Saya suka korupsi. Karena saya suka, maka rasanya ingin tertawa ketika sekilas membaca tagline sebuah iklan layanan masyarakat yang terpampang besar di dekat pasar sebuah kota besar yang saya lewati. Oh maaf, mungkin juga bukan iklan layanan masyarakat.

Dengan pilihan huruf khas birokrat, dan besar pula,  iklan itu menyajikan kalimat “Dengan Pekan Olah Raga dan Seni Pegawai Daerah, Kita Tingkatkan Layanan Masyarakat untuk Kota XXXXX”. Pekan Olah Raga? Pegawai daerah? Layanan masyarakat meningkat? Saya jadi sedikit linglung membacanya.

Meskipun ketika kuliah saya termasuk mahasiswa yang ‘pas-pasan’ dalam mata kuliah ekonometri, rasanya logika bodoh saya sulit menerima bahwa olah raga untuk pegawai daerah berkorelasi dengan layanan publik. Itu logika untuk saya yang suka korupsi. Gue banget, begitu kata kids zaman now.

Jika, dan hanya jika, tulisan dalam iklan itu adalah “Dengan Pegawai Daerah yang Sehat, Kita TIngkatkan Layanan Masyarakat untuk Kota XXXX”, maka narasi itu masih bisa masuk dalam nalar saya. Lalu saya pun iseng berandai-andai, materi ini sepertinya menarik untuk dijadikan bahan stand up comedy yang biasa ada di televisi.

Materi itu bisa segar sekaligus cerdas, malah mungkin layak mendapat predikat kompor mledhuk. Bayangkan saja jika kalimat berikut dibawakan oleh Arie Kribo atau Mongol, sang bintang komedi berdiri itu. Dengan pegawai yang jago main tenis, volley, futsal, atau menyanyi, layanan kepada masyarakat seketika menjadi baik! Antrian pengurusan ijin bisa cepat dan singkat karena di lob oleh bagian pendaftaran, diketik oleh bagian administrasi persyaratan dengan back hand, lalu diperiksa dengan jumping smash oleh bagian verifikasi. Lembaran ijin melayang di udara lengkap dengan tanda tangan dan sampailah tepat di depan bibir net yang tidak bisa di hentikan oleh lawan”. Jebreeet.. ! Ahhhhaaayyy!!!

Karena saya suka korupsi, ‘materi stand up’ ini bisa lebih menarik bila ternyata kegiatan itu dibiayai dari pos-pos anggaran yang belum dioptimalkan. Belum terealisasi sampai dengan bulan Juni tahun berjalan.

Padahal seperti kita tahu, betapa pemerintah pusat berupaya mati-matian mendorong penerimaan negara dengan sepenuh hati. Mereka berupaya begitu keras, sekaligus mencoba mengetatkan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Tapi di sisi lain, ada bagian dari pemerintahan yang tidak punya sensitivitas terhadap krisis yang sebangun.

Lebih lucu lagi, bila lokasi acara itu ada di kantor-kantor instansi pusat. Ironi dan seolah tayangan komedi satir ketika di satu sisi gedung sedang berlangsung rapat yang mati-matian membahas bagaimana rasionalisasi anggaran dilakukan, tapi di sisi gedung lainnya para pejabat berikut pegawai-pegawainya bersorak-sorai kegirangan dalam acara yang juga dibiayai APBN. Mereka asyik bernyanyi dan bergembira hingga larut malam merayakan pesta kesenian. Tapi sudahlah, saya tidak akan menambah efek dramatisnya, cukup pada pandangan saya saja, yang masih suka korupsi.

Karena saya suka korupsi, meski tidak cinta, fenomena tersebut menggelikan. Meski saya bukan anti seni dan olah raga, malah saya termasuk orang yang punya keahlian itu, tapi tetap saja itu menggelikan bagi saya. Menggelikan karena saya masih suka korupsi, juga bernyanyi, dan sekali-kali beladiri. Sekali lagi suka, bukan cinta. Beneran, ini bukan cinta.

Suka itu seperti anak laki-laki Sekolah Menengah Pertama yang malu-malu memberikan kaset untuk teman perempuan yang duduk di bangku depan kelas. Kaset durasi rekam 60 menit hasil menabung sebulan serta usaha merekam lagu dari siaran radio FM dengan mini compo hadiah bapaknya.

Atau anak perempuan yang seumurannya, yang membungkus tas tali dari bahan jeans rombeng bekas jacket pamannya dengan kertas bunga-bunga. Kado itu diberikannya kepada anak laki-laki, ketua kelas pujaannya, yang suka merapikan barisan atau kursi guru.

Ya, cerita itu memang berdasar kejadian nyata dari generasi tahun 90-an, tapi bukan itu intinya. Intinya adalah perasaaan suka, hanya suka. Iya, hanya suka. Perasaan yang muncul karena proses pendewasaan, pengaruh, dan pandangan baru yang muncul ketika melihat lingkungannya. Cuma sebentar muncul, tenggelam, muncul lagi.

Perasaan yang timbul tenggelam ketika melihat lawan jenis yang mulai terlihat berbeda. Entah itu hanya temporer berpaku pada satu obyek dan perspektif sebagai dampak dari proses baliq-nya anak-anak. Kalau boleh dianalogikan, hari ini kaset untuk anak perempuan berambut panjang, keesokan harinya boleh dan sah-sah saja diberikan kepada anak perempuan berkacamata. Hanya suka, belum cinta. Masih boleh berubah, masih boleh berpindah.

Ada satu cerita menarik lagi, sebuah dialog kecil dengan atasan di kantor. Kebetulan pada waktu itu hadir sebuah lembaga baru yang mendobrak penegakan hukum terkait korupsi di Indonesia, sedang menawarkan peluang berkarir untuk pejabat dan pegawai disana. Sebuah dialog yang diawali dengan pertanyaan lugu dari seorang pegawai baru di kantor, seorang fresh graduate, kepada seniornya, “Bapak tidak ikut pendaftaran calon petinggi KPK?’.

Jawaban dari atasan saya bagaikan mantra sampai saat ini. “Nggak-lah, gue masih suka korupsi” ucap beliau ringan. Suka korupsi? Begitu jelas dan lugas jawaban itu, sampai-sampai membuat saya terhenyak dan hampir tersandar di mejanya.

Korupsi, suatu kata magis yang memalukan dan menghinakan bila disematkan pada seseorang dengan jabatan sestrategis beliau. Korupsi! Namun beliau dengan gagah mengakuinya. Singkat cerita, pembicaraan berhenti sampai di situ, selanjutnya syaraf auditor saya yang bekerja. Alhasil, dalam seminggu kemudian saya melakukan observasi, dan tepat pada hari ketujuh sebuah simpulan telah didapatkan. Iya, beliau masih suka korupsi!

Sepertinya jawaban tadi adalah sebuah pilihan jujur pengungkapan diri yang berasal dari dialog dan pemahaman yang panjang.

Dengan pendidikan dan jabatannya yang cukup tinggi, atasan saya masih suka menggunakan telepon kantor di jam kerja untuk berkabar dengan keluarganya di tempat tinggalnya sekedar memastikan putrinya pulang ke rumah dengan selamat. Setiap pagi, beliau mulai duduk di meja kerjanya lebih lambat sepuluh sampai lima belas menit dari waktu yang ditentukan untuk menjalankan ibadah sholat.

Di siang hari, sepuluh sampai lima belas menit, beliau menyempatkan untuk tidur siang. Hal itu dilakukannya karena beliau meyakini bahwa tidur siang adalah obat dari kelelahan untuk melaksanakan tugas yang lebih baik. Demikian banyak catatan observasi saya, sehingga saya menyimpulkan beliau jujur dengan pernyataannya, “Gue masih suka korupsi”, sehingga sangat merasa tidak layak berkarya di institusi pemberantasan korupsi yang tentunya anti korupsi.

Saya suka korupsi dan pasti bukan cinta mati dengan korupsi. Saya masih suka korupsi, karena belum bisa mencontoh teladan para pemimpin pengikut setia Rasullullah yang dengan sadar diri mematikan lampu di rumah dinasnya ketika menerima tamu untuk kepentingan pribadi. Saya masih suka korupsi,  bukan cinta. Tidak seperti para politisi yang kemarin divonis sakit atau rela berpura-pura tak waras, lalu esoknya kembali berpidato dan mengkritik pedas para pihak yang berseberangan dengan kecintaannya. Korupsi.

Saya masih suka korupsi, meski bukan cinta, karena masih belum merasa berdosa membuang-buang kertas dan energi yang dibeli hasil pajak dari negeri. Saya tidak cinta korupsi, hanya masih suka.

Semoga rasa suka ini semakin berkurang menjadi cinta pada waktu dan pada obyek yang benar, dan itu semoga bukan pada korupsi. Karena saya menyadari bahwa kedewasaan, pengetahuan, dan kesadaran memberi pemahaman, sehingga cinta harus dijatuhkan pada obyek yang tepat. Dan sekali lagi, itu bukan korupsi.

Sampai di sini syaraf pujangga saya yang berkata, “andai semua orang sadar bahwa rasa suka masih bisa berubah seiring dengan kedewasaan kita, korupsi seharusnya benar-benar menjadi kata yang harus dijauhkan dari kata cinta”.

Korupsi harus benar-banar diperangi. Bukan berbangga-bangga dengan korupsi, lalu mencintai dan menjadi pendamping diri.

Sampai di sini, lagi-lagi jari ini harus saya hentikan untuk menulis. File lain masih terbuka, masih ada kotak dan lingkaran yang harus saya hubungkan dengan garis lurus dan panah penunjuk. Kemudian memberi warna yang menarik pada tampilan, menonjolkan kata dan pesan,. Tidak lupa saya menyisipkan gambar-gambar untuk mendramatisasi presentasi untuk esok pagi. Saya buat dengan cinta, tidak cukup hanya suka.

 

6 Oktober 2017 pukul 23.01 Waktu Indonesia Bagian Bekasi.

 

 

Hananto Widhiatmoko ▲ Active Writer

ASN di salah satu Instansi Pemerintah Pusat. Peran kesehariannya sebagai pereka ide cerita, gambar, dan warna untuk materi paparan, mewarnai gaya menulisnya yang nyantai tapi dalem banget isinya.

error: