Ada suatu masa, sebagai warga negara biasa aku merasa tidak bangga menjadi orang Indonesia. Rasa itu datang saat aku membaca di media massa tersiar kabar korupsi merajalela. Aparat negara dengan amanah berat yang diembannya dan setumpuk kepercayaan yang diberikan, ternyata harus tertunduk malu dalam sebuah operasi tangkap tangan.

Tidak hanya sebagai warga negara, khususnya sebagai pegawai negeri, pada saat itu terjadi ada rasa kecewa yang luar biasa. Satu titik noda bisa merusak putihnya susu dalam sebuah belanga, begitu kira-kira perumpamaannya.

Selain itu, ada kalanya dada saya merasa sesak menyaksikan kawan-kawan sendiri sibuk saling mencaci. Diskusi di berbagai media sosial bukan lagi soal bagaimana memperbaiki kinerja, tetapi berebutan saling melempar bahan olokan hanya karena berbeda pilihan pemimpin idaman.

Bukankah kita, para birokrat, mempunyai tugas berat sebagai pelayan masyarakat? Untuk memastikan amanah itu berjalan dengan semestinya, tak ada pilihan selain saling menjaga persatuan dan bekerja sama. Pilihan boleh tak sama asalkan hanya menjadi pertarungan di bilik suara pada harinya.

Aku Kecewa

Ada cerita lain yang membuat perasaan ini kecewa. Bagi yang tinggal di Jakarta, setiap hari saat kita berangkat dan pulang kerja, Jakarta selalu menyuguhkan keruwetan aneka rupa. Di jalan raya, debu asap knalpot dan emosi para pengemudi beradu dalam kompetisi kesabaran menghadapi kemacetan. Di kereta, para penumpang baik tua-muda, wanita-pria, hampir semuanya sama saja. Dalam pikirannya cuma ada dua hal, yaitu bisa masuk kereta dan tidak kehilangan barang berharga. Maka benar ungkapan Jakarta sebagai kota yang kejam seperti kejamnya ‘ibu tiri’.

Jakarta yang kejam mengubah orang-orang yang tinggal di dalamnya menjadi kejam. Jalanan dan kereta adalah saksinya betapa kami yang menghuni kota ini telah menjadi orang-orang yang individualis karena satu alasan, yaitu keterpaksaan.

“Aku terpaksa melanggarnya, karena jika tidak, maka pemotor-pemotor di belakangku akan marah,” begitu kata pemotor yang baru saja menerobos lampu merah.

“Aku terpaksa mendorongmu makin berjejal ke dalam gerbong, karena jika aku tak terbawa kereta ini, maka tak bisa kupenuhi janjiku untuk sholat maghrib di rumah dengan anak istri,“ begitu kata roker (rombongan kereta) Tanahabang-Bogor yang baru naik dari Stasiun Manggarai.

“Aku terpaksa melawan arus jalan, karena hari ini belum banyak orderanku, bisa jadi tak lunas cicilan motorku,” begitu kata driver ojek online rute Salemba-Sudirman.

“Aku terpaksa mencampur minyak jelantah dengan plastik, karena harga minyak goreng semakin tak terbeli,” begitu kata tukang gorengan yang sudah kusam wajahnya karena terpapar udara Jakarta dan uap panas penggorengannya.

“Aku terpaksa menaikkan standar penerimaan bagi anak baru, mereka harus sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung, karena sekolah ini hanya menerima calon-calon juara lomba di level dunia,” begitu kata seorang kepala sekolah dasar swasta di pinggiran Jakarta.

“Dan aku, terpaksa ngomel dalam tulisan ini karena aku bukan siapa-siapa. Bukan seorang pejabat, camat, walikota, gubernur, menteri, apalagi presiden yang memiliki kekuasaan dan disegani. Aku cuma seorang birokrat level teri yang gelisah menjadi orang Indonesia, mencari nafkah di Jakarta dengan segala permasalahannya,” begitu kataku.

Kehebatan Mereka

Kawan, aku tak akan bosan menceritakan padamu tentang Jerman, Belanda, dan Swiss. Sekali saja kamu bisa datang langsung ke sana dan merasakan bagaimana kehidupan manusia di sana, sungguh pasti batinmu akan berontak, “Kenapa tidak begini Indonesia?”

Ya, negara-negara itu memang kaya. Jerman telah ratusan tahun membangun saluran kereta bawah tanah berlapis-lapis di ibukotanya dan membangun pabrik-pabrik mobil terkemuka yang merajai pasar dunia karena kualitasnya. Belanda telah mengubah rawa-rawa menjadi sawah perkebunan dan industri bahkan saat negeri Indonesia masih belum ada namanya, saat kita masih terpecah-pecah dalam kerajaan kesultanan dan dirongrong penjajahan.

Swiss pun tak kalah majunya. Meski negara itu tak memiliki banyak kekayaan alam selain pegunungan dan musim salju yang membekap penduduknya dalam keterbatasan, dengan wilayah hanya sepertiga dari pulau Jawa, tetapi  Swiss memiliki Zurich sebagai kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia.

Kalau saja Indonesia seperti mereka, kita mungkin akan bahagia rasanya.

Mimpikah Aku?

Ya, aku yakin ini pasti masih mimpi. Aku masih memimpikan bangsa ini bisa sebahagia mereka yang tinggal di Eropa. Karena nyatanya, kita tidak mempunyai harta sebanyak mereka. Buat membangun jalan saja, negeri ini masih membutuhkan hutang luar negeri. Bagaimana tidak, rakyat Indonesia sebagian besar masih malas membayar pajak.

Karena nyatanya, segala peraturan lalu lintas hingga soal kewajiban bayar-membayar diyakini ada untuk dilanggar.

Karena nyatanya, memberi harga murah pada penumpang commuter line dengan subsidi public service obligation tidak cukup untuk mengubah kebiasaan tetap berjalan pada eskalator sebelah kanan.

Karena nyatanya, subsidi elpiji yang jelas-jelas menjadi hak orang miskin diserobot dengan mudahnya oleh para orang kaya.

Karena nyatanya, segala urusan, kunjungan, dan kebijakan kepala pemerintahan selalu jadi bahan gunjingan dan seringkali dibumbui prasangka yang berlebihan. Memang semuanya belum ada yang sempurna, tetapi selalu dicari kekurangannya.

Aku Mau Bilang Apa?

Aku mau bilang bahwa kita terlalu jauh “ketinggalan”. Kita ketinggalan kekayaan, zaman, dan peradaban dibandingkan mereka yang tinggal di negara-negara itu.

Mungkin kita belum mempunyai uang sebanyak mereka, tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah kecenderungan mental kita yang masih buruk. Mulai dari yang kecil-kecil dan dari yang sederhana saja dulu, seperti mengantri secara tertib di depan kasir minimarket, tidak membunyikan klakson berlebihan, dan membayar Pajak Bumi dan Bangunan tepat pada waktunya. Mulai dari yang remeh saja, membuang sampah pada tempatnya, mematikan handphone saat berkendara, ataupun mendahulukan orang cacat dan lansia di kereta.

Mari kita mulai dari berbesar hati untuk menghindari konflik soal politik, tersenyum saat bendera merah putih sedang naik pada tiangnya, mengingat siapa nama pahlawan yang terlukis pada gurat-gurat uang kertas, syukur-syukur menelusuri kiprah dan jasa-jasanya, lalu mendoakannya tenang di alam sana. Selanjutnya kita mesti percaya pada negara dan pemerintahnya, percaya pada kebijakan-kebijakannya, dan juga percaya pada aturan-aturan yang mereka tetapkan. Baru setelah itu, aku pun percaya bahwa kita benar-benar cinta Indonesia.

Bagiku, nantinya Indonesia akan hebat seperti negara-negara di Eropa itu. Indonesia akan menjadi hebat karena kita negara kaya akan sumber daya alam dan manusia.

Sungguh Kaya Alam Indonesia

Indonesia memang kaya akan alamnya. Kalau tak percaya, tanyakan saja pada bapak dan ibu haji yang pernah berkunjung ke tanah suci. Mereka akan meyakinkanmu tanpa berfikir lagi bahwa alam Indonesia jauh lebih indah dan nyaman dari Kerajaan Arab Saudi.

Jika di sana, pesawat Saudi Arabian Airlines mendarat dengan anggun di atas sebuah bandara yang dibangun di hamparan padang pasir tandus berbatu-batu, maka di Indonesia hampir di semua kota landing dan take-off adalah momen bagus bagi kita untuk mencuplik potret indahnya sawah-sawah lambang kesuburan pertanian, pantai-pantai dan pelabuhan perlambang kekayaan lautan. Belum lagi saat melintas di atas pegunungan yang kokoh dihiasi warna biru langitnya, putih awannya, dan hijau hutan-hutannya.

Sumber daya alam Indonesia memang kaya. Namun, di balik kekayaan alamnya penduduknya masih banyak yang jauh lebih sengsara dari kebanyakan orang di Arab Saudi. Hingga sebagian dari kaumku, para wanita, memilih jadi pekerja di Arab Saudi sebagai tenaga kerja wanita. Tentu saja, demi janji menjadi kaya dan demi membiayai keluarganya yang tercinta yang masih papa di Indonesia.

Sungguh, Kita Juga Kaya Sumber Daya Manusia

Penduduk Indonesia yang hampir berjumlah 260 juta didominasi manusia muda usia pekerja. Sungguh sebuah modal demografi yang sangat berharga untuk menghasilkan kemajuan. Komposisi itu hanya selisih 20% dari populasi penduduk negara adidaya, Amerika Serikat.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, masih beruntung kita. Tengoklah bagaimana lelahnya pemerintah Jepang dan Singapura merayu warganya untuk berkeluarga, menikah, dan melahirkan putra atau putrinya. Setiap kelahiran mereka disambut sukacita karena sang negara kaya sedang dalam ketakutan tak punya generasi muda penggerak perekonomian negaranya.

Coba saja, andai para generasi muda angkatan kerja Indonesia bekerja dengan semangat menggelora. Apalagi jika mereka menjadi wiraswasta yang membuka semakin banyak lapangan kerja, pasti negeri ini akan menjadi lebih produktif dan berdaya.

Para anak muda itu tak perlu lagi putus asa dalam harap di antara lowongan kerja yang ada. Temukan saja bakatmu, gunakan peluangmu, dan lakukan sesuatu di zaman yang menjanjikan berbagai kemudahan. Tak ada lagi alasan bahwa hari ini kita tak bisa menciptakan pekerjaan untuk kita sendiri.

Mari Mengubah Mental Kita

Yang paling susah adalah mengubah mental buruk kita. Program besar pemerintahan yang bertajuk revolusi mental dengan cita-cita luar biasa dan pendanaan yang tak sedikit jumlahnya saja masih ‘terpental’, meskipun terlalu dini juga untuk dibilang gagal.

Sebagai gambaran, kota London yang begitu tertata rapi dan melegenda saja, pada ratusan tahun yang lalu masih lebih jorok dari Jakarta. Ada sampah dan kotoran di mana-mana. Kriminalitas pun pernah merajalela.

Ya, London saat itu mungkin tidak jauh berbeda dengan Jakarta saat ini. Yang menjadi masalah apa iya kita butuh selama itu, ratusan tahun lagi untuk mengubah Jakarta dan Indonesia menjadi lebih tertata. Aku berharap tidak.

Kemajuan teknologi harus digunakan lebih banyak lagi untuk kebaikan. Semakin banyak orang Indonesia yang berpendidikan, semakin banyak generasi milenial yang melek dengan tuntutan peradaban untuk berbuat sesuatu, dan semakin banyak pemimpin yang peduli dan memberi teladan, akan menjadikan ratusan tahun waktu yang diperlukan untuk mengubah mental buruk itu menjadi masa yang lebih singkat.

Akhirnya Kawanku

Menurutku tak ada lagi pilihanku dan pilihanmu. Mencintai negeri ini harusnya bersama-sama.  Mari kita mulai lagi hari ini. Kita mulai dari sini, dari Jakarta, dan dari mana saja meski di sudut terjauh negara Indonesia.

Kamu yang tahu apa peranmu. Kalau aku, hari ini aku akan menjadi birokrat kelas teri dengan sedikit sumbangsih berupa coretan-coretan sederhana.

Aku percaya, tidak ada pekerjaan apapun yang tak penting di negara ini asalkan kita benar-benar mau bekerja. Tak mungkin seorang presiden menjalankan pemerintahan tanpa bantuan wakilnya, menterinya, dirjen-dirjennya, kabid-kabidnya, hingga kroco-kroco macam aku.

Karena ini sudah zaman kebebasan, seorang presiden sekalipun bisa berubah pikiran hanya karena sebuah tulisan dari anak TK yang baru mengenal huruf dan angka. Maka berkaryalah, bersemangatlah, dan berubahlah demi cintamu pada negeri ini, Indonesia.

Terima kasih pahlawanku, tetaplah berjuang kawan-kawanku!

Dirgahayu, Indonesiaku!

 

 

Sofia Mahardianingtyas ▲ Active Writer

Seorang PNS kandidat Master of Economics dari Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FEUI. Ibu muda beranak tiga dan istri dari seorang lelaki bersahaja. Di tengah batasan dalam ruang geraknya, tetap percaya bahwa cita-cita harus dikejar. Semangat belajar dan saling memotivasi adalah kekuatan yang dia percaya bisa menjadi penggerak kemajuan Indonesia. Saya muda, saya berkarya, saya bercita-cita!

error: