Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya menempuh perjalanan Bandung – Semarang – Solo, dan siang ini saya sudah tiba di Bandung lagi. Sisa-sisa kelelahan perjalanan dari Bandung – Semarang – Solo PP sejak Sabtu malam lalu hingga pagi ini masih terasa.

Sesampai di Bandung tadi pagi sekitar  pukul 09.00 saya langsung tertidur pulas, hingga terbangun menjelang zuhur. Sekitar lima menit menjelang adzan saya menuju ke Mesjid Salman ITB, salah satu mesjid legendaris di Kota Kembang. Usai menunaikan sholat zuhur di mesjid itu, saya berdiam diri di sana hingga 30 menit lamanya untuk menyelesaikan tulisan ini.

***

Mesjid Salman adalah salah satu tempat favorit saya. Biasanya, sambil duduk-duduk di pelataran sisi kanan mesjid, saya kembali merenungi langkah-langkah yang telah saya lalui dan memikirkan bagaimana strategi yang akan saya tempuh di tahun depan.

Sama halnya dengan yang saya lakukan di Mesjid Salman, sepanjang perjalanan Bandung menuju Semarang, saya  juga mencoba mengingat-ingat langkah saya setahun yang lalu. Termasuk menghitung hari ke depan, menuju 28 Januari tahun depan saat usia saya genap 47 tahun.

Kenangan di tahun 2017 satu-persatu hadir kembali, merefleksi diri pada karya-karya yang sudah saya ciptakan. Saya ingat betul pengalaman yang dibagikan oleh Dr. Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas era Kabinet Kerja (27 Oktober 2014 – 12 Agustus 2015), saat menghadiri acara soft launching buku Birokrat Menulis. Beliau berbagi pengalaman tentang jalan yang ditempuhnya menuju istana banyak terangkat lewat buku yang ditulisnya. Kisahnya seolah-olah abadi dalam ingatan saya sebagai pengingat untuk terus menekuni dunia literasi dan seakan berpesan “teruslah berproses, suatu saat kamu akan berada di puncak kesuksesan dengan apa yang sudah kamu lakukan.”

Banyak hal yang sudah saya lakukan di sepanjang 2017 ini. Sebagian sudah tercapai, dan sebagian perlu pembenahan-pembenahan hingga dapat mencapai target. Ada juga yang malah belum sesuai harapan.

Perjuangan di dunia literasi yang sudah saya tempuh selama 10 tahun telah mengantarkan saya hingga sejauh ini. Sebuah perjalanan yang tak mudah untuk dilalui. Namun, saya percaya sesuatu yang diniatkan untuk kebaikan pasti akan senantiasa dimudahkanNya. Saya begitu mempercayai hal itu. Walau umur semakin bertambah, semangat berkarya tak boleh luntur.

Saya berharap awal tahun depan, saya sudah memastikan langkah baru untuk hidup lebih nyaman dan masa depan yang lebih gemilang. Tak mungkin saya menunda-nunda lagi untuk menentukan sebuah keputusan penting dalam hidup saya. Birokrasi yang sulit diprediksi tak perlu saya kuatirkan karena selagi ada karya dimana pun peluang akan senantiasa terbuka. Yang penting tidak pernah berhenti belajar dan berusaha.

***

Di perjalanan  Bandung – Semarang – Solo itu saya menyempatkan membaca beberapa buku.  Di buku Agung Adiprasetyo  berjudul “Menjaga Api” saya menemukan kalimat berikut ini:

“Fokus pada kekuatan yang dimiliki diri sendiri akan mengakselerasi kehebatan untuk mencapai hasil yang maksimal. Sebaliknya, berharap akan mendapatkan sebanyak mungkin hasil dengan melakukan semua pekerjaan tanpa fokus yang jelas, maka yang terjadi adalah kelihatan sibuk tak menentu dan tidak akan menghasilkan apa apa.”

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Agung Adiprasetyo bahwa fokus pada satu hal akan menghasilkan pencapaian maksimal. Kesibukan saya saat ini sedikit banyak menghalangi fokus saya untuk menulis. Sudah saatnya saya harus lebih fokus atas segala kelebihan yang diberikan Yang Maha Kuasa untuk saya, yaitu menulis.

Saya harus memastikan ke mana langkah ini harus menuju di tahun depan agar saya bisa fokus menulis. Kembali mengajar di kampus atau menjadi fungsional widyaiswara, kedua pilihan tersebut  sama-sama membantu saya  untuk bisa fokus menulis. Sepertinya dua pilihan terbaik itu sama-sama menjanjikan di tahun depan. Beberapa kali saya mendiskusikan rencana saya itu kepada teman-teman dan sahabat saya.

Sebuah PTN tempat saya menyelesaikan S1 dulu adalah salah satu pilihan terbaik di tahun depan untuk berkarya. Jalan menuju sana tampaknya cukup terbuka. Namun, tentu saja saya harus mengajukan lamaran sesuai prosedur standar.

Sedangkan untuk pilihan kedua, menjadi fungsional widyaiswara, saya juga telah membangun jalan ke arah sana. Pada pertengahan Mei 2017 lalu sebuah lembaga pemerintah membuka pintunya lebar-lebar untuk saya agar bergabung. Namun, lagi-lagi saya juga harus mengajukan lamaran sebagai prosedur standar untuk bisa bergabung di lembaga itu dan tentu saja saya harus menjalani serangkaian test sebagai persyaratannya.

Di bagian lain beberapa sahabat juga menyampaikan saran agar saya mencoba peruntungan mengikuti bidding eselon 2. Alasannya, saya cukup potensial untuk bisa menduduki posisi prestise tersebut. Sayangnya, hingga akhir tahun 2017 ini  usulan tersebut tak pernah saya hiraukan. Barangkali karena kesibukan yang tak pernah berhenti menyulitkan saya untuk melengkapi berbagai persyaratan termasuk menyiapkan diri secara fisik dan mental untuk bertarung memperebutkan jabatan eselon 2 tersebut.

Hanya sedikit sahabat yang memprediksi saya akan terjun menjadi politisi di tahun politik 2019 atau 2024 sebagai calon anggota legilatif atau calon kepala daerah. Untuk prediksi mereka ini, saya hanya bisa tersenyum tipis. Barangkali tantangan ini juga bisa saya pertimbangkan. Anything is Possible. He..he..he….

***

Dalam hitungan hari ke depan, tahun 2017 akan meninggalkan kita. Apa yang istimewa dari tahun 2017? Apakah banyak hal yang menyenangkan yang tercipta di tahun 2017? Apakah dipenuhi karya dan prestasi? Biasa-biasa saja tanpa prestasi, atau malah tak lebih baik dari tahun 2016?

Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Sudah saatnya kita mengevaluasi. Saatnya kita berhitung. Ibarat perniagaan kita bisa menghitung berapa untung dan rugi di tahun 2017 ini.

Saya yakin tahun 2018 tak akan mudah saya lalui. Namun, saya yakin tahun 2018 akan menghadirkan kejutan baru. Tetap optimis menyambut tantangan di masa depan. Semoga di tahun 2018 saya mampu menghadirkan karya baru yang lebih fenomenal.

Aamiin….

Bandung, Selasa 26 Desember 2017

Adrinal Tanjung ◆ Professional Writer

Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku.

error: