan seseorang menyesuaikan perilakunya dengan kelompok agar memperoleh penerimaan sosial. Di era digital, konformitas tampil dalam bentuk yang lebih kompleks melalui fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
Banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren terbaru agar tidak dianggap tertinggal. Mereka terus menggulir layar (scrolling), mengejar informasi, mengikuti tantangan, membeli barang yang sedang populer, bahkan membentuk identitas berdasarkan pengakuan dunia maya.
Faktanya menunjukkan bahwa masyarakat modern dapat menghabiskan antara delapan hingga dua belas jam setiap hari di depan layar gawai. Smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi “teman hidup”.
Ketika baterai habis atau jaringan internet terputus, sebagian orang merasakan kecemasan, kehampaan, bahkan hidup seperti kehilangan arah. Terkhusus bagi anak-anak yang telah kecanduan. Inilah bentuk baru ketergantungan sosial.
Fenomena tersebut paling nyata dirasakan oleh remaja. Remaja merupakan kelompok yang sedang berada pada fase pencarian identitas. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kebutuhan besar untuk diterima kelompok, serta kemampuan berpikir yang masih berkembang.
Oleh karena itu, mereka menjadi kelompok yang paling rentan sekaligus paling potensial dalam menghadapi era digital.
Dampaknya bagi remaja
Di satu sisi, teknologi membuka peluang luar biasa bagi remaja untuk belajar, berkreasi, membangun jejaring, bahkan menghasilkan karya dan pendapatan. Banyak inovator muda lahir dari ruang digital.
Namun di sisi lain, teknologi juga dapat menjadi perangkap ketika tidak memiliki literasi digital, pengendalian diri, dan pendampingan keluarga, remaja dapat terjerumus dalam berbagai bentuk adiksi digital seperti gim daring yang berlebihan, judi daring (judol), pinjaman daring (pinjol), pornografi, kekerasan siber, hingga penyalahgunaan media sosial sebagai ruang pelarian dari persoalan hidup.
Layaknya candu, semua itu memberikan kesenangan sesaat tetapi meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental, prestasi belajar, relasi sosial, bahkan masa depan.
Sementara, masa remaja semestinya merupakan periode yang paling indah dalam kehidupan manusia. Masa ini adalah kesempatan untuk mengenal diri sendiri, mengembangkan bakat, membangun karakter, memperluas wawasan, serta mempersiapkan kehidupan dewasa. Masa remaja bukan untuk kehilangan arah, melainkan menemukan tujuan.
Dalam perspektif perkembangan manusia, setiap remaja memiliki sejumlah tugas perkembangan yang harus diselesaikan agar mampu memasuki kehidupan dewasa secara sehat.
Mereka perlu membangun identitas diri, mengembangkan hubungan sosial yang matang, memiliki kemandirian emosional dari orang tua, mempersiapkan karier dan masa depan, serta membangun kesiapan untuk berkeluarga secara bertanggung jawab.
Kegagalan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan tersebut sering kali menjadi awal munculnya berbagai persoalan psikososial pada masa dewasa. Oleh karena itu, remaja tidak boleh dibiarkan menghadapi kompleksitas kehidupan digital seorang diri.
Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang beranggapan bahwa ketika anak memasuki usia remaja, maka ia otomatis telah dewasa dan mampu menyelesaikan seluruh persoalannya sendiri.
Anggapan ini merupakan kekeliruan yang sering terjadi, sehingga lemahnya kesadaran orang tua atau orang-orang di sekitarnya untuk berintekasi secara intim, sehingga perlunya kesadaran bahwa remaja tetap membutuhkan kehadiran orang tua, bukan sekadar secara fisik, tetapi juga secara emosional.
Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan arahan tanpa memaksa, dan mendampingi tanpa mengambil alih kehidupannya.
Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi di dalam keluarga, sebagian remaja mencarinya di luar rumah. Mereka lebih percaya kepada kelompok sebaya, komunitas yang destruktif, atau lingkungan yang memberikan penerimaan semu.
Dalam situasi tertentu, pelarian itu dapat berupa konsumsi alkohol, narkotika, pergaulan berisiko, bahkan tindakan yang membahayakan diri sendiri.
Urgensi komunikasi keluarga harmonis
Kehadiran keluarga yang harmonis, komunikasi yang hangat, perhatian yang konsisten, dan sentuhan kasih sayang (power of touch) merupakan vaksin sosial yang paling efektif menghadapi epilepsi komunikasi.
Penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kelekatan emosional (secure attachment) antara orang tua dan anak merupakan faktor protektif terhadap berbagai perilaku berisiko pada remaja.
Keluarga yang menyediakan ruang aman untuk berdialog membuat remaja lebih mampu mengelola tekanan sosial, menyaring informasi, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Teknologi bukanlah musuh dan tidak juga segala-galanya dalam kehidupan. Namun ia adalah alat yang seringkali manusia kehilangan kemampuan mengendalikannya, sehingga justru teknologi yang mengendalikan manusia.
Dengan demikian, tantangan terbesar masyarakat Indonesia hari ini tidak hanya meningkatkan literasi digital, tetapi juga membangun literasi kehidupan (life literacy), yaitu kemampuan berpikir kritis, mengelola emosi, menghargai perbedaan, membangun empati, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, hidup manusia sesungguhnya berada di antara dua titik yang tidak dapat kita pilih: Birth (kelahiran) dan Death (kematian). Namun, di antara keduanya terdapat satu ruang yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita, yaitu Choice (pilihan).
Kita tidak dapat memilih kapan dilahirkan ataupun kapan mati di atas dunia ini, akan tetapi kita diberikan hak dan kebebasan untuk memilih pola hidup kita sendiri dan tetap menjaga sisi-sisi kemanusian, manusia menjadi “robot”.














0 Comments