Turun dari busway, bergegas saya melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan pulang. Secara otomatis sudut mata saya menangkap sosok seorang pemuda difabel yang sedang berjalan. Tak ada yang terlalu khusus sebenarnya, hanya saja pemuda ini berjalan dengan cukup pelan karena kaki kirinya menggunakan kaki palsu.

Sambil menunggu lampu berganti menjadi merah, sempat saya lirik dia, mungkin berumur kurang dari 30 tahun. Saya beranikan untuk menyapanya, “Malam mas, baru pulang kerja ya?” Sapaan saya bergayung sambut, sehingga beberapa menit kemudian kami terlibat obrolan ringan sepanjang jalan.

Entah kenapa, terlintas ide untuk mengajak ngopi pemuda tersebut di kedai kopi sederhana yang kami lewati. Ajakan saya direspons positif sehingga melahirkan tulisan kisah nyata saya bertemu pemuda difabel ini. Namanya Wahyu, pemuda berusia 25 tahun kelahiran Tulungagung, Jawa Timur.

“Delapan tahun lalu, beberapa hari setelah saya berulang tahun yang ke-17, saya mengalami kecelakaan motor,” demikian tuturnya.

“Saya naik motor dengan cukup kencang, tetapi mendadak di depan saya ada mobil yang tiba-tiba berhenti sehingga memaksa saya membanting motor ke kiri jalan. Malangnya, di sebelah kiri jalan tersebut terdapat sebuah mobil pick up yang sedang berhenti. Kecelakaan pun tak dapat dihindarkan.

Maka itulah awal kisah saya menjadi seorang pemuda difabel. Sempat saya memiliki harapan untuk pulih ketika mengira kaki saya hanya patah. Namun, tidak tahu mengapa kaki saya malah mengalami pembusukan. Dokter terpaksa memutuskan untuk melakukan amputasi atas kaki kiri saya (lutut ke bawah) yang sudah tidak dapat diselamatkan lagi.

Sedih dan down rasanya memulai lembaran kisah hidup dengan kaki palsu, sesuatu yang jauh berbeda dari cita-cita saya sebagai layaknya seorang pemuda normal. Tak cukup kuat mental untuk menghadapi kondisi ini di kota kelahiran saya di Tulungagung, saya putuskan pindah ke kota lain. Terpilihlah untuk pindah ke kota Yogyakarta.

Di Yogya, saya masuk ke sebuah SMA swasta di kawasan Jetis. Setahun pertama di Yogya, saya masih belum bisa menerima kondisi saya dan cenderung untuk menutup diri. Rasa kecewa dan penyesalan atas peristiwa kecelakaan yang berkepanjangan membuat saya tidak bersemangat untuk melakukan banyak kegiatan.”

Cerita dari Wahyu saya sambut lagi dengan pertanyaan, “Apa mas Wahyu pernah menerima bullying dengan kondisi saat itu?” Sebenarnya tidak, tetapi mungkin saya terlalu sensitif untuk menanggapi komentar teman-teman.

Sampai pada suatu saat, sahabat saya memberikan sebuah buku yang berjudul “Start with Why” karya Simon Sinek. Buku tersebut menginspirasi dan mendorong saya untuk melakukan eksplorasi diri saya, siapakah saya, mengapa saya sekarang berbeda dengan teman-teman.

Saya mulai merenungkan mengapa kecelakaan itu terjadi, mengapa kondisi saya sekarang berbeda dengan orang-orang yang normal. Melalui proses sang waktu, saya terbawa pada sebuah kesadaran hingga mulai mengenali diri sendiri dan menerima seutuhnya diri saya. Hasilnya, perlahan mental saya mulai bangkit dan menganggap kondisi difabel ini adalah sebuah takdir yang harus saya jalani.

“Kalau boleh tahu, kenapa mas Wahyu berhasil melewati masa-masa sulit dan menuju titik balik untuk bangkit kembali?”, tanya saya setelah menyeruput kopi. Sambil menghela nafas seperti mengingat sesuatu, mas Wahyu menuturkan bahwa dukungan keluarga dan sahabat dekat menjadi kekuatan yang sangat berarti.

“Orang tua saya mendorong saya untuk ikhlas dan rajin beribadah, menyemangati saya di saat ‘grafik’ semangat saya menurun. Demikian juga, dua sahabat saya yang benar-benar mengetahui peristiwa kecelakaan di Tulungagung waktu itu, selalu memberikan support melalui komunikasi yang intens.

Syukur banget, beberapa kali saya juga bertemu dengan orang-orang difabel yang bernasib sama atau bahkan dengan kondisi yang lebih buruk. Ini membuat saya semakin menyadari bahwa nasib orang berbeda-beda. Ternyata saya tidak sendirian.

Kekuatan ilahi, peran keluarga dekat, dan sahabat memang sangat penting. Akan tetapi, saya tahu bahwa titik balik adalah kesadaran mengenali kondisi saya sedalam-dalamnya, yang justru berasal dari dalam diri saya sendiri.” Wahyu mengatakan kalimat terakhir itu dengan penuh penghayatan.

“Maksudnya bagaimana mas?”, sergahku meminta penegasan.

“Faktor luar memang sangat membantu, tapi motivasi untuk bangkit itu berasal dari diri saya sendiri”, Wahyu menyatakan dengan tegas. “Kesadaran bahwa saya berbeda dan unik dengan kondisi yang saya punya membuat saya berdamai dengan diri saya sendiri, sekaligus menjadi titik balik bagi saya untuk bangkit kembali.

Titik balik ini, membuat saya lebih antusias dan melakukan eksplorasi untuk mencari tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang difabel. Ternyata, ada banyak kisah yang membuat saya semakin bersemangat bahwa kondisi difabel bukan sesuatu yang patut dikasihani, tetapi justru menjadi kebanggaan tersendiri. Dengan pemahaman yang tepat maka difabilitas justru membuat percaya diri”, tutur Wahyu dengan berbinar.

“Berarti sekarang ngga malu lagi dong mas Wahyu dengan kondisi ini?”, tanya saya dengan santai.

“Jelas tidak dong. Saya sekarang bekerja di perusahaan start up di kawasan Blok M dan sedang menyelesaikan kuliah saya di sebuah universitas di Jakarta. Saya ambil jurusan International Business Management. Kalau dulu saya cenderung menutupi kaki palsu saya, sekarang justru saya bangga dan tidak ada rasa malu sedikitpun terhadap ketidaksempurnaan saya ini.”

“Wow keren”, respons saya setelah menerima aura positif dari mas Wahyu. “Satu lagi mas, apa rencana ke depan mas Wahyu?”, tanya saya dengan antusias.

“Tidak muluk muluk, saya hanya ingin mempunyai social impacts ke masyarakat. Soal jurusan kuliah, saya ingin belajar bisnis lebih dalam lagi.” Jawaban Wahyu menutup sesi ngopi saya bersama dengan seorang pemuda difabel yang bangkit kembali dari keterpurukan.

Hmmm, penulis jadi teringat pada sepenggal lagu, “Jangan menyerah”-nya d’Masiv,

Tak ada manusia yang terlahir sempurna.
Jangan kau sesali, segala yang telah terjadi.
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah.
Tetap jalani hidup ini., melakukan yang terbaik.

Penulis meyakini pertemuan dengan mas Wahyu bukan sebuah kebetulan. Ada ‘mutiara mahal’ kehidupan yang ingin disampaikan oleh Sang Pemilik Hidup, “Hidupmu terlalu berharga untuk disia-siakan.” Ketika derita dan cobaan melanda, pengenalan akan diri sendiri membawa kepada kita sebuah titik balik kebangkitan, yaitu saat kita berdamai dengan diri kita sendiri.

8
0

Auditor BPKP yang telah menamatkan pendidikan doktor di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tulisan-tulisannya lebih banyak menyoroti praktik birokrasi pemerintahan di Indonesia.

error: