Belum pernah dalam hidupku melihat orang belajar bersama dalam jumlah banyak di satu tempat. Di PM, orang belajar di setiap sudut dan waktu. Kami sanggup membaca buku sambil berjalan, sambil bersepeda, sambil antri mandi, sambil antri makan, sambil makan, bahkan sambil mengantuk. Animo belajar ini semakin menggila begitu masa ujian datang. Kami mendesak diri melampaui limit normal untuk menemukan limit baru yang jauh lebih tinggi (Fuadi, 2009).

Kutipan di atas saya ambil dari novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi (2009). Novel penuh inspirasi ini kaya dengan penuturan dan gambaran Alif tentang bagaimana kegiatan membaca dan menulis berkelindan dengan indahnya dalam kesehariannya sebagai anak pesantren di Pondok Madani.

Kisah tentang bagaimana seseorang mulai belajar dan kemudian mencintai dunia buku dan tulisan semakin banyak kita jumpai di dunia maya. Mulai dari status update di media sosial sampai blog entry banyak bertebaran kisah tentang buku dan menulis dalam kehidupan penulisnya. Di blog saya ini bahkan saya mengkhususkan diri menulis tentang literasi, yakni dunia membaca dan menulis berbagai ragam teks.

Kata literasi memang tidak lagi asing. Bila beberapa tahun yang lalu orang masih bertanya apa itu literasi, sekarang ini bahkan ibu-ibu RT di tempat saya sudah bisa langsung menggunakan istilah Gerakan Literasi ketika saya mengajak ibu-ibu PKK untuk mendirikan Taman Baca Masyarakat di RT kami. Saya cuma bilang, ‘ayo buat taman baca buat warga RT.’ Mereka merespon positif dan sudah langsung menggunakan frase ‘demi gerakan literasi.’ Tampaknya Gerakan Literasi Sekolah dalam bentuk kegiatan 15 menit membaca di sekolah anak-anak mereka sudah mulai membentuk pola pikir baru di antara para orang tua.

***

Karena kita sudah akrab dengan kisah-kisah tentang buku dan tulisan, mari kita mulai mengenal istilah akademiknya. Dalam berbagai kajian tentang Literacy Studies, kisah seperti ini disebut dengan Literacy Narrative. Apa ya terjemahannya dalam Bahasa Indonesia? Naratif Literasi? Kisah Literasi? Untuk sementara saya memilih menggunakan istilah Kisah Literasi. Rasanya terdengar lebih manis.

Kisah literasi biasanya ditulis oleh para penulis untuk memerikan perjalanan mereka mengenal tulisan, kapan mulai suka membaca buku, mulai menulis, tantangan yang dihadapi, cerita suka duka tentang membaca dan menulis. Kisah seperti ini membuat para pembaca lebih mengenal sosok penulis. Kisah literasi juga menjadi salah satu bentuk tugas menulis yang kerap diberikan di kelas-kelas Bahasa. Para siswa atau mahasiswa biasanya diminta menuliskan tentang pengalaman dan perasaan mereka tentang banyak hal yang terkait dengan buku dan tulisan.

Kisah literasi adalah kisah tentang buku dan tulisan yang kita tulis dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal ini, kita tidak hanya mengacu pada kegiatan membaca dan menulis sebagai keterampilan bahasa yang dapat diukur dengan berbagai standar penilaian. Kisah literasi adalah kisah perjalanan hidup seseorang yang menuliskannya, kisah tentang perubahan identitas di mana buku dan tulisan menjadi bagian penting. Kisah literasi dapat mengungkapkan bagaimana seseorang memosisikan dirinya dalam hal kelas sosial, status pendidikan, dan ekonomi. Kisah literasi juga dapat menjadi pembuktian bagaimana buku, tulisan, dan bahkan teks audiovisual dapat mengubah citra diri seseorang.

Konsep Figured World, Positional Identity, dan Figurative Identity yang diusung oleh Dorothy Holland dkk. dapat dengan cantik dikawinkan dengan dunia literasi. Riya Rizqi, salah seorang mahasiswa S2 Unesa bimbingan saya baru saja menyelesaikan tesis tentang Literacy Narratives and Students’ Identities. Dari kisah literasi yang ditulis dalam Bahasa Inggris sederhana oleh siswa SMP di Lamongan, Riya berargumen bahwa kehadiran buku, kegiatan membaca, dan gurunya sendiri membuat siswa mengubah cara pandang tentang diri mereka sendiri. Pada awalnya mereka memandang diri mereka sebagai ‘bad reader and bad writer.’ Setelah berproses dengan berbagai kegiatan di mana buku dan tulisan banyak dihadirkan, mereka mulai berani menilai diri sebagai ‘good reader and good writer.’

Sekali lagi, kisah literasi bukanlah kisah melulu tentang kesuksesan bergulat dengan teks yang mungkin diwakili oleh deretan angka. Kisah literasi yang membebaskan penulisnya untuk berekspresi akan menjadi kisah yang reflektif dan berperan membentuk atau mengembangkan karakter penulis dan juga pembacanya. Dalam hal ini, kisah literasi banyak bertebaran di karya sastra dan budaya populer seperti film. Novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri sarat dengan kisah kedekatan batin tokoh Ashoke dengan seorang pengarang besar dari Rusia, Nikolai Gogol, melalui koleksi cerpen yang dia punyai. Dengan latar belakang budaya masyarakat India diaspora, novel ini mengantarkan pembaca kepada perjalanan identitas hibrid dengan artifak literasi (buku, majalah, iklan, pendidikan tinggi di LN, dll.) sebagai katalisator perubahan identitas diri.

Berbicara tentang proyek menulis kisah literasi, saya ingin menyebutkan dua buku karya alumni Unesa sebagai proyek yang luar biasa. Pena Alumni (2013) dan Boom Literasi (2014) amat dinamis menampilkan kisah literasi para penulisnya yang berasal dari beragam latar belakang profesi. Dua buku ini bahkan terbit saat gempita literasi belum segempar sekarang ini. Seharusnya kedua buku ini layak cetak ulang.  Meski proyeknya nirlaba, alias tidak cari untung (bahkan urunan), kualitas tulisan-tulisannya patut diacungi jempol.

 

Buku terbaru yang saya tulis bersama mbak Sofie Dewayani, Suara dari Marjin (2017) juga diwarnai dengan kisah literasi. Dalam buku ini, kami menggunakan istilah Trajektori Literasi. Di bab 2 dan 3, secara terpisah mbak Sofie dan saya berkisah tentang bagaimana mulanya kami suka membaca dan menulis, dan bagaimana dunia literasi ini membawa kami pada minat mengkaji kisah literasi anak-anak jalanan dan buruh migran Indonesia di Hong Kong. Pendek kata, buku Suara dari Marjin adalah buku tentang kisah literasi, tidak hanya tentang komunitas anak jalanan dan BMI Hong Kong, namun juga kedua penulisnya.

***

 

Kisah literasi dapat diungkapkan oleh siapa saja, mulai siswa yang baru belajar mengarang dan mulai menyukai buku sampai penulis terkenal. Mulai dari mahasiswa anyar sampai para profesor. Bahkan para birokrat pun perlu menuliskan kisah literasi mereka.

Salah satu contoh birokrat yang menuliskan kisan literasinya adalah sahabat saya mas Billy Antoro. Mas Billy adalah salah satu staf di Setjen Dikdasmen. Sahabat saya ini juga diamanahi sebagai Sekretaris Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemdikbud, di mana saya juga tergabung di dalamnya. Mas Billy tertib mencatat dan merekam sepak terjang Satgas GLS sebagai tim. Bahkan dia juga meminta kami para anggota Satgas untuk ‘melaporkan’ kegiatan literasi di kampus dan komunitas yang kami lakukan di luar tugas bersama. Mas Billy sendiri juga rutin berbagi cerita kegiatan literasinya di rumah dan di komunitas. Sebagian besar catatan dan refleksi literasi ini telah dituliskan di buku Gerakan Literasi Sekolah dari Pucuk sampai Akar. Buku ini diterbitkan oleh Kemdikbud dan diluncurkan saat Festival Literasi Sekolah pada tanggal 27-29 Oktober 2017. Buku ini bisa diunduh di laman Kemdikbud.

Langkah mas Billy sebagai bagian dari dunia birokrasi menunjukkan bahwa mas Billy menulis tidak hanya sebagai bagian dari tugas birokrasinya. Lebih dari itu, mas Billy telah menjadi seorang sponsor literasi. Dengan kata lain, sebuah program dan pelaksanaan kebijakan akan terasa lebih membumi, bermakna, dan berdaya di tangan seorang staf (notabene juga birokrat) yang melakoni sendiri kebijakan yang dikawal. Sebagai seorang aktivis literasi, sosok staf seperti mas Billy jadi lebih paham tantangan yang dihadapi dan berbagai kesempatan yang tersedia di lapangan dalam implementasi kebijakan. Hal ini menjadi modal penting dalam proses monitoring, evaluasi dan tindak lanjut sebuah kebijakan seperti Gerakan Literasi Sekolah.

Contoh lain dari birokrat yang menulis adalah Prof. Muchlas Samani, mantan Rektor Universitas Negeri Surabaya. Pak Muchlas, begitu saya memanggil beliau,  rutin menulis di blog, http://muchlassamani.blogspot.co.id. Saya termasuk pembaca setia tulisan-tulisan beliau tentang dunia pendidikan. Sudah banyak buku yang beliau terbitkan, bahkan sejak beliau belum menjabat sebagai Direktur Ketenagaan Dikti dan kemudian menjadi Rektor Unesa ke-9 di periode 2010-2015.

Buku beliau yang terbaru kuat nafas literasinya, yakni literasi teknologi informasi. Judul bukunya juga provokatif, Semua Dihandle Google, Tugas Sekolah Apa?. Buku yang maknyus ini, meskipun bukan murni kisah literasi, menegaskan bahwa dunia pendidikan abad ke 21 bukanlah hanya sekedar memanfaatkan teknologi digital, namun harus dibarengi dengan kompetensi akademik, sosial, dan kultural agar sekolah dapat menghasilkan pembelajar yang literat. Dengan kata lain, kisah literasi yang bermuatan kegelisahan dan alternatif solusi masalah akan bermakna lebih dari sekedar curhat dan kontemplasi diri. Buku ini diterbitkan oleh Unesa University Press dan bebas diunduh di sini.

Saya yakin masih banyak lagi birokrat atau pejabat struktural yang rajin dan tertib menulis. Yang perlu saya garis bawahi tentang kisah literasi adalah tulisan tentang bagaimana dunia literasi menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang. Kisah literasi berbeda dari tulisan tentang sebuah topik tertentu. Nah, kisah literasi, atau dalam bahasa aslinya, literacy narrative, dapat menjadi salah satu bidang garapan Gerakan Birokrat Menulis. Saya yakin apabila semakin banyak birokrat menuliskan kisah literasi mereka, saya yakin mereka akan lebih banyak melakukan refleksi diri dan tidak mudah mencari alasan atau pembenaran dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Yang lebih penting lagi, kisah literasi akan menjadi catatan abadi yang ditorehkan di tonggak peradaban bangsa kita sebagai bangsa literat. Tanpa ada kisah literasi, tidak akan ada kajian tentang kisah literasi. Sebaliknya, dengan semakin banyak kisah literasi, akan semakin beragam pula kajian tentang kisah-kisah tersebut dalam membentuk narasi besar gerakan literasi bangsa kita.

Maka dari itu, torehkan kisah literasimu!

(Surabaya, 21 November 2017)

 

Pratiwi Rednaningdyah ▲ Active Writer

Pegiat literasi dan sehari-harinya merupakan dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris pada Universitas Negeri Surabaya, Tulisan-tulisannya yang selalu bertemakan “literasi” membuka cakrawala berpikir para pembacanya.

error: