AI Tidak Sepintar yang Kita Bayangkan: Mengatasi AI Expectation Gap

by | Sep 3, 2026 | Birokrasi Efektif-Efisien | 0 comments

Artificial Intelligence (AI) itu tidak pintar. Saya ingat pertama kali bertemu Gemini, saya menyapanya, “Hi Gemini”. Dia menjawab, “Gemini adalah aplikasi AI yang dibuat oleh Google.”

Padahal, saya hanya menyapa.

Saya tidak bertanya Gemini itu apa. 

Pernah juga saya bertanya kepada Meta, “Bagaimana bentuk asli dari keripik terung?”. Dia menjawab, “Saya tidak dapat menemukan yang anda maksud”. Padahal, saya ingin memamerkan makanan khas dari Surabaya atau Madura kepada teman-teman saya dan kami penasaran hewan laut yang bernama terung itu.

Belum lama ini saya juga menggunakan ChatGPT untuk mendesain baju. Saya mengambil model baju melalui Pinterest dan mengistruksikan AI untuk mengaplikasikan motif kain yang sudah saya foto ke gambar baju yang telah saya masukkan pada ChatGPT.

Hasilnya tentu saja salah.

Padahal, menurut saya instruksi yang saya tulis sudah sangat jelas. Saya ubah instruksinya berkali-kali sehingga hasilnya mendekati benar. Usaha saya untuk mengulang-ulang dan mengajari ChatGPT menguras waktu yang cukup lama. Lagi-lagi saya menemukan bukti bahwa AI tidak sepintar itu.

Apakah anda pernah merasa, menggunakan AI lebih lama dibanding anda berpikir menggunakan otak anda sendiri? Saya pernah mengalaminya.

Bekerja dengan AI memerlukan beberapa tahapan, mengetik instruksinya, memastikan instruksi yang kita masukkan sudah jelas dan mudah dimengerti oleh AI, menunggu hasil, membaca hasil dari mereka, mengolah hasil dari mereka.

Belum lagi jika hasil tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan maka kita memperbaiki instruksi kita. Apabila kita langsung mengetik apa yang ada di pikiran kita dalam tulisan, itu jauh lebih cepat. Kita tinggal memperbaiki apa yang kita tulis. Meskipun bekerja dengan AI, kita tetap melakukan tahapan ini. 

AI tidak se-super power itu, tetapi pemberitaan tentang hebatnya AI sangat massif di dunia ini. AI dianggap menjadi dewa baru di era generasi alfa. AI dianggap akan mengancam keberlangsungan pekerjaan di masa depan. AI dapat menyalin atau memalsukan banyak hal.

AI dapat menipu banyak orang. AI dinilai lebih pintar karena menguasai semua informasi yang tidak dimiliki manusia.

Bagaimana citra ini dapat terbentuk sehingga kita juga tidak dapat terlepas dari AI? Bahkan muncul fenomena cognitive offloading yang berarti penurunan kemampuan berpikir akibat terlalu banyak menggunakan AI atau bergantung pada AI.

Mengapa Semua Orang Membahas AI

Sama halnya dengan pencariaan Google pada masanya, Google memberikan terobosan baru yang membuat setiap orang menggunakannya untuk mencari berbagai referensi. Hingga beberapa tahun lalu, istilah mbah Google masih digunakan.

Saat pertama kali smartphone muncul dengan Android, masyarakat menganggap ponsel menjadi komputer mini karena dapat memasang dan menghapus berbagai aplikasi seperti yang dapat komputer lakukan.

Semua orang FOMO (fear of missing out) membeli Samsung Android dan meninggalkan Nokia ataupun BlackBerry. Begitu juga dengan AI sekarang, kita masih menilai ini barang baru sehingga masih FOMO. Jika kita tidak menggunakan barang baru ini kita akan terlihat ketinggalan zaman.

AI adalah bentuk inovasi yang diciptakan oleh perusahaan teknologi terbesar di dunia. Microsoft memiliki Copilot, Google memiliki Gemini, Meta memiliki Meta AI, openAI memiliki ChatGPT, Amazon memiliki Amazon Q, Anthropic memiliki Claude dan xAI memiliki Grok.

Mereka menginvestasikan puluhan hingga ratusan miliar dolar pada AI. Stanford AI Index menunjukkan investasi AI global terus meningkat secara sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Mereka tidak hanya menguasai sektor teknologi, mereka juga menguasai sektor media dan periklanan. Mereka akan mempromosikan program ini secara besar-besaran agar dana raksasa yang mereka investasikan tidak sia-sia.

Promosi yang dilakukan di era sekarang adalah bagaimana produk menciptakan persepsi. AI sebagai produk teknologi memberikan persepsi bahwa mereka adalah solusi dari setiap pekerjaan.

Berawal dari pengguna media sosial dan content creator yang menggunakan AI secara aktif untuk pekerjaan atau media sosial mereka, penggunaan AI semakin meluas melalui berbagai konten yang menampilkan kemudahan, kecepatan, dan efisiensi teknologi melalui AI.

Video tutorial, unggahan pengalaman penggunaan AI, hingga promosi berbagai aplikasi membentuk persepsi publik bahwa AI merupakan alat yang penting dan hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

AI digunakan di berbagai aplikasi. Mulai dari aplikasi editing foto dan video, aplikasi template desain grafis, aplikasi pembuat flowchart, mind map, struktur organisasi, aplikasi penerjemah, aplikasi transkrip suara menjadi teks atau sebaliknya dan masih banyak aplikasi lain yang menggunakan AI. Fitur AI pada aplikasi-aplikasi tersebut turut memeriahkan citra AI sebagai produk yang serba bisa.

Media turut melebih-lebihkan pemberitaan tentang AI. Mereka mengambil diksi yang ekstrem, seperti “AI akan menggantikan manusia” atau “PHK massal karena AI”. Headline-headline seperti ini secara tidak langsung ikut mempromosikan AI dan secara perlahan mengubah mindset masyarakat bahwa AI memiliki kemampuan luar biasa mengalahkan manusia.

Tidak Semua Orang Menggunakan AI

Di sisi lain, survei yang dilakukan Universitas Melbourne dan KPMG International tahun 2025 menemukan bahwa 66% orang menggunakan AI secara rutin. Artinya sekitar 34% tidak menggunakan AI secara rutin.

Microsoft mengeluarkan Laporan Penyebaran AI 2025 yang menunjukkan 16–17% populasi usia kerja dunia menggunakan AI generatif. Sehingga lebih dari 80% orang belum menggunakan AI generatif secara aktif. Data tersebut mendukung pernyataan bahwa AI menang dalam branding.

AI Expectation Gap

Branding atau citra yang dihasilkan AI membuat ekspektasi pengguna menjadi tinggi. Padahal AI memiliki banyak celah. AI tidak selalu dapat menghasilkan output yang kita inginkan. AI tidak dapat membaca pikiran kita. AI tidak memiliki perasaan.

Hasil AI bergantung pada prompt atau perintah yang kita masukkan. Kesenjangan antara ekspektasi pengguna dengan kemampuan AI disebut kesenjangan AI (AI Expectation Gap).

Untuk menuntaskan AI expectation gap, kita sebaiknya memiliki kompetensi untuk menggunakan AI. Kita harus memahami apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan AI. AI bekerja berdasarkan data, algoritma, dan model statistik. Dengan demikian AI memiliki keterbatasan sebagai berikut:

  1. AI bergantung pada kualitas data. Jika data yang digunakan untuk melatih atau menjalankan AI salah, tidak lengkap, atau bias, maka hasil yang diberikan AI juga berpotensi salah atau bias.
  2. AI tidak memahami makna seperti Manusia. AI mengidentifikasi pola statistik dalam data, bukan memahami konteks secara mendalam. AI bekerja dalam algoritma atau pola yang telah dipelajari sehingga menghasilkan respons yang tampak masuk akal tanpa benar-benar memahami makna, konteks, ataupun tujuan di balik informasi tersebut (Bander et al, 2021).
  3. AI menghasilkan probabilitas, bukan kepastian. AI menjawab pertanyaan berdasarkan data dan materi yang dia kumpulkan dari internet dengan pola mayoritas sehingga dianggap benar. AI juga tidak dapat memastikan bahwa materi dalam internet ini benar (Bander et al, 2021).
  4. AI dapat mengalami bias. AI didesain untuk memuaskan pengguna. AI terkadang tidak obyektif karena mengikuti kecenderungan dan algoritma pengguna.
  5. AI terkadang berhalusinasi dengan menyajikan informasi yang tidak ada. AI menghubungkan data satu dengan data yang lain, menggabungkan artikel yang berbeda, mencocokkan berita satu dengan berita yang lain yang mungkin substansinya tidak sama sehingga menghasilkan jawaban tidak benar.

Keterbatasan AI dapat ditanggulangi dengan:

  • Meningkatkan literasi AI dan kompetensi menggunakan AI. Literasi AI adalah kemampuan memahami cara kerja, manfaat, risiko, dan keterbatasan AI. Kita tidak harus menjadi programmer, tetapi perlu mengetahui bagaimana AI menghasilkan jawaban, jenis tugas yang cocok dikerjakan AI, serta cara memberikan instruksi (prompt) yang efektif. Kompetensi menggunakan AI akan membantu pemanfaatkan AI secara optimal sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat dan sesuai kebutuhan pekerjaan;
  • Meningkatkan berpikir kritis. Berpikir kritis adalah kemampuan menganalisis informasi secara logis dan objektif sebelum menerimanya sebagai kebenaran. AI sering menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu benar. Kita perlu menilai apakah informasi yang diberikan masuk akal, relevan, memiliki dasar yang kuat, serta sesuai dengan fakta dan peraturan yang berlaku. Dengan berpikir kritis, kita tidak akan menerima begitu saja setiap rekomendasi yang diberikan AI.;
  • Mempertahankan professional skepticism. Setiap manusia memiliki kompetensi teknis, mereka tetap harus menggunakan kompetensi yang mereka ketahui dari pengalaman dan Pendidikan lalu mencocokan dengan hasil AI;
  • Kemampuan memverifikasi output AI. Verifikasi dapat dilakukan dengan membandingkan hasil AI dengan sumber resmi, peraturan, data organisasi, atau referensi lain yang terpercaya. Kita dapat membaca dari sumber yang direkomendasikan AI untuk memastikan hasil dari AI;
  • Pemahaman bias dan hallucination AI. AI dapat bias atau tidak benar maka sebaiknya senantiasa dilakukan verifikasi hasil;
  • Menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab. Kita tidak boleh menggunakan AI untuk memanipulasi informasi, atau menyerahkan seluruh proses pengambilan keputusan kepada AI. Tanggung jawab atas hasil pekerjaan tetap berada pada manusia, bukan pada sistem AI. AI sebagai alat bantu yang mendukung pekerjaan, bukan sebagai pengganti tanggung jawab profesional.

AI Adalah Mesin, Manusia yang Mengendalikannya

Setiap manusia sebaiknya memiliki mindset berikut:

  1. AI hanyalah mesin yang dapat melakukan kesalahan;
  2. AI hanya pembantu bukan pengendali; dan
  3. AI sebagai media meningkatkan kompetensi bukan tempat bergantung.

AI adalah alat, mesin, produk atau media untuk menunjang keberlangsungan manusia. Manusia yang menciptakan, mengelola dan menggunakan AI.

0
0
Merga Ayuningtyas Betary ♥ Active Writer

Merga Ayuningtyas Betary ♥ Active Writer

Author

Seorang ASN pada Badan Pemeriksa Keuangan yang baru belajar menulis artikel agar tetap awet muda. Berlatar belakang pendidikan Akuntansi Universitas Airlangga tapi sekarang menggeluti bidang Human Capital Management. Tertarik menulis dalam tema sosial agar sedikit memberi manfaat untuk negeri.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post