Namanya Pak Imam. Anak-anaknya sudah besar. Dia sendiri sudah tidak bekerja sejak lima tahun lalu karena pernah jatuh akibat stroke. Sebenarnya sekarang sudah bisa beraktivitas kembali, hanya saja memang tidak setangguh dulu. Keluarganya berpikiran lebih baik Pak Imam istirahat di rumah saja. Ini bentuk kasih sayang dan penghormatan atas posisinya sebagai pemimpin rumah tangga.

Sebagai lelaki, harga dirinya tinggi. Namun, ia juga tak kuat memaksakan diri. Maka, jalan tengahnya adalah dia tidak mau merepotkan keluarganya. Pikiran waras hampir semua orang tua lurus.

Jika ditawari sesuatu, dia akan menolak. Jika dipaksa, maka pilihannya adalah baju putih. Maka, benda dan perkakas oleh-oleh yang dihadiahkan anak istrinya adalah baju putih. Setiap waktu, kapanpun itu.

Suatu ketika, dia meminta baju putih. Tidak seperti biasanya. Sebelumnya dia tidak pernah berinisiatif meminta, yang ada hanyalah menerima saja pemberian sanak keluarga.

“Besok belikan aku baju putih ya.”

***

Keputusan telah ditandatangangi. Tersurat jelas di sana. Dia harus berangkat ke Sibolga. Laiknya kawan-kawannya yang lain, itulah kewajiban yang harus dia tunaikan selepas tiga tahun menikmati hak belajar tanpa dipungut biaya. Perintah itu adalah perintah negara. Sebagaimana fasilitas negara yang telah ia nikmati selama masa pendidikan.

Sebenarnya dia mendambakan kuliah di kampus reguler saja. Bisa menengguk mata kuliah filsafat, beradu argumen dalam kegiatan mahasiswa, dan belajar demo yang sering diinisiasi organisasi ekstra kampus. Namun kemewahan itu haruslah ‘dibayar’ juga dengan biaya yang tidak sedikit. Padahal pas, seminggu sebelum kelulusan masa SMA-nya, bapaknya ambruk setelah seharian naik motor mudik ke luar kota dan minum secangkir kopi panas.

Maka, diputarlah otak. Tak bisa dia menggantungkan harapan pada orang tua untuk membiayai harapan sekolah pasca SMA-nya. Jalan satu-satunya adalah mencari pembiayaan lain. Dicarinya kampus yang memberikan pembiayaan penuh. Dan tepat sekali, otak encernya jadi senjata mengalahkan ribuan pesaing untuk menduduki kursi sekolah calon ambtenaar.

Tidak sesuai harapannya, tapi apa di kata, hidup memang kadang tidak selalu sesuai dengan apa yang dimau.

Di kampus plat merah ini, apa-apa dibatasi. Sama sekali berbeda dengan kampus plat kuning. Mulai dari pakaian yang harus dikenakan selama proses perdidikan, mata kuliah yang harus dikonsumsi, hingga ‘tata laku’ yang harus dijalani dan dipatuhi. Termasuk nilai yang harus dicapai dan masa studi yang harus ditempuh.

Berani melanggar? Pulang cepat taruhannya. Dipaksa balik kampung saat teman-teman yang lainnya masih harus lanjut belajar.

Tampak menyedihkan? Sebenarnya tidak juga.

Jika tahu euforia nama kita ada di senarai yang diterima masuk berkuliah, rasanya bagai orgasme di malam pertama: puas dan bikin wajah berseri-seri. Itu masih yang dirasakan si anak, belum orang tuanya.

Buat orang tua yang bersangkutan, berita itu semacam penganugerahan medali kampiun juara piala dunia. Bukan, itu terlalu berlebihan. Semacam tembus lotre togel yang dimenangkan para buruh dengan gaji di bawah UMR. Senang bukan kepalang. Sampai-sampai perlu menceritakan ke seluruh penduduk kampung di mana dia tinggal.

Bagaimana tidak? Belum mulai kuliah saja, pengumuman diterima di kampus plat merah itu sudah semacam kesuksesan orang tua dalam mendidik anak. Selain memang bukti kejeniusan si anak, bayangan beban berat menguliahkan anak tiba-tiba hilang begitu saja.

Buat seorang anak, dengan berhasil masuk di kampus plat merah ini saja, seperti tuntas sudah cita-cita mulia nan klise seorang anak pada umumnya: “Membahagiakan dan meringankan beban orang tua.”

Maka, sebelum keberangkatannya ke kampus untuk melaksanakan hari pertama perkuliahan, dia berpamitan pada bapaknya. Tampak haru dan bangga dari air muka bapaknya, meski hanya dengan duduk tanpa kuat mengantarkan hingga pintu depan menjelang masa perantauan panjang di tempat nun jauh di sana.

***

“Empat belas miliar ini angka besar. Harus ada tindakan penagihan. Jika ditelusuri, sudah nunggak selama dua tahun!”

“Tapi pak, prosedur sebelumnya apa sudah dilakukan?”

“Sudah. Surat teguran juga sudah dilayangkan.”

Suasana ruangan itu tiba-tiba hening. Seisi ruangan semacam sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya yang memang harus ditempuh, sekaligus paling berisiko.

“Mau tidak mau harus saya tugaskan pegawai kita untuk mengantar surat paksa penagihan. Nanti mohon ada yang mendampingi.” tutup Kepala Kantor.

***

“Enam puluh enam ribu rupiah.” terbilang angka di tiket yang kupegang sambil kubaca dengan kondisi agak goyang laut.

Perjalanan ini biasanya memakan waktu delapan sampai sepuluh jam. Berangkat dari Pelabuhan Sibolga dan berhenti di Pelabuhan Gunung Sitoli. Esok pagi jam tujuhan berlabuh, jika sesuai jadwal.

Kutengok penumpang yang lain, semua mulai terlelap tidur. Aku sendiri yang, entah mengapa, seperti tinggal sendiri yang terjaga.

Aku lihat di ujung kapal, sebuah sekoci berwarna oranye berayun-ayun mengikuti irama amplitudo riak. Sekoci itu memandangiku erat, seperti mengajak berkomunikasi tanpa bahasa. Aku lihat sekoci itu sendirian, padahal biasanya selalu ada banyak sekoci di sebuah kapal besar.

Apalagi kapal dengan banyak penumpang seperti ini. Bukankah fungsi sekoci itu sebagai alat pembatas hidup dan mati penumpang yang kapalnya karam? Apakah cuma beberapa penumpang saja yang berhak punya harapan hidup dari ratusan orang yang menumpang malam ini?

Byur!” Tiba-tiba sekoci itu melompat keluar kapal.

“Jangan! Gilak kamu!” suara dikepalaku mendengung tanpa bunyi.

Tapi jelas sekoci itu tak bisa diajak bicara. Aku lari mendekat ke pinggiran kapal. Kupandangi sekoci itu terayun-ayun semakin menjauh. Dalam kegelapan aku menerka-terka ke mana arahnya. Yang jelas, setelah hitungan banyak menit, sekoci itu semakin menjauh dari kapal. Semakin lama semakin menjauh ke arah datangnya sinar bulan.

Siluet ratusan burung menghiasi di atasnya. Tampak dari jauh, sepertinya tidak hanya ratusan, tapi ribuan burung. Hitam legam kontras dengan pendaran cahaya bulan di belakangnya. Pandanganku tak bisa memastikan burung apa itu, tapi suara dalam diriku meyakini itu burung gagak. Gagak hitam beterbangan di atas sekoci yang menjauh dariku.

Booong….booong!” Aku dikagetkan suara klakson kapal. Terpaksa terjaga dari lelap semalaman. Suara itu menandakan aku harus segera bersiap karena akan sampai tujuan. Matahari sudah cerah.

Aku ke kamar mandi. Kantong kemih yang sudah penuh semalaman ini mengucurkan air deras penuh tekan dari salurannya. Karena agak lama habisnya, mataku ke sana kemari hingga berhenti dan terbaca hasil vandal khas toilet, “Dipupusi na mate na mangolu.”

Pesingnya aroma dalam toilet ini ampun-ampunan membuat otak tiba-tiba beku, jadi enggan dipakai berpikir makna coretan tadi.

Jangkar ditambatkan dan roll-off diturunkan. Satu per satu penumpang turun, aku pun demikian. Berjalan melewati sekoci yang tampak tidak asing di samping jalan menuju sandaran.

Penjemputku sudah datang.

“Saya antar ke kantor dulu ya, Pak. Bapak bisa mandi-mandi dulu terus kita sarapan. Baru nanti kita berangkat ke kebun.”

***

Dua jam perjalanan dari kantor selepas sarapan. Kami sampai di sebuah gudang di tengah kebun karet. Ini adalah tempat di mana orang yang perlu kami temui.

“Selamat siang pak, kami dari kantor menyampaikan surat ini atas kewajiban tunggakan Bapak.”

Diterima surat tersebut, “Oh iya, silakan duduk dulu di sini ya. Saya masuk sebentar.”

Kami berdua duduk di tempat yang dimaksud. Aku memandang ke areal luas lahan karet. Pelan-pelan mengalihkan pandangan ke tanah di depanku. Lambat laun memandang gesper yang kupakai: gesper peninggalan bapak yang baru kumiliki empat puluh hari lalu.

“Pak!” Suara seseorang memanggil membuyarkan lamunanku.

Jleb!

Aku sempoyongan. Memandang orang yang memanggilku tadi dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Perutku nyeri betul. Kulihat di atas gesperku darah merah sudah bercucuran.

***

“Tuuut… Tuuut…”

“Tuuut… Tuuut…” Ponselku berbunyi. Kulihat nama ibuku di layar. Kuangkat.

“Halo, Bu?”

“Pulang ya Nak! Bapak sudah pulang.”

Itu telepon dari ibu yang Aku terima empat puluh hari sebelum aku ditusuk. Empat puluh hari setelah aku membelikan baju putih. (*)

*Cerpen ini terpilih sebagai Juara I dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Reuni Akbar IKANAS STAN 2019, secara ekslusif dikirimkan ke birokratmenulis.org untuk dapat dibaca secara daring setelah dicetak menjadi buku “Antologi Cerpen Ikanas STAN”.

8
0

Auditor pada salah satu Instansi Pemerintah Pusat. Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Jenderal Soedirman. Pengembang aplikasi monitoring pengawasan MRRP COVID-19. Online and Digital Enthusiast. Penikmat Buku dan Kopi. Suka bersepeda. Professional blogger at PinterIM.com

error: