Bersinergi demi Kejayaan di Negeri yang Sensi: Sebuah Delusi?

by | Oct 17, 2021 | Birokrasi Berdaya | 0 comments

Momentum Kemenangan

Seremonial kemerdekaan telah terlewati, kenangan tentang kesaktian Pancasila pun baru berlalu. Sejenak saat peringatan itu mungkin rasa bangga pada negeri ini begitu membuncah, kita pernah begitu merdeka dan bangsa Indonesia memenangkan berbagai ujian di masa lalu.

Namun, adakah yang sadar, mengapa momentum “kemenangan” di masa lalu itu dapat kita peroleh? Lalu perlukah kita mencarinya lagi, atau jangan-jangan kita sedang terlena dengan “kemenangan” masa lalu itu? Menurut saya, momentum yang mendorong “kemenangan” itu adalah sinergi, sebuah proksi dari persatuan.

Kadang saya merasa negeri ini mulai merindukan kemenangan, meskipun saya tidak bisa mengabaikan berbagai kemenangan kecil yang diberikan insan negeri ini. Pendapat saya, ini pun merupakan pengejawantahan sebuah sinergi yang sayangnya masih dalam skala kecil.

Tapi tak mengapalah, berita kemenangan Tim Nasional Indonesia melawan Taiwan saat leg pertama play off Piala Asia 2023, atau menangnya Tim Uber melawan Jerman di babak penyisihan menjadi pelipur lara keterpurukan negeri ini di sektor lain. Keterpurukan karena indeks pangan, yang katanya lebih buruk dari Ethiopia, atau indeks kesehatan laut yang buruk, padahal mayoritas negeri ini adalah lautan.

Delusi Kejayaan

Iwan Fals pernah berseloroh bahwa negeri ini negeri yang kaya, kaya orangnya, binatangnya, budayanya, sejarahnya, dan agamanya. Lagu itu seakan memakbulkan nada dari Koes Plus yang mendefinisikan Indonesia sebagau negeri yang subur, di mana tongkat dan batu pun bisa jadi tanaman.

Jika kita mempersempit point of view dari multipersepsi kaya atau kejayaan sebagai Sumber Daya Alam, tampaknya Iwan Fals dan Koes Plus memberikan kita sebuah makna delusi kejayaan. Berdasarkan data dan fakta, kerusakan lingkungan di Indonesia sudah mulai mengkhawatirkan. Tingkat ketidakpedulian individu terhadap aktivitas keseharian yang berdampak pada lingkungan cukup rendah.

Saya mungkin berhalusinasi tentang ketidakpedulian itu, tapi silakan Anda menanyakan kepada 10 orang di sekeliling Anda dengan pertanyaan sederhana: ke mana mereka membuang sampah, apakah meluangkan waktu memilah sampah, atau  memiliki kesadaran bahwa alat transportasi yang mereka gunakan menyumbang bertambahnya Gas Rumah Kaca.

Jika Anda mendapati 5 dari 10 orang yang menjawab dengan rinci ketiga pertanyaan tersebut yang menjurus ke kehidupan yang lebih merepotkan (seperti ambil pusing kemana sampah yang mereka hasilkan berakhir atau berupaya menggunakan kendaraan yang tak berbahan bakar fosil), Anda cukup beruntung.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 memberikan kita pelajaran, bahwa udara yang merupakan public goods bisa jadi kelak menjadi private goods, jika **melihat stok tabung oksigen yang sempat menipis di pasaran. Ini baru dari satu dimensi lingkungan hidup saja, belum pada berbagai dimensi kehidupan lainnya.

Lalu jika dibuka pertanyaan lain, apakah kita bangsa yang besar? Jawablah dengan spontan lalu renungkan, jangan-jangan kita termasuk insan yang sedang berdelusi?

Kehidupan Bangsa yang Sensi

Jika kita perhatikan, atau mungkin mencari sumber sejarah yang kita yakini, kemenangan Indonesia dalam hal apapun di masa lalu selalu didasari keberagaman. Kemerdekaan didapat dari perjuangan berbagai etnis, agama, keyakinan, warna kulit, bahkan gender.

Perbedaan ini melebur jadi satu sehingga satu hal yang tak layak diterima seseorang, juga tak layak diterima yang lain. Artinya? Mereka saling memahami.

Nah, apakah saat ini kita bisa saling memahami? Kita dapat menerapkan pertanyaan ini pada diri kita sendiri dengan menjawab beberapa pertanyaan, misalnya:

  • Apakah kita memaklumi orang yang keluar ruangan untuk ke kamar kecil atau sekedar menunaikan ibadah tertentu di kala rapat berlangsung?
  • Apakah kita berusaha menggali lebih dalam jika terdapat pendapat rekan sejawat kita yang berbeda dengan kita (bisa dalam masalah pekerjaan, keyakinan atas suatu fenomena, atau bahkan masalah politik)?
  • Apakah kita menentang habis pernyataan yang berseberangan walaupun terkadang masih masuk di akal kita?

Jika Anda menemukan jawaban yang menimbulkan persepsi negatif atas respons orang lain, lalu menjadi sebuah alasan terjadinya friksi antara Anda dengan rekan sejawat, bisa jadi kita berada di fase yang sama.

Yang saya takutkan adalah kita sekarang telah menjadi bangsa yang sensitif atau sensi. Sensitif pada perbedaan, merasa menjadi yang paling tidak diuntungkan dari sebuah perbedaan. Keadaan ini yang umumnya mempersulit proses sinergi. Pluralisme didengungkan bahkan toleransi didefinisikan sebagai barang langka.

Sinergi antara Aksi Pemerintah dan Modal Sosial

Kemerdekaan merupakan contoh nyata hasil dari sebuah sinergi bangsa ini, yang melahirkan sebuah “pemerintahan”. Bagi bangsa yang merdeka, sinergi diperlukan untuk merengkuh kemerdekaan lainnya. Merdeka dari kemiskinan atau ketimpangan sosial, misalnya.

Yang jadi permasalahan adalah, apakah sinergi merupakan modal sosial yang berasal dari budaya bangsa ini yang menjadi endowment atau kemampuan generasi tertentu saja?

Peter Evans (1996) berpendapat jika sinergi merupakan warisan dari generasi sebelumnya, maka bisa jadi ada peluang luntur seiring waktu. Namun sebagai budaya, sinergi merupakan peluang laten yang perlu dibangkitkan, yang perlu dibangun antara pemerintah dan masyarakat.

Saya masih mengingat di mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) saat masih sekolah dasar, bahwa negeri ini sangat familier dengan budaya gotong royong. Menurut saya, gotong royong merupakan satu proksi dari sinergi dan modal sosial yang populer di Indonesia.

Walaupun gotong royong fisik semakin sulit ditemui, namun peluang laten gotong royong tetap ada. Ia bergeser ke media digital pada platform crowdfunding atau petisi. Ya, sinergi didorong keinginan  atau ketertarikan pada tujuan yang sama di sektor publik.

Pemerintah memberikan aksi atas permasalahan publik dan masyarakat memberikan feedback dengan modal sosial atau kontribusi lainnya. Namun sejatinya, permasalahan utamanya adalah bagaimana menyamakan persepsi, tujuan, atau prioritas.

Indikasi Sinergi di Masa Kini

Saat saya bekerja, saya menemukan banyak makna kesendirian. Bukannya curhat. Namun, memang sulit menemukan kesamaan tujuan di antara rekan kerja, tetangga, bahkan keluarga, untuk memecahkan masalah bersama.

Contohnya hari ini, saya mendapatkan undangan kerja bakti, tapi saya sudah ada agenda untuk mengantarkan anak pergi ke luar rumah, atau adik saya yang ngotot untuk menyamakan tanggal mudik mengingat kami tidak pernah bertemu sejak setahun sebelum pandemi.

Akan tetapi sepertinya contoh yang saya berikan kuranglah tepat, karena sangat sempit kebermanfaatannya. Contoh yang mungkin lebih baru, walaupun mulai tertutup berita Tax Amnesty, adalah implementasi Single Identity Number (SIN).

Setelah lama diwacanakan, proses integrasi Nomor Induk Kependudukan (NIP) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) akan segera direalisasikan. Seingat saya, gagasan ini telah dirintis oleh Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak pada medio 2007-2009, namun mangkrak.

Pada akhirnya NIK dan NPWP menjadi primary key yang mandiri berjalan sesuai kebutuhan masing-masing institusi. Butuh sinergi dan kelegowoan antara empunya NIK dan NPWP untuk melebur menjadi SIN.

Walaupun kebutuhan kolaborasi kembali diangkat dengan terminologi KARTIN1 pada tahun 2017, namun realisasinya masih terbatas, dan institusi terkait tidak seluruhnya mengetahui/menerima KARTIN1 menjadi kartu tunggal yang mewakili beberapa kepentingan seperti pengganti kartu NPWP, kartu BPJS, SIM, dan Paspor.

Asal empunya kepentingan tadi “ingin” memanfaatkan platform KARTIN1. Pada akhirnya inisiatif tersebut mendekati realisasi pada tahun ini walaupun masih terbatas integrasi NIK dan NPWP. Saya pribadi berharap monumen sinergi ini bukan proyek mercusuar pihak tertentu, tetapi murni kesadaran akan kebutuhan sinergi antar institusi.

Epilog

Peter Evans (1996) menyebutkan bahwa sinergi menumbuhkan efektivitas pengelolaan pemerintah. Sinergi tidak hanya antara institusi pemerintah dengan masyarakat, tapi juga entitas internal pemerintah juga.

Saya terkadang menjustifikasi diri saya sedang berdelusi bahwa bangsa ini dapat bersinergi walaupun rentan dan sangat sensi terhadap perbedaan pendapat atau hal lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, peluncuran portal Satu Data Indonesia di data.go.id atau rencana realisasi Single Identity Number yang sudah pernah digaungkan pada tahun 2007 silam memberikan saya optimisme.

Benar sinergi merupakan peluang laten modal sosial di negeri ini untuk kembali membawa bangsa ini mencapai kemenangan lainnya. Akan tetapi, apakah saya masih berdelusi? Atau saya perlu menjadi apatis dan realistis? Sepertinya saya memilih optimis.

Tidak mengapa kan jika kita berbeda pilihan?

0
0
Dhian Adhetiya Safitra ◆ Active Writer

Dhian Adhetiya Safitra ◆ Active Writer

Author

Penulis pemula yang berminat pada tema/isu ekonomi/valuasi lingkungan. Alumni Prodi D-III PBB/Penilai pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang sedang belajar meneliti di Prodi D-IV Manajemen Aset Publik Politeknik Keuangan Negara STAN. Pecinta kaos oblong, kopi robusta, dan downtube bike yang terkadang tersenyum saat pernyataan Weimer dan Vining terjadi di sekelilingnya.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post

error: