Perilaku politisi dan pemilih adalah dua objek observasi yang sangat menarik. Transisi dari rezim otoriter menuju demokrasi semu dan maraknya penggunaan media sosial dalam kampanye politik di Indonesia memberikan kesempatan untuk mengamati perilaku politik yang tak pernah ada sebelumnya. Tulisan ini akan menjelaskan strategi kampanye politik yang populer saat ini, tujuan, dan dampaknya bagi perilaku pemilih di Indonesia.

Pentingnya media sosial bagi kampanye politik di Indonesia

Penggunaan media sosial untuk kampanye politik di Indonesia meraihnya popularitasnya sejak pemilihan Gubernur Jakarta pada tahun 2012, yang dimenangkan oleh Joko ‘Jokowi’ Widodo sebagai Gubernur, berpasangan dengan Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama sebagai Wakil Gubernur. Dua tahun kemudian, strategi media sosial yang efektif turut membantu Jokowi meraih kemenangan dalam pemilihan presiden. Dan kini, media sosial sekali lagi menjadi medan pertempuran pemilihan gubernur Jakarta dengan Ahok sebagai incumbent, dengan penantang Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan dalam kabinet Jokowi, dan Agus Harimurti Yudhoyono, putra pertama mantan Presiden Susilo ‘SBY’ Bambang Yudhoyono.

Data statistik menunjukkan mengapa media sosial menjadi arena penting dalam kompetisi politik di Indonesia. Dengan lebih dari 70 juta pengguna Facebook dan 20 juta pengguna Twitter, Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna media sosial paling banyak di dunia. Karenanya, memenangkan kampanye politik di dunia maya akan membantu politisi memenangkan suara dalam kontes politik di dunia nyata.

Empat strategi kampanye politik yang sedang populer

Observasi atas perilaku politisi, konsultan politik, dan para pendukung (termasuk buzzer) mereka di media sosial menunjukkan bahwa ada empat strategi kampanye politik yang saat ini populer dalam pemilihan umum di Indonesia.

Strategi pertama adalah membangun persepsi bahwa sang politikus adalah pemilih. ‘Jokowi adalah kita‘, ‘Teman Ahok’, dan ‘Kita Ahok‘ adalah tiga contoh bagaimana politisi berusaha membangun asosiasi dirinya dengan pemilih. Strategi ini berbeda dari apa yang dilakukan SBY, presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat, yang memelopori penggunaan media sosial sebagai media untuk komunikasi politik massa. Alih-alih mengembangkan hubungan dengan pemilih, SBY justru menggunakan media sosial untuk menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.

Strategi kedua adalah membangun identitas sosial dan hubungan antara pemilih, simpatisan dan pendukung. Dalam kampanye Jokowi dan Ahok, anjuran mengenakan kemeja kotak-kotak dan menempatkan nomor urut mereka sebagai bingkai pada gambar profil media sosial adalah dua contoh dari strategi ini. Strategi ini tidak hanya berhasil mendorong pemilih untuk mengungkapkan preferensi politik mereka secara terbuka, perilaku yang jarang terjadi sebelumnya, tetapi juga mendorong pemilih untuk berbagi antusiasme dan membangun hubungan sosial di antara mereka yang akan memilih politisi yang sama.

Strategi ketiga adalah membangun persepsi bahwa ‘kebaikan’ sedang melawan ‘kejahatan’. Politisi ingin menciptakan persepsi bahwa mereka adalah orang baik sementara lawan dan pengkritik mereka adalah orang jahat. Salah satu contoh dari taktik ini adalah menyebarkan meme yang berisi foto orang-orang yang kritis terhadap politisi, yang disandingkan dengan foto para terpidana kasus korupsi dan terorisme. Contoh lain adalah membangun persepsi bahwa orang-orang yang berbeda atau tidak setuju dengan politisi adalah orang-orang yang menolak demokrasi dan kebhinnekaan.

Strategi terakhir adalah membangun persepsi bahwa politisi bertindak atas nama Tuhan, agama, etnis minoritas, atau kelompok tertindas. Umumnya strategi seperti ini digunakan oleh Partai Keadilan Sejahtera, partai Islam konservatif, dalam memposisikan pemimpin partai di depan anggota dan simpatisan. Namun, belakangan strategi ini juga digunakan oleh partai politik liberal dalam mencitrakan politisi mereka di mata pemilih.

Apa tujuan dari strategi seperti ini?

Setidaknya ada tiga tujuan yang ingin dicapai dari strategi tersebut. Pertama, tentunya membangun militansi di kalangan pemilih, pendukung dan simpatisan. Pemilih yang terpengaruh strategi tersebut akan merasa sedang berjuang untuk tujuan yang mulia.

Tujuan berikutnya adalah menggerakkan pemilih dan simpatisan untuk bertindak untuk kepentingan politisi. Pendukung dan simpatisan akan lebih aktif dalam memberikan dukungan bagi politisi dan meyakinkan pemilih lainnya, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan terakhir adalah mereduksi tingkat rasionalitas dalam menilai apakah seorang politikus layak menduduki jabatan publik atau tidak. Semakin tidak rasional seorang pemilih, semakin besar kemungkinan pemilih tersebut tidak peduli pada kritik yang ditujukan kepada sang politikus, betapa pun objektif kritik tersebut.

Dampak terhadap perilaku pemilih

Yang juga tak kalah menarik adalah mengamati perilaku pemilih. Dibandingkan dengan politik uang dan taktik lainnya, keempat strategi di atas terhitung lebih efisien dan efektif dalam membentuk perilaku pemilih. Berdasarkan pengamatan atas perilaku pemilih, simpatisan dan para pendukung, terdapat sejumlah perilaku yang menunjukkan berapa jauh seseorang terdampak strategi tersebut. Perilaku tersebut meliputi memperlakukan kampanye politik ibarat perang suci yang harus dimenangkan; meyakini pernyataan politisi layaknya firman Tuhan, sabda nabi, atau ujaran orang suci; selalu berbagi informasi yang mendukung politisi di setiap media sosial; mengutip ayat-ayat suci atau ucapan tokoh agama untuk membela politisi; bersedia memasang nomor urut atau foto sang politikus pada foto profil di media sosial; merasa berkewajiban untuk menanggapi komentar negatif terhadap politisi; menganggap orang lain yang mengkritik sang politikus sebagai tidak demokratis dan tidak rasional; menganggap kritik terhadap politisi sebagai ancaman terhadap agama, ras, etnis, dan bahkan eksistensi diri; dan, pada akhirnya, berkonflik dengan teman atau saudara sendiri.

Keempat strategi tersebut tidak hanya secara politik membelah negeri, tetapi juga menyakiti orang-orang yang terlibat dalam aktivitas politik di media sosial. Maraknya fenomena ‘unfriend’ dan ‘unfollow’ di media sosial menunjukkan bagaimana pemilih terdampak secara negatif oleh cara kerja politisi tersebut. Tampaknya keempat strategi di atas masih akan mendominasi kontestasi politik Indonesia di masa depan. Sangat penting untuk segera mengenali gejala di atas sebelum terlambat. Mengesampingkan atau setidaknya mengurangi aktivitas politik di media sosial dan di kehidupan nyata akan membantu mengurangi tingkat stres yang disebabkan strategi kampanye politik tersebut.

 

*) Versi berbahasa Inggris-nya pernah dipublikasikan di tempo.co. Anda bisa membaca di link ini.

 

Dody Dharma Hutabarat ♥ Associate Writer

ASN pada Instansi Pemerintah Pusat yang saat ini sedang menempuh PhD Candidate pada University of Illinois at Chicago, Amerika Serikat.

error: