Pagi ini saya tercenung membaca sebuah berita seorang ibu di Jakarta Barat menggelonggong anak balitanya yang baru berusia 2,5 tahun hingga tewas. Alasannya karena stres diancam diceraikan oleh suami gara-gara anaknya kurus. Korban digelonggong air secara terus-menerus hingga perutnya kembung. Tubuh korban yang masih balita itu juga dipenuhi bekas luka lebam. Polisi menyebut luka lebam tersebut adalah luka-luka lama yang mengindikasikan korban tidak hanya satu kali saja dianiaya.

Nyesek saya membacanya. Membayangkan tubuh kecil itu dianiaya oleh orang yang seharusnya paling melindunginya, ibunya sendiri.

Namun demikian, saya mencoba berempati dengan membayangkan berada dalam posisi seperti tersangka. Dia, sang ibu, ialah seorang perempuan yang baru berusia 21 tahun. Pada umur segitu, kebanyakan orang masih berada dalam tahap sibuk kuliah atau awal meniti karir.

Akan tapi tersangka sudah harus menyandang tanggung jawab sebagai seorang istri, menantu, dan ibu dari sepasang anak kembar. Anak kembarnya baru berusia 2,5 tahun. Artinya, ketika menikah usia si ibu kira-kira baru 17-18 tahun.

Sekitar 6 bulan yang lalu korban sempat diasuh oleh mertua yang juga adalah nenek korban. Menurut tersangka, sang mertua sempat membuatnya tersinggung lantaran dianggap membeda-bedakan kasih sayang terhadap kedua anaknya. Sebab, kondisi tubuh korban lebih kurus dibanding dengan saudara kembarnya.

Kalau salah satu anaknya terus-terusan kurus, suaminya mengancam akan menceraikan tersangka. Hal inilah yang membuat tersangka stres dan melampiaskan emosinya pada Si Kecil yang tak berdaya itu. Sungguh suatu efek domino yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Masalah “Berat” Bagi Ibu-ibu

Sesungguhnya ibu ini tak sendirian. Dulu, sejak mengandung anak kedua saya, Fidel, saya bergabung dengan WA Group Gema Indonesia Menyusui (GIM). Grup ini sangat membantu saya terutama dalam hal mempersiapkan diri agar saat bayi lahir nanti bisa menyusui dan mempersiapkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) secara optimal.

Pada praktiknya, tak cuma masalah per-ASI-an dan per-MPASI-an saja yang dibahas di grup ini, tapi juga kesehatan bayi. Di sana juga (kebanyakan) pembahasan berisi curcol ibu-ibu muda. Topik yang paling sering dibahas selain penanganan saat anak sakit adalah tentang berat badan anak.

Ya, berat badan anak terutama saat berusia di bawah 3 tahun adalah “masalah berat” untuk ibu-ibu seperti kami. Apalagi sudah jamak dalam masyarakat kita, jika ada masalah dengan anak, dianggap pasti ibunya yang salah. Anak sakit karena ibu kurang peduli, anak kurus karena ibu malas menyuapi dan kurang kreatif dalam memasak. Anak jatuh karena ibu keasyikan main hape (eh). Pokoknya, semua salah ibu.

Para dokter dan konselor di grup GIM sudah sering mengedukasi tentang cara membaca Kurva Pertumbuhan World Health Organization (WHO) sebagai sarana memantau tumbuh kembang anak. Kurva pertumbuhan menjadi gambaran pertumbuhan anak sehingga kita dapat mengetahui bagaimana pertumbuhan mereka dan mengenali apakah ada masalah atau tidak.

Pada dasarnya, kami para member grup itu sebenarnya sudah mendapatkan pengetahuan dasar yang memadai untuk memantau pertumbuhan anak. Tapi toh nyatanya, ketika di kehidupan nyata ada seseorang yang berkomentar tentang berat badan anak kita dan komentar itu negatif, tetap saja kami jadi panik dan cemas.

Makanya sering sekali pertanyaan yang masuk adalah tentang bagaimana menaikkan berat badan anak, bagaimana menangani anak yang lagi GTM (Gerakan Tutup Mulut) alias gak mau makan, atau apakah wajar anak usia segini berat badannya segitu?

Posyandu Menjadi Momok Tersendiri

Masa-masa itu, jadwal pos pelayanan terpadu (Posyandu) kadang menjadi momok tersendiri. Di desa saya, Posyandu biasanya diadakan pada tengah bulan sekitar tanggal 15-17. Kalau menjelang tanggal itu Fidel mendadak sakit, entah demam atau batuk pilek. Rasanya saya jadi senewen, membayangkan bulan ini grafik berat badannya di kartu KMS bakalan stagnan atau bahkan terjun bebas.

Biasanya jika Fidel hendak berangkat ke Posyandu dengan Budhe yang momong, sampai-sampai saya sering berpesan, “Jangan eek dulu ya Fid, eeknya nanti saja sepulang dari Posyandu. Lumayan bisa menambah timbangan setengah ons.”

Haha… Saat itu kenaikan berat badan meski cuma satu ons saja terasa sangat berarti. Padahal seharusnya saya tak perlu secemas itu. Sebab, saat hamil Fidel si anak kedua, persiapan saya jauh lebih matang dibandingkan saat hamil Fahri si anak pertama dulu. Fidel juga berhasil lulus ASI eksklusif 6 bulan dan baru saya sapih saat usianya 2 tahun.

MP-ASI buat Fidel pun menurut saya lancar jaya. Dibandingkan kakaknya saat seusianya, Fidel juga lebih jarang sakit. Hanya saja, dua anak saya ini sepertinya memang tak punya bakat gemuk saat bayi, kenaikan berat badannya irit banget, kurva pertumbuhannya kadang stagnan, kadang terjun bebas terutama saat sakit.

Tetapi secara garis besar bentuk kurva berat badannya masih berupa parabola meski tak mulus-mulus amat. Berat badan Fidel masih masuk di zona warna hijau yang artinya “zona aman” karena menunjukkan Si Kecil memiliki berat badan cukup atau status gizi baik atau normal.

Dua anak saya, Fidel dan Fahri, juga sering buang air besar (BAB) lebih dari sekali dalam sehari. Pengamatan saya, jika perutnya kenyang, hampir pasti mereka berdua akan segera BAB. Fahri pun, meski tak lagi ikut Posyandu, tetapi sekolahnya rutin mengadakan screening kesehatan.

Meskipun tampaknya kurus, berat dan tinggi badan Fahri masih masuk zona normal untuk anak seusianya. Nafsu makannya baik, sehari bisa makan 4-5 kali dan mau makan sayur. Anaknya juga sehari-hari semangat beraktivitas.

Mom’s War

Secara teori, seharusnya tak ada yang perlu saya cemaskan. Secara mental, saya juga masih punya pendukung: suami yang tak banyak menuntut, teman senasib sepenanggungan di grup GIM yang siap menampung keluh kesah saya, dan para ahli yang siap memberi saran medis untuk masalah kesehatan anak kami.

Tapi nyatanya saya kadang didera kecemasan, terutama ketika ada yang berkomentar:

“Kok anakmu kurus?”

“Kok kayaknya kamu nggak tambah gede to, sakjane kowe ki diopeni opo ora karo ibukmu?”

Rasanya MAK JLEB. Terlebih ketika sedang dibanding-bandingkan. Apalagi kalau dalam perbandingan itu, posisi kita selalu berada di bawah. Uuugh… rasanya pedih, Jenderal! Gimana coba perasaanmu, kalau habis curcol sedang sedih karena bobot anak cuma naik 2 ons terus temanmu berkomentar:

“Kalo anakku, baru usia berapa bulan bobotnya sudah segini, kemarin ditimbang naik 2 kilo.”

Ada juga yang bangga:

“Nih, anakku pinter. Minumnya sehari habis susu 10 botol.”

Jian kok, ibu-ibu di Indonesia ini memang paling jago berkompetisi. Semuanya dijadikan bahan perlombaan. Dari soal melahirkan lewat spontan atau sectio caesaria (SC), kenaikan berat badan anak, sampai berapa liter susu yang dikonsumsi bayi-bayinya pun bisa dijadikan bahan kompetisi untuk menentukan siapa ibu dan anak terbaik. Makanya itu yang namanya Mom’s War akan selalu ada.

Sedihnya, komentar-komentar pahit seperti ini seringnya datang dari orang-orang terdekat yang seharusnya mendukung, yang kebanyakan ya sesama perempuan. Entah itu ibu kandung, ibu mertua, nenek, saudara, tetangga, atau teman.

Tak banyak orang memiliki telinga yang tebal dan hati yang lapang untuk cuek dan tak menelan mentah-mentah semua komentar negatif yang masuk. Kebanyakan berakhir menjadi depresi, terpendam, lalu semakin tertekan karena tudingan kurang imanlah, caper-lah, lebay-lah yang akhirnya meledak dan berakhir dengan peristiwa tragis.

Jangan Remehkan Depresi Ibu Muda

Kembali soal si ibu yang diceritakan di kabar berita. Dia, ibu muda yang baru lulus SMA, yang menikah muda dengan alasan dan kesiapan entah seperti apa, yang begitu punya anak langsung diberi anak kembar, ditambah permasalahan ekonomi juga tekanan pihak luar.

Suami yang seharusnya menjadi suporter utama malah menambah tekanan dengan ancaman perceraian. Jalan pintas “menggemukkan” badan anak dengan menggelonggong air jelas bukan ide yang lahir dari sebuah mental yang sehat.

Rasanya juga baru kemarin ramai di media massa seorang ibu di Bandung membunuh bayinya yang baru berusia 3 bulan. Apalagi sebabnya kalau bukan depresi. Frustasi karena tuntutan yang tinggi dari lingkungan sekitar untuk menjadi ibu yang sempurna, atau setidaknya dianggap sempurna.

Data WHO sendiri menyatakan bahwa depresi akan menjadi beban penyakit kedua tertinggi di dunia pada 2020 mendatang. Depresi merupakan kondisi yang sangat serius dan tak bisa diremehkan begitu saja. Dilansir dari psycholgytoday.com, depresi dua kali lipat lebih banyak dialami wanita daripada pria.

Epilog

Kejahatan tetaplah kejahatan, tak perlu dinafikan karena ketidaktegaan. Akan tetapi, setidaknya kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari “Kaum Nyinyir” yang menambah beban mental manusia lain. Kita bisa memilih untuk tak mengambil peran dalam peristiwa buruk yang merupakan efek domino dari ucapan dan sikap kita.

Saya yakin bahwa setiap ibu punya ladang perjuangannya masing-masing. Hanya saja kita tak tahu perjuangan apa saja yang sudah dilakukannya untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya, lebih-lebih jika dipandang dengan kacamata sudut pandang kita yang sempit. Sebagai sesama ibu dari anak-anak belia, pesan saya, “Kalau tidak bisa membantu atau memberi solusi, lebih baik diam saja. Jangan turut serta membuat depresi bagi mereka”.

2
0

Berdinas di Inspektorat Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Penulis adalah ibu dari seorang putra dan seorang putri yang senang menulis sejak kuliah di STT Telkom Bandung.

error: