Yang saya kagumi, Mas Menteri Nadiem Makarim.

Mohon izin terpaksa menuliskan surat ini. Sebab saya tak tahu lagi pada siapa harus mencurahkan isi hati. Maklum, ketika Mas Menteri dilantik Pak Jokowi, ekspektasi saya begitu tinggi. Kita sama-sama masih muda. Bedanya cuma satu, saya rakyat biasa, sedangkan panjenengan pembuat kebijakan.

Begini Mas Menteri,

Pertama, ada baiknya saya memperkenalkan diri. Saya seorang ibu dari 3 anak; usianya 5, 6, dan 7 tahun. Ketiganya tetap bersekolah secara daring di masa pandemi. Nama mereka Emir, Karim, dan Shidqi.

Karim, iya, Karim. Mirip ya dengan nama belakang panjenengan. Semoga nanti ketika dewasa Karim juga sebijak Mas Menteri. Ohiya, Karim dan kakaknya, Emir, saat ini duduk di bangku sekolah dasar.

Selain menjadi ibu, saya juga seorang pekerja di sebuah kantor pemerintah di bilangan Jakarta. Sementara, rumah kediaman keluarga kecil saya berada di bilangan Tangerang Selatan. Ya, kira-kira satu jam setengah lah perjalanan dari kantor ke rumah.

Terus terang dalam surat ini saya lebih memilih memakai kata “saya” ketimbang “kami”. Alasannya sederhana, kegelisahan yang akan saya ceritakan bisa jadi hanya saya sendiri yang mengalami –bukan cerita dari kebanyakan ibu yang bekerja.

Saya memang ndak sempat meriset dulu bagaimana curhat ibu-ibu yang lainnya ya, karena sudah keburu ingin bercerita. Ya, syukur-syukur kalau isi surat ini ternyata mewakili perasaan banyak orang dan kebetulan sempat panjenengan baca, in sya Allah ada manfaatnya.

Bagaimana ceritanya?

Njih, ngapunten. Pembukaannya terlalu lama.
Intinya begini, saya sedang gelisah. Dalam situasi pandemi ini, ketika banyak hal harus ditata ulang kembali, soal pendidikan anak-anak pun jadi ndak asyik lagi. Bukan, saya bukan mau memprotes kapan anak saya diizinkan sekolah lagi supaya saya bisa leluasa bekerja di jam kerja.

Akan tetapi, cerita saya adalah soal pressure yang masih tinggi yang saat ini masih saya alami. Kalau boleh cerita mas, di tengah situasi pandemi yang belum terkendali (katanya, gelombang satu saja bahkan belum sampai puncaknya), atas nama pengabdian kepada negara saya masih tetap harus bekerja.

Ya, saya tidak bisa sepenuhnya WFH. Pekerjaan masih menuntut saya mondar-mandir dari Tangsel ke Jakarta, mengarungi lautan persebaran virus corona yang tidak terdeteksi secara kasat mata. Alhamdulillah, untungnya saya dan keluarga masih terlindungi dari serangan penyakit ini.

Saya yakin Mas Menteri pun memahami, risiko yang kita hadapi bukan hanya soal penyakit yang menyerang fisik. Lebih dari itu, soal kecemasan dan persoalan kesehatan mental lainnya. Khususnya buat perempuan pekerja seperti saya.

Seorang teman saya yang hobi membaca bercerita, ternyata trennya di berbagai negara para wanita lebih rentan mengalami depresi. Saya juga hampir mengalaminya.

Bayangkan mas, ketika sepanjang perjalanan, berada di kantor, hingga sampai di rumah lagi, ada banyak alasan untuk khawatir. Kalau sampai menjadi pembawa virus bagaimana? Sungguh membahayakan orang-orang yang tersayang.

Tapi, cerita belum selesai sampai di sini. Tiba di rumah, saya masih harus mendampingi ananda untuk belajar. Ada materi yang harus dibaca, ditonton, atau dipraktikkan. Memang, mendampingi anak belajar membuat saya menyadari satu hal. Guru-guru mereka ternyata kreatif sekali. Mengagumkan.  

Lumayan lah jadi mewujudkan mimpi sejak dulu kala soal pendidikan yang bisa didapatkan dari mana saja. Kan sedang Revolusi Industri 4.0 ya, katanya. Meskipun begitu, rasa-rasanya ada yang hilang ketika anak-anak tidak bersua kawan sebaya dan bertemu langsung dengan gurunya.

Tapi saya memaklumi. Alhamdulillah teknologi informasi sangat membantu untuk bisa tetap belajar dan berinteraksi. Ya, memang lebih melelahkan bagi saya orang tua yang harus mendampingi. Namun tak mengapa karena saya bisa lebih terlibat dalam pendidikan mereka.

Hanya satu yang saya sayangkan. Dengan keterbatasan ini, mengapa tugas sekolah tidak dikurangi. Sudah tidak berkurang, lalu sebagian guru masih kaku. “Tolong, tugas ananda dikumpulkan hari ini juga, jangan ditunda-tunda”, begitu bunyi pesan salah satu guru di grup WA.

Izinkan saya berteriak dalam hati ketika membacanya ya…. Hwaaaaa!

Ingin sekali membalas pesan itu seperti ini, “Tahukah Bapak/Ibu Guru, saya ini meninggalkan ananda di rumah setiap pagi sebelum bekerja saja, rasanya sudah cukup gelisah.”

“Nanti di kantor fokus tetap harus tinggi karena instansi saya sedang dituntut perannya buat penanganan pandemi. Lalu di senja hari, sepulang bermacet ria ala jalanan kota Jakarta, masih harus jadi perempuan sakti –secara instan mengisi baterai energi dan semangat untuk mendampingi ananda belajar di malam hari.”

Beneran deh, ndak asyik sekali waktu tiba-tiba dapat japri, “Bunda, tolong ananda segera kumpulkan tugas sebelum jam 20.00 malam ini.”

Duh, kirain cuma bos-bos yang kolonial yang sekaku itu. Ternyata di sekolah masih ada juga guru yang begitu. Padahal kuliah dengan metode online saja sudah membebaskan mahasiswanya menyesuaikan kapan bisa membaca materi, mengerjakan tugas, dan mengumpulkannya.

Asalkan masih dalam batas waktu seminggu. Jungkir balik begadang pun gakpapa deh. Yang penting, benar-benar belajar dan secara jujur mengerjakan tugas. Batasannya juga sudah dilonggarkan jadi seminggu.

Itu kuliah. Mandiri. Lha, masa iya anak SD yang butuh pendampingan dari orang tuanya tidak lebih diringankan?

Come on, please.

Kalau begini, lama-lama sekolahnya anak-anak mendingan home learning saja sekalian. Ndak perlu mengikuti kurikulum sekolah yang sepertinya memang belum disesuaikan dengan situasi pandemi. Yang penting anak saya nanti bisa lulus ujian persamaan.

But, wait.

Sepertinya sulit. Setelah mengikuti sebuah kursus daring tentang Home Learning Education di United Kingdom, saya baru menyadari bahwa belajar di rumah lepas dari kurikulum nasional itu lebih sulit dan menantang daripada sekolah konvensional.

Ditambah lagi kekhawatiran, jangan-jangan homeschooling di Indonesia kualitasnya masih dipandang sebelah mata. Atau bisa jadi, saya dan keluarga sebenarnya belum siap menjalaninya. Ya, saat ini sepertinya tetap menjadi murid sekolah biasa masih menjadi pilihan yang terbaik.

Mas Menteri,

Makasih masih setia membaca hingga paragraf ini. Sabar ya, tinggal sedikit lagi. Saya masih penasaran, bagaimana kekisruhan ini bisa terjadi.

Saya punya teman seorang guru, yang juga curhat bahwa tugasnya makin berat dan stressing dalam situasi pendidikan jarak jauh (PJJ) sekarang ini. Pekerjaannya tak kenal waktu. Dia juga kelelahan fisik dan mental menyusun bahan pelajaran, mengoreksi, melaporkan, dan berinteraksi dengan para wali murid lewat WA.

Sejujurnya, walimurid seperti saya ini kadangkala memang kejam, banyak protes pada guru-guru. Apalagi yang di sekolah swasta, feel-nya beda. Mbayar. Mahal.

Bisa jadi, orang tua seperti saya ini memang yang bikin guru makin lelah. Bagaimana tidak, ketika hari-hari kerja saya begitu menguras waktu dan tenaga, terpaksa anak saya baru sempat merapel pelajaran dan setor tugas seminggu sekali. Beberapa kali Emir dan Karim begadang hingga tengah malam karena belajar.

Bukan apa-apa, selain karena sungkan pada gurunya, saya juga ingin mengurangi beban yang sudah berhari-hari dirasakan. Ya, tapi tetap saja pengorbanan ini belum cukup memuaskan. Buktinya, saya masih kena tegur dari wali kelas, “Tolong Bunda, tugasnya jangan lagi terlambat disetorkan.”

Kalau begitu Mas Menteri, mas kan yang di urusan pendidikan punya jabatan paling tinggi. Harus bagaimana ini? Apa jangan-jangan masalahnya karena kurikulum yang tidak diganti? Mungkin harusnya memang segera disesuaikan karena pandemi.

Ah, jadi ingat sebuah cerita dari seniorku, pengamatannya selama menyekolahkan anaknya di Australia. “Di sana itu, walaupun libur sekolah berbulan-bulan, anak-anak ya tetap pintar. Negaranya juga tetap jadi negara maju.”

….

Lalu bagaimana? Ah sudah, saya manut saja Mas Menteri mau melanjutkan bagaimana. Bisa cerita saja rasanya sudah lega sekali. Hihi. Maklum, bagi saya menulis itu salah satu cara meluapkan emosi.

….

Akhirnya, inilah penghujung surat saya. Terima kasih.
Selamat istirahat njih Mas Menteri. Salam buat anak istri.

Tetap sabar, stay safe, dan stay healthy.

2
0

Seorang PNS muda yang meminati bidang sosial ekonomi, kebijakan publik, dan birokrasi. Ibu muda beranak tiga dan istri dari seorang lelaki bersahaja. Di tengah batasan dalam ruang geraknya, tetap percaya bahwa cita-cita harus dikejar. Semangat belajar dan saling memotivasi adalah kekuatan yang dia percaya bisa menjadi penggerak kemajuan Indonesia. Saya muda, saya berkarya, saya bercita-cita!

error: