Artikel berikut ini merupakan penuturan seorang pegawai pada Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan yang beberapa waktu lalu resmi mengundurkan diri dari PNS. Redaksi mempublikasikan cerita ini untuk menjadi sarana sharing dari pegawai tersebut, menjadi pelajaran berharga kepada para PNS lain yang masih aktif. Bahwa pilihan kita sesungguhnya hanya dua: totalitas bekerja sebagai abdi negara, atau berhenti dari status PNS dan menjalani karir di luar sana. Kata kuncinya adalah “keberanian dan perhitungan”, “Take it or leave it”.

Bismillahirrahmanirrohim
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.
Selamat Siang. Semangat Pagi!

Mohon doanya. Kamis 1 Oktober 2020 lalu saya resmi tidak lagi menjadi bagian dari keluarga besar Kementerian Keuangan. Ada yang mendukung, tapi tidak sedikit yang mempertanyakan, “Berani-beraninya resign di saat kondisi ekonomi tidak jelas begini”. Terkait hal tersebut, saya ingin sedikit bercerita mengenai pengunduran diri ini. Izinkan saya bercerita dalam pointer-pointer ya.

Rencana pengunduran diri yang dipercepat

Mengundurkan diri dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia sudah lama saya rencanakan, tapi tadinya rencana tersebut masih beberapa tahun lagi. Ada kewajiban kontrak ikatan dinas sampai tahun 2022 yang sangat ingin saya penuhi dengan kementerian yang saya cintai ini.

Namun, kondisi pandemi covid-19 membuat saya terpaksa mempercepat eksekusi rencana pengunduran diri saya. Bagi saya, alasannya rasional. Jika sebelum pandemi, usaha yang saya jalani sejak sekitar 8 tahun lalu (BUBBLEKLIN LAUNDRY) ibarat mengarungi laut tenang, di mana kapal tetap bisa berjalan tanpa nakhoda harus terlalu banyak memegang kendali, berbeda dengan saat ini.

Pandemi yang berdampak juga terhadap ekonomi ini membuat sang nakhoda harus lebih banyak berada di buritan. Di lain sisi, workload pekerjaan kantor meski sedang work from home (WFH) jauh lebih berat daripada biasanya.

Bahkan ibu menteri pernah bilang, kurang lebih, “WFH yang berarti kerja dari rumah, berarti siap 24 jam sehari 7 hari seminggu”. Kalau saya sedikit memberikan perumpamaan setelah 3 bulan saya jalani, ketika sebelum pandemi saya menjalankan usaha dengan kaki terikat sebelah, ketika pandemi ini di mana saya juga lebih banyak dibutuhkan di usaha yang saya jalani, saya justru merasa yang terikat adalah kedua kaki.

Selain itu, saya juga merasa tidak enak karena merasa jelas saya tidak akan mampu berkontribusi semaksimal teman-teman lain. Sehingga, pada pertengahan Juni 2020 saya bulatkan tekad untuk mengajukan pengunduran diri secara resmi.

Hormat dan salut

Rasa hormat dan salut saya buat teman-teman, khususnya Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan, dan Kemenkeu pada umumnya, yang begitu luar biasa mendedikasikan dirinya atas dasar abdi dan cintanya kepada negeri ini.

Saya ucapkan terima kasih untuk hari-hari yang luar biasa selama saya bergabung. Terima kasih sudah berbagi ilmu, pengalaman, dan cerita-cerita yang sangat berharga yang banyak memberi saya pelajaran hidup. Terima kasih untuk silaturahmi dan kerjasama yang begitu luar biasa. Mohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya apabila selama saya di kantor, baik dalam hubungan kerja ataupun hubungan pribadi saya melakukan kesalahan dalam lisan maupun perbuatan.

Saya harapkan juga, meski kita tidak lagi satu kesatuan di bawah Kementerian Keuangan, semoga hubungan silaturahmi tetap bisa kita jaga. Kalau kata orang Minang, BAPISAH BUKANNYO BACARAI. Saya juga mohon bapak ibu juga dapat mendoakan saya atas keputusan yang saya ambil ini. Akhirnya, hanya doa terbaik dari saya, semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada kita semua. Sehat, sukses, dan bahagia selalu.

Full Time Laundrypreneur:
Mengundurkan Diri Untuk Bisnis Laundry?

“Ada apa sih dengan bisnis laundry? Berani banget melepas PNS Kemenkeu hanya dengan pegangan bisnis laundry? Di masa pandemi lagi!,” Kira-kira seperti itulah tanggapan orang-orang untuk keputusan saya.

Di bagian ini sebenarnya banyak yang bisa diceritakan. Akan tetapi, lebih baik saya fokus menceritakan apa yang saya jalani selama menjalankan usaha laundry saja, sehingga insyaallah saya yakin, usaha laundry masih sangat menjanjikan..

Alhamdulillah saya dipertemukan dengan bisnis laundry, bisnis yang bisa berjalan tanpa perlu owner terlalu banyak berada di bisnis tersebut. Karena keterbatasan kesempatan, saya biasanya berkunjung ke outlet/workshop hanya 2 minggu sekali, bahkan bisa 1 bulan sekali.

Tentunya bisnis bisa berjalan tanpa perlu owner terlalu banyak berada di bisnis tersebut ketika sistem sudah berjalan. Di bisnis laundry sendiri, untuk sistem bisa berjalan biasanya butuh waktu internalisasi SOP 1-3 bulan.

Mungkin itulah saat di mana saya sedang “mengasuh bayi”, ketika buka pertama dan setiap kali membuka cabang baru. Karena prosesnya (utamanya laundry kiloan) sangat sederhana, maintain SOP ketika sudah berjalan tidak akan terlalu rumit.

Bisnis laundry sendiri alhamdulillah adalah bisnis yang secara nature bisnis cukup stabil. Selama orang pakai baju, bisnis laundry akan tetap laku, utamanya laundry pakaian sehari-hari (kiloan dan semacamnya).

Jika sebuah keluarga menghasilkan pakaian kotor setiap minggu sebanyak 10 kg dan masuk ke laundry kita, maka jika tidak ada kejadian luar biasa (kecewa, ataupun krisis seperti sekarang), dari keluarga tersebut akan selalu ada 10 kg tiap minggu.

Tinggal menduplikasi revenue profit driver-nya, yaitu dengan menambah konsumen di cabang tersebut sampai “mentok” omzetnya, lalu menambah lagi cabang di tempat lain ketika sudah “mentok” omzetnya juga. Ketika SOP sudah jalan, omzet sudah stabil sesuai kapasitas dan tergetnya, boleh dong saya bilang “lupakan cabang itu, buka cabang baru”.

Sehingga menurut simpulan saya tagline bisnis laundry pakaian harian adalah, “PELUANG BISNIS LAUNDRY: BUKA –  INTERNALISASI SOP (1-3 BULAN) – LUPAKAN – BUKA CABANG LAGI”. Maka, jadilah bisnis laundry termasuk yang bisa menghasilkan profit yang stabil namun tidak terbatas.

Sampai saat ini saya juga belum berhasil (alias masih gagal) memiliki pegawai manajerial, karena keterbatasan kesempatan saya in touch dengan para karyawan. Sehingga, sulit membangun chemistry dan engagement dengan para pekerja bisnis saya. Dan itulah yang mungkin membuat saya buta akan potensi mereka.

Semua karyawan saya sampai saaat ini hanya pegawai operasional, yang ketika ada produksi mereka bekerja. Belum ada inisiatif untuk berkontribusi lebih dari itu. Sehingga, untuk manajerial dari A-Z, masih saya yang handle dengan dibantu istri.

Jadi, untuk kondisi kirisis saat ini di mana bisnis apapun secara umum terpengaruh, memang belum ada orang lain yang bisa bantu saya handle dan me-maintain BubbleKlin Laundry selain saya sendiri.

Dengan kondisi keterbatasan waktu dan tanpa staf manajerial tersebut, alhamdulillah usaha yang saya mulai 8 tahun lalu ini masih mampu berjalan dan bertumbuh walau tidak sepesat teman-teman pengusaha yang waktunya difokuskan di usaha. Meski begitu, saat ini BubbleKlinlaundry sudah memiliki 5 cabang dengan mempekerjakan belasan karyawan.

Meskipun terpengaruh dengan kondisi pandemi dan krisis, alhamdulillah bisnis laundry saya masih berjalan dan profit meski tidak sebesar sebelum pandemi. Tapi itupun dengan kondisi saya belum berbuat apa-apa, melakukan hal-hal yang seharusnya dapat lebih cepat mengembalikannya ke track yang benar (dari awal pandemi covid sampai September 2020 kemarin saya masih masuk kantor).

Jadi, dengan apa yang sudah saya jalani tersebut, tentu tidak salah saya berkeyakinan jika saya fokus di usaha ini, hasilnya tentu akan lebih baik. Insyaallah

Keyakinan dan Motivasi Resign

Sebelumnya sudah saya bahas kondisi riil kantor, dan kondisi riil BubbleKlin Laundry sebagai faktor atas apa yang sudah terjadi yang mendorong saya untuk resign. Di bagian ini saya ingin bercerita tentang apa yang belum terjadi. Mengenai keyakinan, harapan, dan visi sehingga saya memutuskan untuk resign.

Keyakinan (spiritual)

Kalau saya bercerita keyakinan mengundurkan diri dari sisi agama, sepertinya teman-teman akan menertawakan saya. Tapi perlulah sekilas saja saya berkisah dari sudut pandang agama. Sangat banyak ayat di Alquran yang membahas mengenai rezeki.

Saya khawatir agak kurang pas jika saya harus menguraikannya di sini. Tapi inti yang dapat saya simpulkan dan sangat tertanam, berasa, bahkan mengusik diri saya, salah duanya:

  1. Rezeki itu bukan hanya gaji. Jika khawatir kehilangan gaji tetap sebagai PNS, berarti kita menyangsikan firman Allah dalam Alquran.
  2. Bagaimana status gaji dari kantor ketika di jam kerja saya memikirkan apalagi melakukan hal di luar pekerjaan saya. Halal? Insya Allah. Berkah? Wallahua’lam.

Sudah. Itu saja lah.

Perhitungan dan Analisis Risiko

Yang lebih saya ingin ceritakan adalah dari analisis dan risiko secara hitungan kita selaku manusia, sehingga saya membulatkan tekad mengajukan pengunduran diri. Kalau ini semua orang bisa lah membaca dengan rasionya masing-masing.

Tujuan dan alasan jangka pendek saya mengundurkan diri sudah sangat jelas. Nakhoda memegang kendali, dan mengembalikan BubbleKlin Laundry ke jalur yang benar. Saya pun melihat rekan sejawat di komunitas laundry, dengan energi yang luar biasa bisa lebih cepat memulihkan usahanya mendekati normal kembali.

Bahkan ada yang justru buka cabang di saat-saat seperti ini. Hasilnya? BOOM! Tidak terlalu mengecewakan jika dibandingkan kondisi normal. Tapi jika dianggap kondisi ekonomi krisis, pencapaiannya bisa dianggap sangat luar biasa. Hal tersebut yang makin menguatkan saya fokus dan optimis di bisnis ini. Saya semakin yakin bahwa usaha laundry masih sangat menjanjikan.

Berkomunitas dengan rekan-rekan yang berbisnis selain laundry-pun menambah keyakinan saya, bahwa rejeki dagang/bisnis/usaha sendiri asal dijalankan dan dikelola dengan baik, banyak sumbernya dan insyaAllah berkah berlimpah hasilnya.

Harapan jangka panjangnya tentu, jika saya optimalkan semua energi dan waktu yang tadinya terbagi (sebagian besar habis) untuk pekerjaan kantor ke bisnis laundry ini, insyaAllah akan berkembang jauh lebih besar dan lebih baik lagi.

Membangun organisasi dan tim kerja, meningkatkan intensitas kolaborasi dengan pebisnis laundry khususnya dan rekan-rekan lain, merangkul kembali calon-calon partner yang sudah PDKT yang dulu masih saya tolaki karena keterbatasan saya mengelola dan membantu; tentunya menjadi langkah dan PR yang harus saya kerjakan setelahnya.

Turunan bisnis laundry ini pun masih banyak yang potensial untuk digarap. Harapan berikutnya ketika semua sudah berjalan dengan organisasi yang matang, bahkan mungkin saya juga bisa mencoba hal lain yang sudah lama menjadi mimpi dan keinginan saya.

Pada akhirnya dengan mantap saya katakan, dengan alasan-alasan di atas, saya berkeyakinan insyaAllah resign saat ini memang adalah pilihan terbaik. Atas keputusan besar ini, saya ucapkan terimakasih atas dukungan dan doa keluarga: istri, kakak, mama, serta keluarga dan kerabat lain yang mendokan saya.

Bismillah.
Full time laundrypreneur dan bisnis. Siap ngegas ngomset!

7
0

PNS Kemenkeu 1 Desember 2008 s.d 30 September 2020.
Owner BubbleKlin Laundry sejak Desember 2012 s.d. sekarang.
Dapat dihubungi via WhatsApp: wa.me/628999780174

error: