Mungkin karena memahami bahwa rezeki bagi setiap orang sudah ditentukan oleh Tuhan sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa seluruh pendapatannya adalah buah dari ketentuan Tuhan. Dengan kata lain kaya atau miskinnya kita saat ini, seolah-olah merupakan hasil rancangan Sang Pencipta, jauh sebelum kita dilahirkan.

Akan tetapi,  pernahkah kita meluangkan waktu untuk sejenak berpikir, bahwa Tuhan tak mungkin berlaku tidak adil seperti itu? Pernahkah kita mencoba merenungkan, bahwa adalah mustahil Tuhan mencintai manusia yang satu dan membenci yang lainnya, sehingga memberinya garis kehidupan yang kontras berbeda?

Bukankah tak mungkin Tuhan menjadikan seseorang yang teramat kaya sehingga bisa membeli apapun yang mereka inginkan? Akan tetapi, di luar dinding temboknya, Tuhan juga menciptakan orang yang teramat miskin hingga terpaksa mengakhiri hidupnya sendiri karena kemiskinan. Tentu Tuhan tidak sekejam itu.

Bumi yang penuh dengan berbagai sumber daya ini sesungguhnya cukup untuk menghidupi manusia seluruhnya. Namun seperti kata Gandhi, ada orang yang serakah, meraup seluruh yang bisa dia rengkuh untuk dirinya sendiri sehingga sumber daya di bumi ini tak cukup untuk semua orang.

Lihatlah kesenjangan sosial kita. Kekayaan empat orang terkaya melebihi akumulasi harta benda seratus juta orang termiskin. Empat berbanding seratus juta. Sulit membayangkan bagaimana keempat orang itu bisa mencapai kekayaan yang setara dengan 100 juta orang. Tetapi begitulah faktanya.

Ketimpangan disribusi yang kita alami adalah buah dari keserakahan sejumlah orang. Ironisnya, tidak perlu ribuan orang serakah untuk merenggut kesempatan hidup layak bagi jutaan orang. Segelintir orangpun cukup, dengan nafsu seluas lautan dan nyali sebesar gunung, jadilah.

Jika keserakahan itu bersemayam di dada orang-orang yang kebetulan berkuasa, maka terjadilah penyalahgunaan kekuasaan yang berujung pada korupsi. Atau jika keserakahan itu memenuhi jiwa orang-orang yang berilmu pengetahuan, maka habislah kesempatan orang-orang polos menikmati kesejahteraan.

Pemahaman bahwa rezeki sudah ditentukan oleh Tuhan harus dipandang sebagai jaminan bahwa Tuhan menjamin rezeki bagi setiap orang. Kepada setiap manusia, bahkan kepada setiap makhluk hidup, Tuhan menjanjikan sumber kehidupan. Tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang terlahir tanpa dibekali dengan jaminan kehidupan. Akan tetapi Tuhan tidak menjamin proses distribusi rezeki itu akan terbebas dari campur tangan manusia jahat, yang nafsunya ditunggangi oleh syahwat dan angkara murka.

Di luar sana ada orang-orang serakah yang tak puas hanya dengan terpenuhinya kebutuhan hidupnya untuk hari ini saja. Ada yang ingin menyimpan untuk hari esoknya, untuk tahun depannya, bahkan untuk anak turunannya kelak. Mereka lupa bahwa orang hidup yang ada di sekitarnya juga memerlukan sumber kehidupan seperti dirinya.

Itulah yang kadang tidak disadari oleh koruptor. Mereka menumpuk harta kekayaan dengan jalan menelikung hak orang lain, melakukan kejahatan jabatan, atau mengelabui hukum. Lalu berpura-pura menampilkan sikap penuh rasa syukur. Seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Mereka tak sadar atau pura-pura tak tahu, bahwa mereka telah menghambat aliran rezeki orang lain. Mereka menggunakan kekuasaan atau kekuatan yang mereka miliki untuk merampas hak orang lain.

Ya, hidup manusia memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Akan tetapi di luar sana ada orang-orang yang memiliki kekuatan untuk mengubah nasib kita. Seperti seorang anak sekolah berprestasi yang seharusnya mendapat jatah beasiswa. Namun terhalang karena kalah bersaing dengan anak pejabat yang punya koneksi di mana-mana.

Jangan bangga dengan keberhasilan yang kita raih dengan cara curang. Jangan bersyukur dengan harta benda yang kita peroleh dengan menjilat atau menyuap. Karena bisa jadi itu bukan rezeki kita. Hanya kebetulan mengalir ke kantong kita karena aksi tipu-tipu yang kita mainkan.

Itulah sebabnya, Tuhan menyuruh kita mencari harta dengan cara yang halal. karena cara halal itu tidak akan menyakiti orang lain. Cara halal itu tidak akan merampas hak orang lain, dan cara halal itu tidak akan membelokkan arah distribusi rezeki orang lain. Dan sesudah memperoleh dengan cara halal, Tuhan masih juga mewajibkan kita untuk berzakat, sebagai bentuk kepedulian kepada orang lain yang tidak seberuntung kita.

Maka pantaslah semakin banyak orang miskin di negeri ini. Karena semakin banyak orang yang  memperoleh harta dengan cara tak halal. Sudah begitu, merekapun masih enggan berbagi. Jika anda termasuk orang yang seperti itu, bisa jadi, rezekiku ada padamu.

 

 

Andi P. Rukka ◆ Professional Writer and Poet

ASN di Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Wajo. Tulisan Andi P. Rukka sangat khas, berusaha mengkritisi ketidakberdayaan sebagian besar birokrat di negeri ini.

error: