Oleh: ADRINAL TANJUNG*

 

Baru baru ini kita dihebohkan dengan pernyataan calon gubernur DKI Jakarta yang juga Gubernur petahana yaitu Bapak Basuki Tjahaya Purnama terkait kutipan sebuah ayat dalam Al Quran yaitu Surat Al Maidah 51. Pernyataan ini kemudian berbuntut panjang yang kemudian berujung menjadi kasus penistaan agama yang masih diproses di pengadilan hingga saat ini.

Namun tulisan ini tidak membahas terkait hal tersebut. Hanya mencoba mengingatkan kita semua,  akan pentingnya bertutur kata yang baik. Kata kata baik akan menyelamatkan kita baik hari ini maupun di masa yang akan datang. Hal ini seperti yang dilansir oleh Dale Carnegie yang mengatakan kata-kata baik yang Anda ucapkan hari ini, mungkin esok hari Anda sudah lupa, tetapi si penerima akan mengingatnya seumur hidup.

Pemilihan kata yang baik dan bijak akan menghindarkan diri kita dari segala keburukan yang ditimbulkan dari orang lain yang mendengar ucapan kita. Walaupun lidak tak bertulang, namun ia bisa lebih tajam daripada pedang. Lidah pun lebih panjang daripada jalan. Maka dari itu, berhati-hatilah dengan lidah (kata-kata).

Kata yang menyejukkan akan mendorong seseorang tergerak hati melakukan perubahan. Sebaliknya, kata-kata kasar dan tak mengenakkan hati hanya akan menjadi duri. Ia akan teringat dan terngiang dalam ingatan sampai kapan pun. Kebencian pun menjadi hal yang tak terhindarkan. Ketika kebencian telah terpatri dalam diri seseorang, maka yang akan muncul adalah kekerasan dan kerusakan.

Kata atau ucapan yang buruk juga akan mempengaruhi alam bawah sadar manusia. Alam bawah sadar merupakan cikal bakal dari laku kita. Maka jika alam bawah sadar terlukai oleh kata-kata buruk, ia pun akan berperilaku menyimpang. Pasalnya, kata merupakan ucapan sekaligus doa. Artinya, apa yang kita ujarkan merupakan bagian dari pengharapan kita kepada Tuhan. Tuhan pun akan mengamini apa yang kita ucapkan.

Maka dari itu, sudah selayaknya, kata yang meluncur dari lidah, selayaknya menyembulkan semangat dan menggerakkan alam bawah sadar menuju pribadi yang unggul. Apa susahnya mengeluarkan kata bijak nan baik. Jika kita tidak mampu berkata baik, ada baiknya diam. Inilah yang kemudian memunculkan istilah “diam itu emas”. Diam akan menjadi emas ketika kita tidak mampu mengujarkan kebajikan. Namun, jika mampu berbuat baik dan menularkan kebajikan itu, maka diam bukan berarti emas. Kebajikan harus terus diujarkan dan diajarkan. Ketika kebajikan atau kejujuran tidak diajarkan, maka dunia akan dipenuhi oleh keburukan dan kebohongan.

Kata-kata bijak selayaknya menjadi mantra kehidupan. Artinya, kata bijak sudah selayaknya menjadi kebiasaan setiap manusia. Ketika hal tersebut telah menjadi kebiasaan, maka akan semakin banyak manusia bersemangat dalam mengarungi samudera luas kehidupan.

Kata bijak pun akan menjadi senjata ampuh menghadapi keangkuhan dan rumitnya kehidupan. Kata bijak menjadi tameng bagi kita dalam menghadapi kegalauan. Dengan kata kata bijak maka bisa membangkitkan semangat. Seseorang akan senantiasa, terbangun dan tergerak untuk memulai hal baru jika menghadapi masalah.

Semua itu dapat dilakukan jika setiap diri kita mampu menularkan kaidah kehidupan melalui kata-kata lembut, menyentuh dan menyejukkan, serta mengusik alam bawah sadar untuk senantiasa terbangun menatap masa depan yang lebih cerah.

Kata memang mudah kita ucapkan. Kemudahan inilah yang selayaknya kita jadikan senjata untuk berujar kebaikan tanpa harus menyakiti hati atau perasaan orang lain. Pemilihan kata yang baik dan bijak akan menghindarkan diri kita dari segala keburukan yang ditimbulkan dari orang lain yang mendengar ucapan kita.

 

*) Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan Kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan Bandung. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku, diantaranya Panduan Praktis Menyusun SOP Instansi Pemerintah, Anything is Possible, Birokrat Move On, Putar Arah Sekarang Juga dan beberapa buku profil Kepala Daerah.

Adrinal Tanjung ◆ Professional Writer

Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku.

error: