“It appears to be a general law that human groups react to external pressure by increased internal coherence.” (Levy,1989)

Saat ini, seluruh dunia sedang berperang dengan makhluk yang bernama virus corona. Menurut situs www.worldometers.info, per 29 Maret 2020, terdapat 663.740 jiwa di seluruh dunia yang terkonfirmasi positif mengidap penyakit terkait virus corona (Covid-19).

Sebagian dari mereka, lebih dari 30.000 orang tepatnya, telah meninggal dunia. Angka tersebut masih terus meningkat secara eksponensial karena cepatnya penyebaran virus tersebut.

Sebagai tambahan, angka yang terkonfirmasi positif hanya semakin menunjukkan keterbatasan kapasitas deteksi dari pemerintahan di seluruh dunia. Berita terbaru yang tidak kalah menakutkan adalah terdapat 8 jenis/strain virus yang berbeda, sehingga jika Anda telah tertular dan dinyatakan sembuh, tidak ada jaminan untuk tidak tertular kembali.

Siapkah Kita?

Terhadap tekanan virus ini, pertanyaannya adalah, seberapa siapkah kita menghadapi external pressure (tekanan berasal dari luar) yang sedemikian hebat? Berapa besar peningkatan internal coherence (keterikatan di dalam) saat menghadapi ancaman ini?

Tidak usah jauh-jauh, ambil contoh di sekitar kita saja. Berapa kali pejabat publik, terutama di awal-awal kasus ini merebak, mengeluarkan pernyataan yang terkesan meremehkan bahaya penyebaran virus?

Berapa persen dari institusi pemerintah yang siap melaksanakan kerja dari rumah (working from home) secara penuh? Berapa kali terjadi miskomunikasi antar instansi yang baik secara langsung maupun tidak langsung menyabotase anjuran presiden untuk jaga jarak dan tetap di rumah?

Beberapa contoh kasus dapat kita lihat, semisal, adanya promosi tiket ke daerah kunjungan wisata, pembatasan transportasi publik, dan operasi pasar sembako murah. Imbasnya, kurva jumlah penderita COVID-19 dipastikan akan terus meningkat dan menyebar karena physical distancing tidak berjalan dengan baik.

Berantakan bukan? Saking kacaunya, ada teman gamer yang bergurau jika menyebarkan pandemi di dalam sebuah permainan simulasi bertajuk Plague.Inc, lebih sulit daripada menyebarkannya di dunia nyata.

Perubahan di Birokrasi

Apapun itu, penulis tetap optimis bahwa pandemi ini akan berakhir. Cepat atau lambatnya, tergantung dari efektifitas koherensi internal kita. Sampai pada titik ini, penulis mencoba mengembangkan imajinasi, apa yang akan kita lakukan setelah itu?

Yang pasti dunia tidak akan sama lagi, termasuk dunia birokrasi. Di birokrasi pemerintahan, setelah pandemi ini berakhir beberapa kondisi tampaknya akan berubah.

Kondisi 1 : Kita akan menyadari bahwa sebenarnya kehadiran kita tidak mutlak diperlukan di kantor, dan berhala yang memanifestasikan diri dalam bentuk mesin pemindai sidik jari sudah tidak relevan lagi. Tunjangan (berbau) kinerja yang selama ini didasarkan pada kehadiran sudah layak untuk dikaji ulang.

Beberapa instansi yang menerapkan kerja dari rumah secara penuh telah berhasil menelurkan embrio berupa sistem pemantauan kinerja yang lebih efektif. Sistem ini (semoga) akan terus dipakai dan disebarkan kepada instansi lain, dan mimpi reformasi birokrasi mengenai merit system yang ideal akan terwujud.

Kondisi 2: Kita akan menyadari bahwa tidak perlu bertatap muka secara fisik untuk berkoordinasi. Teladan yang ditampakkan presiden dengan menggunakan teleconference untuk koordinasi tingkat nasional dan internasional, dan euforia sesaat dari teman-teman ASN yang berlomba membagikan tangkapan layar hasil rapat virtual ke linimasa sudah cukup membuktikan bahwa kita bisa.

Dampaknya tentu ke penghematan anggaran rapat dan perjalanan dinas dalam rangka koordinasi. Tahun ini mungkin dialihkan ke penanganan wabah, tetapi di masa yang akan datang, penghematan ini (seharusnya) tentu menambah ruang fiskal kita.

Kondisi 3: Kita akan menyadari bahwa ASN yang diperlukan tidak sebanyak yang ada saat ini. Bagi yang terpaksa kerja dari rumah tetapi tidak ditagih kinerja apapun dari kantor, sebaiknya Anda bersiap-siap, karena bisa jadi tugas Anda memang tidak terlalu krusial bagi kantor. Selama ini, beberapa tugas di kantor pemerintahan memang masih belum dirancang dengan baik.

Selain itu, perilaku free rider banyak dijumpai, tetapi sangat sulit untuk ditindak. Keniscayaan penerapan merit system pada kondisi 1 tentu akan dapat menyaring benalu-benalu birokrasi dan jika pemerintah tegas, pasca pandemi adalah saat yang tepat untuk bersih-bersih, dengan skema golden shakehand misalnya.

Kondisi 4: Kita akan menyadari bahwa unit organisasi kita ternyata tidak terlalu penting. Ada atau tidaknya organisasi kita, toh negara tetap jalan, rakyat tetap dapat beraktifitas, dan apa yang kita lakukan selama ini ternyata hanya menghambur-hamburkan uang negara. Atau, lebih parah lagi, ternyata yang kita lakukan selama ini malah memperlambat koherensi internal tadi, dengan penggunaan wewenang yang mengarah kepada pengendalian yang berlebih dan tidak perlu.

Dalam kondisi darurat, pengendalian yang pertama dipangkas adalah pengendalian yang tidak perlu. Dengan kata lain, jika pengendalian yang dicetuskan oleh sebuah unit organisasi dipangkas secara signifikan, maka sebenarnya unit itu tidak perlu ada. Bukankah langkah ini akan membentuk suatu negara yang ideal dari sisi struktur organisasi yang ramping dan fungsional?

Epilog

Dari beberapa kondisi di atas, penulis – tanpa mengesampingkan jumlah korban jiwa yang telah mendahului kita – melihat bahwa, virus ini ternyata malah menjadi katalis yang diperlukan untuk akselerasi reformasi birokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, mari perkuat koherensi internal di masa yang sulit ini, dan pertahankan yang baik.

Semoga pandemi ini segera berakhir.

13
2

ASN provokatif jebolan Manajemen Kebijakan Publik Monash University yang sedang belajar untuk menulis lagi

error: