Kemarin sore, Jum’at, 20 Januari 2017, saya tengah berada di ruang tunggu kantor Pusat Universitas Negeri Surabaya. Ada jadwal rapat yang akan saya ikuti, namun ruangan Wakil Rektor I masih dipakai untuk rapat kegiatan akademik yang lain. Di seberang sofa tempat saya duduk  saya ada segerombol mahasiswi yang sedang menunggu juga. Wajah mereka terlihat kusut dan galau. Tak lama kemudian bu Ratih, Kepala BAAKPSI keluar menemui mereka. Ternyata sekelompok mahasiswi ini tengah mengalami kesulitan mengurus syarat-syarat kelulusan. Saya nguping saja. Dari percakapan bu Ratih dengan para mahasiswi tersebut, saya menangkap kesan adanya perbedaan ketentuan yang berlaku di fakultas mereka dengan di pusat. Alhasil mereka belum memperoleh bukti kelulusan.

Ingatan kilat saya melayang ke para mahasiswa saya sendiri di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Saya cukup tahu syarat-syarat kelulusan, karena memang berkas mereka akan bermuara di meja saya untuk ditanda-tangani. Saya cukup lega karena fakultas di mana saya bernaung menggunakan syarat-syarat yang persis sama dengan yang di Pusat. Meski itu tidak berarti mahasiswa saya tidak galau. Proses mengejar tanda-tangan dosen penasehat akademik, pembimbing dan penguji skripsi, dan perjalanan bolak-balik ke kampus Ketintang dan kampus Lidah Wetan cukup menguras emosi. Kebetulan kantor pusat ada di Ketintang, sementara Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ada di kampus Lidah, yang berjarak sekitar 30 menit bila tidak macet.

Masalah layanan publik selalu menarik diperbincangkan. Dalam setiap urusan yang saya lakoni, praktis layanan publik ini menjadi trending topic untuk saya amati dan catat. Mulai mengurus pembayaran pajak kendaraan bermotor, SIM, layanan rumah sakit, layanan di supermarket, sampai servis mobil di bengkel resmi.

Saya banyak berpikir tentang gagasan-gagasan dan langkah-langkah yang telah, sedang, atau akan saya ambil dalam tugas saya sebagai dosen dengan tugas tambahan sebagai Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Harus saya akui bahwa cara pandang saya banyak sekali dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu, terutama saat berkesempatan studi lanjut di luar negeri. Pengalaman selama studi S2 di Texas dan S3 di Melbourne, Australia cukup banyak membentuk cara pandang saya tentang layanan publik. Layanan prima dan humanis seringkali bisa kita rasakan di banyak tempat di negara-negara maju. Setidaknya buat saya, layanan akademik dan nonakademik di kampus dan di ranah publik patut diacungi jempol.

Pengalaman-pengalaman menarik seperti ini sayang dilewatkan begitu saja. Dalam banyak catatan harian saya di blog pribadi saya, ternyata cukup banyak hal yang saya  tulis terkait layanan publik. Saya juga punya hobi mengumpulkan brosur-brosur terkait informasi prosedur layanan di berbagai tempat dan kepentingan. Saya pikir suatu saat akan ada gunanya.

Tentang orientasi layanan publik, saya punya kisah singkat. Ketika baru saja pelantikan menjadi Ketua Jurusan, saya menolak gagasan beberapa teman untuk memasang spanduk ucapan selamat untuk dipasang di depan kantor. Sebagai gantinya, saya menyarankan X-Banner dengan tagline “We’re Ready to Serve You.”  Dalam benak saya, para pengelola jurusan memang akan memberikan layanan kepada mahasiswa dan pihak lain yang memerlukan. Tagline ini ternyata ditanggapi berbeda oleh beberapa teman. ‘Saya nggak setuju bu Tiwik. Kita bukan pelayannya mahasiswa. Nanti mereka ngelunjak.” Nampaknya kata ‘melayani’ ini sendiri multiinterpretatif. Dalam perjalanan saya mengawal jurusan selama setahun ini, ternyata perbedaan persepsi tentang bagaimana memberikan layanan prima kepada banyak pihak (mahasiswa, dosen, pihak mitra) punya potensi besar dalam memperoleh apresiasi, membangun hubungan interpersonal yang lebih sehat, atau sebaliknya penyebab konflik personal.

Bagi saya pribadi, pernak-pernik dalam keseharian saya sebagai dosen dengan tugas tambahan Ketua Jurusan  adalah bagian dari dinamika sebuah institusi atau organisasi yang harus dikelola dengan baik. Itulah sebabnya catatan harian menjadi sentral fungsinya. Sebagai dosen sastra, menulis sudah menjadi kewajiban untuk dilakukan dan diajarkan ke mahasiswa. Tugas struktural seperti Ketua Jurusan otomatis menempatkan saya dalam lingkaran birokrasi. Dengan demikian birokrat memang harus menulis.

Bila Anda bertanya: “perlukah kita menulis tentang kegiatan sehari-hari, terutama yang terkait dengan pekerjaan atau profesi kita?” Jawabnya: MAHA PENTING. Banyak sekali waktu yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berpikir. Berpikir tentang apa yang orang lain katakan, apa yang kita baca, apa yang kita alami, apa yang kita pikirkan dan bagaimana pikiran kita berubah dari waktu ke waktu. Proses berpikir ini terjadi di kantor, kampus, sekolah, pasar, rumah, dan di mana saja. Proses berpikir ini tidak seharusnya hanya dibiarkan berkecamuk di benak kita saja. Refleksi terhadap apa yang kita alami dan lakukan diperlukan agar kita dapat lebih kritis terhadap diri sendiri. Dengan demikian langkah yang kita ambil memperoleh justifikasi yang bijak.

Dalam bahasa pembelajaran bahasa, tulisan semacam ini kita sebut sebagai tulisan reflektif. Kata refleksi sendiri pada dasarnya mengacu pada bentuk respon personal kita terhadap peristiwa, situasi, pengalaman atau informasi baru. Dalam proses reflektif ini proses berpikir bertemu dengan proses belajar. Dengan demikian tidak ada cara khusus yang dianggap benar atau salah dalam melakukan refleksi. Yang ada hanya pertanyaan-pertanyaan untuk dieksplorasi.

Diyakini bahwa proses berpikir meliputi berpikir reflektif dan kritis. Keduanya tidaklah terpisah, namun amat berkaitan satu sama lain. Model di bawah ini mungkin dapat menjelaskan proses berpikir reflektif.

Proses Berpikir (diadaptasi dari Mezirow 1990, Schon 1987, Brookfield 1987)

 

Gambar di atas menunjukkan bagaimana proses berpikir reflektif dimulai dari kita sendiri. Sebelum kita mulai menilai perkataan dan gagasan orang lain, kita perlu mengidentifikasi dan ‘mempertanyakan’ pikiran kita sendiri. Lalu bagaimana caranya?  Pengalaman di masa lalu dan pengetahuan kita tentang topik yang kita hadapi menjadi bagian penting. Kita harus menengok kembali keyakinan, nilai, sikap, dan asumsi kita, yang kesemuanya menjadi dasar pemahaman kita akan sesuatu.

Berpikir reflektif membutuhkan kemampuan untuk mengenali bagaimana pengetahuan yang kita punya selalu kita bawa dalam tiap pengalaman kita. Proses ini membantu kita melihat keterkaitan antara apa yang sudah kita ketahui dan apa yang sedang kita pelajari. Dengan kata lain, berpikir reflektif merupakan satu sarana untuk menjadi pembelajar yang aktif dan kritis.

Di sinilah diperlukan kebiasaan menulis. Tentang apa saja yang kita alami. Tidak ada yang tidak terlalu penting untuk ditulis. Sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa ketika ditulis. Sejauh yang saya tahu dan rasakan, tulisan reflektif—baik tulisan sendiri maupun orang lain—selalu dapat memberikan pencerahan karena memberikan kita kesempatan untuk berdialog dengan diri sendiri.

Lalu apa hubungannya dengan birokrat menulis? Dunia kita semakin penuh dengan informasi dari ratusan sumber. Sementara itu, dunia juga terasa berjalan lebih cepat. Tagihan tugas datang tanpa henti. Belum lagi friksi dengan teman kerja, atasan atau bawahan mewarnai dinamika kehidupan kita. Seringkali kita merasa kekurangan waktu untuk mengolah dan mengendapkan informasi yang kita dapatkan karena saking cepatnya dunia bergerak. Itulah sebabnya saya meyakini bahwa kegiatan menulis memberikan kesempatan pada saya untuk bergerak lebih lambat. Dengan demikian proses kontemplasi dapat terjadi.

Tulisan reflektif adalah respon kita terhadap apapun yang kita alami. Model tulisan seperti ini memberikan kita kesempatan untuk memahami diri sendiri, memaknai apa yang kita alami/pelajari, dan mengeksplorasi proses berpikir/belajar kita. Dengan demikian kita akan mampu memperoleh pemahaman tentang apa yang kita alami dan pelajari secara lebih gamblang dan mendalam.

Melihat tujuannya, maka tulisan reflektif tidak hanya sekedar menyampaikan infomasi, deskripsi, atau argumen tentang sesuatu. Tulisan reflektif juga bukan untuk memberikan penilaian benar salahnya sesuatu, atau memberikan penyelesaian sebuah masalah. Dengan demikian tidak ada bentuk tulisan reflektif yang standar.

Kalau begitu, apa yang dapat kita tulis dalam tulisan reflektif? Misalnya Anda sedang mengikuti workshop atau penyegaran yang terkait dengan pengembangan profesionalisme, maka Anda dapat menulis tentang hal-hal berikut:

  • Persepsi Anda tentang pelatihan dan materi yang Anda dapatkan.
  • Pengalaman, gagasan dan pengamatan yang Anda miliki sebelumnya, dan bagaimana hal-hal tersebut berkaitan dengan pelatihan dan topik yang dibahas.
  • Hal-hal yang menurut Anda membingungkan, menyulitkan, menarik, mencerahkan. Jelaskan mengapa Anda merasakan hal itu.
  • Pertanyaan-pertanyaan yang Anda miliki.
  • Bagaimana Anda memecahkan masalah, menarik simpulan, menemukan jawaban, dan/atau memperoleh sebuah pemahaman dalam proses pembelajaran di pelatihan tersebut.
  • Berbagai kemungkinan, spekulasi, hipotesis atau solusi yang muncul.
  • Interpretasi atau perspektif alternatif atau berbeda yang  sudah pernah Anda miliki atau baca dalam buku.
  • Perbandingan dan keterkaitan antara apa yang tengah Anda pelajari dengan pengalaman, pengetahuan, dan asumsi sebelumnya, berdasarkan pelatihan-pelatihan sebelumnya atau dari disiplin lain.
  • Bagaimana ide-ide baru yang Anda peroleh dalam pelatihan tersebut menantang atau mengubah hal-hal yang selama ini Anda ketahui.
  • Gagasan apa yang ingin Anda pikirkan lebih dalam sebagai langkah berikutnya.
  • Aksi apa yang ingin Anda ambil sebagai langkah berikutnya.

Mari kita berproses menjadi pembelajar yang aktif dan kritis dalam peran apapun yang kita lakoni. Mari menulis reflektif! (Surabaya, 21 Januari 2017).

 

 

Pratiwi Rednaningdyah ▲ Active Writer

Pegiat literasi dan sehari-harinya merupakan dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris pada Universitas Negeri Surabaya, Tulisan-tulisannya yang selalu bertemakan “literasi” membuka cakrawala berpikir para pembacanya.

error: