Pengantar

Ada banyak cara untuk tiba di benua biru, Eropa. Mulai dari menang undian, dibayarin teman, menjadi orang kaya berlimpah harta, atau dengan cara mendapatkan sponsor untuk pergi. Kalau saya, semuanya diawali dengan membaca, lalu menulis.

Sudah tentu di balik itu semua ada ikhtiar tanpa putus asa dan doa yang senantiasa dipanjatkan, dan ketentuan dari Yang Maha Baik yang mengizinkan saya bisa berkelana belasan ribu kilometer jauhnya.

Belum Suka Membaca

Jika diingat-ingat sepak terjang saya menulis, terutama tulisan ilmiah, tidak mengesankan sama sekali. Saat masih bersekolah di diploma 3 (D3) saya mengakhirinya dengan menulis karya tulis ala kadarnya. Paling-paling yang masih terus eksis adalah hobi menulis saya yang tidak ilmiah semacam status Facebook, diary, atau cerpen yang sejak kecil sudah menjadi hobi. Itupun kadang saya lakukan, kadang tidak.

Kalau membaca? Duh, saya baru membaca sebuah buku hanya jika kakak atau suami bisa meyakinkan saya bahwa buku itu bagus sekali. Selain itu, jika ada tugas kuliah atau ujian yang memaksa, saya baru membaca materi.

Pembimbing yang Menginspirasi

Kebiasaan itu sedikit berubah ketika saya mulai menulis skripsi di jenjang sekolah diploma 4 (D4). Seorang pembimbing yang tidak pernah saya incar karena belum pernah diajar oleh beliau, telah menginspirasi saya.

Sang pembimbing itu adalah hasil rekomendasi oleh beberapa dosen, entah apa alasannya. Mungkin karena mereka sudah mempunyai feel bahwa saya akan cocok dengan beliau. Bersama Ayu, si gadis Bali, kami akhirnya menjadi bimbingan beliau.

Proses penulisan skripsi hingga sidang di bawah bimbingan beliau diwarnai dengan fluktuasi semangat mengingat beberapa minggu menjelang sidang, saya melahirkan anak kedua kami, Adnan. Ada kalanya saya berkonsultasi kepada beliau dengan membawa anak saya, bahkan didampingi orang tua dan suami di kampus Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) di Purnawarman. Benar, itu pengalaman saya yang tak akan terlupa.

Pembimbing saya waktu itu menyayangkan jika saya berhenti belajar sampai D4 saja. Pesannya, saya harus sekolah tinggi-tinggi, tak peduli saya seorang wanita. Bahkan, katanya, anak-anak akan bangga mempunyai ibu yang cerdas dan berwawasan luas.

Yang mengejutkan, suatu ketika beliau meminta saya mengikuti sebuah konferensi ilmiah internasional di Malang, sebagai salah satu pemateri. Beliau mendaftarkan materi skripsi saya yang dirangkum menjadi makalah.

Setahun lebih sejak kembali bekerja pasca D4, keinginan saya untuk kuliah lagi menjadi menggebu-gebu. Itu terjadi secara bersamaaan pada saat suami lulus S2 dan banyak teman seangkatan D4 yang sudah berangkat ke Inggris dengan beasiswa S2.

Namun, saya harus mencari kampus di dalam negeri karena kondisi anak-anak yang belum bisa ditinggalkan. Pada saat itu, skema kuliah yang paling masuk akal adalah melalui beasiswa LPDP meski saya sempat pesimis bisa diterima.

Pada kesempatan pertama saya gagal melalui sebuah interview yang dipenuhi dengan kegalauan tentang target masa depan saya selanjutnya. Kegagalan itu membuat saya sempat down selama beberapa hari.

Namun, saya bangkit lagi untuk mendaftar kembali di kesempatan berikutnya. Dengan persiapan yang lebih matang, alhamdulillah, menjelang akhir tahun 2016 saya resmi menjadi awardee LPDP untuk tingkat S2 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI).

O iya, peristiwa itu terjadi pada hampir dua tahun sejak saya lulus D4, saat telah lahir anak kami yang ketiga, Maryam. Percaya atau tidak, selain ingin belajar lagi, motivasi saya meneruskan sekolah lagi adalah demi untuk merawat anak-anak yang semuanya sedang memasuki masa balita. Tiga orang balita dengan selisih usia masing-masing 15 bulan.

Mulai Nikmat Membaca

Menjadi mahasiswa S2 di UI memaksa saya untuk benar-benar banyak membaca. Salah satu mata kuliah tentang penulisan ilmiah bahkan mensyaratkan jurnal-jurnal level peraih nobel sebagai acuan dalam menulis kerangka ilmiah makalah. Padahal, bahasanya tingkat “dewa”.

Perlahan tapi pasti, saya pun terbiasa membaca ilmiah hingga pada suatu ketika kepala program studi di kampus meminta saya menulis makalah untuk sebuah konferensi ilmiah di Malaysia. Wah, ini akan jadi pengalaman pertama kali saya “dilepas” tanpa pembimbing.

Tentu saja ada sedikit bumbu drama dalam penulisan makalah untuk konferensi di Malaysia ini karena saya menyusunnya bersama 2 orang teman kuliah yang punya sudut pandang dan cara bekerja yang berbeda.

Alhamdulilah, satu lagi pengalaman berharga saya peroleh. Di konferensi ilmiah itu, saya bisa bergabung dengan para profesor, mahasiswa doktoral, peneliti, dan kadang-kadang masih ada juga mahasiswa S2 atau S1 yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Yang jelas semuanya punya semangat yang sama untuk membangun networking akademis.

Dan tentu saja, saya harus berbicara mempresentasikan makalah saya dalam bahasa Inggris. Begitu pun ketika kami bergaul. Ada semacam perasaan rindu untuk melakukan daily conversation berbahasa Inggris yang terlampiaskan di forum itu.

Di sekolah saya sebelumnya tidak pernah sekalipun dikondisikan untuk bercakap-cakap secara rutin dengan bahasa Inggris, bahkan ketika S2 di UI saat itu. Semua ini ternyata membuat saya ketagihan untuk selalu mengikuti konferensi.

Tak lama setelah konferensi di Malaysia, saya didaulat lagi untuk mengikuti konferensi internasional di kampus sendiri, dimana mayoritas pesertanya mahasiswa S2 UI yang sudah menyelesaikan tesisnya. Ternyata, justru di event ini untuk pertama kalinya saya ditempa dengan kritik dari reviewer yang cukup pedas  tentang masih kacaunya metodologi analisis saya.

Para reviewer ini adalah para pengajar di UI. Mungkin karena didasari oleh tingginya sense of belonging terhadap kualitas karya ilmiah mahasiswanya. Yang jelas, kritik yang membangunlah yang mereka sampaikan.

Kemudian, proses penulisan tesis yang benar-benar “project” saya sendiri pun dimulai. Lelah tubuh karena harus kesana kemari mencari bahan dan data sambil menggendong anak. Sesekali airmata pun menetes mewarnai pengumpulan data, review jurnal, dan mencermati isi buku. Hingga pada akhirnya saya berhasil menulis sesuatu. Bagaimanapun saya menikmatinya.

Pergi Ke Eropa

Tulisan itu saya kirimkan ke sebuah lembaga riset bergengsi, Eurasia Business and Economic Society (EBES), yang berkantor di Istanbul, Turki. Accepted! Saya mendapat undangan resmi untuk presentasi di acara mereka yang selalu keliling dunia setiap tahunnya. Kali ini acaranya berlangusng di ibukota Jerman, Berlin.

Dengan LPDP sebagai sponsornya, meskipun tidak semua biaya bisa dicover, saya bersemangat untuk berangkat. Saya yakin kesempatan tak akan datang dua kali. Ditambah lagi sang suami mengizinkan saya pergi dengan senang hati. Bahkan, dia rela kerepotan merawat anak-anak selama saya pergi.

Sponsor lain yang sebenarnya menjadi sponsor utama kali ini adalah ibu saya, Bu guru Dra. Suparti. Beliau adalah seorang guru SD yang sejak kecil tak pernah berhenti menanamkan harapan pada saya. Ibu, doa ibu hanya bisa saya balas dengan doa seorang anak untuk ibunya, dan tentu saja memenuhi harapannya.

Akhirnya, pada tanggal 20 Mei 2018 untuk pertama kalinya saya menghirup udara Eropa, menginjakkan kaki di Bandara Schiphol, Amsterdam. Dalam banyak hal saya akui kita kalah banyak dari mereka, dan karena itu kita harus melupakan dendam masa lalu dan banyak belajar dari mereka.

Pada tanggal 22 Mei 2018, setelah transit di Belanda, saya akhirnya tiba di acara utama petualangan di Eropa ini, yaitu EBES Conference di Berlin. Baru kali ini konferensi yang saya ikuti dimana mayoritas pesertanya berwajah asing, sebut saja bule. Mereka datang dari Amerika, Polandia, Turki, Jerman, Cekoslowakia, Jepang, Korea, Inggris, Spanyol, Romania, dan lain-lain.

Kendati saya merasa senang berada di antara mereka, challenging lebih tepatnya, ternyata tak bisa dielakkan lagi bahwa secara psikologis saya tetap merasa nyaman berada di antara sesama orang Indonesia, para profesor dan doktor dari Jawa, dari Solo tepatnya. Lalu, obrolan pun mendadak menjadi berbahasa Jawa.

Sudah jauh-jauh ke Jerman, ngobrolnya tetap memakai bahasa ibu. Bahkan, ketika diumumkan paper terbaik dalam konferensi itu, mengejutkan dan membanggakan sekali adalah karya orang Jawa (eh, Indonesia). Beliau seorang dosen ITB yang sedang studi S3 di Belgia dan senior di LPDP juga. Wow!

Tibalah saatnya tanggal 24 Mei 2018, hari dimana saya mendapat jadwal presentasi. Hanya seorang teman yang jadi co-author saya yang berwajah familiar di situ. Sisanya, bule! Berkat sifat deadliner yang kambuhan, kali ini saya baru menyelesaikan bahan presentasi 1 jam sebelum “show time”.

Satu jam sisanya saya pakai buat mandi, sibuk memilih baju dan perjalanan naik kereta bawah tanah dari hostel tempat saya menginap ke lokasi konferensi di FOM University of Applied Science, Berlin. Simulasi presentasi, yang selalu saya lakukan pada konferensi-konferansi sebelumnya, tidak sempat saya lakukan.

Namun, alhamdulilah, penjelasan saya cukup bisa diterima. Audiens bertepuk tangan ketika saya akhiri presentasi, setelah dua orang bertanya tentang latar belakang dan metode ekonometrik yang saya gunakan. Setidaknya, kali ini saya merasa pantas membawa pulang sertifikat dari penyelenggara.

Penutup

Serangkaian proses ini pada hakikatnya berkaitan satu sama lain, kompleks, dan terstruktur. Satu hal penting yang menjadi syarat utama adalah: membaca!

Petualangan di benua Eropa takkan terjadi jika saya tidak mau membaca, yaitu membaca kesempatan, membaca suasana, membaca papan petunjuk peta, membaca isi pikiran orang lain, membaca bahasa tubuh, dan tentu saja membaca jurnal-jurnal. Apa yang telah saya baca tidak pernah saya sia-siakan untuk tidak menulisnya. Membaca dan menuliskannya menjadi satu paket kegiatan ‘gila’ saya selanjutnya dan untuk seterusnya.

Jadi, pilih yang mana, jalan-jalan ke Eropa setelah jadi orang kaya atau seperti saya: karena membaca?

 

 

Sofia Mahardianingtyas ♥ Associate Writer

Seorang PNS kandidat Master of Economics dari Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FEUI. Ibu muda beranak tiga dan istri dari seorang lelaki bersahaja. Di tengah batasan dalam ruang geraknya, tetap percaya bahwa cita-cita harus dikejar. Semangat belajar dan saling memotivasi adalah kekuatan yang dia percaya bisa menjadi penggerak kemajuan Indonesia. Saya muda, saya berkarya, saya bercita-cita!

error: