
Di saat senja menyapa, melihat keagungan Sang Kuasa melukis paparan jingga, menyajikan keindahan dari harmoni perpaduan warna.
Sangat indah!
Harmoni ini seketika mengingatkan adakah struktur yang dibangun manusia dengan memadukan banyak hal sehingga menjadi keindahan, dan Borobudur muncul dalam benak. Tak berapa lama, karena gelora keingintahuan yang tak terbendung, mulailah penulis mencari siapa arsitek Borobudur, bagaimana dibangunnya.
Tak hanya itu, apakah pembangunan Borobudur juga menggunakan pendekatan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern? Untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis mulai menggali informasi pembangunan Candi Borobudur lebih jauh.
Desain dan kolaborasi dalam Candi Borobudur
Baru-baru ini, ada hasil diskusi yang menarik dalam Wednesday Forum pada Borobudur Research Method, di mana muncul pedekatan baru yang disampaikan Hudaya Kandahjaya terkait skema pembangunan Borobudur.
Borobudur lebih menunjukkan representasi dari lokadathu yang juga disebut multisemesta dan tidak hanya merepresentasikan stupa maupun mandala saja. Pendekatan ini merujuk pada karya Mpu Sindok yang sezaman dengan pembangunan Borobudur yaitu kitab Sang Hyang Kamayahanikan (Mukhaer, A. A, 2026).
Pendekatan ini memberikan makna yang lebih kompleks terkait arsitektur Borobudur, yang diperkirakan dibangun menghabiskan waktu 75 – 100 tahun ini menjadi semakin menarik.
Bangunan megah yang menurut W.F. Sutterheim memiliki lebih dari 2.500 relief ini tentu saja membutuhkan kolaborasi dan harmoni yang luar biasa saat pembangunannya. Kolaborasi tersebut tidak akan mungkin terwujud jika tidak ada komunikasi dan kepemimpinan yang berkelanjutan.

Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/majalah-61701745
Menelisik bukti tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern pada pembangunan Candi Borobudur
Penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern pun tidak hanya saat pembangunan, tetapi juga pemugaran Candi Borobudur.
Lebih jauh lagi, perlu dipahami bahwa bentuk tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern tentu saja tidak sama dengan implementasi pada masa sekarang dengan peraturan, profil risiko, maupun perlakuan-perlakuan yang ditetapkan yang terdokumentasi secara khusus.
Sekalipun, analisis yang masih pro kontra atas hasil pemugaran, kita anggap bahwa Candi Borobudur yang sekarang adalah gambaran yang sama dengan saat pembangunan awal, maka fokus kita menjadi penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern pada saat pembangunan.
Bukti penerapan tata kelola dan pengendalian intern yang baik jelas terwujud dalam pengorganisasian pembangunan Candi Borobudur.
Dengan teknologi yang ada pada abad ke-8, pembangunan Candi Borobudur merupakan sebuah capaian yang fantastis, yang bahkan masih berdiri megah hingga saat ini. Kesamaan visi, pembagian tugas yang jelas, dan keberlanjutan menjadi penting untuk terus dijaga dari periode ke periode.
Untuk membangun karya agung selama berpuluh tahun, arsitektur Borobudur memerlukan blueprint sebagai visi pembangunan. Blueprint ini merupakan tujuan akhir dari seluruh aktivitas pembangunan. Tanpa pembuatan blueprint yang detail dan dipahami dengan baik dari generasi ke generasi, pembangunan Candi Borobudur akan menjadi berantakan.
Setiap orang memiliki tugasnya masing-masing untuk dapat mendukung pembangunan. Ada bagian pengangkut batu, pembuat alat angkut, penata susunan batu, pemahat, pencerita, pengecek hasil pahatan, penghitung berapa banyak cerita yang ditampilkan dalam pahatan, penyedia makanan, pemantau pekerjaan setiap sektor, pengendali kesesuaian dengan blueprint, dan masih banyak lagi.
Pembagian peran ini merupakan bentuk dari segregation of duty sebagai bentuk pengendalian intern dan penerapan tata kelola pembangunan.
Tak hanya tata kelola dan pengendalian yang baik, penerapan manajemen risiko pada pembangunan Candi Borobudur juga dilaksanakan dengan baik. Dari penelitian terdahulu, masih terdapat 160 panel relief Karmawibhangga yang terkubur, relief yang menggambarkan realita dunia yang sangat jujur.
Terdapat dua teori terkait terkuburnya relief tersebut.
- Pertama, ada pilihan arsitektur di masa itu karena amblasnya struktur. Pada abad ke-8, para arsitek mendatangkan sekitar 12.000 meter kubik batu andesit untuk membangun sabuk pelindung di sekitar fondasi sebagai penahan darurat. Dengan jutaan ton batu yang ada di atas bukit dan tersusun dalam waktu yang lama membuat fondasi awal candi menjadi amblas. Pilihan pahit merelakan relief awal tersebut harus diambil dibandingkan harus kehilangan seluruh candi.
- Kedua, pilihan pemuka agama untuk mengajak umat fokus pada pencerahan spiritual. Visualisasi realita yang tergambar dalam 160 panel relief akan kehidupan duniawi yang penuh dosa, nafsu, dan kekejaman tersebut sengaja dihilangkan karena dianggap terlalu vulgar dan membuat umat yang datang menjadi tidak fokus pada pencerahan spiritual (Soekmono, 1976).
Dari kedua pandangan tersebut, terbukti jelas bahwa pilihan mengubur 160 panel relief tersebut merupakan pilihan mitigasi risiko.
Hasil penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern tersebut tidak main-main, Candi Borobudur masih dapat berdiri sekalipun terkubur di dalam tanah selama berabad-abad dan tetap dapat dinikmati siapapun hingga sekarang.
Ada landasan utama yang dapat dipelajari dari pembangunan Candi Borbudur. Sekalipun, dari sisi sosio-antrpologi, masyarakat komunal di masa lalu memiliki kompleksitas kehidupan yang berbeda dengan masa sekarang, namun hal itu bukan menjadi penghalang.
Terdapat modal kuat yang perlu dibangun saat mencanangkan program mahakarya yang berdampak luas. Kesamaan visi, pembagian tugas yang jelas, perhatian akan risiko-risiko yang timbul, serta pengorganisasian menjadi landasan penting yang harus selalu dijaga dalam pembangunannya.
Itu semua saat ini dirangkum dalam bentuk pendekatan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern.
Sintesa dari Pembangunan Candi Borobudur untuk Program Strategis Nasional
Apakah tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern perlu untuk program-program strategis di Indonesia pada masa kini?
Tentu saja!
Program-program seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Koperasi Desa Merah Putih, Koperasi Nelayan, dan Pupuk Subsidi harus didesain dengan menekankan penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern yang baik dan berkelanjutan. Kecuali ada harapan program tersebut hanya diciptakan untuk gagal!
Secara global, terdapat bukti nyata pentingnya tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern. Krisis Enron membuktikan pentingnya tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern penting untuk menjaga keberlangsungan organsisasi, yang kemudian terulang, diingkari oleh Lehman Brothers belasan tahun berikutnya.
Indonesia pun harus belajar dari dua kejadian penting tersebut!
Pembelajaran penting yang dapat dilakukan Indonesia adalah pada setiap program strategis nasional tidak boleh mengabaikan penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengenalian intern.
Bentuk penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern di Indonesia biasanya diawali dengan penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) yang kini berkembang menjadi SPIP – terintegrasi, mengintegrasikan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern.
Terkesan formalitas? Bisa jadi.
Kesan tersebut menjadi tantangan pembinaan penerapan SPIP – terintegrasi untuk dapat lebih membumi dan tidak sekedar pemenuhan dokumen, tapi menekankan implementasi yang berkelanjutan.
Di sisi lain, setiap program yang diharapkan dapat bertahan dan berdampak dalam waktu yang lama tidak boleh meremehkan dan menganggap penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern sebagai pola pendekatan lama.
Pengingkaran akan penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern dalam bentuk apapun, merupakan bukti upaya ”mengangkangi” dan sedang menyatakan diri memiliki niat kecurangan (fraud) yang sedang didesain.
Perlu diingat, fraud dapat terjadi dengan penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern yang baik. Karena fraud didesain oleh top manajemen atau siapapun dan ”mengangkangi” penerapan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern.
Terdapat beragam bentuk pengingkaran yang dimunculkan dan diamati oleh manajemen program strategis nasional. Alasan pendekatan lama, terlalu bertele-tele, terlalu lama, bisa menjadi bentuk pengingkaran tersebut.
Salah satu bentuk pengingkaran lainnya adalah absennya peraturan perundang-undangan, pedoman petunjuk teknis, maupun desain evaluasi dan monitoring program yang dilaksanakan. Semua diharapkan segera dilaksanakan tanpa panduan yang memadai.
Kekokohan Borobudur dibangun tanpa pengingkaran akan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern. Borobudur tidak dibangun dengan tergesa-gesa tanpa panduan. Semua memiliki blueprint desain yang telah disepakati.
Jika ada program yang tidak selaras dengan prinsip tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern pada pembangunan Candi Borobudur, bahkan tergesa-gesa, maka bisa jadi bukan keberlangsungan program yang berkelanjutan dalam waktu yang lama yang sedang dibangun.
Bisa jadi memang program tersebut lagi-lagi, didesain untuk gagal atau untuk maksud dan tujuan lainnya!
Harapan dari makna pembangunan candi megah
Masyarakat, sebagai penerima manfaat maupun pengawas langsung program, dapat mulai mengidentifikasi seberapa serius program-program pemerintah ini dibangun untuk jangka panjang atau tidak.
Jika masyarakat mendapati bentuk-bentuk pengingkaran tersebut, itu dapat menjadi indikasi awal, memang bukan program jangka panjang yang dibangun dan sangat bisa jadi ada upaya fraud yang didesain.
Laporkan setiap bentuk pengingkaran tersebut ke saluran whistleblower system pada lembaga yang masih dapat dipercaya. Acuan masyarakat pada program jangka panjang yang kokoh berdiri adalah Candi Borobudur.
Borobudur yang tidak sembarangan dibangun, yang secara analisis sederhana, menerapkan tata kelola, manajemen risiko, dan pengendalian intern yang baik, bahkan berkelanjutan selama 75 – 100 tahun pembangunannya. Dan memberikan pembelajaran bermakna untuk kita, anak cucunya di masa kini.
Kala senja menjadi malam, penulis menikmati pemandangan indah yang berlalu, sambil berharap, masih banyak orang-orang yang benar-benar membangun program-program strategis nasional itu sekokoh Borobudur. Sembari menunggu kisah selanjutnya dari kasus MBG yang, akhirnya, memulai babak baru.
Daftar Pustaka:
- Mukhaer, A.A. 2026. Biarkan Borobudur Bicara tentang Dirinya. CRCS UGM. https://crcs.ugm.ac.id/biarkan-borobudur-bicara-sendiri-tentang-dirinya/
- Soekmono, R. 1976. ”Chandi Borobudur: A Monument of Mankind”. UNESCO
- Opiniid – Sisi Terlarang Borobudur.
- https://www.bbc.com/indonesia/majalah-61701745














0 Comments