Barangkali karena terperangkap stigma negatif bahwa “politik itu kotor” sehingga banyak orang yang tidak mau terlibat dalam urusan politik. Mereka menjauh dan mengambil jalur yang “bersih”, tak mau mengotori tangan (atau pikiran) mereka dengan politik praktis. Mereka menjaga jarak dari politik, tidak mau terlibat dalam kegiatan politik apapun. Saat pemilihan umum tiba, mereka memilih untuk tak memihak alias golput (abstain) dan membiarkan proses politik berlalu tanpa kontribusinya sama sekali.

Ada juga orang yang sebenarnya tidak tahu apa politik itu. Tidak mengerti apa, bagaimana, dan mengapa berpolitik tetapi mereka terlibat dengan intens dalam kegiatan-kegiatan politik. Mereka menikmati berlangsungnya pesta demokrasi yang gegap gempita. Dalam peristiwa politik seperti pemilihan, mereka mendukung kontestan tertentu dan membenci yang lainnya walau sebenarnya mereka tidak tahu mengapa dan untuk apa mereka mendukung kontestan tersebut, dan untuk apa pula mereka membenci  kontestan lainnya.

Saat menang mereka ikut merayakan kemenangan, turut larut dalam eforia. Begitupun jika kontestan yang didukungnya kalah, maka merekapun ikut bersedih. Padahal mereka sesungguhnya tak mengerti untuk apa mereka senang atau mengapa mereka sedih.

Di luar kedua golongan di atas, ada lagi golongan yang sama sekali tak terlibat, dan juga sama sekali tidak mau tahu proses politik apa yang sedang berlangsung. Mereka tidak menghindar karena mereka memang tidak ‘ngeh’ dengan apa yang terjadi. Politik adalah sesuatu yang asing bagi mereka. Bahkan konsep tentang politik tak pernah terlintas dalam benak mereka.

Di dalam keterbatasan wawasan mereka, politik bukanlah apa-apa. Bukan sesuatu yang perlu dipikirkan, apalagi dilakukan. Ada hal yang jauh lebih penting dari politik yang harus mereka pikirkan. Ada hal lebih mendesak yang harus mereka selesaikan. Sekiranya mereka bisa membuat daftar prioritas pasti bukan politik yang akan masuk di dalamnya.

Ketiga kondisi di atas disebut Bertolt Brecht sebagai The Worst Illiterate. Kebutaan (ketiadaan pengetahuan) yang terburuk. Orang yang mengalami political illiterate seperti itu disebutnya tidak mendengar dan tidak melihat apa-apa. Tidak menyadari bahwa segala hal yang terjadi di sekelilingnya adalah akibat dari politik.

Penetrasi politik dalam kehidupan warga justru makin dalam di era demokrasi lokal seperti sekarang ini. Desentralisasi politik telah menggiring hampir seluruh proses politik yang penting ke daerah. Hal itu berakibat pada semakin dekatnya proses politik kepada khalayak. Rakyat, tanpa kecuali, bisa terlibat, bermain, berkontribusi, bahkan turut serta menciptakan sejarah perpolitikan daerahnya.

Seperti misalnya dalam proses kelahiran seorang pemimpin politik di daerah rakyat daerah itu sendirilah yang menjadi penentunya. Mekanisme pemilihan one man one vote (satu orang satu suara) memungkinkan setiap orang, yang sudah dianggap dewasa secara hukum memberikan pendapat tentang siapa yang paling pantas menjadi seorang kepala daerah. Bukan hanya itu, kebijakan-kebijakan publik yang kemudian diambil oleh sang kepala daerah terpilih dapat diapresiasi, dikritik, atau bahkan ditolak oleh rakyatnya.

Dari satu aspek itu saja bisa dilihat dengan jelas bahwa politik sudah begitu dekat dengan rakyat. Apalagi dampak dari terpilihnya seseorang menjadi kepala daerah bisa menentukan masa depan rakyat dan daerah itu kelak karena kepala daerah terpilih itu akan membuat keputusan-keputusan politik yang menyentuh seluruh aspek kehidupan rakyatnya.

Hal itu senada dengan kata Bertolt bahwa keputusan politik itu memengaruhi biaya yang dibutuhkan untuk hidup, harga kedel, atau tepung (baca: beras), juga biaya-biaya sewa. Dari keputusan politik itu pulalah pelacuran bisa muncul, pengemis dan anak terlantar bisa menyebar, perampokan atau korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara bisa terjadi dan meluas ke mana-mana.

Bahkan, jika siang tadi kucing kesayangan Anda hilang dicuri orang, maka bisa jadi itu adalah dampak dari sebuah proses politik. Coba Anda telusuri dan cari maka Anda akan temukan bahwa ada tangan-tangan politik yang bekerja dan membuat kucing Anda hilang. Nah, masih beranikah Anda berpikir bahwa politik itu kotor dan harus dihindari?

Banyak proses politik yang tidak boleh dilewatkan oleh rakyat agar kenyamanan hidupnya sebagai warga tidak terganggu. Pemilihan pemimpin yang akan menjadi penentu kebijakan, pemilihan anggota perlemen yang akan menyetujui kebijakan, dan perumusan kebijakan-kebijakan publik itu sendiri adalah event politik yang akan berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Hasil dari kejadian-kejadian itulah yang menempatkan orang-orang penting yang berperan mengatur hidup kita. Mereka bisa menjadikan kita sebagai orang yang lebih sejahtera di kemudian hari atau sebaliknya serta dapat menjadikan kita orang yang lebih bahagia di masa depan, atau sebaliknya. Melalui proses politik kita menobatkan mereka menjadi penguasa atas segala hajat hidup kita.

Kekuasaan sebesar itu tdak boleh jatuh ke tangan orang-orang curang. Anda bisa melihat begitu banyak kepala daerah atau anggota DPRD yang tertangkap karena korupsi, gratifikasi, pemerasan, dan sebagainya. Betapa banyak pejabat publik yang miskin integritas, jauh dari norma agama, dan mengabaikan kepentingan orang banyak. Itu terjadi antara lain karena kita buta politik.

Oleh sebab itu, jika Anda masih juga enggan “berpolitik,” berarti ada sesuatu yang salah dengan diri Anda. Anda bukan saja tak peduli pada orang lain, Anda bahkan tak peduli pada diri Anda sendiri. Karena dari uraian singkat kita ini tidak ada sedikitpun ruang bagi kita untuk menghindar dari politik.

Politik memang bukan segala-galanya tetapi kita tidak bisa menafikan fakta bahwa hidup kita ternyata sangat dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di sekitar kita. Jika kita mengambil posisi yang berjauhan dengan politik, maka kita tidak akan bisa berkontribusi dalam hal-hal yang bisa mengubah hidup kita.

Sengaja kata berpolitik di atas saya beri tanda kutip karena makna berpolitik dalam persepsi saya jauh lebih besar dibandingkan dengan sekedar berpartai politik lalu berjuang merebut kekuasaan. Berpolitik itu adalah menempatkan diri dalam koridor hukum dan administrasi pemerintahan. Melibatkan diri secara aktif dan kolektif (partisipatif) merupakan salah satu pilar yang membentuk good governance.

Politik bisa menghadirkan rasa aman yang merangkul Anda di waktu malam. Politik bisa menyuguhkan sarapan pagi yang nikmat. Politik bisa membuat seseorang menjadi miskin atau kaya, menjadi sehat atau sakit, menjadi cerdas atau bodoh. Bahkan, politik bisa membuat seseorang terbunuh. Dan hebatnya, Anda sebagai warga bangsa dari negara demokratis ini bisa menentukan corak dan warna politik itu. Kita seharusnya melek politik, melek semelek-meleknya, karena politik itu bekerja untuk kita.

 

-o0o-

 

 

Andi P. Rukka ▲ Active Writer

ASN di Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Wajo. Tulisan Andi P. Rukka sangat khas, berusaha mengkritisi ketidakberdayaan sebagian besar birokrat di negeri ini.

error: