Generasi milenial identik dengan anak muda yang susah diatur. Banyak penelitian yang membuktikan hal ini. Namun, seperti biasa, pasti ada anomali atas hasil setiap penelitian. Tentang karakter milenial ini, salah satu anomalinya adalah saya.

Terlahir pada range mulai tahun 1980-an, saya juga tergolong milenial. Generasi milenial ini sedang menjadi mayoritas angkatan pekerja produktif di Indonesia. Dominasi milenial dalam angkatan kerja tidak terkecuali juga menjangkau wilayah birokrasi pemerintahan.

Lulus dari sekolah kedinasan pada tahun 2011, saya disahkan menjadi aparat sipil negara (ASN) pada sebuah instansi pemerintah pusat di tahun 2012. Kalau dihitung-hitung, pengalaman saya di birokrasi bisa dibilang masih sedikit.

Dalam masa enam tahun mengabdi, 2 tahun saya gunakan untuk menempuh tugas belajar strata satu. Saya pun sempat mencicipi penempatan tugas di Provinsi Sulawesi Selatan, dilanjutkan ke Provinsi Kalimantan Selatan dalam jangka waktu enam tahun tersebut.

Pengalaman pengabdian saya memang belum terlampau banyak, akan tetapi saya merasa sangat bersyukur karena pengalaman baru telah sempat saya nikmati, yaitu pengalaman mempelajari budaya yang jauh berbeda dari daerah kelahiran saya.

Periode enam tahun bisa dibagi menjadi tiga tahap: penempatan pertama, tugas belajar, kemudian dilanjut penempatan kedua. Penempatan pertama ialah di bumi anging mamiri.

Penempatan pertama itu menjadi sebuah momen yang tak terlupakan. Untuk kali pertama saya naik pesawat ke sebuah kota jauh di sana, kota yang berbeda zona waktu dengan orang tua di kampung halaman dan memisahkan kami dengan laut yang membentang.

Naluri berpetualang saya masih sangat tinggi. Terlebih sebagian besar teman seangkatan saya masih belum berkeluarga, sehingga kapanpun ada di antara kami berinisiatif untuk jalan-jalan, yang lain akan menyambut dengan sigap, “Mari mari”.

Terlebih lagi, core business instansi saya bukanlah pelayanan yang mensyaratkan “duduk diam” di depan laptop di dalam kantor. Pekerjaan kami justru mengharuskan banyak perjalanan, dari satu wilayah ke wilayah lain, umumnya masih dalam satu provinsi.

Bahagia? Pastinya. Kapan lagi jalan-jalan ke tempat baru, mencicipi makanan khasnya, mengenal kehidupan sosial dan tata kota yang baru, tetapi seluruh biayanya dibayari oleh pemerintah? Begitu polos memang pikiran saya waktu itu, masa awal-awal masuk birokrasi, saat belum tahu apa itu Loan, Asian Development Bank (ADB) atau worldbank.

Tahun ketiga kerja, terbuka kesempatan baru untuk menikmati hidup sebagai pegawai sekaligus mahasiswi, yaitu menjalani tugas belajar. Beruntungnya, instansi tempat saya bekerja membuka kesempatan beasiswa sebesar-besarnya dalam jenjang strata satu. Sebenarnya program beasiswa ini bukan hanya untuk pegawainya sendiri. Akan tetapi, justru mayoritas penerimanya adalah pegawainya sendiri, termasuk saya.

Februari 2015, petualangan saya di universitas pun dimulai. Dari sini saya merasa betapa beruntungnya saya pernah merasakan kuliah di sekolah kedinasan. Betapa kedisiplinan, integritas dalam mengerjakan tugas dan ujian, serta pola pikir nerimo atas semua prosedur, menjadi modal penting dalam meraih gelar S1.

Januari 2018 menjadi saat mutasi kedua. Lepas dari tugas belajar, saya ditempatkan kembali. Ternyata, tetap di area Waktu Indonesia Tengah (WITA), tetapi bergeser pulau ke Kalimantan. Saya ditugaskan tetap di bidang yang sama dengan lokasi sebelumnya, tetapi dengan budaya kerja dan lingkungan yang berbeda pula.

Saat awal datang ke perwakilan ini, sudah ada setidaknya 5 orang yang mengajukan mutasi ke Pulau Jawa. Pengajuan tersebut menggunakan berbagai alasan, yang utama adalah keluarga. Sempat terpikir apakah ada yang salah di Kalimantan Selatan yang indah ini, kok belum ada lima tahun sudah pada mau pindah. Ya, ternyata mayoritas mereka terpisah dengan yang terkasih di seberang pulau (baca: Jawa).

Di Kalsel, dinamika dunia kerja berubah. Selain harus lebih paham aturan, kami para pegawai juga harus paham teknologi. Mulai dari database, script, sampai troubleshooting untuk setiap kasus harus kami pahami. Saya merasa sangat terseok dalam hal teknologi, tapi beruntunglah ada “teman sebelah” yang sangat sabar mengajari. Teman saya ini telaten menjawab semua pertanyaan di sela-sela coding untuk googleplay nya.

Tahun 2019, terjadi mutasi besar-besaran ke kantor-kantor perwakilan di Pulau Jawa dari berbagai daerah lain. Termasuk di kantor kami. Entah sudah berapa orang yang dimutasi menuju pulau tersebut, tanpa diimbangi mutasi sebaliknya dari Jawa ke luar Jawa.

Menurut saya, mutasi itu memberi kebahagiaan bagi yang pulang, memberikan tantangan dan godaan ke yang masih di perantauan. Disebut tantangan karena personil di kantor yang ditinggalkan berkurang tapi target kinerja tidak berubah, sementara di sisi lain dituntut untuk meningkatkan kompetensi.

Terlebih lagi, profesi kami selaku auditor internal pemerintah mengharuskan kami tahu banyak hal. Pada masa awal-awal berdinas, bisalah menghindari tanggung jawab penugasan yang sulit, dengan alasan masih anggota tim. Akan tetapi dengan adanya mutasi, mau tidak mau “yang tersisa” harus bisa diperankan menjadi Ketua Tim atau bahkan level di atasnya.

Peran yang berbeda ini bukanlah sesuatu hal yang mudah, tetapi harus dilaksanakan. Mulai cara berkomunikasi yang baik dengan pihak eksternal, diskusi terkait penugasan dengan teman sejawat dan membahas permasalahan yang ditemui dengan atasan.

Belum lagi, terkait merumuskan rekomendasi strategis atas akar permasalahan yang dihadapi auditee, yang macam-macam bentuknya. Kadangkala urusan dengan mereka berbuntut masalah hukum. Pada momen-momen ini jiwa milenial cenderung tidak mau mengalah dan mau cepat terlihat hasilnya.

Ego yang besar, merasa ngerti teknologi sehingga kadang beranggapan program audit yang ada tidak efektif dan efisien. Cepat bosan dengan penugasan yang ada, pengen cepat ganti ke tema penugasan lain, semua itu membuat kami kadang kurang sabar dalam segala hal. Buntutnya, konflik dengan yang lain, biasanya atasan atau senior.

Perbedaan antara harapan dan kenyataan yang ada di dunia birokrasi ini tidak sedikit pula menimbulkan godaan untuk keluar dari zona birokrasi. Tawaran kerja di swasta dengan iming-iming apresiasi atas setiap prestasi, sudah banyak direngkuh oleh teman seangkatan yang lain.

Tak mengherankan kemudian jika saya mendengar ada kawan yang memilih resign dari ASN untuk menjadi pegawai swasta atau mendalami proyek start up. Kabar-kabar semacam ini bukan lagi menjadi postingan aneh atau mengagetkan dalam WhatsApp Group (WAG) saya.

Dengan dinamika ini kemudian timbul pertanyaan, apakah saya akan seperti kawan-kawan yang lain itu? Hmmm… Untuk sekarang ini, dengan yakin saya menjawab “TIDAK”. Saya masih merasa nyaman di lingkungan saya tanpa merasakan adanya integritas yang terkikis.

Saya merasa masih bisa berekspresi tanpa harus berakhir tanpa tugas dan fungsi (tusi). Barangkali, apresiasi menjadi ASN memang tidak sebesar yang diperoleh di swasta atau saat kita punya aplikasi di google play.

Tantangan untuk menekan ego dan emosi pun masih di level “Baru-baca-buku-Filosofi Teras”. Tawaran beasiswa sepertinya bisa menjadi penawar ego diri. Atau mungkin mutasi ke Jawa bisa menjadi solusi?

Jadi, aku memang milenial, tapi aku betah jadi ASN.
Begitu ceritaku. Bagaimana denganmu?

3
0

Fungsional auditor di instansi pemerintah pusat.

error: