Berjuang di Benua Kanguru: Sebuah Pengalaman Manis Mendampingi Suami Kuliah di Luar Negeri

by | Oct 3, 2018 | Perjalanan/Pengalaman | 15 comments

Berangkat Ke Melbourne

Pada pertengahan tahun 2014, saya diizinkan Allah SWT untuk mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN). Cuti ini saya ambil karena keinginan pribadi untuk mendampingi suami yang mendapatkan kesempatan kuliah S-3 di Australia atas beasiswa dari Australian Award Scholarship (AAS).

Cuti jenis ini jarang diambil karena implikasinya berat. Seperti yang saya alami, seorang ASN yang mengambil CLTN tidak akan mendapatkan gaji, tunjangan, dan masa kerja selama CTLN tidak akan dihitung. Masa kerja saya yang seharusnya 21 tahun dan mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karya Satya 20 tahun, baru akan saya terima 3 tahun lagi. Yang paling berat, selama cuti, tidak ada SMS Cinta dari 3355 (bagi pengguna rekening Mandiri pasti tahu isinya).

Pada umumnya ASN mengambil CLTN karena mengikuti suami/istrinya yang kuliah di luar negeri. Namun, ada juga ASN yang mengambil cuti jenis ini karena ingin merawat orang tua atau  anak yang sedang sakit. Ada juga yang menjadikannya sebagai kesempatan untuk bekerja di lembaga lain (umumnya  lembaga multinasional), memulai berbisnis, atau alasan lainnya sepanjang disetujui oleh instansi tempatnya bernaung.

Bagi ASN yang sudah menduduki jabatan, maka konsekuensi dari pengambilan CLTN adalah kehilangan jabatan. Padahal, saat itu saya sudah menduduki jabatan kepala kantor. Ketika kembali aktif maka akan memulai lagi dengan posisi pelaksana. Akankah bisa kembali ke jabatan semula? Saya berserah diri pada Allah SWT.

Prosedur pengajuan CLTN yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Membuat surat permohonan cuti dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Alasan CLTN yang saya ajukan adalah mengikuti suami yang studi di Victoria University, Melbourne. Dokumen yang saya sampaikan adalah surat bahwa dia diterima kuliah (Letter of Acceptance).
  2. Surat permohonan cuti diajukan ke pejabat yang menangani kepegawaian. Di lingkungan kerja saya pejabatnya adalah Sekretaris Badan.
  3. Surat ini kemudian disampaikan ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) melalui Biro SDM kementerian.
  4. Surat CLTN diproses oleh BKN dan akhirnya nota persetujuan disampaikan kepada Kementerian Keuangan.
  5. Kementerian Keuangan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa saya sedang melaksanakan CLTN untuk periode tertentu (sesuai dengan masa studi suami).

Setelah izin cuti keluar, maka saya pun terbang ke Melbourne untuk menyusul suami yang sudah berangkat 4 bulan sebelumnya. Alhamdulillah, untuk keperluan pembuatan visa untuk masuk ke Australia ditangani langsung oleh perwakilan AAS di Jakarta.

Aktivitas Keseharian di Melbourne

Selama melaksanakan cuti, saya tinggal di Melbourne mengurus anak-anak dan suami selama 24 jam tanpa pembantu. Saya sangat menikmati cuti ini karena selama ini semua urusan anak-anak saya serahkan ke asisten rumah tangga. Jarang sekali saya ikut mempersiapkan sarapan dan bekal mereka ke sekolah.

Di Melbourne saya harus menyiapkan sarapan di pagi hari, bekal makan siang, dan juga makan malam untuk keluarga. Untunglah sekolah anak-anak dimulai jam 9 pagi sehingga saya masih bisa menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak di sekolah.

Sampai 6 bulan, saya benar-benar menikmati suasana cuti. Saya mengantar anak ke sekolah di pagi hari, lanjut berbelanja ke pasar, berbenah rumah dan memasak makan siang, lalu kembali menjemput anak. Kadang setelah mengantar anak, berdua dengan suami, saya berjalan-jalan ke pantai atau hanya berkeliling di taman-taman sekitar rumah atau sekolah anak. Kadang kala kami berdua pergi ke tempat teman di suburb lain.

Kursus Bahasa Inggris

Namun, karena terbiasa dengan aktivitas di kantor seharian penuh, saya mulai kangen dengan beragam aktivitas dari pagi hingga sore. Saya pun mulai mengikuti kursus bahasa Inggris di VU English. Suami saya adalah penerima (awardee) beasiswa AAS (Australian Award Scholarship) sehingga spouse (pasangan awardee) berhak mengikuti perkuliahan bahasa Inggris selama 5 minggu penuh. Setelah selesai dengan kegiatan kursus bahasa Inggris  maka saya memberanikan diri untuk mengambil Certificate III in early childhood education.

Sebagai seorang temporary resident, saya harus membayar penuh biaya kursus ini yang mencapai A$750, terdiri atas tuition fee A$700 dan registrasi sebesar A$50. Bagi permanent resident, mereka hanya diharuskan membayar biaya registrasi $50, tetapi biaya kursus gratis ini hanya berlaku bagi kursus yang pertama. Jika permanent resident itu mengambil kursus yang kedua dan seterusnya, mereka juga harus  membayar penuh.

Kursus diikuti bersama para permanent resident yang berasal dari berbagai bangsa. Ada Divya yang orang India, Bouakham dari Laos, Skye yang orang asli Australia, Sarita yang baru migrasi dari Pakistan, dan Grace perempuan Filipina yang baru saja menikah dengan bule Australia. Rupanya keberagaman budaya peserta menjadikan kami diminta untuk mempertunjukkan di depan kelas atau membawa makanan khas dari negara masing-masing. Pada saat diminta mempertunjukkan lagu anak-anak Indonesia, saya membawakan lagu Pelangi karya AT Mahmud.

Enam bulan berlalu dan saya pun akhirnya mendapatkan sertifikat. Sebenarnya dengan sertifikat itu, saya bisa bekerja membuka bisnis daycare di rumah dan mendapatkan penghasilan yang melebihi jumlah uang beasiswa yang diterima suami saya. Namun karena sifat  bisnis ini yang full-day dan saya dalam mode liburan, maka saya tidak menggunakan kesempatan itu.

Bekerja di Vicmart

Untuk mengisi waktu, saya mencoba bekerja di Queen Victoria Market (Vicmart) sebagai penjaga toko. Saya bekerja 3  hari dalam seminggu dari jam 08.30-14.00. Bos saya adalah seorang perempuan Vietnam yang baik hati bernama Lily. Bagaimana ceritanya saya bisa bekerja di Pasar Vicmart? Tetangga saya dimintai tolong oleh Lily untuk mencarikan teman (Indonesia) yang bisa menjaga tokonya. Kenapa mesti orang Indonesia? Rupanya para pedagang di Vicmart sangat senang karakter orang Indonesia yang mereka percayai untuk menjaga tokonya.

Orang Indonesia dinilai bekerja dengan hati, rendah hati, dan jujur. Mereka membutuhkan tiga karakter ini karena penjaga toko akan memegang uang minimal $1.000 per hari. Para pemilik toko tidak pernah menghitung jumlah barang yang terjual untuk satu hari karena mereka percaya para pegawainya yang orang Indonesia tidak akan mengambil sedolar pun uang yang dipegang dari hasil aktivitas jual-beli. Karakter inilah yang harus terus dipertahankan oleh orang Indonesia jika ingin orang Indonesia berikutnya mudah mendapatkan kerja di pasar Vicmart.

Bekerja di Vicmart menambah pergaulan saya dengan para pemilik toko di sana. Ada yang berasal dari Thailand, Skotlandia, Italia, juga China. Mereka semua sangat baik dan ramah. Jika saya tidak jaga toko satu hari saja, mereka akan menanyakan kenapa kemarin nggak masuk. Bahkan, terkadang mereka membagi makanan yang dibawa. Biasanya berupa kue-kue.

Bisnis Tempe Kecil-Kecilan

Selain bekerja di pasar, saya juga membuat dan menjual tempe segar. Ada cerita ketidakpuasan yang menjadi alasan saya mempelajari cara pembuatan tempe dan setelah berhasil saya menjual tempe segar.

Setelah beberapa minggu hidup di Melbourne, saya kangen makan tempe. Atas informasi dari teman,  saya menemukan tempe beku (frozen) di toko vegetarian. Saya baca labelnya, tempe beku itu buatan Malaysia. Lalu saya memperkirakan bahwa tempe tersebut dibuat berbulan-bulan sebelum saya beli. Juga rasanya terbilang aneh, tidak seperti rasa tempe yang biasa kita beli di Indonesia.

Mulailah saya dan suami googling tentang pembuatan tempe. Beberapa kali mencoba, akhirnya tempe pun  jadi. Ragi pun kami impor dari Surabaya, sementara kedelainya kami pakai kedelai lokal Australia. Tempe percobaan pun jadilah. Kami kemudian meng-upload-nya di WAG. Tak disangka langsung banyak pesanan dari tetangga sekitar rumah. Dari mulut ke mulut akhirnya kemampuan saya membuat tempe segar didengar orang dan banyak teman dititipi oleh teman-temannya yang di luar wilayah saya. Akhirnya tempe segar ini bisa dinikmati oleh warga Melbourne karena saya posting di media sosial.

Sambutan orang-orang Indonesia dengan adanya tempe segar ini bermacam-macam. Ada yang bilang senang banget sampai ada yang menciumi tempe tersebut, sampai saya juga akhirnya mbrebes mili (terharu). Bahkan ada orang-orang Indonesia yang tinggalnya di luar kota Melbourne sampai memesan seminggu sebelumnya, supaya ketika mereka ke Melbourne, tempenya sudah jadi.

Selain menjual tempe segar, saya juga membuat tempe mendoan, dan kering tempe. Artinya, saya memikirkan diversifikasi produk untuk menambah nilai jual. Di situlah saya memahami bahwa untuk menambah nilai jual sebuah produk ada upaya pengolahan dan bahan baku lain yang menyertai. Upaya inilah yang akhirnya menyebabkan harga jual lebih tinggi dibandingkan masih berbentuk tempe.

Dari berjualan tempe akhirnya saya banyak mengenal warga Indonesia lainnya yang tinggal di  Melbourne. Sampai sekarang pun kami  masih kontak baik melalui WA ataupun medsos. Biasanya saya dan pembeli janjian bertemu di Melbourne Central Station pada jam tertentu. Untuk pembayaran, pembeli mentransfer uangnya ke rekening suami karena saya tidak punya rekening Australia.

Begitulah hari-hari saya di Melbourne, hingga tak terasa waktu 3 tahun pun berlalu dengan cepat. Sebuah pengalaman manis yang tak akan saya lupakan. Pertengahan 2017 saya kembali ke Jakarta, berdua saja dengan si bungsu. Sementara si sulung masih tinggal di Melbourne untuk menyelesaikan kelas 7, menemani bapaknya yang studinya diperpanjang karena ketiadaan supervisor.***

 

 

4
0
Sri Rahayu Tresnawati ◆ Active Writer

Sri Rahayu Tresnawati ◆ Active Writer

Author

Seorang PNS yang menjalani pekerjaan di bidang diklat selama 21 tahun, pemegang Magister Ilmu Ekonomi dari FEUI dan sempat mencicipi dunia early childhood education ketika CTLN selama 3 tahun karena mengikuti suami di Melbourne. Lahir dan besar di Jakarta, tetapi sempat mencicipi penugasan di Palembang dan Cimahi.

15 Comments

  1. Avatar

    Assalamualaikum Ibu mohon izin bertanya kalau PNS guru apa mungkin mengajukan CLTN?

    Reply
    • Avatar

      Bismillah, saya sebagai seorang guru SD juga sedang mencari info CLTN. Alhamdulillah suami lolos lpdp S3 ke UK.

      Reply
    • Avatar

      Assalamualaikum ibu, tulisannya sangat menginspirasi untuk saya. Apakah ada batas masa kerja untuk mengajukan CTLN? Karena masa kerja saya 2 thn 7 bulan sedangkan suami saya tahu depan akan berangkat study di luar negeri. Apakah boleh sudah mengambil CTLN?

      Reply
  2. Avatar

    Apakah ibu hnya melampirkan LOA suami tanpa SK Tubel?

    Reply
  3. Avatar

    Bu, apakah ketika sedang cĺtn bisa kuliah juga?

    Reply
  4. Avatar

    Boleh

    Reply
    • Avatar

      Bu, kalo istri saya baru 1-2 tahun bekerja sebagai pns, apakah bisa disetuju cltn untuk menemani saya di S2 ke luar negeri?

      Reply
  5. Avatar

    Assalamualaikum…
    Salam kenal
    Saya marisa dari aceh,saya sedang dalam pengurusan CTLN karna mengikuti suami yg belajar di mekkah. Saya mengambil CTLN selama 3 th.
    Boleh kah saya minta nmr hp ibu utk berdiskusi ?

    Reply
    • Avatar

      Boleh

      Reply
    • Avatar

      Assalamu’alaikum.. mohon maaf mba, saya jg berencana menemani suami belajar di Saudi. Jika berkenan, boleh minta kontak mba nya gk ya? Mau tanya2 terkait kehidupan di Saudi. Terima kasih sebelumnya 🙂

      Reply
    • Avatar

      Aslkm mba mariska.. salam kenal. Saya maya dari aceh. Berencana ambil ctln juga. Boleh saya minta no wa mba?

      Reply
  6. Avatar

    Bu, mau tanya sy juga dlm proses ctln. Srt pengajuan cuti saya sdh sampai ke instansi induk.butuh waktu kira2 berapa lama ketika di BKN , Kementrian Keu, sampai keluar surat persetujuan?

    Reply
    • Avatar

      Wah, saya mohon maaf ternyata pertanyaannya sudah lama. Kalau pengalaman saya kemarin sekitar 2 bulan karena dekat waktu libur lebaran.

      Reply
  7. Avatar

    halo bu.. insyaallah saya akan menemani suami utk s3 di canberra. saya tertarik dengan pembuatan tempe krn kami jg suka makan tempe dan sepertinya akan sulit mendapatkan tempe di sana. kalo boleh tau, beli raginya gimana ya? bawa langsung (nitip teman dari indonesia) atau kirim via pos? tks sebelumnya.

    Reply
    • Avatar

      Beli raginya lewat online tapi bisa juga bawa dari Indonesia. Nanti kalau ditanya isinya apa, kemarin saya bilang soybean powder.

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post

error: