Dari Tashkent hingga Samarkand: Perjalanan Ziarah dan Paradoks Sejarah di Uzbekistan

by | Oct 10, 2026 | Literasi, Perjalanan/Pengalaman | 0 comments

Sebelum berangkat ke Uzbekistan pada akhir Oktober 2024, pengetahuan saya tentang negara itu sangat terbatas. Saya tahu Samarkand, pernah mendengar Bukhara, tahu bahwa Uzbekistan berada di Asia Tengah dan pernah menjadi bagian dari Uni Soviet. Selebihnya samar.

Karena itu, ketika kami sekeluarga—saya, suami, dan tiga anak berusia sebelas, sepuluh, dan sembilan tahun—mendaftar perjalanan ziarah selama sembilan hari, saya tidak membawa ekspektasi terlalu banyak. Kami memang suka bepergian dan melihat bagaimana orang hidup di tempat yang berbeda.

Kejutan pertama malah datang dari pesawat.

Uzbekistan Airways ternyata bersih, nyaman, dan makanannya enak. Waktu itu kami bahkan terbang langsung dari Jakarta ke Tashkent. Saya sampai bertanya-tanya, “Mengapa maskapai sebagus ini tidak terlalu dikenal di Indonesia?”

Belakangan saya merasa pertanyaan yang sama berlaku untuk negaranya: Bagus, tetapi tidak terlalu kita kenal.

Eitzenberger dan Thimm (2024) menemukan persoalan serupa. Orang yang belum pernah datang ke Uzbekistan cenderung memiliki gambaran yang tipis, bahkan kadang negatif. Uzbekistan sering hanya diasosiasikan dengan Jalur Sutra, Islam, Asia Tengah, Uni Soviet, atau sekadar negara berakhiran -stan.

Sebaliknya, penduduk setempat lebih banyak mengaitkannya dengan rumah, kedamaian, keramahan, sejarah, dan tradisi.

Saya agaknya termasuk kelompok pertama.

Dari Tashkent ke Termez

Kami tiba di Tashkent malam hari. Setelah tidur beberapa jam, pagi-pagi kami kembali ke bandara menuju Termez, kota di bagian selatan Uzbekistan yang lebih dekat ke Afghanistan daripada ibu kota negaranya. Bandaranya kecil. Ada tentara berjaga. Pintu dan gerbang bahkan sempat digembok.

Wah, benar-benar bekas Soviet ini.

Nama pemandu kami ikut menambah suasana asing itu, Ravshan Khabiyev. Akhiran -ev terdengar sangat Rusia. Untungnya Ravshan lalu berbicara dalam bahasa Indonesia, dan meminta kami memanggilnya Rafi. Ia pernah kuliah di Malang. Rasa asing tadi mendadak berkurang.

Di Termez kami mengunjungi makam Abu Isa al-Tirmidzi, ulama hadis besar penyusun Sunan al-Tirmidzi, serta al-Hakim al-Tirmidzi, ulama hadits dan tokoh tasawuf. Kompleks makam Imam Tirmidzi ini masih menjadi salah satu ingatan paling kuat bagi kami.

Bangunannya megah, hampir seperti istana. Marmer, taman, dan bunga tertata rapi. Bersih dan tenang, tetapi sepi, sangat sepi.

Saya sudah cukup sering berziarah ke makam wali di Indonesia. Biasanya yang terbayang justru keramaian: rombongan peziarah, orang mengaji, orang berdoa, pedagang yang tumpah ruwah dan suaranya beradu dengan lantunan zikir para pendoa, serta kendaraan yang datang bergantian.

Di Termez tidak demikian. Saat itu rasanya justru suara bahasa Indonesia lebih banyak terdengar. Maka, ada keganjilan kecil di situ. Kami datang ribuan kilometer untuk mencari jejak ulama yang lahir dari tanah tersebut, sementara masyarakat lokal yang tampak berziarah tidak banyak. Keganjilan itu ternyata bukan berhenti di Termez.

Negeri dengan Puluhan Juta Muslim

Uzbekistan bukan negeri minoritas Muslim. Ketika kami datang pada 2024, jumlah penduduknya sekitar 37,1 juta jiwa. Berbagai sumber memperkirakan sekitar 88 hingga 96 persen penduduknya Muslim (Sumber: Statistikalar). Artinya, terdapat kira-kira 33–36 juta Muslim di sana, mayoritas Sunni bermazhab Hanafi. Angka itu membuat pengalaman kami semakin menarik.

Uzbekistan juga merupakan tanah kelahiran salah satu jaringan spiritual Islam yang menyebar sangat jauh, yaitu tarekat Naqsyabandiyah.

Kami datang antara lain untuk menelusuri makam para Khwajagan, guru-guru yang menjadi mata rantai penting dalam sanad Naqsyabandiyah, termasuk Abdul Khaliq al-Ghujdawani dan Syaikh Bahauddin Naqsyband.

Mereka bukan hanya tokoh sejarah bagi kami. Mereka menjadi penyambung sebuah metode zikir yang masih diamalkan hingga sekarang.

Salah satu ciri Naqsyabandiyah adalah dzikir khafi, zikir dalam hati atau dengan suara sangat lirih. Kalimat laā ilāha illā Allāh menjadi bagian penting dari latihan spiritual tersebut. Yang membuat saya takjub, metode zikir yang sanadnya melewati tanah Uzbekistan kini diamalkan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. (Ref: JSTOR)

Naqsyabandiyah pun bukan tarekat kecil. Cabangnya telah lama tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, dari Jawa Barat hingga Lombok, Sulawesi, dan Sumbawa. Di Cianjur, misalnya, Naqsyabandiyah Khalidiyah telah bertahan sejak abad ke-19 dan pengikutnya datang dari berbagai lapisan masyarakat (Baca: Studia Islamika).

Jaringannya jauh lebih tua dan luas daripada batas negara modern. Pada akhir abad ke-19, Naqsyabandiyah-Mujaddidiyah telah tersebar dari Afrika Timur hingga Indonesia melalui Asia Selatan, Asia Tengah, dan wilayah Kekaisaran Rusia. Sebuah kajian bahkan menyebutnya salah satu jaringan kebangkitan Islam terluas di Asia sebelum abad ke-20. (Baca: Cambridge University Press)

Di sinilah paradoks itu terasa. Kami datang dari Indonesia untuk mengamalkan zikir yang sanadnya membawa kami kembali ke tokoh-tokoh Uzbekistan. Namun selama perjalanan, praktik seperti yang kami kenal di Indonesia justru hampir tidak kami jumpai di sekitar makam-makam tersebut.

Jejaknya besar, pengaruhnya mendunia, tetapi sejarah di tanah kelahirannya telah mengambil jalan lain.

Sejarah yang Tidak Selalu Bersambung

Penjelasannya tentu tidak sesederhana mengatakan orang Uzbek “kurang religius”. Uzbekistan memiliki sejarah yang berbeda.

Selama puluhan tahun pemerintahan Soviet, kehidupan agama berada dalam kontrol negara yang ketat. Institusi dan pendidikan agama dibatasi, sementara ekspresi kesalehan di ruang publik mengalami tekanan.

Bersama Fatima (berbaju merah), berfoto setelah membeli pernak-pernik khas Bukhara

Setelah Uni Soviet runtuh, praktik Islam kembali berkembang, termasuk ziarah ke makam-makam sufi, tetapi proses pemulihan tersebut berlangsung dalam hubungan yang kompleks dengan negara dan warisan Soviet (Baca: UChicago Divinity School). Karena itu, saya lebih berhati-hati menilai apa yang kami lihat.

  • Cara perempuan Uzbek mengenakan kerudung berbeda dengan kebiasaan Indonesia. Banyak yang memakai penutup kepala sebagai bagian dari busana lokal, diikat ke belakang dan tidak selalu menutup leher.
  • Di sebuah masjid dekat hotel, teman-teman laki-laki kami bisa mengikuti jamaah Subuh, sementara rombongan perempuan tidak mendapat ruang seperti yang biasa kami jumpai di banyak masjid Indonesia.
  • Cara beribadah pun tidak selalu sama. Mayoritas Muslim Uzbekistan bermazhab Hanafi, sedangkan Muslim Indonesia lebih banyak bermazhab Syafi’i. Satu hal sederhana yang menjadi pembeda: tidak ada jamaah yang mengeraskan bacaan “Aamiin” setelah Imam selesai membaca surat Al Fatihah.
  • Ada pula cerita dari orang lokal mengenai kebiasaan minum alkohol pada musim dingin sambil tetap mengucapkan bismillah. Kontras.

Kami tertawa mendengarnya. Tetapi setelah memahami sejarah Soviet, cerita itu menjadi sedikit kurang lucu. Agama bisa tetap menjadi identitas ketika mata rantai pembelajarannya pernah diputus selama beberapa generasi.

Dalam hal itu saya justru pulang dengan perasaan bahwa Indonesia cukup beruntung. Kita sering menganggap masjid, pesantren, pengajian, ziarah, majelis zikir, dan pendidikan agama sebagai sesuatu yang biasa. Barangkali, karena kita tidak pernah benar-benar kehilangan semuanya sekaligus.

Samarkand Ternyata Tidak Jauh dari Jawa

Ada alasan lain mengapa Uzbekistan seharusnya tidak terlalu asing bagi orang Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Ibrahim Asmorokondi, sebuah nama yang terdengar Jawa. Padahal, sejumlah historiografi dan kajian akademis menghubungkannya dengan Ibrahim al-Samarqandi—orang dari Samarkand, sebuah kota penting di Jalur Sutera, di Uzbekistan.

Kajian Zumrotul Mukaffa (2017) menempatkan Ibrahim Asmarakandi sebagai tokoh penting dalam proses awal Islamisasi Jawa dan mengaitkannya dengan Samarkand. Ia juga disebut sebagai ayah Raden Rahmat, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel.

Jika jalur historiografi ini digunakan, hubungannya menjadi menarik. Sunan Ampel adalah salah satu figur sentral Walisongo. Dari keluarganya kemudian lahir Sunan Bonang dan Sunan Drajat. (Baca: Repository UIN Sunan Ampel Surabaya)

Jadi hubungan Samarkand dengan Jawa tidak berhenti pada Jalur Sutra. Ada perpindahan manusia, ulama, ilmu, dan tasawuf. Berabad-abad kemudian, muslim Indonesia kembali datang ke Samarkand sebagai peziarah.

Kami merasa datang ke negeri asing. Padahal, sebagian jejak negeri itu mungkin sudah lama hadir dalam sejarah Islam di Jawa.

Imam Bukhari dan Sebuah Nama Indonesia

Perasaan itu semakin kuat ketika sampai di kompleks Imam Bukhari dekat Samarkand. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari menghabiskan hidup mempelajari dan menyeleksi hadis. Karyanya, al-Jami’ al-Sahih atau Sahih al-Bukhari, selama berabad-abad menjadi salah satu koleksi hadis terpenting dalam tradisi Sunni.

Artinya, banyak praktik Islam yang dijalankan jauh dari Uzbekistan—termasuk di Indonesia—bersandar pada hadis yang transmisinya dijaga oleh seorang ulama yang makamnya kini berada di dekat Samarkand.

Di sana kami juga mendengar satu nama yang tidak disangka-sangka.

Soekarno.

Cerita yang populer di Uzbekistan menyebut Presiden Soekarno pernah meminta pemerintah Uni Soviet menunjukkan makam Imam Bukhari pada era Nikita Khrushchev. Makam tersebut ketika itu diceritakan dalam kondisi terlantar. Permintaan Soekarno kemudian dikaitkan dengan mulai diperhatikannya kembali makam tersebut.

Benar atau tidak seluruh detail sejarahnya, cerita itu hidup kuat dalam ingatan masyarakat. Penjaga kompleks Imam Bukhari pun pernah menyampaikan kepada delegasi Indonesia bahwa masyarakat Uzbekistan mengingat jasa Soekarno (Baca: detiknews). Pemandu kami juga menceritakan hal yang sama.

Bagi wisatawan Indonesia, tentu menyenangkan mendengar nama presiden pertama kita disebut dengan hangat, ribuan kilometer dari rumah.

Mushaf Al-Qur’an yang Sulit Kami Baca

Di Tashkent kami melihat peninggalan lain yang mengingatkan betapa panjangnya sejarah Islam di kawasan ini, mushaf kuno yang dikenal sebagai Mushaf Utsmani.

Tulisan Arabnya berbeda dari mushaf yang kami gunakan sekarang. Tidak ada titik dan harakat sebagaimana yang biasa membantu kita membaca Al-Qur’an modern. Sebagian dari kami yang sejak kecil membaca Al-Qur’an justru harus memperhatikan lama. Tapi tetap tidak bisa juga membacanya.

Kitab yang begitu akrab tiba-tiba terlihat asing. Saya suka pengalaman semacam itu. Ia mengingatkan bahwa sesuatu yang sekarang kita anggap “selalu seperti ini” sebenarnya merupakan hasil perjalanan panjang sejarah.

Samarkand memberi perasaan serupa. Kubah biru, madrasah, kompleks makam, dan bangunan Jalur Sutra membuat masa lalu terasa dekat.

Tak heran Eitzenberger dan Thimm (2024) menemukan bahwa warisan budaya dan Jalur Sutra menjadi komponen sangat kuat dalam citra wisata Uzbekistan. Namun Uzbekistan mudah dipersepsikan hanya sebagai “negeri sejarah”, sementara masyarakat modernnya jauh lebih beragam (Baca: ScienceDirect).

Uzbekistan di Luar Buku Sejarah

Untungnya perjalanan sembilan hari tidak hanya berisi makam dan sejarah. Ada urusan yang lebih sederhana. Suatu kali di hotel Tashkent saya membutuhkan bantuan seorang staf. Saya berbicara bahasa Inggris, lalu ia menjawab dalam bahasa Rusia.

Tidak ketemu.

Akhirnya tangan mengambil alih tugas lidah. Ternyata untuk beberapa persoalan, bahasa tubuh masih cukup internasional.

Ada pula roti Uzbek yang besar dan alot tapi wajib ada di meja, buah segar hasil kebun yang dijual di pinggir jalan, daging yang berlimpah, perjalanan berjam-jam dengan bus, juga ketiga anak yang mungkin tidak selalu memahami mengapa orang tuanya begitu tertarik pada makam berusia ratusan tahun.

Pada hari terakhir kami pergi ke kawasan pegunungan Chimgan dengan gondola. Udara dingin meski belum masuk puncak musim dingin. Di kejauhan tampak salju di puncak gunung.

Sembilan hari sebelumnya, kata “Uzbekistan” hanya memberi saya beberapa nama. Sekarang, ia mempunyai wajah: Termez, Bukhara, Samarkand, Tashkent, Imam Tirmidzi, Bahauddin Naqsyband, Imam Bukhari, roti besar, bahasa Rusia, kubah biru, zikir, dan pegunungan salju di kejauhan.

Eitzenberger dan Thimm (2024) menyebut perbedaan antara gambaran orang luar dan pengalaman warga terhadap sebuah tempat sebagai perception disparity. Dalam kasus Uzbekistan, non-pengunjung sering memiliki citra yang tidak jelas atau dibebani stereotip, sedangkan penduduk memiliki citra jauh lebih positif terhadap negeri mereka.

Saya tidak tahu apakah sembilan hari cukup untuk mengenal Uzbekistan. Mungkin justru tidak. Akan tetapi sembilan hari itu cukup untuk menyadarkan saya bahwa negeri tersebut jauh lebih dekat dengan Indonesia daripada yang saya kira.

Mungkin itu sebabnya, wisata terbaik tidak hanya membuat kita melihat tempat baru. Kadang, ia membuat kita menemukan kembali bagian dari sejarah kita sendiri, di tempat yang sebelumnya terasa sama sekali asing.

Daftar Referensi

Eitzenberger, F. J., & Thimm, T. (2024). Perception disparity: Analyzing the destination image of Uzbekistan among residents and non-visitors. Journal of Destination Marketing & Management, 34, 100946. https://doi.org/10.1016/j.jdmm.2024.100946. ScienceDirect

Hasyim, A. W. (2020). Al-Ṭarīqah al-Naqshabandīyah al-Khālidīyah fī Cianjur, Jawa al-Gharbīyah: Ta‘ālimuhā wa tuqūsuhā wa taṭawwurātuhā. Studia Islamika, 27(2), 343–384. https://doi.org/10.36712/sdi.v27i2.14757. Studia Islamika

Mukaffa, Z. (2017). A new account on the potrait of Ibrahim Asmarakandi and his sufism approach in Islamization of Java. Journal of Indonesian Islam, 11(1), 175–200. https://doi.org/10.15642/JIIS.2017.11.1.175-200. Repository UIN Sunan Ampel Surabaya

Woodward, M. (2017). Tariqah Naqshabandi Bayanullah: Localization of a global Sufi order in Lombok, Indonesia. Review of Middle East Studies. Cambridge University Press

Buehler, A. F. (1998). Sufi Heirs of the Prophet: The Indian Naqshbandiyya and the Rise of the Mediating Sufi Shaykh. University of South Carolina Press. JSTOR

National Statistics Committee of the Republic of Uzbekistan. (2024). Structure of the permanent population of the Republic of Uzbekistan. Statistikalar

U.S. Department of State. (2022). Report on International Religious Freedom: Uzbekistan. State Department

Uzbekistan Travel. Imam al-Bukhari Mausoleum. Uzbekistan Travel

Firdausi, F. A. (2018). Menguji Kebenaran Kisah Sukarno “Menemukan” Makam Imam Bukhari. Tirto.id.

3
0
Sofia Mahardianingtyas ◆ Expert Writer

Sofia Mahardianingtyas ◆ Expert Writer

Author

Seorang pekerja sektor publik yang meminati bidang sosial ekonomi, kebijakan publik, teknologi informasi, birokrasi, dan isu perubahan iklim. Alumnus D-3 & D-4 STAN, program beasiswa master LPDP PK-84 pada MPKP FEUI dan program MMSI Binus University. Setelah menuntaskan lebih dari 16 tahun pengabdiannya sebagai ASN dan mencicipi peran sebagai auditor internal pada sebuah BUMN di sektor keuangan, kini Sofia sedang menempuh pendidikan doktoral ilmu manajemen pada salah satu kampus negeri di Indonesia.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post