Subuh ini di saat mentari belum beranjak dari peraduannnya, saya berdiri di samping jendela melepaskan pandangan ke halaman depan rumah. Ini memang sering saya lakukan selepas menunaikan shalat subuh menjalankan kewajiban sekaligus melepas rindu kepada Sang Pencipta. Di saat inilah terbersit keinginan untuk menghubungi dan memanggil seseorang yang dulu pernah menjadi rekan kerja saya dan sekaligus membantu dalam proses penulisan beberapa buku yang telah saya terbitkan. Memang kami akhir-akhir ini jarang bertemu dikarenakan kesibukan masing-masing.

Dulu ia sering sekali berpergian bersama saya kemana-mana dan bak seorang  ajudan yang mendampingi saya kemana pun saya pergi. Saat menulis buku beberapa tokoh di daerah dialah yang mendampingi saat  berdiskusi, atau wawancara dengan tokoh-tokoh tersebut. Dia juga sering mengungkapkan kesenangannya dalam hal ini dikarenakan dia sering sekali naik mobil dinas bupati, walikota, atau gubernur. Yang ia bilang sebagai suatu keberuntungan. Saya sangat senang karena meskipun dia disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bersama saya, dia bisa menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan bahkan sekarang ia sedang menjalani proses pendidikan S2 nya.

Di saat telah berbincang “ngalor ngidul” seperti ungkapan orang Jawa, ada satu kalimatnya yang benar-benar membuat saya tertegun sejenak. “Semangat bapak tertular kepada saya”, begitu katanya. Kata yang sangat sederhana namun bagi saya adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Saya tidak pernah menyangka bahwa apa yang saya lakukan selama ini begitu berarti bagi orang lain.

Irwan nama staf saya tersebut. Seseorang yang secara tidak langsung memberikan inspirasi bagi saya untuk selalu bekerja keras, mempunyai komitmen tinggi, dan mengambil pelajaran positif dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang ditemui. 30 menit sebelum keberangkatan saya ke kantor, saya menyampaikan beberapa hal kepadanya. Terutama tentang keinginan saya untuk menulis buku baru lagi. Jawaban yang singkat dan pasti dari Irwan saya dapatkan. “Ok Pak, saya siap membantu”, begitu jawabnya. Di samping itu, obrolan kami juga berlanjut dengan topik rencana saya untuk membuat acara “Meet and Greet Adrinal Tanjung 10 Tahun Berkarya”

Di awal tahun 2017 ini , saya masih teringat dengan jelas buku saya yang berjudul “Anything is Possible” yang terbit bulan Mei 2012 yang lalu. Buku yang memakan waktu hampir dua tahun proses pengerjaannya dan akhirnya terbit juga dengan segala cerita. Di bagian awal buku tersebut saya menulis Prolog “SAAT MEMETIK PASTI TIBA”.

Di awal tahun 2017 ini yang baru berjalan beberapa hari seolah-olah muncul sebuah keyakinan di dalam hati saya bahwa “Saat Memetik Telah Tiba”. Saya tidak tahu apakah ini pertanda akan suatu hal atau malah akan menjadi judul sebuah buku baru saya nanti. Ini mungkin terdengar aneh karena biasanya judul buku itu munculnya belakangan ketika isinya telah selesai dan siap dicetak. Tapi, saya tidak tahu kenapa kalimat yang saya tulis itu begitu ingin saya kembangkan menjadi sebuah buku.

Bagi saya 10 tahun terakhir ini sangatlah berarti karena mengenang masa saya berkarya di bidang tulis menulis selama satu dekade ini sama artinya dengan mengenang banyaknya tantangan, hambatan, dan kendala yang harus saya temui dan hadapi. Di saat-saat seperti itu, pernah terlintas di pikiran saya untuk melempar handuk dan mengangkat bendera putih. Tapi, hal tersebut syukurnya tidak pernah terjadi karena solusi selalu saja datang dan menghampiri di ujung-ujung pengharapan. Sekarang saya bisa membenarkan ungkapan Bob Marley yang berbunyi  “You never know how strong you are until being strong is the only choice you have” itu benar adanya.

 

 

Adrinal Tanjung ◆ Professional Writer

Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku.

error: