
Siang hari, ritme hidup saya lumayan tertebak layaknya pekerja kantoran pada umumnya. Rapat, menatap layar untuk urusan administrasi, dan menyelesaikan tumpukan pekerjaan hingga jam lima sore.
Tapi begitu jam kerja selesai dan malam tiba, saya berganti peran. Saya membuka laptop, menyeduh kopi, dan kembali menjadi seorang desainer grafis freelance.
Dulu, jauh sebelum menjadi pegawai kantoran, tepatnya saat saya masih pontang-panting bekerja di berbagai sektor, jalan freelance desain inilah yang jadi salah satu tumpuan dan kebanggaan. Menawarkan jasa desain ke berbagai klien kala itu selalu ada seninya. Menantang, kadang melelahkan, tapi peluangnya selalu terbuka lebar.
Sekarang, meski desain grafis sudah bergeser sekadar jadi pekerjaan pengisi waktu luang, ada satu hal yang belakangan ini bikin saya lumayan sesak: kotak masuk email dan DM portofolio saya sepi. Tawaran yang masuk mentok-mentok hanya dibaca, ditolak dengan sangat halus, atau bahkan klien lama yang perlahan menghilang.
Pertanyaannya, ke mana perginya para klien ini?
Kalau mau jujur, jawabannya ada di depan mata. Bahkan di lingkungan perkantoran dan instansi tempat saya beraktivitas sehari-hari, fenomena ini terasa sekali. Kalau butuh spanduk acara instansi, banner sosialisasi, sampai bahan tayang untuk pimpinan, semuanya bisa beres dalam hitungan menit.
Staf bagian humas tinggal membuka situs bernama Canva, mengetik kata kunci, memilih template yang dirasa pas, mengganti teks, lalu mengunduhnya. Selesai. Tidak ada lagi yang pusing memikirkan golden ratio, kombinasi font, atau grid layout.
Sebagai pekerja kantoran yang dituntut serba cepat, saya jelas angkat topi. Efisiensinya luar biasa. Sistem kerja administrasi memang butuh hal-hal yang praktis dan murah seperti ini. Sebuah penemuan yang jenius.
Tapi masalahnya, saat malam datang dan saya kembali memakai topi desainer, pikiran saya melayang. Kalau semua orang sekarang merasa bisa mendesain sendiri, lalu apa nilai dari keahlian seorang desainer grafis?
Saya sama sekali tidak anti-Canva. Aplikasi itu sekadar alat, sama netralnya seperti pulpen, mesin tik, atau Adobe Illustrator. Yang membuat mencari klien sekarang terasa sangat berat bukanlah aplikasinya, melainkan berubahnya cara orang menilai sebuah pekerjaan kreatif.
Dulu orang berpikir, “Saya tidak bisa membuat desain, makanya saya butuh membayar orang yang ahli.”
Sekarang?
Saat kita menyodorkan portofolio, yang sering muncul di kepala calon klien adalah, “Mengapa bayar desainer mahal-mahal, staf admin saya saja bisa membuat sendiri pakai template gratisan.”
Di sinilah letak lelahnya. Meyakinkan orang bahwa desain profesional itu bukan sekadar urusan “menempel gambar biar kelihatan rapi”, melainkan butuh riset visual dan strategi komunikasi, rasanya sudah seperti berbicara dengan tembok.
Puncaknya adalah ketika saya dihadapkan pada satu kalimat template dari calon klien yang langsung membuat mood anjlok ke titik terendah: “Mas, cuma bikin poster dari template begini masa harganya segitu? Bisa kurang lah ya, kan gampang.”
Mendengar itu, rasanya ngilu. Keahlian bertahun-tahun yang dulunya diasah mati-matian, ratusan jam belajar memahami psikologi visual dan warna, tiba-tiba hanya dihargai dari seberapa cepat kita mengeklik tombol export ke format JPG.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Canva sejak awal didirikan dengan misi utama: “Empower the world to design.” Dalam literatur teknologi, ini disebut sebagai demokratisasi desain—sebuah proses di mana alat bantu yang dulunya eksklusif, disederhanakan agar bisa diakses oleh orang awam.
Canva memecahkan masalah akses terhadap alat, tetapi ironisnya, publik gagal diedukasi tentang nilai di balik sebuah karya visual.
Ada satu hal esensial yang terlewatkan dari demokratisasi ini. Desainer legendaris Paul Rand pernah menegaskan, “Design is the silent ambassador of your brand.”
Dalam konsep ini, desain bukanlah sekadar urusan menata gambar agar sedap dipandang. Ia adalah ilmu merumuskan empati, menentukan hierarki visual, dan menyusun strategi agar sebuah pesan—baik itu promosi maupun kebijakan publik—tersampaikan dengan tepat sasaran.
Pada akhirnya, menyalahkan Canva adalah hal yang sia-sia. Teknologi akan terus mencari jalan untuk mempermudah hidup manusia, dan itu adalah kenyataan yang harus diterima. Canva mungkin telah mendemokratisasi alat desain, namun ia tidak akan pernah bisa mendemokratisasi empati, rasa, dan pemahaman strategis tentang bagaimana sebuah pesan harus divisualkan.
Profesi desainer grafis tidak sedang mati, ia hanya sedang dipaksa untuk berevolusi. Kita tidak bisa lagi sekadar berjualan kemampuan menata layout atau mengoperasikan software. Kita harus naik level menjadi perumus strategi visual.
Sembari meminum kopi yang sudah mulai dingin ini, saya sadar: layar laptop saya mungkin tak lagi seramai dulu oleh notifikasi dari klien. Namun, setidaknya kini saya tahu persis, karya seperti apa yang benar-benar membutuhkan seorang “desainer”, dan urusan apa yang cukup diselesaikan oleh sebuah template.














0 Comments