Revolusi mental dan revolusi industri, dalam judul besar di atas, sesungguhnya berkaitan satu sama lain. Sebab, keduanya sama-sama membahas mengenai revolusi. Pada dasarnya revolusi adalah sebuah perubahan besar yang terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang, revolusi itu tengah terjadi.

Sesuatu yang dulunya butuh proses waktu yang lama, kini menjadi serba “instan” dan sangat mudah dijumpai. Fenomena ini adalah bagian dari revolusi, sesuatu yang tidak akan bisa dipisahkan dari manusia zaman now. Bagi manusia zaman now, jika tidak berevolusi, maka hidup akan menjadi biasa saja dan tidak ada artinya.

Mari kita bandingkan bagaimana kehidupan manusia pada 10 atau 20 tahun yang lalu dengan sekarang, tentu akan terasa sekali perbedaannya. Hal ini terjadi karena revolusi itu sendiri terus berkembang melalui banyaknya hal baru yang diciptakan manusia untuk mempermudah kehidupannya. Manusia modern dengan revolusinya menginginkan sesuatu yang mudah, terjangkau, tetapi tetap berkualitas.

Revolusi Mental

Mari kita mengupas mengenai revolusi yang dikumandangkan oleh pemerintah. Revolusi yang pertama digaungkan adalah revolusi mental. Mental berkaitan dengan batin dan watak manusia.

Dalam revolusi mental ini kita sebagai manusia diarahkan untuk mengubah apa yang ada dalam di diri kita sendiri, seperti sikap, karakter, akhlak, dan pemikiran agar menjadi lebih baik dan lebih beradab. Revolusi mental akan berhasil apabila kemauan untuk berubah berasal dari dalam diri kita sendiri.

Jika revolusi mental tidak berhasil, maka akan semakin sulit bagi kita untuk dapat menghadapi revolusi jenis kedua, yakni revolusi industri 4.0.

Program revolusi mental di Indonesia sempat berantakan saat berlangsungnya proses pemilihan umum (pemilu) tempo hari. Di antara beberapa tahapan pemilu tersebut, pemilihan presiden (pilpres) menjadi momentum yang paling menimbulkan rasa miris. Saat itu, betapa banyak dari masyarakat kita yang memperlihatkan sikap dan karakter yang bukan asli Indonesia. Sebuah karakter yang masih jauh dari cita-cita revolusi mental di Indonesia.

Hal itu ditandai dengan sengitnya “permusuhan” di antara mereka yang berbeda pilihan pasangan calon (paslon) presiden. Sikap yang tidak selaras banget dengan revolusi mental ialah ketika mereka dengan mudahnya berkata kasar, mencaci, menghina, dan memfitnah paslon lain dan pendukungnya, tidak hanya di media sosial tetapi juga di media elektronik seperti televisi. Sungguh sikap dan karakter yang sangat mengganggu keharmonisan relasi sosial yang sudah lama terjaga baik. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa revolusi mental sedikit terganggu dengan adanya pemilihan presiden.

Padahal di sisi lain, pemilihan presiden adalah sebuah tantangan untuk melatih revolusi mental seorang warga negara. Apakah ia mampu untuk menghargai, atau malah dengan mudahnya menghina pilihan orang lain yang berbeda dengannya. Pada kasus ini, jika ada pertanyaan di mana letak hasil revolusi mentalnya? Mungkin hanya mereka (para pencaci dan para penghina) yang bisa menjawabnya.

Revolusi Industri

Beralih kepada revolusi industri 4.0. Revolusi industri generasi keempat adalah segala sesuatu yang bersifat ‘membuat nyata’ suatu imajinasi, seperti adanya supercomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, dan masih banyak lagi hal lainnya.

Salah satu ciri yang menonjol dalam revolusi ini adalah mudahnya seseorang mengakses internet. Hampir setiap orang kini memiliki gadget yang dapat dengan mudah mengakses berita maupun sesuatu yang penting di internet.

Maraknya penggunaan media sosial adalah salah satu imbas dari revolusi industri 4.0. Komunikasi dan aliran informasi dari seluruh penjuru dunia menjadi semakin cepat bermutasi melalui media sosial dengan bantuan teknologi (gadget dan internet).

Kondisi ini menuntut manusia zaman now untuk mampu memahami dan menguasai penggunaan teknologi, karena teknologi adalah bagian penting dari revolusi 4.0 itu sendiri.

Di tengah derasnya revolusi industri 4.0, manusia zaman now juga harus bisa beradaptasi. Yang dimaksud beradaptasi bukan hanya mengenai kemampuan penggunaan gadget semata, tetapi juga memiliki adab dalam penggunaannya.

Kaitan Keduanya

Revolusi industri 4.0 akan berjalan baik jika mental para manusianya juga telah baik. Oleh karenanya, manusia zaman now sebaiknya bisa lebih mampu menjaga etika, misalnya jangan memaki di media sosial. Sebaliknya, jadikanlah media sosial untuk bertegur sapa dengan baik. Jika ada masalah jangan dibesar-besarkan.

Namun, yang terjadi sekarang netizen sangat mudah sekali menyindir, baik sindiran halus atau sindiran yang keras (menghina). Seolah-olah, konflik yang sedang terjadi hanya berlangsung di dunia maya semata, padahal imbasnya bisa berdampak pada kehidupan nyata.

Potret media sosial menjadi negatif karena manusianya menggunakannya dengan tidak bijak. Jika manusianya tidak bijak, maka dapat dipastikan mentalnya juga tidak cukup baik. Artinya, revolusi mental pada diri seseorang tersebut juga belum tertanam secara baik.

Lalu bagaimana mungkin kita mampu menghadapi revolusi industri jika mempunyai mental yang buruk. Sebab, revolusi industri 4.0 menuntut kita agar lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak secara lebih bijaksana.

Untuk itu, langkah pertama untuk kembali pada jalur revolusi mental adalah dengan memperbaiki terlebih dahulu sikap dan karakter kita yang belum baik. Setelah itu, barulah kita akan siap menghadapi revolusi industri 4.0.

Epilog

Jika kita ingin survive dalam revolusi industri 4.0, maka kita semua harus mempunyai keinginan untuk terus belajar tentang segala hal terkait revolusi industri 4.0. Syaratnya, kita mesti dapat mengendalikan mental. Paling tidak, kita bisa memulai dari salah satu sikap paling sederhana tapi penuh makna. Yaitu, tidak merendahkan orang lain, menjaga etika, dan bijak menggunakan media sosial.

Salam Revolusi Mental!

 

 

 

3
0

Penulis adalah peraih penghargaan Golden Generation 2017 dan Wisudawan Berprestasi 2018 IAIN SNJ Cirebon. Selain itu, merupakan Pegiat Komunitas NUN (Niat Untuk Nulis)

error: