Birokrasi merupakan salah satu aset bangsa yang terpenting. Pelaksana dari setiap kebijakan yang dihasilkan oleh negara untuk kepentingan rakyat. Sayangnya, birokrasi Indonesia masih dihinggapi berbagai macam penyakit yang membuat kontibusinya terhadap bangsa tidak maksimal. Dalam moment Bulan Suci Ramadhan ini, saya mencoba mengulas manfaat ibadah puasa bagi peningkatan kualitas pribadi seorang birokrat dalam membangun bangsa. Dengan harapan bisa dijadikan
sebagai bahan renungan.

—–

Di samping terjebak masalah yang bersumber dari dalam seperti rendahnya kualitas akibat proses rekrutmen, dan tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang minim, birokrasi kita juga mengalami berbagai masalah yang bersumber dari luar, seperti terbelit kasus suap atau jual beli jabatan, dipolitisasi, dikriminalisasi dan sebagainya.

Terbaru, dua kasus ‘razia’ Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kemendes PDTT dan Kejati Bengkulu seolah mempertegas kondisi tersebut. Itulah sepenggal episode miris dari cerita tentang pekerja birokrasi di negeri ini. Meskipun keberadaannya sangat dibutuhkan oleh negara, tetapi mereka juga menjadi alamat dari berbagai label buruk.

Upaya meningkatkan kualitas dan kapasitas birokrasi telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Berawal dari reformasi politik di tahun 1998 yang menjadi pemicunya. Sayangnya, hingga hampir mencapai dua dasa warsa, hasil nyata reformasi birokrasi tersebut masih jauh panggang dari api. Jangankan untuk menjadikannya sebagai birokrat profesional penyeimbang politisi, untuk sekedar mencapai kedisiplinan yang normatif saja masih sulit. Malah, dari hari kehari manajemen birokrasi makin jauh terjerumus dalam belitan rezim aturan yang tak berujung.

Perangkat pendisiplinan berupa absensi fingerprint yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu idola pimpinan instansi. Tetapi kinerja PNS secara keseluruhan tetap tidak banyak berubah. Apakah ini gejala yang menunjukkan lemahnya program reformasi birokrasi kita? Ataukah karena perangkat-perangkat pendisiplinan itu tidak bekerja dengan baik?

Dalam momen istimewa bulan suci Ramadhan ini, sebuah proses diklat (pendidikan dan pelatihan) disediakan Allah secara gratis, sebagai salah satu instrumen pendisiplinan diri. Diklat itu bernama puasa. Diklat ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas SDM, dan bisa diakses di mana saja. Pilihannya, apakah Anda mau memanfaatkannya atau tidak?

Dalam Al Qur’an, Allah berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah:183).

Puasa bermakna menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan, atau tidak melakukan segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar, hingga matahari terbenam. Hasil dari diklat sebulan bernama ibadah puasa itu adalah mewujudkan insan yang bertakwa.

Konsep takwa ini sangat kompleks. Menurut Fazlur Rahman (1983), takwa itu berarti melindungi diri dari akibat-akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat. Di sini takwa dijelaskan keberadaannya berupa rasa takut yang muncul terhadap akibat-akibat perbuatan yang akan diterima, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Secara sederhana, takwa juga berarti kehati-hatian dalam menjalani hidup. Menjaga ucapan, tindakan atau perbuatan, agar tidak menimbulkan akibat buruk bagi diri sendiri dan bagi orang lain yang ada hubungannya dengan diri kita. Akibat buruk ini tidak bisa sekedar ditelaah melalui kecerdasan intelektual. Akan tetapi juga dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Tidak hanya melalui nilai-nilai rasionalitas, akan tetapi juga nilai altruistik.

Prinsip kehati-hatian di dalam takwa bersifat aktif. Takwa menjadikan manusia aware terhadap apapun. Bahkan termasuk untuk urusan paling mendasar sekalipun. Di sini jelas terlihat bahwa hasil akhir dari takwa adalah manusia yang terjaga dari berbagai keburukan, baik yang datang dari dirinya sendiri, maupun yang datang dari luar dirinya. Dan yang paling utama, manusia tersebut tidak menjadi bencana bagi orang lain atau bagi lingkungannya.

Konsep takwa dalam agama kaffah ini, dengan demikian, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ia bisa muncul lewat tutur kata yang santun. Juga bisa lewat makanan atau nafkah yang halal. Takwa juga bisa mengejawantah dalam kejujuran dan sifat qanaah (merasa cukup), dan juga dalam menyikapi kemewahan dan jabatan tinggi.

Pertanyaan kritisnya, mengapa puasa bisa menjadikan kita bertakwa?

Dalam ritual puasa, kita berlatih mengendalikan kebutuhan paling penting dalam hidup. Kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Tetapi karena keimanan kepada Allah, maka kita melakukannya dengan penuh kesungguhan. Tanpa harus diawasi, tanpa perlu dikarantina. Dengan mengendalikan kebutuhan tersebut, akan terbentuk karakter pribadi yang kuat. Tidak gampang tergoda atau terjerumus hanya karena bujukan atau rayuan dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Puasa juga melatih kita untuk berhemat. Dengan puasa kita menyadari, bahwa ternyata selama ini kita makan melebihi daripada apa yang sebenarnya kita butuhkan. Di luar bulan puasa kita biasa makan lebih dari tiga kali, tetapi di bulan suci ini, ternyata kita masih bisa hidup walaupun makan dan minum kita lebih sedikit dari biasanya. Hal itu akan menumbuhkan kesadaran bahwa ternyata selama ini kita terlalu banyak mengejar harta benda. Orang berpuasa, dengan demikian mampu mengikis sifat tamak dan serakah dalam dirinya.

Terakhir, puasa menumbuhkan empati. Pada saat kita berpuasa, kita diajarkan untuk turut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak bisa menikmati makanan secara rutin. Kalau puasa kita pasti bertemu makanan di saat berbuka, di tempat lain ada orang yang tak tahu kapan waktunya berbuka, atau akankah mereka sempat berbuka. Kepada merekalah empati kita tumbuh sehingga ada keinginan berbagi.

Orang yang berpuasa, bekerja memenuhi kebutuhan dirinya secara halal, baik cara memperolehnya maupun substansinya, tanpa merugikan orang lain. Orang yang berpuasa itu membiarkan nafkah terdistribusi secara wajar dan alami ke segala arah, tanpa dibelokkan ke tempat yang tidak semestinya.

Orang berpuasa itu tidak akan menguasai sumber daya tertentu dan mengambil seluruh manfaatnya tanpa menyisakan bagi orang lain. Orang berpuasa itu adalah tidak membuat dan menggunakan aturan untuk melegalkan perampasan atas hak orang lain.

Pendek kata, orang berpuasa itu menyelamatkan kehidupan, memakmurkan dan menyejahterakan, serta mendorong perbaikan, di manapun ia berada. Jadi, mengapa kita tak mencoba, apa diklat ini bekerja atau tidak terhadap birokrasi?

Wallahu a’lam bish shawaab.

 

 

Andi P. Rukka ◆ Active Writer and Active Poetry Writer

ASN di Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Wajo. Tulisan Andi P. Rukka sangat khas, berusaha mengkritisi ketidakberdayaan sebagian besar birokrat di negeri ini.

error: