Data Yang Dibenci

by | Sep 28, 2022 | Birokrasi Berdaya | 1 comment

Kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi besar atau kecil tidak bisa terlepas dari data dan informasi. Menjalankan kegiatan sehari-hari harus dilakukan berdasarkan pengetahuan  yang cukup tentang keadaan dan pengetahuan itu sejatinya adalah informasi dan informasi terbentuk dari sejumlah data yang dapat memberikan makna dan pemahaman tertentu.

Dengan berkembangnya teknologi informasi dan semakin meluasnya pemanfaatannya dalam hampir semua sisi kehidupan manusia, data menjadi semakin penting. Data dan informasi dalam bentuk elektronik semakin mudah disimpan, diolah, dikomunikasikan, didistribusikan dalam waktu yang cepat. 

Hal ini membuat orang perorangan dan organisasi semakin produktif bila dapat memanfaatkan data elektronik dengan baik. Tentu saja data yang dimanfaatkan harus memenuhi 4 (empat) syarat utama yaitu akurat, lengkap, “up to date, dan relevan (sesuai kebutuhan).

Dalam tata kelola dan praktik manajemen yang baik, data elektronik dapat mudah diperiksa dan dilacak asalnya, proses pembangkitannya, dan jejak perubahan yang terjadi terhadapnya. Hal ini menyebabkan data elektronik dapat semakin dipercaya dan terjaga integritasnya.

Sebelum data dapat memenuhi kualitas di atas, organisasi banyak menggunakan informasi yang bersumber dari catatan, laporan lisan atau tertulis berdasarkan proses dimana kebenarannya lebih sulit diperiksa.

Kelemahan pada data dan informasi yang bukan elektronik telah memberikan peluang perilaku dan praktek yang tidak terpuji seperti pemalsuan data, penipuan dan rekayasa informasi oleh pihak pihak yang memiliki tujuan tertentu.

Berkurangnya Intervensi Manusia

Secara tradisional data elektronik didapatkan melalui proses transkripsi dimana ada proses yang melibatkan manusia, atau intervensi manusia dalam memasukkannya ke dalam suatu sistem elektronik.

Sistem yang baik dapat melacak siapa, kapan, dimana data telah dimasukkan, diubah atau dihapus. Namun tetap saja ada peluang untuk mengganggu integritas dari data dengan tujuan yang tidak baik.

Perkembangan teknologi telah menyebabkan berbagai kemajuan dalam cara manajemen data secara elektronik. Salah satu teknologi dimaksud adalah teknologi biometrik yang memastikan bahwa akses kepada sistem dilakukan oleh orang tertentu dan bukan oleh orang lain, yaitu melalui pemeriksaan identitas fisik unik yang dimiliki orang seperti sidik jari, bentuk wajah dan hal lain.

Teknologi lain yang juga berkembang adalah teknologi yang disebut internet of things dimana berbagai perangkat dapat terhubung dengan bermacam sistem melalui jaringan internet.

Keterhubungan yang dimaksud di atas juga berguna dalam pengumpulan data tanpa intervensi manusia. Sebagai contoh perangkat kamera digital dapat menangkap keberadaan orang melalui pengenalan wajah dan mencatat identitas orang dimaksud, waktu dan lokasi. Pengenalan nomor kendaraan bekerja dengan konsep yang sama sehingga pergerakan kendaraan dapat dipantau secara akurat tanpa intervensi manusia.

Berbagai barang dan peralatan juga mendapatkan alat pengenal elektronik sehingga mudah dilacak keberadaannya dan pergerakannya. Semua terjadi nyaris tanpa intervensi apapun dari manusia.

Pada akhirnya hal ini berarti peluang untuk melakukan pemalsuan, perubahan atau manipulasi atas data elektronik menjadi semakin sulit. Kalaupun dilakukan, dalam sistem yang dirancang, dibangun dan dioperasikan dengan baik, hal ini dapat terlacak kemudian perbuatan tersebut dikenakan sanksi yang sesuai.

Data Menjadi Ancaman

Dalam kondisi normal data elektronik yang berkualitas menjadi dambaan bagi suatu organisasi dalam mendukung berbagai kegiatannya sehari-hari. Proses bisnis yang dijalankan semakin efisien dengan dukungan data yang berkualitas. 

Tersedianya data dalam jumlah banyak dapat menggambarkan kondisi yang semakin akurat sehingga pengambilan keputusan dan berbagai layanan dapat dilakukan dengan semakin cepat dan berkualitas.

Lalu mengapa data dapat menjadi ancaman? Data yang berkualitas akan memberikan gambaran realita yang akurat, bebas dari manipulasi. Tidak semua pihak menyukai terungkapnya realita demikian karena data berpeluang mengungkapkan persoalan persoalan yang ada.

Data dapat menunjukkan penyimpangan yang terjadi. Data dapat memberikan peringatan atas terjadinya hal hal yang tidak sesuai dengan ketentuan, aturan dan prosedur yang seharusnya.

Data pada dasarnya jujur, tidak memiliki rasa takut, keragu-raguan, tidak bisa dibujuk untuk berubah sendiri sebagaimana ada dalam pribadi manusia yang mengelola data dan informasi bukan elektronik. Data akan dapat menunjukkan tanpa ragu ragu pribadi atau kelompok mana yang berprestasi dan mana yang tidak.

Hal tersebut menimbulkan konsekuensi tertentu, seperti pengenaan peringatan dan sanksi dalam penerapan manajemen kinerja, bila diterapkan secara konsisten. Ini beberapa saja dari ancaman yang ada. Data yang seharusnya menjadi sesuatu yang baik dan berguna menjadi sesuatu yang dibenci.

Respon Terhadap Ancaman

Berbagai bentuk ancaman kepada pihak pihak yang “dirugikan” oleh keberadaan dan ketersediaan data sebagaimana diuraikan singkat di atas menimbulkan beberapa respon.

Respon paling umum dapat berbentuk perlawanan terhadap pengembangan dan penerapan sistem elektronik yang menghasilkan “data yang dibenci” dengan berbagai dalih dan cara.

Satu cara lain yang juga menjadi modus dari para pembenci data adalah dengan mempertahankan bagian dari sistem lama agar tetap mudah dimanipulasi datanya. Berbagai alasan yang tidak rasional, seperti perlu kepatuhan pada regulasi, kompetensi sumber daya manusia, kesiapan dan lain lain akan diungkapkan sebagai pembenaran.

Lebih lanjut, tidak jarang terjadi suatu sistem dengan proses bisnis yang sudah sangat efisien kemudian diupayakan agar kembali ke rancang bangun yang lebih “ramah manipulasi” karena datanya dibenci. Pada tingkat tertentu semua perlawanan akan meningkat hingga dengan melakukan sabotase terhadap penerapan sistem elektronik.

Epilog

Memahami fenomena kebencian terhadap data sebagaimana dimaksud dalam tulisan ini, maka sebaiknya kita melakukan beberapa hal berikut.

  1. Mengantisipasi dan mewaspadai upaya penolakan atau perlawanan terhadap sistem yang akan diterapkan melalui perencanaan yang lengkap dan penerapan manajemen perubahan yang baik.  
  2. Membuat strategi menjaga keberlangsungan dari sistem elektronik yang diterapkan melalui manajemen kebijakan, termasuk pengawasan, audit dan evaluasi yang ketat.
  3. Mengaitkan suksesnya penerapan sistem elektronik dengan kinerja orang perorangan, baik pada tingkat pimpinan maupun staf.
  4. Memastikan tersedianya semua kebutuhan sumber daya, regulasi, kelembagaan, kompetensi, insentif yang diperlukan dalam proses  perubahan atau transformasi yang berhubungan dengan pemanfaatan sistem elektronik.
  5. Memastikan data elektronik yang berkualitas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penerapan “good corporate governance” di dalam institusi/organisasi.

Semoga kebencian terhadap data dapat diatasi secara maksimal dan tergantikan dengan kecintaan terhadap data yang melembaga dalam budaya organisasi, pola pikir, dan pola kerja bagi seluruh pimpinan dan karyawan instansi pemerintah maupun non pemerintah.

3
0
Teddy Sukardi ◆ Active Writer

Teddy Sukardi ◆ Active Writer

Author

Ketua Umum Ikatan Konsultan Teknologi Informasi Indonesia (IKTII). Ia aktif melakukan kegiatan konsultasi dalam bidang teknologi informasi seperti dalam bidang terkait Transformasi Digital, Perencanaan Strategis, Perumusan Regulasi, IT Governance, Manajemen Risiko, Audit Teknologi Informasi dan E-learning. Dapat dihubungi pada alamat surel [email protected]

1 Comment

  1. Avatar

    Terima kasih pencerahannya pak Teddy

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post