Pada akhir tahun anggaran, di bulan Desember, di hampir semua institusi pemerintahan, sosok yang sering berkeliaran adalah Spongebob Budgetplan. Spongebob yang satu ini sejenis dengan Spongebob Squarepant, tokoh kartun di televisi kita.

Spongebob Squarepant, yang kita kenal di televisi, adalah sosok tokoh animasi yang badannya mampu menyerap benda cair dan menyimpannya. Sebanyak apapun cairan yang ada, mampu diserapnya, seluruhnya! Meskipun kemudian badannya menjadi tambun karena kelebihan volume, terseok-seok jalannya, tersengal-sengal, dan bahkan tertumpahkan lagi sebagian cairan yang tersimpan.

Perkenalkan, Spongebob Budgetplan!

Tidak berbeda dengan Spongebob Squarepant, Spongebob Budgetplan adalah sosok problem solver and solution bagi kritisnya realisasi anggaran. ‘Cairan’ anggaran yang masih menggenang, harus dapat dibersihkan dan dioptimalkan—begitu bahasanya meskipun sering menjadi terbaca dimaksimalkan— untuk kepentingan bersama.

Sosok tersebut merupakan ‘mahluk’ cerdas yang sangat kreatif sehingga mampu membersihkan genangan cairan dengan cara cepat dan taktis. Solusinya pun jitu, dengan mengusulkan kegiatan warna-warni rapat koordinasi di sana-sini, kunjungan rombongan berbarengan, peningkatan kapasitas, dan lain sebagainya.

Sosok yang memberi solusi tegas meskipun sebenarnya dijalankan dengan malu-malu. Sosok yang tak tergantikan dan justru dinantikan, meskipun para pemimpin silih berganti. Tidak terganti, karena sosok yang mengerti dan memahami mental birokrasi yang belum juga berganti. Iya, belum berganti.

Padahal, mungkin tidak salah jika kita semua berbesar hati bahwa kita tidak mampu merealisasikan seluruh rencana pengeluaran yang sudah ditetapkan akhir tahun lalu. Anggaran yang kita akui dilalui dengan upaya ‘berdarah-darah’, berdiskusi dan berdebat menentukan indikator dan target capaian dalam pertemuan segitiga, melibatkan perencana dan penentu anggaran.

Belum berbagai pertanyaan dari para ‘yang mulia’, pengawas, dan peneliti. Hmm, setengah mati kita menjawabnya. Namun, tetap saja itu sebenarny hanyalah rencana para manusia, bukan dari Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, boleh dong sebenarnya kalau ternyata meleset, tidak sesuai rencana, wong dunia juga mudah berubah.

Sampai Kapan Spongebob Budgetplan Dinanti? 

Ilmu perencanaan dasar sebenarnya memaklumi sebuah deviasi dan variabel lain yang tidak konstan. Suatu permakluman yang lumrah karena kita semua mengenal pemahaman kapasitas yang tentunya terbatas.

Bahkan, kadang kita juga hampir meniadakan instrumen dan jargon untuk menjaga realisasi anggaran harus sesuai realita, harus sesuai dengan kebutuhan. Permakluman atas lupa yang ironisnya justru dilakukan oleh para institusi penjaga batas-batas. Lepas!

Ironi,  itulah sebuah kondisi di negeri ini yang sudah terjadi berpuluh tahun, belum saja berganti. Mirip tagline pada iklan minuman rumahan dalam botol, “Apa pun kondisinya, siapa pun rezimnya, kondisinya tetap sama!”

Berbagai pola perencanan, penganggaran, dan pengawasan yang katanya selalu ter-up grade, pada kenyataannya belum bisa menyentuh pola si Spongebob. Harus habis, biar kata tambun tak berbentuk, tidak menggumpal menjadi badan, hanya menetes dan pada akhirnya hilang, sumber daya pembangunan tersebut pada akhirnya terbuang dengan sia-sia.

Mentalitas yang barangkali belum terbentuk kokoh, bahwa tidak salah kalau anggaran tersisa karena memang seharusnya tersisa. Bukan harus habis meskipun tragis karena semakin tahun sumber daya alam sebagai penyokong anggaran negara semakin terkikis. Semakin ironis karena negeri sering meringis terpapar kompetisi ekonomi dunia yang semakin sadis.

Jadi sampai kapan Spongebob Budgetplan masih dinanti-nanti birokrasi negeri ini?

Sementara itu, di negara tetangga dekat kita, indikasi keberhasilan realisasi anggaran tidak hanya habis menipis. Salah satu keberhasilan  penting selain terwujudnya berbagai indikasi hasil pembangunan yang terukur, juga tercermin dari seberapa berhasilnya melakukan penghematan yang artinya adalah masih adanya sisa dari perencanaan. Barangkali itu sikap mental yang jadi pembeda. Barangkali itu yang membuat Spongebob Budgetplan mungkin tidak ada di sana.

Saya tidak berani menduga keberhasilan itu akibat pengaruh dari perencanan yang super presisi, karena pastinya selalu ada deviasi secara alami. Selain itu, saya takut juga kalau dugaan saya dicatat Spongebob Budgetplan kita untuk jadi target kunjungan dan benchmarking basa-basi. Brrrr brrrr brrrr.

Epilog

Getaran handphone di meja dekat PC (komputer) saat aku menuliskan fiksi ini, menyadarkanku. Ketukan tuts keyboard di komputer harus terhenti, ternyata banyak pesan dari teman hampir dari seluruh penjuru negeri.

Mereka mengabarkan dan mengingatkan berbagai tanggungan pekerjaan di akhir tahun sembari berbasa-basi menawarkan buah tangan dari kawan-kawan seinstansi. Ya, merekalah para rombongan Spongebob Budgetplan.

“Ha ha ha, tidak perlu kawan, tenang saja kalian”, kataku dalam hati. “Meskipun aku tidak ikut rombongan sana-sini, kesetiaanku tidak perlu kalian uji. Aman saja, terima kasih buah tangannya. Aku tidak perlu ikut denganmu”.

Toh, honor kehadiran rapat dan nara sumber sana-sini setahun ini cukuplah untuk kami berdua, aku dan istri cantikku, liburan ke Negeri Itali.

#di antara batas fiksi, mimpi, dan reality

 

 

0
0
Hananto Widhiatmoko ▲ Active Writer

ASN di salah satu Instansi Pemerintah Pusat. Peran kesehariannya sebagai pereka ide cerita, gambar, dan warna untuk materi paparan, mewarnai gaya menulisnya yang nyantai tapi dalem banget isinya.

error: