
Mohammad Hatta pernah menggunakan metafora “Mendayung di Antara Dua Karang” dalam pidatonya di hadapan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat pada 1948. Metafora itu menggambarkan posisi Indonesia yang harus menentukan haluan politik luar negerinya di tengah pertarungan dua kekuatan besar dunia, yaitu Blok Barat dan Blok Timur.
Hari ini, metafora itu barangkali masih relevan, tetapi dalam ruang yang berbeda. Ada “dua karang” lain yang dihadapi sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) yaitu antara karier dan keluarga.
- Di satu sisi, menjadi ASN adalah pilihan pengabdian. Ada tugas yang harus dijalankan, penempatan yang harus diterima, mutasi yang harus dilaksanakan, promosi yang harus diikuti, bahkan penugasan ke daerah yang jauh dari daerah asal.
- Di sisi lain, ASN juga adalah manusia yang memiliki keluarga, pasangan, anak, orang tua, dan kehidupan sosial yang membutuhkan kehadiran secara fisik pula.
Di antara keduanya, seorang ASN harus terus mendayung. Tentu pilihan ini bukan perkara mudah dan dapat dilakukan oleh semua ASN.
Promosi dan Mutasi Jauh dari Keluarga
Bagi sebagian besar ASN, perjalanan karier tidak selalu berlangsung di tempat yang sama. Ada kalanya seseorang harus berpindah kota, provinsi, bahkan pulau demi tugas negara. Promosi jabatan bisa saja meninggalkan rumah. Penugasan bisa berarti berbulan-bulan hidup berjauhan.
Mutasi dapat mengharuskan seseorang memilih antara membawa keluarga atau membiarkan pasangan dan anak tetap tinggal di daerah asal karena pertimbangan pendidikan, pekerjaan, kesehatan, atau berbagai alasan lainnya.
Pada titik tertentu, karier dan keluarga seperti meminta dua arah yang berbeda. Padahal, banyak ASN bekerja keras justru karena ingin memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. Seorang ayah bekerja jauh dari rumah demi penghasilan dan masa depan anak-anaknya.
Seorang ibu menerima penugasan di daerah lain dengan harapan kariernya berkembang dan pada akhirnya dapat memberikan manfaat lebih besar bagi keluarga dan masyarakat pula.
Ironisnya, niat membahagiakan keluarga kadang justru menghadirkan jarak dengan keluarga. Ada paradoks di sana. Kita bekerja untuk keluarga, tetapi pekerjaan membuat kita tidak selalu hadir bersama keluarga.
Kita mencari rezeki untuk anak, tetapi waktu bersama anak semakin sedikit. Ada yang berniat untuk mengejar masa depan keluarga, tetapi mungkin kehilangan sebagian momen masa kini yang tidak akan pernah kembali.
Kehilangan Momentum dan Peran dalam Keluarga
Hal yang paling dekat di antaranya adalah fenomena anak tumbuh setiap hari. Ada ulang tahun yang hanya terjadi sekali. Ada masa ketika anak pertama kali masuk sekolah, memenangkan perlombaan, mengalami kegagalan, atau sekadar membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Semua itu tentu tidak bisa di-backup seperti dokumen dalam komputer.
Keluarga sering dipahami secara sederhana sebagai tempat pulang. Padahal, secara sosiologis, keluarga adalah institusi sosial pertama dan salah satu yang paling menentukan dalam kehidupan manusia.
Di dalam keluarga seseorang pertama kali belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, nilai, norma, disiplin, kejujuran, penghormatan, dan bagaimana memperlakukan orang lain.
Keluarga juga bukan sekadar hubungan antara dua individu yang menikah. Di dalamnya terdapat jaringan relasi, peran, kewajiban, hak, harapan, dan tanggung jawab yang saling berkelindan sehingga ia menjadi institusi pertama dan penting dalam kehidupan manusia.
Oleh karena itu, ketika satu anggota keluarga terlalu lama tidak hadir, yang berubah bukan hanya jarak fisik. Relasi sosial di dalam keluarga pun dapat ikut berubah.
Dalam konteks ini kita fokuskan terhadap ketidakhadiran seorang ayah, misalnya, tidak selalu dapat digantikan dengan kiriman uang. Anak, istri dan anggota keluarga lainnya memang membutuhkan nafkah, tetapi juga membutuhkan perhatian, pendidikan, tetapi juga membutuhkan keteladanan dari orang terdekatnya yaitu ayah selaku kepala keluarga.
Di samping membutuhkan fasilitas, anggota keluarga juga butuh pelukan, percakapan, dan seseorang yang hadir ketika ia sedang menghadapi persoalan. Dalam proses sosialisasi keluarga, ayah dan ibu memiliki peran penting sebagai model perilaku bagi anak.
Dengan demikian, ketidakhadiran fisik yang berlangsung lama berpotensi menciptakan ruang kosong dalam relasi keluarga, terlebih apabila tidak diimbangi dengan kehadiran psikologis.
Mengelola Jarak untuk Tetap Menjalankan Peran
Namun, ini bukan berarti setiap ASN yang harus bekerja jauh dari keluarga akan menghasilkan persoalan dalam keluarganya. Banyak keluarga justru mampu membangun daya lenting, komunikasi, dan kepercayaan yang kuat meskipun hidup berjauhan.
Maka, persoalannya adalah bagaimana jarak itu dikelola. Seorang ASN memiliki tugas dan tanggung jawab kepada negara, tetapi ia juga memiliki tanggung jawab kepada keluarganya.
Idealnya kedua hal tersebut dapat menjadi romantika kehidupan dan ditempatkan dalam hubungan yang saling menguatkan. Bekerja merupakan amanah. Dalam perspektif nilai keagamaan, bekerja mencari nafkah bagi keluarga bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi dapat menjadi bagian dari ibadah juga merupakan bentuk kontribusi kepada masyarakat dan negara.
Hal yang perlu disadari adalah ketika kesibukan dalam menjalankan tugas perlahan membuat keluarga kehilangan sosok yang sebenarnya sedang mereka tunggu. Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun karier di luar rumah, tetapi lupa membangun hubungan di dalam rumah.
Dengan demikian, pertanyaannya adalah sudahkah kita menjalankan peran dengan baik, baik sebagai aparatur maupun sebagai anggota keluarga?
Memilih karier atau keluarga sering kali merupakan cara berpikir yang dianggap sederhana. Akan tetapi yang dibutuhkan bukan memilih salah satunya, melainkan mencari keseimbangan yang realistis dan manusiawi.
ASN yang harus bertugas jauh dari keluarga membutuhkan dukungan keluarga. Sebaliknya, keluarga juga membutuhkan kepastian bahwa jarak tidak berarti kehilangan. Komunikasi menjadi kuncinya. Bukan sekadar bertanya, “Sudah makan?” tetapi berbicara tentang apa yang dirasakan tentang banyak hal dan berbagai momen.
Baik apakah tentang kesulitan anak di sekolah, kegelisahan pasangan, pekerjaan yang melelahkan, harapan anggota keluarga bahkan rencana masa depan. Kadang keluarga tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya membutuhkan kita untuk hadir dan mendengarkan.
Di era teknologi, jarak fisik sebenarnya tidak selalu harus berubah menjadi jarak emosional. Telepon, video call, pesan singkat, dan berbagai teknologi komunikasi dapat menjadi jembatan akses. Namun, teknologi tetap bukan pengganti kehadiran.
Ada saat ketika layar harus dimatikan dan kita benar-benar pulang karena keluarga tidak hanya membutuhkan financial presence, tetapi juga emotional presence.
Kebijakan ASN dan Kualitas Relasi Keluarga
Menjadi ASN berarti siap ditempatkan dan ditugaskan sesuai kebutuhan organisasi dan negara. Profesionalisme menuntut kesiapan itu, tetapi profesionalisme juga harus berjalan bersama kesadaran bahwa ASN adalah manusia yang memiliki kehidupan keluarga. Dengan harapan regulasi juga perlu melihat persoalan ini bukan semata-mata sebagai urusan pribadi pegawai.
Kebijakan manajemen ASN idealnya mempertimbangkan aspek kesejahteraan keluarga, terutama dalam penempatan, mutasi, mobilitas, beban kerja, dan dukungan bagi ASN yang menjalankan tugas jauh dari keluarga.
Hal ini telah mulai diperhatikan oleh Badan Kepwgawaian Negara (BKN) untuk ASN dapat bekerja dengan dengan rumah dan keluarga. Sebab, ASN yang memiliki keluarga yang sehat secara relasional akan lebih mungkin bekerja dengan tenang, fokus, dan produktif.
Sebaliknya, persoalan keluarga yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi beban psikologis yang terbawa ke tempat kerja. Dengan demikian, kesejahteraan ASN akan bermuara pada kualitas relasi keluarga.
Di sinilah kita perlu memaknai kembali pekerjaan. Bekerja bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan saja. Bekerja merupakan cara seseorang memberikan makna kepada kehidupannya, menafkahi keluarga, menjaga martabat, mengembangkan potensi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Namun, pekerjaan semestinya tidak kehilangan tujuan kemanusiaannya, sebab apa artinya karier yang gemilang jika rumah kehilangan makna dalam keluarga?
Mendayungi Kedua Karang Kehidupan
Mohammad Hatta mengajarkan bahwa Indonesia harus memiliki haluan sendiri ketika berhadapan dengan dua kekuatan besar dunia. ASN pun perlu memiliki “haluan” ketika mendayung di antara dua karang kehidupan, pengabdian kepada negara dan tanggung jawab kepada keluarga.
Keduanya dapat berjalan bersama apabila dibangun dengan komunikasi, kesadaran, dukungan, dan kemampuan mengelola prioritas. Barangkali yang paling penting bukan seberapa jauh seorang ASN pergi menjalankan tugas, tetapi seberapa baik ia tetap terhubung dengan mereka yang menunggunya pulang dan ia “ada”.
Sebab pada akhirnya, negara memang membutuhkan ASN yang professional, membutuhkan rumah untuk kembali. Jabatan boleh berganti. Tempat tugas boleh berpindah. Karier boleh terus menanjak. Namun, waktu bersama keluarga yang telah hilang tidak selalu dapat kembali.
Maka, kepada setiap ASN yang sedang mendayung di antara “dua karang”, barangkali pesan sederhananya adalah, laksanakan tugas negara dengan sepenuh hati. Bangun karier dengan penuh tanggung jawab.
Tetapi jangan lupa, ada keluarga yang juga memiliki hak atas waktu, perhatian, kasih sayang, dan kehadiran kita karena pengabdian yang sempurna bukanlah ketika kita hanya berhasil menjadi aparatur yang baik.
Melainkan ketika kita mampu menjadi aparatur yang baik, pasangan yang baik, dan orang tua yang baik, tanpa kehilangan kemanusiaan di antara ketiganya. Wallahualam bissawab.














0 Comments