Sebuah catatan kecil mahasiswa bimbingan*  Prof Agus Dwiyanto.

Pagi itu, di teras nan asri rumah kediaman Profesor Agus Dwiyanto, saya berbincang dengan beliau atas undangan via WhatsApp dalam rangka bimbingan penulisan disertasi saya. Dengan gaya yang santai dan suasana yang rileks, beliau banyak memberikan arahan tentang konten dan konsep yang harus saya pahami dalam menulis disertasi. Beliau pun menaruh perhatian khusus sekaligus harapan cukup tinggi terhadap penelitian saya. Hal itu mampu menambah bekal dan mempertebal kepercayaaan diri saya. Beberapa kali saya diundang ke kediaman beliau, beberapa kali juga beliau selalu menyempatkan diri untuk bercerita dan membagi pengalamannya kepada saya. Sebuah peristiwa yang sungguh ‘mewah’ buat saya.

Cerita tentang kegelisahan akan birokrasi, kritik beliau terhadap reformasi birokrasi, keluhan beliau tentang birokrasi yang sangat rule based, hingga kisah beliau dalam menjumpai berbagai peristiwa saat beliau memimpin Lembaga Administrasi Negara (LAN) di tahun 2013-2015. Beberapa saya telah mendapatinya di buku-buku karangan beliau yang menjadi favorit saya, namun mendengarkan beliau bercerita nuansanya menjadi sangat otentik, cair, bisa langsung mendiskusikannya dengan beliau.

Ada buku yang sangat istimewa buat saya, yaitu buku yang berjudul “Memimpin Perubahan di Birokrasi Pemerintah”. Buku ini belum lama terbit dan baru saja dilakukan bedah buku di Jakarta dan Jogja. Buku inilah buku terakhir yang berhasil beliau terbitkan. Menjadi istimewa karena selain isinya yang menggugah, juga karena saya berkesempatan lebih dulu mendengarkan isinya sebelum buku diterbitkan.

Sementara, beliau pernah utarakan jika sedang berkonsentrasi menyusun sebuah buku tentang regulasi vs etika di birokrasi, yang entah saat ini telah sampai dimana proses penyusunannya. Bocoran isinya adalah tentang keprihatinan beliau pada didewakannya aturan yang justru sering menjebak kita untuk melupakan etika. Juga kesalahan pemikiran jika tidak melanggar aturan berarti telah beretika. Bahkan kami pernah sampai pada kesimpulan diskusi bahwa berintegritas bukan berarti tidak pernah melanggar aturan. Begitu sebaliknya, pernah melanggar aturan tidak lalu berarti tidak berintegritas. Integritas lebih dari sekedar pelanggaran aturan, karena aturan seringkali dibuat hanya sebagai cara bukan untuk mencapai tujuan. Sedangkan sejak dulu kita hanya diajari taat pada aturan, bukan diajari bagaimana membiasakan diri berperilaku etis. Banyak sekali pimpinan dan juga ASN yang merasa berintegritas dengan cara jalan pintas, yaitu sekedar menghindari pelanggaran aturan sementara perilakunya sering tidak mengindahkan etika. Beberapa contoh kongkrit pernah kami kumpulkan dan untuk sementara biarlah saya simpan di ingatan saya.

Adapun beberapa catatan kecil diskusi kami yang juga telah tertulis dalam buku beliau, sebagai berikut:

Paradigma dalam Birokrasi

Beliau pernah berkisah, dan lalu dituangkan dalam salah satu subbab di buku terakhirnya, yaitu tentang penerapan birokrasi weberian di instansi pemerintah.

“Tanpa disadari selama ini ASN telah dijajah oleh nilai-nilai yang terkandung dalam birokrasi ala Weber. Kebiasaan membangun pola hubungan vertikal, keseragaman, formalisasi, spesialisasi sebagaimana diajarkan dalam birokrasi tipe ideal ala Weber telah memiliki kekuatan normatif. Seolah begitulah seharusnya birokrasi itu dikelola. Praktik berbeda dari ajaran birokrasi weberian dianggap sebagai sesuatu yang keliru dan harus dihindari”.

Birokrasi hendaknya direformasi dengan menggusur nilai-nilai weberian yang selama ini mendominasi pola pikir dan perilaku ASN. Meskipun perubahan budaya menjadi bagian dari area perubahan dalam kebijakan reformasi birokrasi nasional, tetapi tidak pernah dijelaskan bagaimana kebijakan reformasi birokrasi akan melakukan perubahan. Nilai, pola pikir, perilaku, dan tradisi mana yang akan dirubah belumlah jelas, dan belum ada tanda-tanda adanya penerimaan paradigma baru. Begitu beliau sampaikan dalam mengkritik kebijakan reformasi birokrasi selama ini.

Namun beliau pernah bercerita, harapan reformasi birokrasi pernah menuju kepada jalan yang benar tatkala kementrian PAN dan RB dipimpin oleh Bapak Azwar Abubakar dan adanya Bapak Eko Prasojo sebagai wakil menteri. Bahkan saking berharapnya beliau, sampai-sampai beliau membuat sebuah artikel yang dimuat di harian The Jakarta Post.

Revolusi mental yang ada saat ini pun tidak lepas dari kritik beliau. Revolusi mental yang ada saat ini, sedang pada tahap revolusi iklan. Ratusan miliar telah dihabiskan untuk membuat dan memasang iklan di berbagai media, namun hal itu tidak akan mampu menghidupkan akal dan pikiran serta merubah perilaku para ASN. Revolusi mental seharusnya dilakukan dengan cara transformasi budaya dengan paradigma baru. Tindakan kongkrit untuk berani meninggalkan mental penguasa dan mentradisikan sikap dan perilaku sebagai pelayan dalam kegiatan pemerintahan.

Pemimpin perubahan

Pernah beliau sampaikan, seorang pemimpin harus berani berpikir dan bertindak di luar kotak hitam yang selama ini berlaku di institusinya. Mempunyai kemauan dan kemampuan memahami situasi birokrasi yang stagnan lalu memunculkan gagasan perubahan. Beliau meyakini perubahan dalam birokrasi harus dilakukan dengan masif, dan pemimpin seharusnya mengambil sikap kritis dan berani bertindak termasuk dalam kondisi tekanan sekalipun.

Mendobrak kemapanan harus dibudayakan, para ASN terutama pemimpin di birokrasi hendaknya tidak lagi berpangku tangan dan menyerah pada status quo, bekerja dengan cara-cara lama. Paradigma baru dan tindakan perubahan harus segera dilakukan.

Hal itulah yang mendorong beliau untuk merubah gaya dan cara diklatpim. Diklatpim bentuk baru hasil gagasan beliau, yang menurut saya inilah capaian dan sumbangan penting beliau untuk birokrasi Indonesia, adalah sebuah diklat dengan konsep proyek perubahan. Diklatpim adalah pendidikan dan pelatihan pimpinan bagi seorang birokrat yang menjabat pada eselon 4, 3, 2, dan 1. Diklat ini tidak lagi dilakukan hanya di dalam kelas dengan seorang widyaiswara sebagai pusat perhatian alam semesta, lalu menghasilkan sebuah karya tulis sebagai obyek penilaian sekaligus syarat kelulusan. Diklat bentuk baru ini dilakukan secara on-off, yaitu terdapat tahapan seorang peserta diklat mendapatkan materi di kelas, dan pada tahapan lain peserta melakukan sebuah proyek perubahan di instansi masing-masing, lalu kembali ke kelas untuk mempresentasikan hasilnya. Sebuah proyek perubahan, bertujuan memahami permasalahan, merancang, dan melakukan perubahan yang berdampak pada seluruh pemangku kepentingan dalam jangkauan masing-masing peserta. Hambatan dan tekanan lingkungan yang kemungkinan dihadapi menjadi tantangan tersendiri bagi peserta untuk memicu mereka berpikir kritis dan bertindak keluar dari paradigma lama.

Beliau berkeyakinan, kemampuan seseorang dalam melakukan proyek perubahan dapat memiliki efek bola salju. Memberikan kepercayaan pada diri peserta dan pemangku kepentingan bahwa perubahan  dapat dilakukan, dan memiliki manfaat. Apa yang dulu dibayangkan sulit diwujudkan, ternyata sekarang dapat dilakukan. Kepercayaan diri ini membangun optimisme baik pada agen perubahan maupun pada lingkungan sekitar terlebih pada pemangku kepentingan yang lebih luas.

Perubahan ini pun telah banyak terjadi di LAN, mulai dari rampingnya struktur kedeputian sampai kepada cara kerja yang berhasil guna. Beliau pun mencontohkan, jika sebelumnya LAN memerlukan waktu lima tahun untuk melakukan pembaharuan diklatpim, maka pada saat kepemimpinan beliau, pembaharuan diklatpim dengan konsep pemimpin perubahan dapat dilakukan dalam waktu kurang dari enam bulan. Beliau ungkapkan, jika usaha pembaharuan itu dilakukan dengan cara lama, yaitu rutinitas dan rule based tentu hasilnya tidak akan seperti diklatpim saat ini.

Karena kondisi kesehatan beliau lah akhirnya beliau harus mengundurkan diri di kancah praktis birokrasi sebagai Ketua LAN, lalu kembali mengabdikan dirinya menjadi pengajar di Universitas Gadjah Mada.

Banyak gagasan beliau yang tidak tertulis dalam artikel singkat ini, namun saya merasa dua hal tersebut adalah sangat mendasar yang perlu saya bagikan, sekaligus membuat saya selalu mengingat beliau.

Kini beliau telah tiada di saat usianya menjelang 61 tahun, menyisakan kepedihan di antara harapan, menyisakan tangis di antara gemerlapnya bintang. Terimakasih Prof Agus Dwiyanto, telah bersedia menjadi pembimbing saya, telah bersedia mendengarkan gagasan dan keluh kesah saya, dan telah bersedia menceritakan banyak hal kepada saya.

Semoga harapanmu akan birokrasi dengan paradigma baru segera terwujud.

Meskipun engkau tidak lagi dapat menyaksikannya, tapi namamu akan selalu ada dalam sejarah perubahan birokrasi di negeri tercinta.

Selamat jalan Pak Agus Dwi….

 

 

Mutia Rizal ◆ Professional Writer

ASN Instansi Pemerintah Pusat dan saat ini sedang menempuh tugas belajar pada Program Studi S3 Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada. Penulis yang aktif di Birokrat Menulis ini sangat spesial, karena goresan ide-ide dalam tulisannya selalu mempertanyakan kemapanan yang telah ada, untuk tujuan perubahan birokrasi yang lebih humanis, bermartabat, dan bernilai bagi publik.

error: