Mengapa Anda masih mengalami kesulitan dalam menulis?

Ada dua penyebabnya, yaitu kurangnya kemampuan teknis penulisan dan ketiadaan waktu menulis Tulisan ini hendak membahas ke dua hal tersebut. Kemampuan teknik penulisan yang diperlukan adalah kemampuan menulis efektif dan kemampuan menghindari jebakan-jebakan yang ada pada saat menulis.

Menulis Efektif

Kemampuan menulis efektif pada dasarnya adalah kemampuan membuat tulisan yang variatif. Seseorang yang memiliki kemampuan ini, ia dapat meramu kalimat tunggal dengan kalimat majemuk, kalimat langsung dengan kalimat tak langsung, kalimat berita dengan kalimat tanya ataupun kalimat perintah, dan berbagai macam variasi lainnya. Kemampuan menulis efektif ini akan membuatnya menyukai kalimat-kalimat yang disusunnya sehingga ia akan termotivasi oleh tulisannya sendiri, atau self motivated.

Jika Anda seorang birokrat, Anda akan termotivasi menulis apabila Anda memiliki kemampuan menulis efektif, meskipun Anda disibukkan oleh pekerjaan. Namun demikian, Anda masih akan mengalami kesulitan menulis apabila Anda tak mampu menghindari jebakan-jebakan yang ada pada saat menulis.

Jebakan Yang Ada Pada Saat Menulis

Ada empat jebakan dalam menulis, yaitu: Jebakan Teko Kosong, Jebakan Peran Rangkap, Jebakan Jalan Tiada Ujung, dan Jebakan Parit.

  • Jebakan Teko Kosong

Menulis itu menyampaikan sesuatu yang Anda miliki, bisa berupa ide ataupun data. Jika tidak ada “sesuatu” dalam kepala Anda, maka tidak ada yang bisa Anda tulis. Ibarat teko kosong, Anda berusaha menuangkan isinya, tetapi hanya kehampaan yang Anda dapati, atau yang keluar hanya angin.

Banyak yang mengira dengan berpikir keras saat menulis ide akan berdatangan. Itulah yang dinamakan Jebakan Teko Kosong. Yang benar, Anda harus memiliki isi tekonya terlebih dahulu. Selanjutnya kapan pun Anda mau, Anda akan mampu menuangkannya dan memenuhi gelas yang Anda inginkan. Karena itu, saya heran kalau ada yang bertanya,”Pak Dedhi kok bisa menulis kapan saja dan di mana saja?” Sebab, bila Anda mempunyai sesuatu, maka waktu dan tempat sudah tidak lagi jadi faktor utama.

Karena itu, fokuslah pada isi kepala dan hati Anda. Pepatah Arab mengatakan “Al ilmu fis sudur laa fi suthur”. Ilmu itu apa yang ada dalam dada, bukan yang ada dalam buku. Perbanyaklah isi kepala dan hati Anda dengan pengalaman, membaca buku, ngegoogling, dan lainnya. Selamat mengisi teko Anda!

  • Jebakan Peran Rangkap

Dalam menulis ada dua peran yang perlu Anda perhatikan. Satu, peran sebagai penulis, dan kedua, peran sebagai editor. Kedua peran tersebut jangan dirangkap dalam waktu bersamaan. Kalau ini dilanggar, maka Anda akan terkena Jebakan Peran Rangkap.

Penulis itu berperan menulis, mengungkapkan isi kepala dan hati ke dalam tulisan. Anda tak perlu berpikir tentang PUEBI, atau pikiran-pikiran lainnya seperti  ingin membuat tulisan yang krispi, bergizi, dan terhidang menarik. Pikiran-pikiran itu adalah tugas editor yang berperan mengedit. Jadi, Anda harus memisahkan antara peran menulis dan peran mengedit.

Ketika Anda sedang menulis dan cenderung menghapus-hapus tulisan karena kurang puas, maka sebenarnya Jebakan Peran Rangkap telah terjadi. Maju-mundur, maju-mundur, tapi tidak cantik.

Bila hal itu terjadi di masa lalu, maka sang penulis akan dikelilingi oleh sampah kertas yang diremas-remas dan dibuang di lantai.  Bukan karya yang dihasilkan, tetapi waktu yang terbuang percuma. Seharusnya, menulis itu ya menulis saja. Jangan mikirin apa-apa kecuali menuangkan ide.

Kalau tidak boleh mengedit, bagaimana tulisan Anda bisa bagus? Ingat, bukan Anda tak boleh mengedit, tetapi jangan mengedit pada saat Anda menulis.

Untuk mengedit, ada dua pilihan yang bisa Anda lakukan. Pertama, yang menulis Anda, dan yang mengedit orang lain. Ini pernah saya lakukan di buku saya kedua. Saya menulis, dan yang mengedit Karlina VOA yang tinggal di Washington DC. Kebetulan waktu saya ke negeri Paman Sam, saya bersedia menjadi narasumber yang diwawancarainya untuk VOA. Mungkin karena itu, ketika saya minta bantuan kepadanya untuk mengedit buku saya, ia bersedia dan free.

Kedua, Anda yang menulis dan Anda pula yang mengedit, tetapi Anda lakukan keduanya pada waktu yang berbeda. Saya melakukan cara kedua ini di buku-buku saya selain di buku kedua. Caranya, Anda menulis dulu sampai naskah selesai. Jangan terburu menghakimi tulisan Anda. Tulis saja apa adanya, dan  jangan mikirin ada apanya.

Setelah selesai, Anda bisa beralih menjadi editor dan harus menghakimi tulisan itu sebagai tulisan “orang lain”. Yang tidak pas dibuang, yang kurang pas diperbaiki, dan yang sudah pas dibiarkan. Di sinilah Anda berusaha keras agar tulisan yang Anda tulis harus ada apanya, krispi, bergizi, dan terhidang menarik.

Jebakan Teko Kosong dan Jebakan Peran Rangkap dapat terjadi pada jenis tulisan apa saja, baik tulisan panjang seperti skripsi, tesis, disertasi, dan novel, maupun tulisan pendek seperti artikel atau puisi. Khusus untuk tulisan panjang ada lainnya yang menanti, yaitu Jebakan Jalan Tiada Ujung dan Jebakan Parit.

Selanjutnya, saya akan menjelaskan kedua jenis jebakan tersebut.

  • Jebakan Jalan Tiada Ujung

Jebakan ini ada dalam menulis tulisan panjang seperti novel, skripsi, tesis, dan disertasi. Tanpa perencanaan matang, tulisan panjang bisa membuat Anda kehilangan arah. Bahkan, Anda bisa tersesat bagai memasuki sebuah labirin, sehingga tulisan Anda tidak kelar-kelar. Karena itu, Anda harus membagi-bagi tulisan dalam poin-poin besar dari awal hingga akhir.

Dalam dunia akademik, Jebakan Jalan Tiada Ujung sudah diberikan jalan keluarnya dengan membuat outline atau proposal sebelum menulis. Itulah arah jalan penulisan. Sepanjang mahasiswa dan dosen pembimbing mematuhi outline tersebut, maka skripsi, tesis, dan disertasi akan dapat dituntaskan.

Kalau Anda akan menulis nonakademik seperti novel, Anda perlu merancang outline juga agar tidak terjebak dalam Jebakan Jalan Tiada Ujung. Setidak-tidaknya plotnya sudah tergambar dengan jelas, bagaimana mengawali cerita, dan bagaimana mengakhiri cerita. Tentu saja plot ini fleksibel dengan perubahan minor, tetapi harus dicegah dari perubahan mayor. Jika terjadi perubahan mayor, itu tandanya Anda kurang matang dalam merencanakan penulisan. Maka, Anda harus berlatih merencanakan, karena gagal merencanakan itu berarti merencanakan kegagalan.

  • Jebakan Parit

Jebakan Parit juga terjadi dalam menulis tulisan panjang seperti novel, skripsi, tesis, dan disertasi yang biasanya ditulis dalam beberapa bab atau bagian. Setiap bab biasanya mempunyai satu tema tersendiri dan merupakan satu kesatuan utuh, meskipun bab itu merupakan bagian dari satu buku. Bab Pendahuluan akan berbeda dengan Bab Metodologi, dan seterusnya. Demikian juga dalam novel, suatu bab biasanya sudah dapat dinikmati secara utuh, meskipun ia menjadi bagian dari novel secara keseluruhan.

Karena itu ada jebakan saat Anda menyelesaikan satu bab seolah-olah Anda telah menyelesaikan semuanya. Inilah yang membuat Anda tidak mampu melanjutkan tulisan. Saat Anda berada di ujung bab, Anda jatuh dalam suatu parit yang dalam hingga membuat Anda susah keluar dari parit. Jadi, berhati-hatilah karena ada parit di antara bab yang satu dengan bab yang lain. Anda harus mampu menghindarinya.

Cara menghindari Jebakan Parit ada 2. Mari Anda bayangkan di depan Anda ada parit sedalam 3 meter yang tidak bisa Anda langkahi begitu saja. Tapi, Anda harus melompatinya, meskipun lebarnya satu meter lebih. Apa yang harus Anda lakukan?

Pertama, Anda harus ancang-ancang, berlari, dan hap, Anda melompati, menjauhi parit, dan selanjutnya Anda boleh berhenti untuk istirahat. Anda tidak bisa berhenti di pinggir parit yang dalam itu lalu berharap bisa melompatinya tanpa ancang-ancang.

Jadi cara menghindari Jebakan Parit dalam menulis adalah jangan pernah mengakhiri suatu bab lalu berhenti. Itu berarti Anda masuk ke dalam parit dan akan sulit bangkit. Kecuali, Anda sudah menjadi penulis hebat. Selesaikan bab itu, lalu tulislah bab berikutnya beberapa paragraf lalu silakan berhenti.

Cara kedua, bila Anda tidak memilik tenaga untuk berlari dan melompati parit, maka berhentilah beberapa meter sebelum bibir parit. Anda bisa beristirahat sebentar. Bila tenaga Anda sudah pulih, Anda bisa mengambil ancang-ancang, berlari, dan melewatinya.

Kalau tak cukup waktu untuk menulis hingga 2-3 paragraf bab berikutnya, berhentilah di 2-3 paragraf sebelum akhir dari bab yang sedang Anda tulis. Saat ada waktu, Anda dapat menuntaskan bab tersebut hingga berlanjut ke bab selanjutnya, minimal 2-3 paragraf. Dengan begitu, Anda terhindar dan selamat dari Jebakan Parit.

Menulis dalam Keterbatasan Waktu

Ketika Anda siap untuk memulai menulis, misalnya menulis sebuah novel, Anda perlu waktu untuk menuliskannya. Sayangnya tidak semua dari kita memiliki waktu untuk menulis, termasuk saya. Setiap pagi saya berangkat bekerja usai Subuh dan baru jam delapan malam saya sampai di rumah. Sementara itu, Sabtu-minggu adalah waktu untuk keluarga. Oleh karena itu, harus ada terobosan untuk memanfaatkan waktu yang tersedia.

Kebetulan, saya naik kereta api (commuter line) dari jam 6.00 wib hingga jam 7.30 wib. Saya manfaatkan waktu perjalanan itu untuk menulis novel. Di commuter line, saya tidak bisa membuka laptop karena jarang sekali mendapat tempat duduk, sehingga perlu media untuk menulis dalam keadaan berdiri. Saya pikir twitter dengan 140 karakternya dapat membantu saya.

Saya menulis novel menggunakan media twitter. Saya twit setiap hari (Senin-Jumat) sekitar 20 twit. Dengan menuliskan di media twitter, beberapa follower saya biasanya ikut menyimak. Sering mereka menyemangati saya untuk menulis bila saya sedang malas menulis. Hal itu menjadikan saya konsisten menulis setiap hari kerja.

Sisi lain dari keterbatasan 140 karakter twitter juga membantu saya untuk hanya menge-twit  hal-hal yang menarik saja. Ini membuat saya benar-benar harus memikirkan gagasan-gagasan terbaik dan menyajikan yang terbaik agar follower yang mengikuti twittwit  saya tetap tertarik untuk mengikutinya. Sisi lainnya lagi, dengan keterbatasan 140 karakter, saya harus berhemat kata. Di sinilah kemampuan menggunakan diksi menjadi sangat penting.

Setelah twit  terkumpul hingga 1.700 twit-2.000 twit, saya unduh ke laptop dan lalu saya edit. Saat mengedit inilah saya reka ulang lagi ceritanya. Kadang, untuk mengedit saya menggunakan waktu keluarga saya (Sabtu-Minggu). Tentu saja setelah saya minta ijin isteri. Bila dia berkenan saya mengedit, tetapi bila dia tidak berkenan maka saya mencari waktu lain. Seperti saat saya bertugas keluar kota, saya bisa mengedit tulisan di hotel atau saat di pesawat terbang.

Alhamdulillah, saya berhasil menulis novel di tengah keterbatasan waktu saya. Saat ini saya berhasil menyelesaikan tiga novel, yaitu Allah Itu Dekat, Cinta di Titik Nol, dan Pusaran Tawaf Cinta. Ingin rasanya saya membuat novel keempat dan seterusnya. Namun, saat ini saya harus fokus menyelesaikan disertasi saya. Mudah-mudahan disertasi saya kelar tahun ini dan di tahun 2019 saya bisa menulis novel kembali. Saya akan menerapkan teknik unik menulis di twitter saat berangkat kerja menggunakan commuter line sebagai cara saya menulis novel.

Banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk menyiasati masalah waktu. Anda bisa menggunakan apa saja yang penting Anda kreatif menemukan media yang membuat Anda bisa menulis di setiap tempat dan setiap waktu. Apalagi bila Anda memiliki waktu luang untuk menulis. Menulislah, karena menulis itu berarti membuat jejak sejarah.***

 

 

Dedhi Suharto ▲ Active Writer

Auditor Madya pada Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan yang hobi menulis novel dan saat ini sedang menyusun disertasi di program DMB Institut Pertanian Bogor.

error: